03. Mall

1356 Words
Mataku mengerjap berkali-kali, pikiranku seolah berhenti sejenak setelah ibu menyuruhku untuk ikut menemaninya ke mall. Apa aku tidak bermimpi atau berhalusinasi saat membaca gulungan kertas dari anak nakal? Ini sesuatu yang sangat tidak terduga dan apakah masih bisa disebut Dejavu? Sepertinya tidak. Mobil angkot sudah berada di depan rumah mengantarkan kami berdua ke kota yang rada jauh dari pemukiman. Aku menghela nafas panjang berusaha untuk tidak curiga dengan peristiwa yang ku tulis di buku itu. Ibu menyuruh untuk naik dan angkot yang kami berdua tumpangi melaju meninggalkan rumah. Setiap perjalanan aku mengobrol santai bersama ibu. "Ibu mau beli apa ke mall?" tanyaku ke ibu. Pikiranku mulai melayang-layang di Keluarga Pratama dan ibu juga tidak bertanya padaku mengenai panggilan. "Mau beli pakaian serta barang-barang di sana. Cuman sebentar saja kok." kata ibu. Bisa ku lihat jelas saat sudah sampai di kota yang banyak sekali gedung-gedung pencakar langit. Sama seperti yang ku lihat di ponsel mengenai pemandangan kota yang bagiku, bagus banget. Rasanya aku ingin menetap di kota daripada di desa. Sebab ada orang yang sangat ku benci di sana dan kalau bisa juga, aku mau keluar dari sekolah itu dan menuju ke sekolah baru. Entah, apa doaku terkabul aku bisa masuk ke sekolah baru? Namun, jika diingat kembali mana bisa aku pindah sekolah kalau aku sebentar lagi bakal lulus. Nanti bisa kerepotan. Angkot sudah berhenti tepat di bangunan yang besar dan terdapat tulisan "Big Mall". Ibu dan aku turun angkot. Arah pandang ku tidak bisa berhenti memandang kalau tempat ini sangat besar dan juga ramai. Ibu berjalan memimpin masuk ke dalam mall. Rasa dingin dari AC ruangan sangatlah terasa. Begitu banyak toko-toko di dalam sini, mulai dari makanan, makanan ringan, sampai toko baju, kosmetik serta toko boneka. Seulas senyum menerka di bibirku melihat banyak barang yang indah serta banyak pengunjung di sini. Akibat sibuk memerhatikan sekeliling mall dan tidak memerhatikan kemana ibu pergi. Aku dan ibu terpisah di mall ini tanpa ku sadari. Mataku melihat ada yang menarik perhatianku. Sebuah jam tangan berwarna hitam dengan gambar Paris. Namun, melihat harga jual membuatku enggan untuk masuk ke dalam toko itu. Aku bisa memandang nya dari luar kaca pameran. "Indah sekali, jamnya." kataku. Menghela nafas kasar dan berbalik badan. "sayangnya, aku tidak bisa membeli barang mahal itu." ucapku memelas. Dan aku tersadar bahwa aku terpisah dari ibuku. Mataku mendelik dan segera mencari ibu ku di mall besar ini. Astaga! Bagaimana bisa aku tidak memerhatikan ibu dan seenak jidat aku malah jalan-jalan melihat barang-barang mahal yang terpajang di kaca pameran setiap toko. Tanpa aku sadari kalau aku terpisah dari ibu. Rasa kekhawatiran ku yang meledak segera ku turunkan dan langkahku berhenti. Tidak ada gunanya mencari di tempat luas seperti mall atau menangis seperti anak kecil yang terpisah di mall. Sadar, kalau aku ini gadis remaja berumur 18 tahun. Mana bisa aku nangis karena terpisah dari ibu. Di sisi lain otakku mengatakan jika aku nanti tidak bisa pulang ke rumah. "Gawat! Bagaimana bisa aku melupakan itu?!" ucapku segera berlari sambil melihat-lihat setiap sudut. Mencari ibu. Tidak peduli dengan tatapan orang lain yang aneh melihatku berlarian sambil berteriak "Ibu". Rasanya aku bermain di film "Home Alone" di televisi itu, namun, ini beda versi. Beberapa sudut mall dan lantai sudah ku jelajahi tetapi aku belum menemukan ibu. Sekarang, aku berada di lantai atas sendiri, dimana begitu banyak makanan dan bangku-bangku di sini. Lelah. Aku duduk di kursi kosong sambil menata nafas. Tidak menyangka kalau aku akan bernasib seperti ini, tersesat di mall seorang diri dan kehilangan jejak ibu. "Aku berasa jadi anak ayam kehilangan induknya." gumam ku, menopang dagu. "Ha? Kamu tersesat di mall dan pisah dengan ibumu?" celetuk seorang gadis, berbicara tepat di telingaku. Aku menoleh terkejut mendapati gadis bertubuh mungil, cantik, periang, baik dan rambutnya keriting berwarna cokelat matang. Diriku menghela nafas panjang, berusaha untuk tenang. Keberadaan gadis ini sangat tiba-tiba untung saja aku tidak menjerit. "Kamu siapa? Kenapa kau peduli denganku?" tanyaku bertubi-tubi padanya dan ia hanya membalas seulas senyum padaku. *** Dirasa aku ini terlalu banyak khayalan sehingga otakku tidak bisa menampung sebuah kenyataan tidak terduga. Di mall seramai ini, lalu aku terpisah dengan ibuku yang entah sekarang ibu ada dimana? Saat aku duduk santai sambil bergumam pelan. Datang seorang gadis periang yang mendekatiku dan aku juga terkejut mendengar namanya. Dia. "Namamu sama seperti..." ucapku menggantung. Sebaiknya tidak perlu ku ceritakan kejadian tidak masuk akal ini. Raut wajah Dia memandangku sangat penasaran dan juga ada ekspresi tersirat yang sulit ku jelaskan. Dia mengajakku untuk membeli ke toko celana sehingga membuatku memiliki firasat mengenai kejadian yang aku karang di dalam buku itu. "Dia! Kamu datang ke mall ini dengan siapa?" tanyaku padanya. Sekadar basa-basi saja. 'Jujur, suasana canggung seperti ini mengekang ku.'—batinku. "Aku pergi me time. Aku tidak mau orang lain tahu terutama ibuku." kata Dia menjelaskan sedikit. Dahi ku berkerut bertanya-tanya. "Kenapa bisa begitu?" "Karena ibu akan memarahi ku kalau aku pergi ke mall membeli celana. Aku suka koleksi celana." katanya tersenyum sumringah dan tanganku ditarik oleh Dia agar langkah kami melangkah cepat menuju ke tujuan. Sampai di toko celana. Mataku kembali melihat sudut pandang dan melihat ada celana yang ku taksir. Celana jens biru gelap, aku sangat menyukai celana jens itu. Menoleh melihat Dia masih memilih beberapa celana dan menyuruhku untuk memilih antara dua celana. Oh sungguh? Aku di suruh milih salah satu celana?—batinku tidak percaya. Aku dan Dia sempat berdebat masalah memilih dua celana itu. Dia sering labil dengan pilihannya membuatku yang sudah jengkel tidak bisa ku pendam lagi jadi aku menyuruh Dia untuk ke tempat ruang tengah toko. Disini aku akan memilih salah satu celana yang sangat pantas. Aku asal memilih celana berwarna hitam pekat bermodel pensil, ini sangat cocok dengan Dia. "Nih, celana itu yang pantas buatmu." ucapku melemparkan celana yang ku pilih ke Dia. Gadis mungil tersebut memerhatikan celana yang berhasil ku pilihkan agar tidak ada lagi berdebat mengenai dua pilihan barang. Tahu, kalau aku ini juga gadis tetapi kalau aku memilih barang mana yang ingin aku beli, aku langsung menyambarnya. Satu kali pandangan pertama, aku beli. Ia memeluk celana itu erat dan mengatakan,"aku bakal membelinya. Terima kasih, Lidya. Kau temanku paling baik yang pernah ku temui." ucapnya memandangku, tersenyum. Aku yang mendengar itu shock banget. Ia menganggap ku sebagai teman baik padahal aku dan Dia baru saja mengenal 2 jam yang lalu. Dia juga tidak menaruh curiga padaku. Ya, setidaknya berpikir kalau aku ini jahat atau gimana? Ia langsung menyimpulkan kalau aku tuh baik. Tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan Dia, batinku. Selesai berbelanja aku ditraktir sama Dia, minuman boba. Tentu saja, aku tidak akan menolak kalau sudah traktiran. Apa aku harus bilang kalau Dia itu baik juga? Sayangnya, aku harus membutuhkan banyak waktu untuk menyimpulkan sesuatu terutama kebaikan seseorang. Siapa tahu kan kalau ia punya topeng? Perasaan yang sudah berpikir buruk ini seharusnya aku buang jauh-jauh. Namun, jika rasa itu tidak ada, aku tidak akan bisa menaruh rasa curiga sedikitpun. "Lidya." panggil Dia. "Iya, ada apa?" tanyaku sedikit cuek ke Dia. "Kita akan menjadi teman selamanya kan? Dan dimana tempatmu tinggal?" ucapnya membuatku diam sejenak. Bingung harus mengatakan pertemanan. "Oh. Mungkin, kita akan menjadi teman selama-lamanya dan juga tempat tinggal ku...tidak jauh dari sini." kataku ke Dia. Gadis itu mengangguk mengiyakan. Lalu Dia memberitahuku kalau ibuku ada di salah satu toko pakaian yang dekat dengan pintu utama Mall. Aku berterima kasih ke Dia telah menemaniku dan mengajakku berkeliling sebentar ke Mall. Melambaikan tangan ke arahnya dan segera ku percepat langkahku. "Ibu!" panggilku saat melihat ibu membayar barang di kasir. Ia menoleh ke sumber suara, tersenyum melihatku. "Darimana saja kamu, ibu tadi mencarimu." Aku tertawa kecil dan memeluk erat ibu, takut kalau aku kehilangan beliau lagi di tempat luas seperti Mall. Aku menceritakan sedikit kalau aku bersenang-senang mengelilingi Mall dan bertemu dengan gadis bernama Dia. Ibu sangat senang mendengarku cerita itu. Saat aku melihat sekitar, aku melihat ada ular putih yang mengintip di balik pakaian. Menggeleng kepala pelan dan mencoba untuk memerhatikan seksama. Apa di Mall ini ada ular? Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi? Mana bisa ular masuk ke Mall. "Pasti itu halusinasi ku lagi setelah bermimpi di lilit ular putih." gumam ku pelan banget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD