02. Ruang BK

1195 Words
Ular itu masih terbayang-bayang dalam pikiranku. Semalam mimpi aneh, mimpi buruk dan tidak bisa di diskripsikan kejadian-kejadian tidak terduga dalam mimpi sehingga aku berteriak memanggil kedua orang tuaku. Di atas piring sudah tersedia nasi dan tahu tempe yang hangat. Ibuku menyunggingkan senyum menepuk bahu menyuruh untuk tidak mengingat-ingat mimpi "di patuk ular, dililit ular". Aku tidak tau menahu masalah mitos yang tersirat dalam mimpi dan tidak peduli dengan itu. Pikiranku hanya tidak bisa menerima kalau mimpi semalam itu seperti nyata, benar-benar nyata. Suara kursi berderit saat ibu menarik kursi di sebelahku, tatapannya menatapku teduh dan masih menunjukkan senyuman manis. Membuat hatiku sedikit tenang walau masih penuh ketakutan. "Lain kali, kalau mau tidur. Berdoa dulu supaya kamu bisa mimpi indah, tidak mimpi buruk lagi." nasihat ibu. "Iya, aku bakal membaca doa sebelum tidur." jawabku sedikit kikuk sembari memakan sarapan pagi. Ayah selalu mengantarkan ku ke sekolah menggunakan motor matic pengeluaran lama. Bensinnya boros maka dari itu, ayah jarang banget memakai sepeda motor di saat waktu tidak mendesak. Ayah memberikan pesan untukku buat bersungguh-sungguh menuntut sekolah. Aku mengiyakan dan segera masuk ke dalam sekolah sebelum bel berbunyi. Sebenarnya aku malas sekolah, bukan karena pembelajarannya melainkan teman-teman ku yang suka mengejekku tanpa sebab. Belum lama, aku berkata dalam hati. Di koridor, aku sudah dihadang setidaknya ada tiga orang: kanan, depan dan belakang. Wajahku seketika berubah menjadi datar melihat Efan dan kedua teman-temannya, menghadangku. "Kalian bertiga ngapain sih? Ngepung aku?" tanyaku sambil mengamati sekitar. "Hahaha. Hei! Aku dengar, keluargamu terlilit utang banyak di Keluarga Pratama." kata Efan, tersenyum miring mengejek. "Terus kenapa? Kalian tahu, darimana?" tanyaku balik mencoba untuk sabar, tidak tersulut emosi. "Tidak perlu tahu, kami tahu darimana. Yang terpenting adalah kamu Lidya...harus membayar kami dan akan ku biarkan. Kamu lewat menuju kelas dengan selamat." kata Efan bermaksud memalakku. Ini bisa dikatakan sudah terbiasa terjadi padaku. Namun, aku sering menolak dan melawan mereka bahkan membayar lima ratus perak ke dia, aku tidak mau. Efan memaksaku untuk mengeluarkan semua uang ada di dalam sakuku dan aku tetap dengan pendirian ku. "Tidak akan pernah ku kasih padamu, Efan." kataku tegas. "Dasar gadis miskin!" makinya membuat diriku tertawa terbahak-bahak. "Bukankah yang miskin itu yang suka memalak duit orang lain. Bodoh!" kataku mengejek Efan balik membuat ia murka dan menyuruh kedua temannya untuk mencekal ku. Sebelumnya aku pernah berkali-kali kalah dan mereka berhasil mengambil uang jajanku. Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, mereka mengambil uangku secara paksa. Kedua teman Efan berusaha mencekal ku. Ketika mereka berdua menghampiriku, mereka tiba-tiba terpental jauh dariku. Tentu saja, aku dan Efan terkejut melihat ada hal aneh. Mereka berdua berkali-kali ingin mencekal ku tetapi dengan jarak 2 meter, mereka terpental. Aku merasa kalau di sekelilingku ada pelindung transparan—orang-orang yang ingin mencelakai ku tidak bisa mendekat sama sekali. Efan mencoba mendekati ku dan dia terpental juga. Efan memegang perutnya yang sakit menatapku penuh emosi. Ia tidak percaya kalau aku memiliki pelindung, ia berkali-kali berlari ke arahku dan terpental lagi. Begitu terus sampai dirinya sudah tidak tahan lagi. "Sudah?" tanyaku berpura-pura bodoh ke Efan. Efan mengumpat berapa kali dan menuduhku kalau aku mempelajari ilmu sihir. Membuatku melotot tidak percaya mendengarnya. Tanganku mengepal kuat berniat untuk memukul udara saja. Tetapi tidak sesuai dugaanku. Aku membuat Efan dan kedua temannya terbang ke udara, dorongan udara sangat kasar sambil menjerit. semua orang di koridor memandang ku aneh saat detik itu juga. Selama ini, pembullyan Efan dan kedua temannya berhasil mengundang pasang mata murid di sini. Di kelas, aku langsung mengeluarkan buku yang setiap kali ku jadikan cerita coret-coretan. Menuliskan peristiwa tidak terduga yang terjadi di pagi hari ini. Kejadian yang tidak bisa diterima akal logika manusia biasa serta bayanganku terhadap mimpi dan kaki yang dililit ular. Kembali menghantui ku. Ketua kelas menghampiriku, meminta untuk datang ke Ruang BK. Perasaan yang campur aduk dan takut atas banyak saksi mata yang melihat kejadian pagi tadi. Ada rasa bersalah di dalam hatiku. Sesuai dugaanku, Guru BK meminta kedua orang tuaku datang ke sini hari ini. Aku meminta untuk tidak memanggil mereka atas insiden tidak terduga tersebut. Bahwa diriku memiliki kekuatan aneh. Namun, perintah tersebut tidak bisa di ganggu gugat jadi aku memutuskan untuk menelpon ayahku perasaan sedih. "Ayah bisa datang ke Sekolah Lidya?" ucapku di sebrang telpon ingin menangis. *** Rasa takut, marah, kesal, khawatir, semuanya jadi campur aduk dalam hati ini. Berkali-kali aku mengintip di balik jendela ruangan BK melihat ayah yang hanya mengangguk-anggukkan kepala. Aku takut kalau ayah memarahiku dan menuduhku yang tidak-tidak. Apa yang terjadi pada diriku? Melihat kedua tangan ini, masih dibilang normal dan tidak ada sama sekali keistimewaan. Tetapi tadi pagi? Itu seperti mimpi bahwasanya aku bisa mengeluarkan kekuatan angin. Kekuatan yang aku impikan selama ini. Tangan mengepal kuat dan mencoba memukul udara. Tidak terjadi apapun seperti tadi, sudah berkali-kali aku coba tetap saja tidak bisa. Dan memastikan kalau kedua tanganku sebenarnya ada kekuatan. "Lidya." panggil ayah membuat ku menoleh melihat pria tinggi dan berkumis tipis. Pak Arif, ayahku. "Bagaimana pembicaraannya? Aku tidak bermaksud be—" ucapku sudah di sela oleh ayah, mengelus rambutku halus. "Tidak apa-apa. Bukan masalah..." katanya membuatku berdiri mematung kalau aku tidak di marahi oleh ayah. Beliau sedikit membisikkan sesuatu ke telingaku, berkata,"...itu baru anak ayah. Kalau ada anak yang menganggu, coba balas. Jangan kalah sama anak laki-laki." Seulas senyum menerka dibibir ku melihat ayah mengatakan kalimat indah. Ini membuat rasa kebahagiaanku menjadi tinggi. Aku akan memiliki sedikit peluang untuk membantu orang yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Namun, kejadian aneh tadi, aku bisa mengeluarkan kekuatan dari kedua tangan itu. Nyata atau tidak?—pikirku masih ragu banget. "Sana! Pergi ke kelas dan belajar. Biar anak ayah pintar dan sukses." kata ayah ingin pergi menyambung pekerjaan yang sempat tertunda karena diriku. "Baiklah!" seruku melambaikan tangan ke ayah. Tulisan materi di papan tulis sudah ku tulis di buku, tulisan tanganku bisa dikatakan jelek dan sangat jauh dari tulisan gadis yang bisa dikatakan rapih. Diriku lebih menonjol kayak tulisan ceker ayam yang berukuran besar seperti bangunan. Sambil menunggu yang lain selesai, aku melanjutkan menulis cerita di buku khusus menulis tentang orang yang unik. gadis yang memiliki sifat labil, lucu dan terkadang aneh. Ia juga mudah akrab dengan orang yang baru pertama kali ia temui untuk menemani membeli celana baru. Dia. "Gadis unik ini akan ku kasih celana yang berharga. Di dalam celana nanti ada jin lucu, berambut keriting dan gemuk. Jin tersebut berumur sekitar 200 tahun." gumam ku menuliskan sebuah cerita bahwa aku sudah bertemu dengan Dia, gadis unik bersama Jin nya. Dari arah kiri aku merasakan ada suara kertas yang menuju ke arahku. Refleks, aku menangkap bola kertas itu tanpa menoleh objek nya, melirik sinis melihat si pelaku yang tercengang kalau pelurunya—tidak terkena target. Ku buka gulungan kertas tersebut adalah kertas kosong. Tetapi secara tiba-tiba keluar tinta berwarna kuning di kertas kosong tersebut. Mengatakan kalau sepulang nanti aku ikut ibu ke mall besar. Heran dan bingung. Apa tulisan ini bisa dapat dipercaya?—batinku. Mata ini masih fokus menatap tulisan di kertas tersebut menghilang tanpa sebab membuatku meremat kertas itu kembali dan melemparkannya ke tempat sasaran. Ternyata tembakan kertasku kena sasaran pelaku, ia meringis sedangkan aku tertawa dalam hati bahwa aku bisa melawan balik. Sesuai kata ayahku, batinku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD