Wil terbangun saat mendengar suara-suara berisik dari arah kamar mandi. Pemuda itu melirik jam yang terpatri di salah satu sudut ruang. Lewat tengah malam. Sang ayah tampak kelelahan karena tidur dengan nyenyaknya, sama sekali tak terusik dengan suara berisik itu. Kaki jenjangnya terayun ke sumber suara dan menemukan sang adik tengah memuntahkan isi lambungnya. Helaan napas terdengar. Wil merasa iba melihat kondisi Bayu sekarang. Makanan yang disediakan pihak rumah sakit saja tadi masih tersisa banyak, tetapi yang dimuntahkan melebihi makanan yang masuk. "Kenapa enggak bangunin orang? Gimana kalau lo jatuh?" Meskipun diucapkan dengan nada datar, tetapi itu cukup membuat Bayu mengulas senyum karena merasa diperhatikan. Namun, selang beberapa detik Bayu menunduk lagi, membiarkan cairan pa

