Berusaha tidak egois

1276 Words
Hari ini Bayu bangun sedikit terlambat karena semalaman sakit itu mengejutkannya berulang. Baru terpejam, nyeri hebat mengusiknya hingga Bayu kesulitan untuk kembali memejamkan mata. Lelaki itu baru bisa tidur nyenyak menjelang subuh tadi. Begitu turun, tak tampak siapa pun. Pemuda itu meliarkan pandang mencari keberadaan papa, kakak, juga sang bunda. "Bunda," panggilnya pelan. Bayu berhenti sebentar. Sebelah tangannya bertumpu pada meja makan, sementara satunya lagi sibuk mencengkeram perut yang belum ada perbaikan. Saat itu, kedua netranya menangkap secarik kertas di atas tudung saji. Bayu kuat sekolah, 'kan? Tolong kasih bekal yang udah Bunda siapin buat Kakak, ya. Kakak tadi berangkat pagi-pagi banget sama Papa, jadi enggak sempat sarapan. Bunda takut Kakak sakit. Bunda juga harus pergi soalnya anaknya teman Bunda meninggal. Bayu langsung berangkat, ya. Pintunya kunci aja. Kuncinya simpan di tempat biasa. Bunda Sang bunda bahkan tak membangunkan atau sekadar menanyakan keadaannya. Apa yang tertulis pun lebih mirip pernyataan dibanding pertanyaan. Sekarang Bayu bingung bagaimana berangkat ke sekolah. Uang jajannya benar-benar habis, dan tidak mungkin juga ia pergi jalan kaki dengan kondisi seperti ini. Apa kali ini Bayu harus merepotkan teman-temannya? Pemuda itu mengambil ponsel, lantas mengetik sebuah pesan di grup. [Fortius] Me Ada yang masih di rumah enggak? Hanin Hanindya hadir. Aries Modus. Gue masih di rumah, Ri. Tapi kayaknya bakal lebih cepat Hanin. Sabil Kasih jalan biar lancar macem jalan tol. Naren YANG LAIN MINGGIR. KASIH JALAN BUAT SCOOPY PINK. Hanin APA SIH KALIAN, HA? SALAH AJA KALAU CECAN MAU BERAMAL. Arsen Sambil menyelam, minum baygon. Naren Mati bodoh. Arsen Enggak anjir. Ijo doang. Kalian enggak percaya? Aries Enggak. Sabil Enggak (2) Naren Sesat percaya sama lo. Arsen Enggak percayaan. Nih lihat. Arsen  Hanin  Hanin Malu gue temenan sama Arsen. Naren Idem Sabil Gue enggak ikutan. Musuhan sama ketua kelas nanti apa-apa dipersulit. Naren Idem Hanin Enggak punya pendirian dasar, ya, Anda! Aries  Me Nin, gue tunggu depan rumah. Gue enggak kuat jalan jauh. Aries Yung, kalau masih sakit istirahat aja dulu. Arsen Gue bolos aja gimana? Gue antar ke rumah sakit tempat Bokap praktik, deh. Me Enggak usah. Lagian hari ini ada ulangan. Hanin Tungguin gue, ya! Bayu takkan lupa apa yang dikatakan sang mama, sakit tidak boleh dimanja karena nantinya pasti keenakan. Jadi, sepayah apa pun kondisinya sekarang, Bayu tidak akan mengeluh apalagi membiarkan rasa sakit itu mengalahkan tekadnya. Mendengar suara klakson di depan, Bayu langsung mengambil bekal untuk sang kakak, kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Buyung ... Buyung!" "Bentar, Nin." Tepat setelah Bayu berada di hadapannya, kelopak mata Hanin melebar. "Yung, astaga pucat banget. Tante Anggia enggak di rumah? Kok lo dibiarin sekolah dengan kondisi kayak gitu, sih?" Dengan gerakan cepat Bayu menutup kaca helm Hanin, memutar tubuh gadis itu membelakanginya, kemudian merangkulnya. "Ayo berangkat! Nanti kita kesiangan." *** Sesampainya di sekolah, yang pertama Bayu cari adalah sang kakak. Bagaimanapun, bundanya memberi amanah untuk memastikan Wil memakan sarapannya. Namun, begitu diajak bicara, Wil justru kembali bersikap dingin. Padahal, dua hari yang lalu-meskipun tetap ketus-Wil sedikit lebih hangat. Bahkan, saat Bayu memintanya ke belakang sekolah untuk sekadar menyerahkan bekal dari sang bunda, Wil sempat menolak. "Gue enggak ngasih di kelas karena takut lo malu, Kak. Ini bekal dari Bunda. Katanya lo enggak sempat sarapan. Bunda takut lo sakit." Reaksi Wil benar-benar di luar dugaannya. Pemuda itu dengan kasar menepis kotak bekal yang diserahkan Bayu hingga isinya tercecer. "Lo apaan, sih?" "Gue benci anak yang suka caper," kata Wil sungguh-sungguh. Ia masih kesal karena semalam papanya justru memilih menghampiri Bayu lebih dulu. Padahal, Wil sudah rela menahan lapar hanya demi bisa makan bersama sang papa. Alis Bayu saling bertautan mendengar penuturan kakaknya. Cari perhatian bagaimana? Kepada siapa? Bayu bahkan menahan diri untuk tidak mengeluh sakit agar tak sampai membuat orang tuanya mengabaikan Wil. "Kalau lo benci sama gue, jangan begini caranya, Kak. Ini sama aja lo enggak menghargai kerja keras Bunda. Lo harusnya bersyukur karena seenggaknya Bunda sempat menyiapkan bekal buat lo. Bunda bahkan enggak kepikiran buat nanya kondisi gue karena sibuk mikirin lo." "Lo iri?" Bayu membuang pandangannya ke arah lain. "Gue bukan iri, cuma menyayangkan sikap lo yang kekanak-kanakan. Gue ngerti rasa sakit lo karena gue pun ada di posisi yang sama. Tapi, apa yang terjadi di masa lalu enggak bisa selalu dijadikan alasan untuk menjadi manusia egois. Lo juga harus mulai terbuka untuk melihat rasa sakit orang lain, Kak. Gue bisa terima semua perlakuan lo karena lo kakak gue, tapi orang lain? Gue enggak mau lo punya banyak musuh karena sifat itu." "Jangan sok peduli." "Gue enggak minta lo percaya kalau gue benar-benar peduli. Tapi, gue yakin lo punya hati dan bisa merasakan semuanya." Wil diam. "Oh iya, satu lagi. Kalau Bunda tanya tentang makanannya, bilang aja lo udah makan. Gue enggak mau Bunda kecewa karena anak kesayangannya malah dengan sengaja buang makanan yang susah payah dia buat." Apa yang dikatakan Bayu menusuk tepat hatinya. Wil tak bergerak dengan sorot terpusat pada kotak bekal yang isinya sudah berhamburan. Ia bukan tak menghargai apa yang dilakukan sang mama, Wil hanya masih kesal pada Bayu. Melihat Wil masih pada posisinya selepas kepergian Bayu, Arsen yang sedari tadi mengamati dari jauh langsung menghampiri lelaki itu. "Gue ke sini bukan mau ikut campur urusan kalian. Anggap aja gue bicara sebagai orang asing, apa yang barusan Lo lakukan itu keterlaluan, Wil. Lo nyakitin dia terang-terangan di saat dia berusaha perhatian dan sayang sama lo. Sementara lo bahkan enggak pernah mau nanya apa yang dia rasain. Dia sakit, tapi nahan diri supaya lo enggak berpikir dia manja dan mau merebut perhatian orang tua kalian. Dia juga biarin nyokapnya lebih dekat sama lo, sedangkan Bayu dilarang buat dekat sama siapa pun. Lo pernah ngerasain enggak sih gimana rasanya punya dua tempat tinggal tapi tetap enggak tau ke mana harus pulang? Itu yang Bayu rasain selama ini." Pemuda itu masih tak bersuara, berusaha mencerna ucapan Arsen dengan baik. "Seandainya kalian semua udah enggak bisa jagain Bayu, gue siap kok jagain dia. Bokap juga enggak keberatan. Dia malah senang kalau Bayu di rumah. Keluarga Naren, Aries, Sabil, bahkan Hanin juga bisa terima Bayu lebih baik. Itu karena kami sadar, orang sebaik Bayu enggak pantas disia-siakan." "Dia adik gue. Dia enggak akan ke mana pun." Arsen tersenyum sinis. "Adik lo? Kalau benar dia adik lo, tunjukkan lo emang kakaknya. Jangan bikin kita pengin ngambil Bayu dari kalian." *** Bunda Bayu, Kakak udah sarapan? Chat Bunda enggak dibalas, mungkin sibuk belajar dan enggak sempat pegang handphone. Bayu mendorong sepiring siomay di hadapannya, kemudian mengetik balasan. Me Udah kok, Bun. Bunda jangan lupa makan. Bunda Makasih, ya, Sayang. Bunda udah makan kok tadi sama teman. Apakah salah jika Bayu berharap sang bunda memberikan balasan berbeda? Misalkan, meminta Bayu makan juga atau paling tidak menanyakan keadaannya. "Habisin, Yung. Kalau enggak, gue ngambek nih ogah traktir kalian lagi," ujar Naren. "Enek gue." Kelimanya langsung menatap pemuda itu khawatir. "Yung, udah diperiksain?" Arsen ikut bersuara. "Udah kok sama Bunda kemarin." Padahal, jelas sekali jawaban itu bohong. Sang bunda malah menyuruhnya memaksakan diri hari ini. "Pasti udah. Tante Anggia mana mungkin biarin anaknya sakit," celetuk Hanin. "Terus kata dokter gimana?" Gantian Aries yang bertanya. "Lambung doang." "Jangan disepelekan, Yung. Mending sekarang gak parno tapi hasilnya enggak jelek, daripada terlalu santai ujungnya enggak enak karena telat ketahuan." Bayu tersenyum. "Kalian perhatian banget. Gue berasa jadi anak kalian, bukan sahabat doang." "Karena kita sahabat lo, Yung. Kita ikut sakit kalau lo sakit. Ibaratnya, gigi yang sakit kepala ikut cenat-cenut. Biasanya kayak gitu, 'kan kalau sahabat?" Mendengar ucapan Hanin, Aries tertawa. "Agak pahit-pahit gitu pas ngucapin sahabatnya. Mulut yang ngucap, hati yang kegigit." Mereka kompak tertawa, tak terkecuali Bayu. Ia merasa beruntung berada di tengah-tengah mereka. Setidaknya ada yang bisa menyamarkan rasa sakitnya sejenak. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD