Berhenti di tengah-tengah keramaian, Agnia dan Ravindra menoleh ke arah belakang secara bersamaan. Di kejauhan sana, seorang pria terlihat melambaikan tangannya sambil terus mendekat. Ravindra mengerutkan kening, berusaha mengingat siapa pria itu. Sudah lama tidak bertemu, tapi jika tidak salah dia adalah temannya sewaktu SMA. “Wah, lama gak ketemu kita, Rav.” Pria itu, Antoni, mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ravindra. “Gimana kabarnya, Bro?” “Baik, Ton. Lo juga gimana kabarnya?” Ravindra balik bertanya. “Tambah gemuk lo sekarang. Gue sampe pangling, sumpah.” “Baik, alhamdulillah.” Antoni mengangguk cepat. “Kapan lo kawin? Kok gue gak tau?” tanyanya sambil menatap Agnia dan Karina bergantian. “Ini ....” Ravindra bingung menjelaskan. “Anak lo lucu banget lagi, Rav.” Anton

