Disalahkan

1117 Words
"Bun, aku lapar." "Tunggu Papa sama Kakak dulu, ya, Nak. Enggak enak lho makan duluan sementara tuan rumah belum pulang. Bunda juga lapar, tapi masih bisa tahan. Masa kamu yang laki-laki merengek gitu." Bayu menghela napas. Bahkan di rumah ini diberlakukan istilah tuan rumah. Berarti secara tidak langsung sang bunda mengatakan kalau Bayu hanya tamu, begitu? Harusnya Bayu memang tahu diri. Tidak boleh berharap terlalu banyak. Pemuda itu mengambil gelas, menuangkan air dingin dari kulkas, kemudian menenggaknya hingga tandas. Berharap hal itu bisa menyamarkan rasa lapar dan sanggup menyapu pahit di lidahnya. Namun s**l, bukannya membaik, air yang belum lama tertelan malah membuat Bayu mual. "Nonton atau main game dulu aja. Jangan di dapur, nanti makin berasa laparnya. Nanti Bunda masakin makanan kesukaan Bayu deh kalau kuat tahan sampai Papa pulang." Meski mengangguk, Bayu tak yakin apakah nanti ia bisa memasukkan makanan ke dalam perutnya atau tidak. Rasa laparnya enyah, berganti perih. "Kakak minta diantar ke toko buku sama Papa. Bayu enggak mau nitip? Bunda senang lho kalau Bayu bisa meniru kegiatan positif Kakak. Kakak rajin belajar, senangnya baca, nilainya juga selalu bagus. Bunda bangga banget biarpun bukan ibu kandungnya." Bayu membaringkan tubuhnya di sofa, berusaha menganggap ucapan bundanya angin lalu. "Papa Mario mungkin anggap Bayu seperti putranya sendiri, tapi Bunda mau Bayu mandiri. Sekarang banyak beasiswa. Bayu harus berusaha keras dapat itu biar enggak terlalu merepotkan Papa. Papa sih enggak keberatan, cuma Bunda yang enggak enak. Masa anak kandungnya aja ngejar beasiswa, Bayu yang bukan siapa-siapa malah kelihatan santai." Demi apa pun, apakah sang bunda tidak bisa berhenti bicara sebentar? Setidaknya jangan menyinggung sesuatu yang membuat Bayu merasa semakin tidak diterima. "Bunda bicara dari tadi kok Bayu diam aja? Dengar enggak?" Lagi, Anggia bersuara sembari melanjutkan kegiatannya memasak. "Dengar, Bunda," sahut Bayu pelan. "Bagus." Sembari menuangkan bumbu ke dalam wajan, Anggia bicara lagi, "Didikannya Ayah jangan dibawa ke sini. Ayahmu itu pemalas, makanya sekarang hidupnya susah. Bayu jangan bikin Bunda malu. Harus lebih semangat dan punya jiwa kompetitif, tapi jangan sampai bikin Kakak sedih karena merasa kalah." Bayu harus menjawab apa? Di satu sisi sang bunda memintanya untuk lebih kompetitif, tapi di saat bersamaan Bayu juga harus selalu mengalah pada Wil. "Makanannya agak pedas enggak apa-apa, kan, Nak? Wil suka banget pedas soalnya. Bunda senang banget kalau misalkan lihat kakakmu makannya lahap." Mendengar sang bunda begitu antusias dan terdengar bahagia mengatakannya, lagi-lagi Bayu hanya mengatakan iya. "Kemarin waktu kamu ke rumah Ayah, dia ngasih uang enggak? Kalau ngasih, disimpan buat bulan depan biar Bayu enggak usah minta uang jajan sama Papa Mario. Cukup buat kebutuhan sekolah aja." Pemuda itu menegakkan tubuh, berusaha menahan cairan asam yang merangsek naik ke kerongkongannya. "Tapi, Bunda enggak yakin sih dia ngasih kamu uang. Orang buat makan aja masih utang sana-sini. Mana mampu ngasih kamu uang buat jajan." Tangannya bergerak membekap mulut. Meski sudah terasa di ujung, tetapi anak itu masih berusaha menahan diri agar tidak muntah. "Beruntung Bayu tinggal di sini. Papa Mario enggak pernah memperlakukan Bayu seperti anak tiri, dia bahkan memberi apa pun yang Bayu mau. Tapi, kita harus cukup tahu diri, ya, Nak. Papa baik karena dia suami Bunda. Bukan karena dia papa kamu." Bayu tak bisa menahannya lagi. Sedikit tergopoh-gopoh, pemuda itu berusaha mengayunkan kakinya ke arah kamar mandi. Sayang, lambungnya bersikap kurang ajar. Sebelum sempat Bayu menjejakkan kedua kakinya di kamar mandi, isi lambungnya lebih dulu berontak. Bayu muntah. "Astagfirullah. Bayu, kok muntah di situ sih? Kenapa enggak ke kamar mandi coba. Kamu bukan anak kecil lagi lho. Kenapa sih kayak bocah begini? Ya ampun, gimana kalau Papa sama Kakak keburu pulang? Bisa enggak nafsu makan mereka karena ini." Sudut mata Bayu berair. Selain sakit, hatinya pun perih. Sang bunda justru memarahi di saat Bayu benar-benar membutuhkan perhatian. "Ma--af, Bun ...." Lemah sekali suara yang terdengar, tetapi tak juga membuat hati sang bunda ternyuh. "Ayo ke kamar mandi. Ya Allah, Nak. Bayu nambah-nambah kerjaan Bunda aja. Harusnya bilang dong kalau mau muntah begini." Bayu tidak bisa merasakan apa-apa, selain tangan dan kakinya yang terasa dingin. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, tetapi sang bunda justru melangkah ke belakang hendak mengambil alat pel. Karena posisinya berada di tengah ruangan, jauh untuk sekadar berpegang pada dinding, Bayu kehilangan keseimbangan. Pemuda itu jatuh. "Bayu!" Itu bukan suara sang bunda, Bayu hafal betul. Yang jelas suara laki-laki. Semakin lama, meskipun goncangan di tubuhnya kian brutal, tetapi suara orang-orang di sekelilingnya justru menghilang, bersamaan dengan kesadarannya yang juga tenggelam. *** "Aku, kan, wanti-wanti dari semalam, tolong bawa Bayu ke rumah sakit. Aku udah janjian juga sama dokternya. Kalau aku enggak ada meeting juga aku yang bakal antar dia. Aku yang enggak setiap waktu sama dia aja sadar lho ada yang aneh sama tubuhnya. Masa kamu bundanya enggak sadar itu?" "Bukan salahku, Mas. Bayu enggak bilang kalau dia sakit. Jadi, aku pikir dia baik-baik aja." Mario berdecak sebal. "Bayu enggak berkewajiban menjelaskan, kamu sebagai bundanya pernah nanya enggak dia kenapa? Apa yang sakit?" Anggia diam. Hatinya sakit karena untuk kali pertama sang suami marah sampai seperti ini. Parahnya lagi, lelaki itu memarahinya di depan banyak orang. Ada dokter, perawat, Wil, pasien dan keluarganya, mengingat mereka saat ini masih di IGD. "Maaf." "Minta maaf sama Bayu, bukan aku. Aku cuma mengingatkan supaya kamu enggak menyesal kalau sampai terjadi sesuatu sama dia." Sayup-sayup Bayu mendengar pertengkaran itu. Hal pertama yang menyambutnya ketika sadar. Namun, ia masih enggan membuka mata. Bayu merasa bersalah karena sudah membuat sang bunda dimarahi sampai seperti itu. Seharusnya Bayu lebih kuat. Tidak sakit seperti ini. "Dok, tolong lakukan yang terbaik. Kalau perlu, periksa secara menyeluruh. Anak saya ini belakangan sering kambuh lambungnya. Saya takut terjadi apa-apa. Masalah administrasi langsung bicarakan sama saya, jangan melalui siapa pun dulu," tegas Mario. Ia tahu betul sang istri pasti berdalih tidak enak karena merepotkan. Padahal, Mario sama sekali tidak pernah berpikir demikian. Wil dan Bayu sama-sama putranya. Jadi, mereka harus mendapatkan yang terbaik. Lelaki itu pergi sebentar untuk mengurus administrasi, menyisakan Bayu dan Anggia yang masih menunggu ruangan untuk rawat inap. Dengan berat, Bayu membuka mata. Pandangannya teralih pada sang bunda yang kini terisak di sisi ranjangnya. Apakah bundanya merasa khawatir? "Bunda." "Bagus kalau Bayu udah bangun. Makasih karena hari ini Bayu berhasil bikin Papa semarah itu sama Bunda." Tajam dan menusuk. "Maaf, Bunda." "Enggak apa-apa. Selama kamu tinggal sama Bunda dan terus berulah, Bunda mungkin harus membiasakan diri dimarahi setiap waktu." Mata pemuda itu memerah. Bibirnya tergigit. Berdasarkan apa yang dikatakan bundanya barusan, Bayu menyimpulkan kalau kehadirannya memang tidak diharapkan. Apakah Bayu harus pergi? Ke mana? Tidak mungkin ia kembali ke keluarga sang ayah yang hidup serba kekurangan. Bayu tidak ingin merepotkan. Namun, tetap tinggal di tempat ini pun rasanya menyiksa dan hanya membuat Bayu diperbudak rasa sakit. Lalu, Bayu harus apa sekarang? |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD