Bab 15

1128 Words
"Katie," tangan wanita itu di tarik tiba-tiba dengan seorang pria yang tak lain adalah Eon Goroses. Dia menindih tubuh wanitanya di antara dinding, "Mas, jangan begini nanti ada yang lihat! di rumah ada Mami dan Papi," "Aku tahu, bahkan Mamiku juga masih di sini, bukan?" Katie terdiam dan saat itu Eon Goroses langsung memanggut bibirnya. "Mas," erang Katie karena pria itu sangat rakus dan tak bisa mengendalikan dirinya. "Katie, aku ingin bersama denganmu, bagaimana kalau-" "Ehmm," suara deheman terdengar dari sudut ruangan itu! Eon Goroses dan Katie langsung salah tingkah karena melihat Tuan Emos Barones di sana! "Apa kalian akan ke kantor?" Katie mengangguk! "Iya pi," jawabnya. "Apa Papi juga mau pergi ke perusahaan?"  Tuan Emos Barones mengangguk! "Papi dan Mami harus berangkat ke Berlin! Mami Eon Goroses yang akan tinggal," ucapnya melirik pria yang masih salah tingkah karena perbuatannya sendiri. "Ah, iya Tuan! kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," dia menunduk sebelum menghilang dari hadapan Tuan Emos Barones. "Katie, papi tidak menyangka kau bisa masuk ke dalam perusahaan karena menyelamatkan tender. Selamat ya sayang, Papi senang sekali jika kau ingin terus belajar. Ini adalah hal yang baik untuk perkembangan akademi mu, Walaupun Papi masih kecewa karena IPK yang hanya 2,48 itu! tapi papi bersyukur jika memang sudah ada tempat untukmu," Katie menelan saliva! dia takut Tuan Emos Barones tahu apa yang sudah dia lakukan pada Sharoon. "Aku selalu berusaha untuk belajar Pi, terimakasih ucapan selamatnya," "Papi ingin mengadakan pesta untukmu setelah pulang dari Berlin! undang semua temanmu! bukankah mereka belum pernah main ke sini,?" Katie tergugup! dia tidak ingin ada yang tahu wajah Maminya yang udik. Pasti mereka akan bilang kalau dirinya mirip sang mami,  Katie tidak ingin menjadi bahan cemooh! lagipula dia juga tidak ingin mengadakan pesta apapun. "Maaf pi, di perusahaan sangat sibuk dan aku tak sempat mengadakan pesta seperti itu," ucapnya sambil tersenyum menatap Tuan Emos Barones. "Baiklah, hati-hati dalam bekerja! katakan saja pada Papi jika kau ingin melakukan pesta, Bebeh," Dia mengangguk dan langsung pergi dari hadapan Tuan Emos Barones karena tidak ingin ada pertanyaan lebih lanjut. rasanya pusing sekali jika itu terjadi. "Apa yang terjadi? apa Tuan Emos Barones melihat kita?" Katie memutar bola mata jengah! "Kau pengecut sekali, Mas, bisa-bisanya meninggalkan aku seperti tadi! kau membuat aku kesal saja! aku malas bersamamu hari ini," tambahnya. "Tapi Katie, aku-" "Apa Mas, itu cocok untukmu karena kau sudah meninggalkan aku tadi," Tidak bisa berkutik karena dirinya memang salah! "Baiklah," jawab Eon Goroses yang menghidupkan mesin mobilnya. Tuan Emos Barones menatap dari dalam mobil itu pergi! pikirannya berkecamuk! hari ini Dhenia keluar dari penjara, dia bisa saja mencari Eon Goroses. Entah bagaimana caranya! semua ini tetap harus terkendali agar sahabatnya Addison tenang di sana! "Apa kau sudah meminta beberapa orang mengikuti Eon Goroses!" Tuan Emos Barones mengangguk! "Aku sangat berhati-hati! aku berharap kau membicarakan ulang pada Aditia agar Eon Goroses kembali ke Singapura. Tempat ini bukanlah yang terbaik baginya," Nyonya Fransisca terdiam sejenak! "Aditia bilang semua akan semakin sulit jika Eon Goroses di sana! karena kita bukanlah orang yang bisa melarikan diri. Dhenia punya uang dan koneksi yang cukup untuk mengetahui dimana Eon Goroses berada walaupun kami berada di Singapura. Malah menurut Adit! tempat terbaik untuk Eon Goroses adalah Jakarta! dimana kita semua berada untuk menjaganya," Tuan Emos Barones menelan salivanya! "Kali ini kalau dia berbuat suatu kejahatan maka aku akan mengirimnya ke penjara seumur hidup!" ucap Tuan Emos Barones dengan tegas. "Jalankan sesuai rencana yang kita susun! biarkan Dhenia mendekat agar semuanya lebih cepat selesai! aku sungguh sudah muak dengan ketakutan ini." "Sama, aku pun sudah muak dengan semua ini! kita lihat apa yang bisa wanita gila itu lakukan sekarang." Nyonya Emanuela yang berada di belakang Nyonya Fransisca dan Tuan Emos Barones hanya bisa diam saja karena tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Semua keadaan sudah terbaca oleh suaminya dan tinggal bagaimana keadaan mangarahkan semua yang sudah mereka buat. "Nyonya Fransisca, apapun yang terjadi! mau harus kuat, sama seperti Nyonya Emanuela, kau juga punya Aditia," "Aku tahu,!" jawabnya yang kini terkekeh. Bibir Tuan Emos Barones pun tertarik ke atas! Nyonya Fransisca akan mendapatkan laporan tentang anaknya mulai hari ini. Dia akan mengetahui seberapa bodohnya anak muda itu! Semoga wanita itu kuat menghadapi kenyataan. Nyonya Emanuela meraih tangan Tuan Emos Barones yang masih berada dalam saku. Menyenderkan kepala ke punggung pria itu! "Mas, semoga semua baik-baik saja! perasaanku sungguh tidak enak. Entah bagaimana ini," Aslon menepuk-nepuk pelan tangan Nyonya Emanuela. "Tenanglah! kita harus memperhatikan dari jauh. Aku tahu orang-orang sedang mengawasi kita saat ini," Nyonya Fransisca membenarkan! "Kalian harsu pergi Nyonya Emanuela," "Iya kak, aku titip anak-anak! satu bulan bukan waktu yang sebentar kak, aku belum pernah meninggalkan mereka barang sehari pun," ucapnya rapuh. Nyonya Fransisca bisa mengerti! begitu juga dengan Tuan Emos Barones. Pria itu rasanya ingin berteriak agar anaknya itu tahu betapa maminya ini sangat menyayangi semua anak-anak tanpa terkecuali, "Romeo akan datang bersama tunangannya sore ini! Nyonya Fransisca aku mohon bantuanmu," "Itu tidak masalah, aku sudah seperti Mami mereka sendiri! jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting!' jawabnya. Setelah mengatakan itu Tuan Emos Barones pun menghubungi Romeo. Pria itu sangat cepat mengangkat panggilan sang papi. "Iya Pap," "Kami berangkat sore ini! Semua akn berjalan sesuai dengan rencana. Tidak ada yang papi rahasiakan darimu! jadi bijaklah Romeo," "Baiklah, hati-hati di jalan Pa, sampaikan juga pada Mami," Panggilan itu terputus dan Romeo membalikkan tubuhnya menatap Lauren yang kini sudah di ikat pada sebuah kursi. "b******k! b******n," teriaknya, Romeo mendekat! dia membuka kedua kaki Lauren hingga wanita itu terpekik. "Apa ini yang kau pertahankan?" suara barito itu membuat Lauren bergetar takut.  Dengan kuat dia semakin melebarkan kaki wanita yang berusaha mempertahankan dirinya. Pagi ini benar-benar menyebalkan bagi Lauren. Dia yang baru saja selesai mandi berpapasan langsung dengan Romeo. Saat pria itu ingin mencumbunya Lauren menolak dan memberontak! dan beginilah hasilnya. Lauren berakhir dengan ikatan penuh dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang pun. "Lepaskan aku! kau gila," teriaknya. Romeo terkekeh! "Baiklah, aku gila," ucapnya mengulangi perkataan Lauren sambil membuka kedua kaki wanita itu dengan kuat. Lauren memberontak dengan kuat! dia tidak pernah menemui pria segila ini! "Lepaskan aku Romeo," "Tidak akan, sampai aku memeriksa apa yang ada di bawah ini!" jawabnya dengan wajah datar. "Arghh," teriak Lauren saat dia merasakan sesuatu menggoda bagian intimnya. "Akh," napasnya tersengal saat Romeo menarik ujung buah dadanya dengan kuat. "Lepas!" teriak Lauren. "Sakit atau geli!" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Romeo dan jelas saja Lauren ingin mencabiknya. "Ayo jawab! sakit atau geli,?" wajah pria itu terlihat sangat penasaran sekali. "Bagaimana kalau ini,?" dia meletakkan bibir bawahnya meraba ujung buah d**a Lauren. "Geli," jawab Lauren cepat. "Aku bisa pipis di celana karenamu, lepaskan aku sekarang! aku sungguh tidak tahan," dia menghimpit bagian intimnya rapat. Romeo tersenyum! "Lakukan sekarang! aku ingin melihatnya," "Ha,?" Lauren ternganga mendapat jawaban seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD