Dan malam pun telah tiba, Kenzo sudah bersiap dengan setelan formalnya untuk menghadiri birthday party calon tunangannya. Lelaki itu tentu saja sudah menyiapkan satu buket bunga dan satu kotak perhiasan. Kenzo datang ke sana tanpa menggunakan tangan kosong. Bagaimanapun Kenzo telah dikenal sebagai lelaki perayu ulung, dengan begitu banyak wanita jatuh ke dalam pesonanya.
Apa kata dunia jika mereka tahu Kenzo datang ke pesta ulang tahun calon tunangannya sendiri tanpa membawa kado di hari spesial wanita itu? Jelas saja Kenzo harus memikirkan nama baiknya di depan banyak orang pada malam ini. Lelaki itu tersenyum mencurigakan, meski dia tidak menyukai wanita itu, akan tetapi pada malam ini pasti hadir banyak wanita lain di sana untuk menemani malam Kenzo yang terasa sunyi.
"Siapa yang tidak akan menatapku malam ini?" ucap Kenzo menatap dirinya dari pantulan kaca, mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang terpatri pada tubuhnya.
Kenzo menatap sekali lagi penampilannya kali ini. Setelah merasa puas lelaki itu segera menuju bar tempat Shareen mengadakan pesta. Salah satu bar terkenal dan paling mewah di Kota Madrid. Lelaki itu membelah jalanan ibu kota di malam hari menggunakan mobil sport berwarna merah menyala begitu menawan dan memanjakan setiap mata yang menatap kemudi pewaris Hotel Matteo tersebut.
Di sisi lain, Grace menatap ke sekelilingnya, suasana pesta itu terlihat sangat ramai dan juga dihadiri begitu banyak orang. Tentu saja karena keluarga Shareen salah satu keluarga terpandang di sana. Sedikit banyak Grace telah mendengar tentang keluarga teman kuliahnya itu walau hanya sekilas saja.
Grace mencari seseorang, tentu saja Shareen. Pemiliki acara hari ini. Langkah Grace memecah kerumunan di sana, mencari-cari Shareen yang tidak kunjung dia temukan. Sampai akhirnya Grace memutuskan mencari toilet terlebih dahulu untuk menatap kembali penampilannya pada malam ini. Grace berharap dirinya tidak salah kostum, mengingat pakaian yang dia kenakan malam ini adalah gaun darurat, seadanya yang dia miliki di dalam koper miliknya.
Suara erangan membuat langkah Grace terhenti, di depannya. Ada sepasang lelaki dan perempuan yang tengah b******u dengan mesra. Grace bergidik ngeri, tidak menyangka di tengah kota besar seperti itu mereka masih mampu melakukan tindakan-tindakan kurang terpuji, dan di tempat yang tidak seharusnya mereka jadikan tempat saling melepaskan hasrat keduanya.
"Huhh!" Grace spontan mendesah jijik melihat pemandangan seperti itu di depannya.
Apakah mereka tidak punya tempat lain selain di sana? Grace memutuskan membiarkan pemandangan seperti itu begitu saja. Toh itu bukan urusannya. Grace tidak ingin ikut campur, apalagi sampai menjadikan pemandangan buruk itu sebagai tontonan.
Baru saja Grace melangkah melewati pasangan itu, namun sebuah tangan tiba-tiba mencekalnya. Sontak langkah Grace terhenti. Seketika manik mata Grace membulat, terkejut dengan cekalan tangan secara mendadak pada pergelangan tangannya.
"Huhh katamu?" cibir lelaki itu dengan bahasa spanyol yang tak Grace mengerti.
Grace menoleh, matanya melebar melihat siapa yang kini b******u dengan wanita berpakaian kurang bahan itu. Hei, tunggu dulu, bukankah dia calon tunangan Shareen yang dia temui di bandara esok hari? Grace menatap lelaki di depannya dengan pandangan meneliti, meyakinkan netranya bahwa dirinya tidak sedang salah mengenali seseorang.
Tapi, jika benar lelaki di depannya adalah calon tunangan Shareen, lantas apa yang ada dalam pikiran lelaki itu? Ini hari bahagia calon tunangannya, namun dia malah b******u dengan wanita lain. Grace benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki yang saat ini berdiri di depannya.
"Kau mengenalku?" tanya Kenzo ketika melihat mata Grace menatapnya lekat, "atau kau terpesona dengan ketampananku?" Kini Kenzo bertanya dengan bahasa Inggris.
Grace terkekeh, terpesona katanya? Mana ada seorang Grace terpesona hanya karena lelaki tidak tahu tempat dan adab seperti Kenzo.
"Dengan lelaki sepertimu?" jawab Grace dengan nada mengejek.
Kenzo menatap Grace, siapa wanita ini? Kenapa wanita itu tidak terganggu dengan dirinya? Kenapa wanita itu bersikap biasa saja dengan kehadirannya di sana? Ataukah itu rencananya untuk menarik perhatian Kenzo? Calon tunangan Shareen terkekeh di tempatnya. Dia sepertinya sudah menghafal benar cara cerdik para wanita untuk mencoba menarik perhatian Kenzo.
Grace memilih tidak mempedulikan lelaki itu lagi, dia berbalik berjalan meninggalkan Kenzo yang masih tercengang di belakangnya. Kenzo mengikuti Grace, mendorong tubuh itu hingga menatap ke dinding. Raut wajah tidak suka langsung Grace tujukan kepada Kenzo. Dia sama sekali tidak mengenal lelaki di depannya, namun mengapa lelaki itu seolah ingin mencari gara-gara dengan Grace?
"Kau kehilangan akal sehatmu?" teriak Grace marah, memegang lengannya yang terasa panas.
"Kau, siapa?" tanya Kenzo mencengkeram lengan Grace.
Mata elang hazel milik Kenzo dengan mata teduh khas Grace kini saling beradu. Keduanya saling menatap satu sama lain penuh penilaian.
"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak!" ucap Grace berusaha melepaskan cengkraman Kenzo dari lengannya.
Kenzo menatap Grace, wanita itu bukan wanita Spanyol tentu saja. Bahasa yang Grace gunakan juga menunjukkan bahwa wanita itu bukanlah orang Spanyol. Itu wajah asia, dan untuk apa wanita itu di pesta Shareen?
"Katakan, siapa dirimu?" sergah Kenzo merasa begitu penasaran dengan wanita itu.
Grace mendongak, mata mereka bertemu. Kenzo tidak bisa berpaling dari mata itu. Mata terindah yang baru Kenzo lihat kali ini.
"Katakan!" desak Kenzo mendekatkan wajahnya di telinga Grace. Menghirup aroma wanita itu dalam-dalam.
"Grace, namaku Grace," jawab Grace dengan bergidik ngeri di saat napas lelaki itu menyapu bagian lehernya yang terbuka.
Kenzo menarik pinggul Grace, mencium aroma rambut Grace. Kenzo membisikkan sesuatu di telinga Grace hingga Grace menegang.
"Kau, milikku!" tegas Kenzo, mengklaim Grace sebagai miliknya.
Helaan napas berpacu beriringan seirama dengan degupan jantung keduanya. Grace menahan napasnya, saking dekatnya mereka berdua kulit wajah mereka bergesekan. Grace terkesiap, wanita itu tak mampu menutupi degupan kencang di dalam jantungnya saat aroma maskulin tubuh Kenzo Matteo menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Merasakan sensasi kulit halus milik Grace, rasanya Kenzo ingin membawa wanita itu ke dalam kamar, menikmati malam ini bersama dengan wanita Asia yang memiliki sinar mata coklat gelap memabukkan. Kenapa Kenzo justru mempunyai pemikiran di luar nalar seperti itu?
Aroma bunga menyeruak ke dalam indra penciuman Kenzo ketika wanita itu memalingkan wajah darinya.
"Honey." Sebuah tangan bergelayut manja di lengan Kenzo.
Itu bukan Grace, dia wanita yang tadi b******u dengannya. Sebelum keindahan duniawi dia temukan, yaitu Grace miliknya.
Kenzo melepaskan Grace, sontak itu membuat Grace bernapas lega. Grace dengan secepat kilat merapikan gaunnya. Sebelum melangkah pergi, Grace menatap Kenzo dengan tatapan membunuh miliknya.
"Lelaki tidak tahu malu!" umpatnya dalam bahasa ibunya.
Sedangkan Kenzo, lelaki itu seperti mencerna ucapan Grace. Mencari tahu bahasa apa yang wanita itu gunakan. Grace berjalan meninggalkan Kenzo dengan menghentakkan kakinya kesal, membuat nada nyaring saat heels yang dia pakai beradu dengan licinnya lantai.
Kenzo tersenyum geli melihatnya, dia wanita pertama yang membuat Kenzo ingin melakukan cap kepemilikan kepadanya. Hanya dengan Grace.
Suara degupan musik begitu nyaring masuk ke dalam telinga Grace, di sinilah pesta itu akan dimulai. Di ruangan bar yang sangat besar, terdiri dari beberapa lantai di atasnya. Apakah hanya dia yang memakai gaun panjang hari ini? Pikir Grace ketika banyak wanita yang dia temui memakai pakaian minim bahan.
Hei tentu saja tidak, meskipun ini adalah bar, namun bar ini lebih terkesan seperti restoran klasik yang sangat mewah. Apalagi ini adalah acara ulang tahun yang sifatnya formal, Grace tidak salah memilih gaun, mereka hanya kekurangan bahan saja tidak seperti dirinya.
"Oh My God, Grace aku menantikanmu!" ucap Shareen berseru riang ketika melihat teman baiknya asal Indonesia turut datang ke pestanya.
Grace menatap Shareen tidak enak, dia merapikan rambutnya sejenak. Grace mencoba menetralkan raut wajah dan detak jantungnya saat ini.
"Maafkan aku, tadi aku bertemu orang gila di luar sana," ucap Grace.
Haruskah Grace mengatakan kepada Shareen bahwa dia melihat calon tunangannya b******u segila itu dengan wanita lain? Tidak mungkin, Grace tampaknya akan menyimpan sendiri perbuatan Kenzo daripada menorehkan kekecewaan di dalam hati Shareen.
"Benarkah? Bar ini memiliki keamanan ketat Grace mana mungkin ada orang gila di sini?" tanya Shareen tak percaya.
"Hah? Iya, mungkin hanya orang mabuk," gagap Grace.
Shareen mengangguk. Wanita itu menatap mata Grace sejenak sebelum menyunggingkan senyuman ramahnya.
"Buat dirimu nyaman Grace, aku akan menyapa tamu lainnya," ucap Shareen diangguki Grace.
Grace berjalan menuju sofa yang kosong, dia memilih duduk di set yang masih kosong. Tentu saja karena dia tidak mengenal siapapun, mana mungkin dia duduk bersama mereka di sana. Salah satu waiters menawarkannya makanan dan minuman, Grace mengambil minuman berwarna merah anggur.
"Ck, hm manis sekali," kagum Grace saat lidahnya menyesapi rasa dari anggur itu.
Prank. Seketika semua orang menoleh, seorang waiters tengah bersimpuh di bawah kaki seseorang. Grace memandangnya, lelaki tidak waras itu lagi ternyata. Daripada pusing bertemu lelaki itu, Grace memilih menyibukkan dirinya dengan duduk di depan bartender yang kini sibuk membuatkan minuman kepada tamu yang datang. Grace mengamati bagaimana bartender lelaki itu dengan lincahnya mengikis es batu yang tadinya balok kini berbentuk bulat.
"Spesial wine, untuk wanita spesial," ucap bartender dengan wajah tampan, seketika membuat wajah Grace panas.
"Terimakasih," sahut Grace malu-malu.
"Berikan aku satu, minuman yang sama."
Tiba-tiba suara seseorang yang ingin sekali Grace hindari terdengar di sampingnya. Kenzo sedari tadi mencari-cari keberadaan Grace. Dan untung saja, lelaki itu menemukan Grace tengah duduk di depan bartender mengamati lelaki lain hingga membuatnya ingin merobek wajah bartender itu.
"Silahkan Mr.Kenzo."
Kenzo menerima wine itu, kakinya menarik kursi Grace hingga Grace tersentak kaget dari duduknya. Dengan sigap Kenzo menarik pinggang Grace hingga wanita itu tak bisa menolak pegangan Kenzo kepadanya. Jika tangan Kenzo tidak menariknya, mungkin satu detik saja dia akan tersungkur di lantai.
"Aw," ringis Grace.
Grace menatap Kenzo, melepaskan tangan Kenzo dari pinggangnya. Grace sungguh kesal, dia tidak tahu apa yang telah dia perbuat sampai harus berinteraksi dengan lelaki di sampingnya yang saat ini menatapnya tanpa dosa.
"Kau benar-benar sudah tidak waras, ya?" tanya Grace dengan bahasa inggris.
Kenzo hanya terdiam, wajah merah padam Grace bagaikan pandangan indah tak terkalahkan baginya. Senyuman tiba-tiba saja muncul di bibir lelaki yang terkenal akan kemarahannya itu.
Grace dengan kasar melepaskan tangan Kenzo. Grace berdiri, namun tubuhnya limbung karena heels yang dia pakai menginjak gaunnya. Detik itu juga, Kenzo menarik Grace ke dalam pelukannya. Mata mereka bertemu, dan kini Grace menyadari satu hal. Lelaki itu sangat tampan dengan mata elang miliknya.
Grace menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran bodoh dari otaknya.
"Lepaskan aku!" seru Grace marah.
"Tanpa aku, kamu akan tersungkur di lantai yang begitu dingin," jawab Kenzo menatap Grace tak percaya, wanita tak tahu terimakasih pikir Kenzo.
Melihat kekacauan itu, Shareen yang melihat Grace hampir tersungkur langsung menghampiri temannya. Shareen mengkhawatirkan Grace, bagaimanapun keselamatan Grace di tempat itu merupakan tanggungjawabnya.
"Grace kau tak apa?" Shareen terlihat begitu khawatir.
Kenzo menatap Shareen. ‘Jadi Shareen mengenal wanita milikku?’ pikir Kenzo tersenyum.
"Maaf membuat keributan di pestamu, Reen," pungkas Grace merasa tidak enak, melayangkan tatapan kesal kepada Kenzo.
"Kurasa kalian harus berkenalan, dia calon tunanganku, Kenzo Matteo," ucap Shareen tersenyum kepada Kenzo.
Grace mengangguk, mengulurkan tangannya meskipun terasa enggan.
"Grace," ucap Grace memperkenalkan dirinya.
Kenzo menjabat tangan Grace, mengelus punggung tangan Grace hingga membuat Grace melepaskan jabatan tangan itu dengan kasar. Grace mengeluarkan kotak kecil dalam tasnya.
"Ini hadiah untukmu, maaf aku tidak bisa menyiapkan hadiah lain. Aku tidak tahu harus membeli hadiah ke mana untukmu di kota asing." Grace tersenyum malu, hingga semburat merah muncul di wajahnya yang sangat putih.
Shareen menerimanya dengan senang hati. Apapun pemberian Grace akan dia terima, justru Shareen sangat berterimakasih Grace berkenan hadir dalam acara bahagianya.
"Tak apa, aku akan mengajakmu jalan-jalan sampai kamu hafal Kota Madrid," kekeh Shareen.
Grace mengangguk. "Aku harus kembali, aku akan mempersiapkan penelitianku besok. Sampai jumpa lagi, aku akan menghubungimu," ucap Grace berpamitan kepada Shareen, melupakan lelaki di samping Shareen yang sejak tadi menatapnya penuh kagum.
Sepeninggalan Grace, Shareen menatap Kenzo dengan marah. Wanita yang kabarnya akan menjadi calon tunangan Kenzo mendengkus meremehkan.
"Wanita lain, selain Grace, Kau tak akan bisa," kekeh Shareen merasakan sakit di hatinya ketika calon tunangannya menjadikan teman baiknya korban selanjutnya.
"Kenapa?" tanya Kenzo penasaran.
"Dia bukan tipe wanita seperti yang sudah kau kencani, Ken!"
"Sepertimu maksudnya?" timpal Kenzo seenaknya sendiri.
Sakit, pertanyaan itu membuat harga diri Shareen remuk. Andai saja bukan ini jalannya, dia akan rela hidup sederhana dengan Jayden. Tapi bagaimana nanti kehidupan orang tua dan kedua adiknya jika mereka bangkrut? Shareen benar-benar merasakan hidupnya bagaikan di neraka.
"Terserah bagaimana pendapatmu!" pasrah Shareen menatap lekat Kenzo di depannya.
Mata Shareen menangkap seseorang di pojok sana, seseorang yang menatapnya penuh luka. Jayden, dengan mawar di tangannya. Akan tetapi Jayden tidak mampu mendekati Shareen, dia tahu posisinya, dan sadar siapa dia saat ini.
Shareen berniat menghampiri Jayden, tapi cekalan tangan Kenzo membuatnya menoleh.
"Kenapa dia tidak bisa? Aku punya segalanya," tanya Kenzo masih penasaran dengan Grace.
"Diapun memiliki segalanya," ucap Shareen menunjukkan bahwa Grace bukan wanita sembarang.
Wanita itu punya uang, kekuasaan, dan juga kehormatan dari keluarga besarnya, ditambah lagi paras wanita itu yang mampu membuat lelaki manapun bertekuk lutut di hadapannya. Grace bukanlah target tepat untuk Kenzo mengklaim Grace sebagai miliknya.