"Bangun, yuk, Nak. Jangan rebahan terus biar penyakitnya enggak betah lama-lama. Ikut Bunda ke taman. Di sana kamu bisa sedikit bergerak biar badannya enggak kaku." Jika dalam keadaan normal, Bayu pasti langsung setuju. Namun, kondisinya saat ini tidak memungkinkan. Jangankan berjalan jauh, bergerak sedikit saja seperti ada ribuan jarum menusuk-nusuk perutnya. "Bunda, jangan sekarang, ya? Perutku sakit." Anggia tersenyum, kemudian mendekati ranjang putranya. "Itu karena kamu tiduran terus, Bayu. Ayo sini Bunda bantu," katanya lagi sembari membantu menegakkan tubuh remaja di hadapannya. "Kurang gerak otot-otot jadi kaku. Bayu jangan malas." Bayu berusaha keras menegakkan posisi tubuhnya, tetapi tidak bisa. Rasanya sakit sekali. "Enggak kuat, Bun. Sakit ...," sahutnya begitu lirih. "Pada

