Tangisnya

1230 Words
Me Yah? Ayah Kenapa, Bang? Ayah masih kerja enggak bawa handphone. Me Enggak apa-apa, Bu. Cuma kangen aja. Ayah Kalau bisa, jangan terlalu sering telepon atau chat Ayah. Bundamu itu lho mulutnya enggak bisa dijaga. Ayah Kalau Abang sayang sama Ayah, nurut apa kata Ibu. Emang Abang mau Ayah dihina-hina terus? Jaga jarak dulu dari Ayah. Tanpa membalas, Bayu menyimpan kembali ponselnya, kemudian menenggelamkan kepala di balik selimut rumah sakit. Rasanya sama hampa, seperti tertolak bahkan sebelum meminta. Dadanya sakit sekaligus sesak, terhimpit beban yang tak pernah sanggup disuarakan. Ruangan ini sepi karena semua orang pergi. Sang bunda pergi makan dengan Wil, sementara papa tirinya pulang dulu ke rumah hendak membawa beberapa berkas kerjanya karena malam ini lelaki itu berencana menginap di rumah sakit untuk menjaga Bayu. Bayu merasa bersalah. Setelah menyanggupi membayar seluruh biaya pemeriksaan-yang pastinya tidak sedikit-pria itu juga bersedia menjaganya. "Udah enakan, Nak?" Bayu menoleh ke sumber suara, dan mendapati papa tirinya yang baru saja sampai, melangkah mendekat. Anak itu mengangguk, meski samar. Mario menyeret kursi kecil, duduk, kemudian menggenggam jemari tangan putranya yang terasa begitu dingin. "Lain kali kalau sakit jangan ditahan, ya? Bilang aja. Kalau Bunda enggak mau dengar, Bayu bisa telepon Papa. Papa pasti langsung pulang." "Bunda enggak salah, aku yang salah. Jangan marah sama Bunda, ya, Pa." Belum sempat Mario menjawab, suara perut Bayu lebih dulu menghentikannya. Pria itu bergerak mengusap perut putranya, terasa panas dan sedikit kaku. Pasti sangat tidak nyaman. "Bayu lapar? Mau coba makan enggak?" Kendati sangat ingin, tetapi Bayu menahan diri. Dengan kondisinya sekarang, bukan tak mungkin ia muntah lagi. Hal itu pasti akan membuat sang bunda marah dan kembali kerepotan. Bayu tidak ingin semua terulang. "Perutnya bunyi. Bayu pasti lapar. Kita coba sedikit-sedikit," bujuk Mario lagi. Ia membantu putranya bangkit, mengambil nampan berisi makanan, kemudian bersiap untuk menyuapi putranya. "Ayo buka mulutnya. Papa tahu pasti enggak nyaman, tapi harus. Kalau Bayu enggak mau makan, kapan sembuhnya?"  Bayu mulai menikmati saat pria itu menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejenak hatinya menghangat, teringat perlakuan yang sama dari sang ayah setiap kali Bayu sakit. Namun, itu tak berlangsung lama karena ucapan bundanya tempo hari terngiang kembali. Jangan terlalu dekat sama Papa. Pemuda itu menghela napas berat, kemudian menghentikan pergerakan sang papa menyuapinya. "Pa, aku makan sendiri aja." "Lho kenapa? Enggak apa-apa, Nak, sekali ini Papa suapin." Tegas, Bayu menggeleng. "Aku bisa sendiri kok, Pa. Enggak boleh manja. Nanti kebiasaan." Jika dilihat sekilas, mungkin Bayu lebih beruntung dibanding Wil karena masih bisa bertemu kedua orang tuanya meskipun sudah berpisah dan memiliki keluarga baru. Sedangkan Wilma-ibunda Wil memutuskan menetap di luar negeri. Mario bahkan tidak tahu tempat tinggalnya yang baru. Namun, siapa yang tahu hati manusia? Di balik kukuhnya, mungkin saja Bayu menyimpan luka yang mengerikan karena perpisahan itu. "Nak, kalau ada apa-apa bilang sama Papa. Selain Ayah Fahmi, Papa ini papamu juga. Jadi, jangan sungkan buat cerita. Papa pendengar yang baik lho. Orang di kantor aja sering cerita sama Papa. Mario Teguh musim kedua nih," ujar Mario dengan tawa renyah di akhir kalimatnya. Apa yang diucapkan papanya membuat pertahanan Bayu luruh. Pemuda itu tak sanggup mengangkat kepala, takut jika tangisannya ketahuan. Kebiasaan bersembunyi di balik benteng pura-pura pun hari itu digagalkan. Mario mengangkat dagu putranya. "Apa yang bikin Bayu nangis? Coba bilang sama Papa." Bukanya berhenti, tangis anak itu justru kian hebat, membuat Mario yang melihat pun seolah tertular sakitnya. Dengan gerakan cepat Mario membawa Bayu ke dalam pelukannya. Mario tak bersuara, apalagi meminta Bayu berhenti menangis. Ia tahu, yang dibutuhkan Bayu saat ini hanya tempat untuk bersandar. "Makasih, Pa ...," kata Bayu di sela-sela isakkannya, "makasih udah mau nanya," lanjutnya. Bayu mungkin tidak bisa menjelaskan secara rinci alasan mengapa ia menangis, tetapi Bayu merasa lega karena setidaknya ada yang menyadari bahwa Bayu tidak baik-baik saja. Sesederhana itu. Hati Mario sakit mendengar ucapan terima kasih yang sebenarnya tak perlu. Sudah tugas orang tua memastikan apakah anaknya baik-baik saja atau tidak. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi meminta Bayu berhenti menangis. Mario tahu, yang dibutuhkan Bayu sekarang hanya tempat untuk bersandar. Jadi, ia memilih mengeratkan peluk. Wil yang sedari tadi berdiri di balik pintu turut merasa sakit. Bukan lagi karena iri, tetapi kasihan. Perasaan bersalah menyeruak hebat mendengar tangisan adik tirinya. Tidak seharusnya Wil bersikap kekanakan dengan merenggut seluruh atensi keluarganya, sengaja melupa bahwa ada Bayu yang juga membutuhkan kasih sayang. Apakah terlambat jika saat ini ia ingin mengembalikan semua yang seharusnya milik Bayu? Anak itu benar, Wil tidak boleh egois. Suka atau tidak ia harus mulai membuka mata untuk melihat luka orang lain. "Kakak?" Pelan sekali Anggia memanggil, tetapi cukup membuat Wil terperanjat dari posisinya. Pemuda itu mengambil langkah, menjauh dari pintu. Dengan tergesa pula ia menyapu jejak air mata di pipinya. "Mama." "Kenapa berdiri di sini, Nak?" "Ah, aku harus pulang dulu. Nanti malam aku ke sini lagi. Bilang sama Papa, ya, Ma." Usai berkata demikian, putranya benar-benar pamit, menyisakan tanda tanya imajiner di kepala Anggia. Ia bukan tak melihat anak itu menangis, tetapi enggan bertanya tergesa karena tahu Wil tidak akan suka. Begitu mengintip, Anggia melihat sang suami tengah memeluk putranya. Apakah itu yang membuat Wil menangis? Mengapa Bayu tidak pernah menuruti permintaanya untuk menjauh dari Mario? Padahal, ini demi kebaikan semua orang. Baiklah, mungkin nanti Anggia harus bicara lagi. Jika tak mempan dengan cara baik-baik, sedikit ancaman sepertinya bisa membuat Bayu mengerti. *** "Maksud kamu bilang begini sama Bayu itu apa, Bu? Tahu sendiri Anggia itu gimana. Bayu mau lari ke mana lagi kalau kamu nyuruh dia jaga jarak dari aku juga?" Fahmi terkejut karena begitu membuka ponselnya, ia mendapati beberapa pesan yang dikirim Viona pada Bayu. "Aku salah kalau belain kamu? Aku enggak suka kamu dihina-hina terus sama Anggia!" Fahmi menghela napas lelah. Seharusnya hari itu ia tidak mengatakan semuanya pada sang istri. "Tapi, enggak gitu caranya. Kita sama-sama tahu bagaimana Anggia memperlakukan Bayu. Mereka cuma menang kaya, masalah perhatian nol besar. Aku mungkin enggak bisa memenuhi semua kebutuhan Bayu dari segi materi, tapi aku bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang enggak Bayu dapat dari mereka." Viona menghentikan kegiatannya mengelap meja, kemudian beralih pandang menatap sang suami. "Aku cuma melindungi harga dirimu biar enggak selalu diinjak-injak sama Anggia. Dia itu keterlaluan. Dia kayak enggak makan didikan orang tua!" "Bu, jaga mulutnya. Anggia emang udah enggak punya keluarga sejak SMA. Aku enggak membenarkan apa yang dia lakukan, tapi aku juga enggak bisa sepenuhnya menyalahkan dia. Almarhum Bapak juga mendesak kami menikah saat usia dia masih sangat muda. Jadi, begitu dia mulai dewasa dan bisa mendapatkan segalanya setelah kehidupan kami yang sulit, dia benar-benar merasa di atas angin." Perempuan itu menenggelamkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat. Viona tidak punya maksud jahat pada Bayu. Ia hanya merasa tertekan. Ditambah mendengar Anggia menghina suaminya habis-habisan, membuat Viona semakin meradang. Fahmi mendekap sang istri, mengucap maaf berulang. Ia merasa bersalah karena kondisi keluarga mereka saat ini, tetapi tak bisa melakukan apa-apa. "Aku mohon, jangan minta Bayu menjauh. Dia enggak punya siapa pun lagi selain aku." "Aku minta maaf." "Janji, jangan diulang lagi. Bayu udah cukup menderita sejak kecil. Dia ditarik ke sana-kemari, tapi dia enggak pernah benar-benar punya tempat buat istirahat. Kasihan dia." Tangis perempuan itu semakin kencang. Ia merasa bersalah karena sudah berucap sejahat itu. "Maaf." Tak ada yang Fahmi katakan. Lelaki itu hanya mengeratkan dekapannya, berharap sang istri bisa lebih tenang. Ia tidak bisa menyalahkan Viona. Fahmi tahu Viona hanya ingin membantunya, caranya saja yang salah. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD