Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, langit yang semula masih menampakkan kecerahannya kini berubah menjadi gelap gulita berhiaskan cahaya rembulan dan bintang-bintang di langit malam. Grace sangat menikmati sajian makanan sekaligus minuman yang ada di Chocolateria Sen Guines, tidak salah jika wanita cantik pemilik mata coklat terang tersebut mengikuti rekomendasi dari rekan seperjuangnya mendapatkan gelar sebagai dokter spesialis.
Grace dan Kenzo lantas kembali menuju apartemen sebab Grace esok pagi harus melanjutkan perjuangannya mendapatkan tanda tangan Profesor Dan sebagai dosen penguji penelitian Grace. Salah satu langkah penting bagi Grace bisa mengemban amanatnya dengan baik setelah nanti segala proses akademisnya diselesaikan. Wanita itu sudah tidak sabar lagi ingin segera menyandang gelar barunya itu. Air mata, rasa lelah, amarah, dan terkadang ingin menyerah sudah Grace hadapi satu per satu.
Wanita itu hanya bisa menunjukkan kebahagiaan semata di hadapan keluarga besarnya. Keluarga yang selalu mendukung apapun keputusan wanita itu, dan tidak pernah mengekang kemauannya membuat Grace ingin sekali bisa membuktikan kemampuannya di depan orang-orang terkasih Grace.
“Apakah kamu sungguh tidak ingin mampir ke salah satu jalanan yang menyajikan makanan khas Madrid?” tanya Kenzo Matteo.
“Sepertinya aku ingin secepatnya beristirahat, karena perutku sudah terlalu kenyang,” kata Grace mengelus perutnya yang masih rata.
“Sesuai kehendak Anda, Tuan Putri,” jawab Kenzo menyertujui.
Lelaki pewaris Hotel Matteo tersebut hanya bisa menuruti saja kemauan dari Grace Jolicia, sebab Kenzo tidak mau dianggap memaksakan kehendaknya sendiri. Lagipula Kenzo telah merasa cukup bahagia bisa mengajak Grace keluar berdua malam ini, dan pertemuan mereka malam ini berjalan cukup lancar menurut Kenzo. Dalam beberapa kesempatan Grace Jolicia juga sedikit banyak menjelaskan apa tujuannya datang ke Madrid, sekaligus mengenai kepribadian wanita cantik itu yang dapat Kenzo ketahui dari cara Grace bercerita.
Mereka sudah berada di depan pintu kamar Grace. Sejujurnya Kenzo masih tidak rela menyudahi waktu kencan dadakannya bersama dengan Grace, akan tetapi wajah Grace tengah menunjukkan guratan lelah di paras cantiknya. Belum lagi Kenzo menyadari jika seharian ini Grace telah berkutat di dalam seminar kedokteran yang kebetulan juga diselenggarakan di Hotel Matteo, milik keluarga Kenzo.
Sekali lagi Kenzo memandang Grace dengan cukup lekat, mengunci wajah cantik wanita asal Indonesia di depannya ini untuk dia simpan di dalam memori ingatannya baik-baik. Kenzo tersenyum menatap Grace yang tampak tidak enak hati terhadap dirinya.
“Terimakasih sudah mengajakku jalan-jalan hari ini,“ ucap Grace dengan tulus.
Grace menghela napas panjang, sebenarnya Grace bukannya acuh tentang lelaki di depannya kini. Melainkan Grace juga tidak bisa menerima kebaikan hati Kenzo begitu saja, sedangkan Grace masih belum menemukan jawaban mengapa Kenzo bisa secara tiba-tiba berada di apartemen Grace. Entah Kenzo memang sedang menguntit keberadaan Grace, ataukah semua ini adalah keinginan dari Shareen yang mungkin saja merasa sungkan kepada Grace sebab tidak bisa menemani Grace berkeliling Kota Madrid.
Itulah sebabnya Grace ingin menjaga jarak dari Kenzo, mereka tidak bisa bersikap dekat satu sama lain mengingat Kenzo Matteo adalah tunangan dari Shareen. Grace tidak mau menimbulkan kesalahpahaman apapun di tengah hubungan asmara yang tercipta di antara Shareen dengan Kenzo Matteo.
“Aku tinggal di atas lantai ini, kamu bisa menghubungiku nanti.“ Ken menyerahkan kartu nama pada Grace.
Grace membuka pintu apartemennya, dia tersenyum lembut ke arah Kenzo. Wanita itu menatap kartu nama Kenzo sejenak, sebelum pada akhirnya Grace memandang ke arah Kenzo seraya menyunggingkan senyuman lembut ke arah pewaris Hotel Matteo tersebut.
“Tahu begitu lebih baik aku menginap gratis saja di Hotel Matteo, sepertinya kamu tidak akan keberatan,” goda Grace kepada Kenzo.
“Aku sungguh tidak keberatan jika memang kamu ingin melakukannya,” kata Kenzo secara cepat.
Justru itulah yang diinginkan oleh Kenzo, lelaki itu tidak hanya rela, melainkan siap memberikan fasilitas apapun kepada Grace secara cuma-cuma tanpa perlu Grace merogoh kocek dalam-dalam seperti apa yang wanita itu lakukan selama menginap di Hotel Regency Madrid Residance. Selama Grace berada di Hotel Matteo maka semua tagihan dan keperluan Grace merupakan tanggungjawab Kenzo selaku owner hotel, dan penanggungjawab tamu VVIP seperti Grace.
Kembali lagi, Kenzo yakin semua kalimat Grace cuma bahan becandaan wanita itu untuk menggoda Kenzo Matteo semata.
“Terimakasih untuk malam ini Kenzo.“
“Apakah kamu yakin tidak ingin mempersilahkanku bertamu selama beberapa menit saja di apartemenmu? Kita tetangga sekarang, Grace,” ucap Kenzo melakukan penawaran.
“Hari sudah larut malam, kamu juga butuh beristirahat, Pak CEO,” kata Grace tersenyum simpul.
Penolakan dari Grace membuat Kenzo menghembuskan napasnya dengan panjang. Padahal Kenzo masih ingin melihat Grace lebih lama lagi, mendengar semua kalimat Grace yang mengalahkan alunan melodi dari pemusik terkenal, sekaligus memandang kecantikan murni milik Grace Jolicia yang mampu membuat Kenzo bertekuk lutu di depan wanita itu.
“Selamat malam,” ucap Grace terakhir kali.
Kenzo berteriak girang ketika pintu apartemen itu tertutup. Setidaknya Kenzo bisa lebih dekat dengan Grace.
"Yessss ... yessss,“ teriak Kenzo bersemangat.
Dengan bersenandung kecil, Kenzo menuju apartemennya yang berada di atas apartemen milik Grace. Lelaki itu berharap bahwa Grace akan menghubunginya. Terbesit begitu besar harapan di dalam hati Kenzo bisa berkomunikasi lebih dekat dengan wanita asal Indonesia yang sudah merebut perhatian Kenzo sejak awal mula pertemuan mereka berdua.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Ponsel Kenzo berdering, tentu saja itu membuat Kenzo bersemangat. Lelaki itu tidak membutuhkan waktu lama untuk meraih benda pipih keluaran terbaru tersebut ke dalam genggaman tangannya.
“Ini pasti panggilan dari Grace!” pungkas Kenzo merekahkan senyumannya.
Senyuman di wajah Kenzo lenyap ketika melihat nama yang tertera di layarnya. Raut wajah yang semula dipenuhi kebahagiaan berseri mendadak lenyap seketika. Harapan Kenzo pupus begitu menyadari siapakah gerangan seseorang yang sedang menghubungi nomor ponsel Kenzo.
Panggilan itu bukan panggilan yang Kenzo harapkan dari Grace, melainkan panggilan yang nantinya hanya akan meminta Kenzo melakukan berbagai hal di luar keingianan Kenzo Matteo.
"Hallo, Ma?" sapa Kenzo kepada mamanya, merutuki diri sendiri dan mengumpat di dalam hatinya karena terlalu berharap Grace akan menghubunginya.
Tidak masalah, dia akan mencobanya lagi besok, ucap Kenzo membatin. Penantian panjang terasa sangat menyiksa bagi Kenzo Matteo. Lelaki itu sampai bergerak gelisah di dalam tidurnya yang sebenarnya hanya tidur ayam semata.
Entah sudah kali ke berapa lelaki itu sengaja terbangun dari tidurnya, berharap ada panggilan masuk berasal dari wanita yang kini tinggal satu lantai di bawah apartemennya.
Mungkin ini sudah ke lima kalinya, dan Kenzo benar-benar dibuat frustasi karena Grace. Jika biasanya para wanita akan berlomba untuk mendapatkan nomornya, ini tidak berlaku untuk Grace. Wanita itu benar-benar tidak bisa disentuh Kenzo.
"Grace, Graceee, arghhhh sialannn!" teriak Kenzo frustasi, menjambak rambutnya kesal.
Sepertinya Kenzo harus mencari cara untuk lebih dekat dengan Grace. Tapi apa?
Yah mobil! Grace menyewa mobil dari apartemen ini. Kenzo harus menyewa seluruh mobil untuk tamu agar Grace tidak bisa mendapatkan mobil sewaan. Lelaki itu harus melakukan cara remehan seperti ini demi bisa menghabiskan waktu bersama Grace.
"Setelah itu aku akan berpura-pura bertemu dengannya tanpa sengaja, aku menawarinya tumpangan, dan dia menerimanya," ucap Kenzo bersemangat, membayangkan rencananya akan berjalan mulus.
Kenzo menelepon pihak manager apartemen yang kini dia tempati. Suara dering tersambung semakin membuat Kenzo bahagia. Apapun akan Kenzo lakukan agar Kenzo dapat melewatkan waktu lebih lama dengan Grace Jolicia. Lelaki itu sangat menantikan waktu dimana hanya ada dirinya dan Grace saja.
"Yes, Sir? Di sini Eva, Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis kepada Kenzo.
"Dengarkan aku Eva, aku akan menyewa semua mobil di apartemen ini," ucap Kenzo terdengar begitu memaksa.
“Baik, sebentar saya akan cek terlebih dahulu untuk kuota mobil fasilitas hotel kami, Sir,” jawab Eva tenang.
Tidak membutuhkan waktu lama, Eva kemudian mengecek semua mobil sewa sebagai fasilitas hotel kepada para tamu di hotel tempatnya menginap. Eva langsung mengkonfirmasi kepada Kenzo terkait keinginan lelaki itu sebelumnya.
"Tapi ada satu mobil yang sudah di sewa penghuni apartemen sementara Sir," jawab resepsionis apartemen kepada Kenzo.
"Saya tidak peduli, kamu urus saja," kata Kenzo tidak mau tahu.
Tidak peduli bagaimana jawaban dan ekspresi dari resepsionis apartemen yang dia tempati. Kenzo memilih membersihkan diri, berangkat sepagi mungkin untuk bisa bertemu dengan wanitanya.
Dia harus turun lebih dahulu daripada Grace.
Kening Grace berkerut ketika resepsionis mengatakan bahwa mobil yang biasa dia sewa tidak bisa lagi digunakan. Ini sudah jelas melanggar kontrak perjanjian sewa apartemen sekaligus fasilitas apa saja yang akan Grace dapatkan dari penyewaan unit apartemen di Hotel Regency Madrid Rasidances.
"Tapi saya sudah meneken kontrak apartemen sekaligus mobil sewanya," ucap Grace kukuh.
"Pihak kami akan bertanggung jawab mengembalikan dana Anda, Nona Grace," jawab resepsionis itu kepada Grace.
Grace menghela napas, apartemen macam apa ini. Management yang carut marut. Bagaimana bisa mobil yang sudah dia sewa, uang dimuka, dengan seenaknya mereka katakan mobil itu tidak bisa lagi Grace gunakan. Kalau seperti ini, maka Grace hanya akan membuang-buang waktunya saja. Padahal bagi Grace setiap detik adalah waktu yang berharga.
Profesor Dan bukan tipe seseorang yang mampu menoleransi sebuah keterlambatan.
"Astaga, ini bukan masalah uang. Jadwal saya kacau karena masalah ini, saya rugi imateriil!" Grace sudah tidak bisa menahan lagi.
"Kami minta maaf sekali lagi, Nona," sesal resepsionis itu yang hanya menuruti perintah atasan saja.
Grace memegang kepalanya yang terasa berdenyut, hari ini adalah hari di mana dia akan menyerahkan karya tulis penelitiannya kepada profesornya. Dia tidak bisa telat, atau semua usahanya akan sia-sia semata.
"Mana kartu busmu?" tanya Grace kepada Resepsionis wanita.
"Maksud Nona?" tanya resepsionis itu bingung.
"Bawa sini kartu busmu, aku akan membayarnya," ucap Grace mengeluarkan beberapa lembar dolar senilai satu juta rupiah.
Mata Resepsionis wanita itu terbelalak, dengan cepat dia menyerahkan kartu busnya kepada Grace. Dia tidak menyangka hari ini akan meladeni dua tamu hotel yang menurutnya sangat kaya raya. Mulai dari Kenzo Matteo hingga kini Grace Jolicia Sean Kusuma, wanita asal Indonesia.
"Aku akan membawanya," ucap Grace.
Grace berjalan meninggalkan resepsionis, dia melirik jam tangan miliknya. Berharap bahwa dia tidak terlambat untuk bertemu dengan profesornya. Kenzo melihat Grace berjalan tergesa-gesa, lelaki itu terkikik geli melihat ekspresi wajah wanita itu yang terlihat sangat tegang bercampur cemas.
"Grace, kamu mau ke mana?" tanya Kenzo berpura-pura tidak tahu kekacauan yang terjadi karena ulahnya.
"Bertemu profesorku untuk meminta tanda tangan," jawab Grace.
"Kamu mau naik taxi?" tanya Kenzo.
Gotchaa, Grace melupakan transportasi online jaman sekarang. Dia membuang satu juta rupiahnya sia-sia demi mendapatkan kartu bus.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kenzo.
"Universitas Complutense Madrid," jawab Grace.
"Kita searah, mau ikut denganku?" tanya Kenzo berlagak.
Pandangan mata Grace langsung berbinar menatap Kenzo Matteo yang saat ini tengah menunggu jawaban dari Grace.
"Bolehkah?" tanya Grace dengan mata berbinar bahagia .
Kenzo mengangguk dan tersenyum geli, Grace begitu bersinar pagi ini dengan pakaian formalnya yang menambah kesan dewasa. Kenzo mengajak Grace ke mobilnya, Kenzo bahkan membukakan pintu mobil untuk Grace.
"Terimakasih, Ken," ucap Grace, dan hati Kenzo selalu berdesir ketika namanya disebut oleh Grace.
Di perjalanan, Kenzo tidak ingin membuang kesempatan. Lelaki itu melontarkan banyak pertanyaan tentang Grace dan kehidupannya. Kenzo begitu terpukau, dia sangat beruntung jika bisa bersama dengan Grace. Dia cantik, wanita berpendidikan, punya karir yang bagus, dan berasal dari keluarga berada.
"Jadi dosen pembimbingmu, profesor kemarin itu?" tanya Kenzo diangguki Grace. "Aku harus berterimakasih dengannya," lanjut Kenzo membuat Grace menaikkan alisnya bingung.
Kini Grace memandang Kenzo ingin tahu. "Kenapa?"
"Karenanya kita bisa bertemu dan berada dalam mobil yang sama, siapa tahu kita bisa tinggal di atap yang sama," jelas Kenzo sontak membuat wajah Grace merah padam.
Grace menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh jatuh pada pesona lelaki yang telah memiliki tunangan. Apalagi tunangannya adalah teman baik Grace. Grace harus menjaga jarak dengan Kenzo, toh dua hari lagi dia akan meninggalkan negara itu.
Mereka telah sampai, Kenzo turun lebih dahulu, membukakan pintu untuk Grace.
"Tidak perlu repot seperti itu," ucap Grace merasa tidak enak.
Kenzo hanya menghendikkan bahunya acuh.
"Terimakasih atas tumpangannya," ucap Grace sebelum melangkah meninggalkan Kenzo berdiri di sana.
Bukannya pergi, Kenzo justru mengikuti Grace di belakang wanita itu. Tentu saja kehadiran Grace dan Kenzo di Universitas itu membuat beberapa pasang mata menatap mereka takjub. Mereka tidak segan-segan menjuluki Grace dan Kenzo 'Couple Goals'.
Merasa menjadi sorotan publik, Grace menoleh ke belakang.
"Kamu mengikutiku?" tanya Grace entah sudah berapa kali mengatai Kenzo mengikuti dirinya.
"Hanya memastikan kamu benar-benar bertemu dengan profesormu," ucap Kenzo.
Grace berdecak kesal, kelakuan Kenzo seperti pasangan yang tengah menaruh curiga wanitanya berselingkuh dengan lelaki lain.
"Kamu seperti lelaki yang memastikan wanitanya tidak main api dengan lelaki lain," cibir Grace.
"Emm, aku memang sedang memastikannya," jawab Kenzo membuat Grace menatapnya tak percaya.
Lelaki itu menempel kepadanya seperti cicak, dan sekarang mengklaim dirinya sebagai wanitanya? Kenzo memang harus diperiksa kewarasannya.