Satu minggu sudah lewat, tapi aroma wanita yang dia temui di pesta calon tunangannya masih terasa jelas di inrda penciumannya. Sudah satu minggu pula, Kenzo tidak kencan dengan wanita manapun juga. Kenzo teringat dengan kalimat yang Shareen ucapkan kepada dirinya. Grace, wanita yang telah mencuri perhatian Kenzo berbeda dari wanita-wanita Kenzo sebelumnya.
Shareen bahkan sampai memberikan Kenzo peringatan, bahwa Grace memiliki segalanya, sama halnya seperti Kenzo. Jika pewaris Hotel Mattew kukuh dengan pendiriannya dia dapat menarik perhatian Grace atau bahkan sampai mendapatkan wanita itu karena kekayaan keluarga yang dia miliki, maka Grace tak akan pernah melihatnya.
Dari masih di dalam kandungan, Grace sudah mempunyai sendok emas di dalam mulutnya sehingga wanita itu tak akan silau oleh kemewahan dunia yang ditawarkan kepadanya. Harta dan kekayaan Kenzo memang mampu menarik perhatian seribu wanita, namun dapat Shareen pastikan bahwa Grace bukanlah termasuk salah satu dari seribu wanita yang Kenzo dapatkan.
"Arhhggggg sialan!" teriak Kenzo marah.
Pikirannya berkelana, jika Grace bukanlah orang Madrid, lantas apa tujuan Grace datang ke negara itu? Mungkinkah Grace sedang melakukan liburan bersama teman-teman atau mungkin kekasihnya? Membayangkan Grace bersama lelaki lain membuat lelaki itu uring-uringan.
Sebuah ketukan di pintu ruang kerjanya membuat lelaki itu menoleh. Rey, masuk bersamaan dengan berkas-berkas yang harus bosnya itu tanda tangani. Raut wajah kusut di paras tampan Kenzo Mattew membuat Rey menautkan kedua alisnya bingung.
"Taruh saja itu di sana, ini waktunya makan siang" ucap Kenzo membuat Rey memutar bola matanya.
Kenzo beberapa hari telah berubah, lelaki itu sudah tidak ke tempat hiburan malam meskipun banyak wanita di sana. Biasanya tidak ada malam tanpa mencari hiburan dan mengencani wanita-wanita cantik. Rey sampai merasa bingung, ada apakah gerangan dengan atasannya sehingga tak lagi memiliki niat mencari kesenangan di dunia luar.
Ataukah Kenzo telah memantapkan hatinya menikah dengan Shareen dan mencoba untuk menjalin hubungan berlandaskan komitmen bersama wanita itu sehingga Kenzo merasa enggan jika dirinya harus melukai perasaan Shareen karena kebiasaannya sering bergonta-ganti wanita.
"Kenapa? Kusut banget," tanya Rey penasaran.
"Aku ceritakan nanti," tukas Kenzo berjalan meninggalkan Rey di belakangnya.
Mata Kenzo menyipit, saat mereka memasuki ballroom hotel yang terdapat MMT penyambutan perkumpulan dokter spesialis kanker. Sebagai atasan dan pemilik di hotel tersebut, lelaki itu sepertinya sedang ketinggalan informasi mengenai acara yang tengah berlangsung di hotel keluarganya.
Kenzo lantas menoleh ke arah Rey, bertanya kepada lelaki yang menjadi tangan kanannya.
"Ada pertemuan dokter spesialis kanker di hotel hari ini?" tanya Kenzo pada Rey.
"Rumah sakit kanker di kota ini mengadakan pertemuan di hotel kita, bukannya kamu sudah menandatanginya?" tanya Rey balik.
Padahal beberapa hari lalu Rey sendiri memastikan Kenzo membubuhkan tanda tangan di atas persetujuan acara yang diminta oleh salah satu rumah sakit kanker di kota tersebut.
"Hah? Ah iya aku lupa," seloroh Kenzo membuat Rey jengah.
Suara kekehan renyah terdengar dari arah lift. Sekumpulan dokter-dokter dengan jas putih kebesaran mereka terlihat baru saja keluar dari lift yang mereka naiki.
Mata Kenzo melebar, sosok wanita yang satu minggu ini mengganggu pikirannya kini ada di hadapannya. Wanita itu memakai jas putih kebesarannya, dengan rok selutut dan juga heels berwarna hitam, rambutnya dia biarkan terurai, membuat wanita itu terlihat sangat cantik dan juga tercetak jelas gurat-gurat wajah cerdasnya. Kenzo menelan salivanya dalam-dalam, lelaki itu sampai menggelengkan kepalanya meyakinkan diri bahwa apa yang sedang ada di depannya saat ini bukanlah khayalannya semata.
Grace tertawa bersama para dokter lainnya, ditangannya ada satu cup mocca float. Dia seperti anak kecil yang memegang balon di tangannya. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatapnya intens. Langkah kaki Grace terhenti, flashdisk miliknya ternyata masih tertinggal di dalam mobil.
"Prof, saya kembali ke mobil sebentar nanti saya menyusul ke dalam. Ada satu berkas yang tertinggal," ucap Grace kepada profesornya.
"Kamu berani sendiri Grace?" tanya Profesor Dan kepadanya.
"Tentu saja Prof," kekeh Grace.
Grace membuang bungkus minumannya ke tempat sampah, kedua tangannya dia masukkan kedalam saku jas dokternya. Grace tersenyum menyapa mereka yang dia lewati, wanita itu benar-benar murah senyum. Angin di ballroom Hotel Mattew terasa begitu sejuk, pemandangan rindang di sana membuat Grace berdecak kagum dengan interior hotel yang dia kunjungi saat ini.
Grace membuka mobil yang dia gunakan sementara di Madrid, salah satu fasilitas apartemen yang dia miliki saat ini. Setelah mengambil berkas itu, Grace kembali mengunci mobilnya. Tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu, sebab Grace telah ditunggu oleh rekan-rekannya yang lain.
Saat dia berbalik, tiba-tiba ada lelaki di belakangnya.
"Aishhhh kagett aku, kau membuatku jantungan!" kesal Grace mengumpat dengan bahasa Indonesia.
Grace menatap wajah lelaki itu. Seketika saja raut wajah Grace berubah, wanita itu malah dipertemukan dengan lelaki yang ingin dia hapus dari pertemuan pertama mereka dari ingatan Grace.
"Kau? Di sini? Kau penguntit, ya?" pekik Grace melemparkan tuduhannya kepada Kenzo.
Kenapa dunia begitu sempit, lagi-lagi Grace harus bertemu dengan lelaki gila yang berani-beraninya mengatakan bahwa dia adalah milik lelaki itu? Bagaimana Kenzo mengetahui jika dirinya berada di hotel tersebut?
Entah dari mana asalnya lelaki gila yang kini berada di depan Grace dengan wajah datar membuat Grace menatap lelaki di depannya tak percaya.
"Aku bertanya sekali lagi, kau menguntitku?" tanya Grace, dengan tangan kanannya menyilangkan rambutnya ke samping.
Aksi Grace justru membuat Kenzo semakin terhipnotis dengan wajah Grace. Lelaki itu tertegun di tempatnya tanpa mengucapkan kalimat apapun sebagai pembelaan. Kenzo mengamati wajah cantik Grace saat ini.
"Aku? Yang benar saja. Kamu mungkin yang selalu mengikutiku," elak Kenzo.
Grace tertawa, dia mengikuti Kenzo hingga ke hotel? Wah halusinasi lelaki itu tengah tinggi rupanya.
"Dengar, aku akan melaporkanmu pada security di sini. Jadi cepat pergi dari hadapanku sekarang juga!" ucap Grace mengancam.
Tidak hanya Kenzo, Rey yang berada di sana tersenyum geli. Hotel itu adalah milik Kenzo. Security mana yang berani mengusir pemiliknya sendiri dari sana. Manik mata Grace seketika memandang menelisik dua lelaki di depannya, Kenzo dan Rey seperti menyepelekan kalimat ancaman yang keluar dari bibir Grace.
Namun, Grace tidak peduli kekehan kedua lelaki itu, dia dengan semangatnya melaporkan Kenzo kepada security yang tengah berjaga tak jauh dari mobilnya. Biarlah dua lelaki asing tersebut mendapatkan pelajaran darinya karena telah bersikap tidak sopan kepada Grace.
"Permisi, Pak. Di sana, ada penguntit yang mengikutiku. Anda bisa mengusirnya?" tanya Grace menunjuk ke arah Kenzo.
Security itu mengikuti arah jari telunjuk Grace. Memastikan penglihatannya tidak salah. Security tersenyum ke arah Kenzo dan Rey, dirinya seperti sedang menyangjung sang pemilik.
"Mr.Kenzo? Beliau pemilik hotel ini, Nona," jawab security itu membuat Grace terbelalak.
Pemilik hotel terbesar di Madrid? Lelaki kurang ajar itu? Apakah Grace tengah bermimpi di siang bolong? Grace segera menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tampaknya ketiga lelaki yang sedang dia ajak bicara memang tak dapat diandalkan olehnya.
"Masih mau mengusirku?" goda Kenzo membuat Grace mendengus.
"Lelaki gila," umpat Grace berlalu, meninggalkan Kenzo yang masih terkekeh di tempatnya.
Grace benar-benar dibuat malu oleh lelaki yang baru saja dia temui satu minggu yang lalu. Ingin rasanya Grace membuat alat, pembersih kuman seperti Kenzo agar hidupnya tidak dihadapkan lelaki seperti itu.
Kenzo tersenyum, harinya telah berubah yang tadinya sepi menjadi bahagia. Melihat wanita itu hari ini menambah daya dalam dirinya untuk bersemangat mendekati Grace yang sudah dia klaim sebagai wanitanya.
Rey hanya menggelengkan kepalanya, dia sangat tak percaya ada wanita yang tidak peduli akan keberadaan Kenzo dan dirinya tentu saja.
"Kau mengenalnya?" Rey menatap sosok Grace yang kini semakin menjauh.
"Hmmm, aku akan sangat mengenalnya," ucap Kenzo yakin terdengar seperti bocah remaja tengah jatuh cinta.
"Wahhh ini sejarah baru, Kenzo mengejar seorang wanita," goda Rey mendapat sikutan keras di perutnya.