Bab 21

1091 Words
"Eon Goroses, maaf sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu! Aku ada sedikit pekerjaan, dan akan membahas masalah pernikahan. Maaf sekali lagi ya,” Terlihat jelas di wajah Eon Goroses bahwa dia sangat kecewa dengan pembatalan ini. “Tidak apa-apa Grec, aku akan pergi sendiri saja!” jawabnya. Lauren pun kembali masuk ke dalam kamar! Dia merasa tak enak pada Eon Goroses! Pasti dia merasa kesal. Bisa-bisanya Romeo melakukan ini di saat sempit seperti tadi. Lauren melihat kaca, di sana lehernya penuh dengan jejak kemerahan. “Apa kau akan menikah dengan Romeo dalam waktu dekat?” Lauren berbalik! “Darimana kau masuk,?” dia bertanya dengan wajah heran karena saat keluar kamar dia mengunci dengan benar. Katie tersenyum menatap Lauren! “Kenapa? Ini kan rumahku, tentu saja bisa masuk sesuka hati! Mungkin kau lupa mengunci pintu kamar tadi,” “Menenangkan seekor ular adalah hal yang mustahil di lakukan banyak orang! Tapi membunuhnya bukan pekara yang sulit, apa kau tahu arti kalimat itu,? aku tak pernah berharap ada ketidaknyamanan pada hubungan kita! Maaf Katie, aku sangat menjaga privasi,” Lauren berkata sambil memutari tubuh Katie yang lebih pendek darinya. “Hey manis, kenapa diam?” Lauren duduk di atas ranjangnya. “Aku akan menikah dengan Romeo dalam waktu dekat! Kami saling mencintai dan pria itu menuntut banyak anak dariku,” Marah dan sakit, Lauren memancing emosi Katie dengan sangat sempurna. “Apa kau punya rencana lain yang tak aku ketahui? Apa kau berniat menguasai harta kami,?” Katie berbicara dengan sendu. Lauren mendekat! “Katie, aku bukan dari kalangan bawah. Jika aku menginginkan harta maka aku akan meminta langsung pada Romeo. Dia akan memberikan apapun yang aku minta,” Lauren memainkan kuku jarinya lalu menghembuskan pelan. Wajah mengeras Katie berubah, “Maaf jika perkataanku menyinggung perasaanmu! Aku tidak bermaksud begitu, lagipula ini bukan masalah jika kau tidak melakukannya,” Katie berjalan mendekat pada Lauren dan memeluk wanita itu dengan sangat erat. Lauren membatu! Di dunia ini sangat banyak orang bermuka dua seperti Katie. Tapi jarang yang tak memiliki harga diri seperti wanita satu ini. Katie bisa saja melakukan kesalahan fatal dan menganggap itu biasa saja. Sepertinya dia sudah terbiasa di ampuni dan di abaikan, Lauren membuka tangannya dan membalas pelukan Katie dengan sangat erat. “Datanglah padaku kapanpun kau inginkan, aku sangat senang jika kau mau melakukan sesi curhat padaku,” Katie mengangguk dan pergi dari hadapan Lauren! “Kenapa? Apa yang kau lakukan di kamar Lauren selama itu, aku menunggumu sejak tadi!” “Untuk apa?” Katie mengangkat wajahnya menatap Eon Goroses. “Untuk memastikan dia sendiri! Dan Mas risau karena aku tak kunjung keluar,? jujur saja,” dia berkata sambil masuk ke dalam kamar. "Katie..." Eon Goroses menahan pintu itu, “Ada apa Mas? Ada apa lagi? Aku sedang sibuk,” Eon Goroses mengusap rambut Katie dengan lembut. “Apa yang membuatmu marah? Katakan padaku,” Katie sedikit menyunggingkan senyum. “Dia punya ide cerdas kali ini,” Romeo mendengar semua apa yang Katie katakan! Permainan sudah di mulai, tiba-tiba ada rasa takut di hati Romeo. Bagaiamana jika Katie berbuat hal nekad. Di dalam kamarnya! Lauren menatap layar ponsel dengan teliti, Eon Goroses ingin meminta tolong padanya! Pria itu sedang kesulitan dalam menyusun beberapa skema dan dia merasa Lauren bisa membantunya. “Hm, di kolam renang ya, tapi ini sudah pukul 02 malam! Apa aku sebodoh itu,?” Lauren pun dengan cepat membalas pesan Eon Goroses! “Maaf aku tak bisa,” Lauren pun mematikan ponselnya. “Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini? Aku merasa ada yang tak beres si antara mereka semua.” “Mau aku ceritakan,?” Lauren memegang dadanya karena terkejut! “Apa yang kau lakukan? Kenapa masuk begitu saja?” “Ssst,” ucap Romeo yang meletakkan jari telunjuk pada bibir wanita itu. “Aku berusaha masuk lewat jendela supaya tidak ada yang tahu! Tapi kau malah berteriak histeris,” “Ini sudah malam,” Romeo mengangguk! “Karena sudah malam makanya aku kemari! Aku ingin tidur di dekatmu.. aku ingin di dekap,” Kening Lauren mengerut! Apa yang kau inginkan? Aku tidak bisa melakukannya. Dan jujur saja, kau terlihat berbeda saat dekat seperti ini. Kau- ah sudahlah,” “Aku kenapa? Dingin? Cuek? Enggak banyak bicara? Ya itu aku, tapi pada orang yang tidak aku kenal, khusus buatmu ini akan sangat berbeda,” jawabnya sambil memeluk Lauren dari belakang. “Apa keluargamu menelepon,?” Lauren mengangguk! “Mereka meminta lebih, dan aku mohon jangan berikan apapun.” “Mereka juga menghubungi aku,” Lauren mengikuti Romeo yang duduk di atas ranjang. “Lalu apa yang kau katakan,?” “Seperti yang kamu katakan padaku, Cia, aku tidak bisa membantu lebih dari itu. Karena semua sah dan bertinta di atas kertas,” Lauren menunduk! “Terimakasih karena membiarkan aku tetap memiliki harga diri.” Romeo merebahkan tubuhnya di ranjang! Tangan pria itu berada di kepala belakang dan matanya lurus memandang ke arah langit kamar. “Kau sudah melihat semuanya, aku tak perlu lagi bicara padamu, aku hanya berharap kita bisa menikah hingga Katie tak bisa lagi berpikir yang aneh-aneh.” “Jangan menjelaskan apapun jika kau tak ingin! Lagipula aku punya mata untuk melihat segalanya. Jika Katie bisa sembuh dengan pernikahan kita, maka menurutku lebih baik kita majukan saja waktunya,” jawab Lauren peduli. Romeo menatap Lauren, wajah wanita ini sangat kecil dengan bibirnya yang tipis. Tanpa terasa tangannya terurai meraih wajah sendu itu. “Apa kau marah mereka menjualmu padaku,?” tanya Romeo sambil mengusap wajah Lauren. “Tidak, karena jika kau tak membeliku, mungkin aku berakhir dengan pria yang tak di kenal. Aku tidak marah padamu, sungguh!” “Tapi semua ucapanmu-” Lauren tersenyum! “Aku marah karena kau menilaiku dengan uang,” jawabnya. Ada sedikit penyesalan di hati Romeo telah mengatakan hal kasar pada Lauren selama satu minggu ini. Dia tak bermaksud menyakitinya! Romeo hanya tak ingin Lauren pergi.. “Maaf,” “Jangan katakan itu, kau seperti memutar balikkan fakta jika begini, jangan pernah minta maaf padaku," Entah karena angin apa! Vey tidak memiliki banyak perlawanan, atau mungkin semua ini terjadi karena hatinya cukup lelah malam ini, Lauren membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Romeo. Mata mereka sama-sama memandang ke arah langit-langit kamar. "Aku sangat berterima kasih untuk malam ini," "Aku juga sangat terima kasih karena kau telah datang malam ini, sejujurnya aku cukup rapuh, ketika mereka mulai menghubungiku." "Aku tahu, siapapun manusianya akan bermain hati jika berurusan dengan keluarga. Aku pun juga begitu Grec, semuanya kulakukan demi mami, Aku ingin Li berubah," ucap Romeo yang kini mulai memejamkan mata. -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD