“Kak, maaf aku ketiduran.” Agnia merasa tak enak, terbangun karena Karina bergerak kasar. “Gak usah minta maaf, kamu gak ada salah.” Ravindra menyahutinya santai tanpa ekspresi. “Sebenernya kita mau ke mana, Kak? Ini dari tadi belum sampai juga?” Agnia sedikit memprotes, mengira belum sampai juga ke tempat tujuan. “Tuh rumah sakit tempat Lusi lahiran.” Ravindra mengarahkan dagunya ke gedung rumah sakit. “Loh?” Agnia mengernyitkan dahinya. “Urusan saya udah selesai, sekarang tinggal jenguk Lusi sama bayinya di rumah sakit.” Ravindra tersenyum, mengerti atas kebingungan Agnia. “Sayang, jangan gerak terus.” Agnia mengusap kepala Karina yang tak henti bergerak kasar. “Emangnya udah pada gerak?” Ravindra menoleh dengan cepat, menduga sesuatu. “Apanya?” Agnia malah bingung dengan

