Kenzo menunggu Grace yang tengah bertemu dengan profesornya. Bukan Kenzo namanya jika lelaki itu tidak menyebabkan kegaduhan. Dia tidak segan-segan mengedipkan matanya menggoda kepada mahasiswi di sana. Semua mata menoleh ke arah Kenzo Matteo, cara lelaki itu duduk dan menyilangkan kakinya membuat kaum hawa seolah tidak punya pemandangan indah lain, selain Kenzo Matteo.
Pewaris Hotel Matteo tersebut tersenyum lembut setiap kali para wanita di Universitas Complutense Madrid melewatinya dengan menatap Kenzo penuh takjub. Lelaki itu tak merasa keberatan jika memang ketampanannya menjadi pemandangan indah bagi banyak orang. Justru Kenzo Matteo harus merasa bangga sebab dirinya dianggap menjadi pusat perhatian dari lalu lalang para mahasiswa sekaligus karyawan di universitas tempat Grace bertemu Profesor Dan.
Meski mempunyai sikap yang sangat jenaka, suka bercanda, tetapi Kenzo mampu memberikan ketenangan kepada wanita asal Indonesia itu sebelum Grace Jolicia memasuki ruangan Profesor Dan selaku wakil rector pendidikan kedokteran di Universitas Complutense Madrid. Profesor yang tidak pernah menolerir keterlambatan mengingat beliau mempunyai jadwal begitu padat, membuat Grace sempat ketar-ketir jika dirinya sampai terlambat barang satu menit saja dari jam pertemuan yang sudah Profesor Dan tetapkan.
“Aku yakin dia pasti bisa menghadapi profesornya,” kata Kenzo.
Lelaki itu justru disergap perasaan cemas dan dilingkupi kegelisahan, Kenzo takut harapan Grace tidak sesuai kenyataan. Kenzo juga merasa khawatir jika dirinya tidak tepat waktu memberikan tumpangan kepada Grace, mungkin saja wanita yang menjadi idamannya harus menghapus impiannya lulus pendidikan spesialis kedokteran karena kesalahan Kenzo telah dengan sengaja mengacau kendaraan Grace yang harusnya menjadi fasilitas wanita asal Indonesia itu selama menginap di Hotel Regency Madrid Residances.
Demi melupakan kegugupan yang dia rasakan, Kenzo bahkan dengan percaya dirinya menawarkan foto bersama dengan para mahasiswi di kampus itu. Kenzo yakin benar tidak sedikit dari mereka yang mengenal Kenzo mengingat Kenzo kerap lalu-lalang di media sosial maupun pemberitaan televisi.
“Jika boleh tahu, ada kepentingan apa Anda di depan ruangan wakil rector?” tanya salah satu mahasiswa kepada Kenzo.
“Menemani kekasihku,” jawab Kenzo apa adanya.
Sontak saja jawaban Kenzo membuat para mahasiswi di sana saling melemparkan pandangan satu sama lainnya. Bagaimana mereka bisa bersikap santai meminta foto bersama sang pewaris Hotel Matteo kalau lelaki itu datang ke sana bersama dengan kekasihnya?
Pintu ruangan Profesor terbuka, terlihat Grace yang keluar dari sana dengan wajah lega.
"Kennnnnn, aku bisa sidang minggu depannn!" pekik Grace berlari memeluk Kenzo.
Grace tersenyum bahagia, sedangkan Kenzo berdiri dengan tegang ketika tubuhnya dipeluk erat oleh Grace. Keberadaan Grace di tengah keramaian tersebut membuat para mahasiswa yang semula mengerumuni Kenzo mendadak menjadi sepi dan menjauh. Mereka memberikan ruang kepada Grace dan Kenzo untuk saling berbincang satu sama lain, mengingat Kenzo menyatakan bahwa dirinya sedang menemani kekasihnya bertemu dengan Profesor Dan.
Tubuh kaku Kenzo membuat Grace tersadar dari antusiasnya. Merasakan ketegangan yang terjadi, Grace melepaskan pelukan mereka. Pandangan mata coklat milik Grace menyelami mata hazel milik Kenzo. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan pemikiran mereka berdua masing-masing. Grace langsung menggaruk tengkuknya yang sesungguhnya tidak gatal.
"Maafkan aku, aku terlalu senang," ucap Grace.
Wanita asal Indonesia tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri dimana mereka berdua saat ini berada. Grace menyadari masih ada banyak pasang mata yang mengarahkan pandangan mata mereka kepada Grace dan Kenzo. Grace mundur ke belakang, menciptakan jarak di antara mereka berdua.
Bukannya memberi jarak, Kenzo malah memeluk Grace kembali. Sontak saja manik mata Grace langsung membulat sempurna atas sikap dan perilaku di luar pemikiran Grace tentang sosok Kenzo Matteo. Rupanya lelaki di depannya ini memiliki sikap yang sulit untuk Grace tebak sebelumnya. Lelaki itu mencium bibir Grace dengan lembut. Membuat beberapa pasang mata yang melihatnya berteriak histeris dengan apa yang mereka lihat.
Mata Grace mengerjap, sentuhan lembut bibir Kenzo sejenak membuatnya terhipnotis. Ini tidak pernah terbesit dalam benak Grace sebelumnya. Jika bukan karena siulan mahasiswa yang melihat adegan itu mungkin saja Grace akan menikmati bagaimana lelaki itu mencumbunya dengan lembut.
Grace memukul d**a bidang Kenzo, pandangan matanya terlihat tajam seperti memperingatkan agar Kenzo menjaga batasannya. Mereka sekarang berada di tempat umum, dan lebih tepatnya mereka berada di lingkungan akademisi yang sangat tidak patut mereka sampai melakukan adegan ciuman di depan umum seperti sekarang. Wajah Grace langsung merah menahan amarah sekaligus kekesalan di dalam dirinya.
"Dengarkan aku Grace, kamu milikku, kamu wanitaku!" ucap Kenzo memberikan cap kepemilikan atas Grace untuk kesekian kalinya.
“Kau sudah gila!” sentak Grace.
Napas mereka terengah-engah, Kenzo benar-benar lelaki gila yang tidak peduli tempat. Bagaimana bisa mereka berciuman di depan publik, apalagi kini mereka berada di kampus. Catat dan garis bawahi, kampus! Grace pasti sangat malu sekarang.
Semburat merah muncul di wajah Grace ketika Kenzo menatapnya tak berdosa.
"Kau benar-benar gila!" umpat Grace berjalan dengan cepat pergi dari sana.
Kenzo menatap ke sekelilingnya, tanpa malu Kenzo mengedipkan matanya menggoda ke arah mahasiswi yang tersenyum geli kepada Kenzo. Entah apa yang mempengaruhi Kenzo, lelaki itu seperti merasakan seluruh dunia ini hanya dihuni oleh dirinya dan Grace seorang.
Kenzo tidak perduli tatapan mata orang lain selama dia bisa melihat Grace di atas segalanya. Kenzo berlari kecil menyusul langkah Grace. Tampaknya wanita idaman hati Kenzo tersebut benar-benar menaruh kekesalan kepada Kenzo.
"Grace, kamu marah?" tanya Kenzo dengan polosnya, ingin rasanya Grace memukul lelaki itu dengan heels yang saat ini dia kenakan.
"Baiklah aku mengakui kesalahanku, maafkan aku, hmm?" tanya Kenzo memotong jalan Grace, berhenti di depan wanita yang tengah kesal setengah mati kepadanya.
Kenzo menatap Grace memohon. Mata hazel milik Kenzo memandang Grace iba. Lelaki itu juga tidak bisa menahan diri ketika Grace memeluknya begitu erat. Kenzo kehilangan kewarasannya mengingat dekapan hangat Grace memberikan dia sensasi yang sebelumnya tidak pernah Kenzo rasakan sebelumnya.
"Maafkan aku, please? Aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Kenzo berjanji.
Grace memalingkan wajahnya, wanita itu tak dapat membayangkan rasa malunya jika ada salah satu dari mahasiswa sampai mengabadikan kegilaan Kenzo yang mencium Grace secara mendadak. Grace sungguh khawatir semuanya bisa mempengaruhi nilai akhir Grace dari Profesor Dan. Seharusnya Grace tidak perlu melibatkan Kenzo di dalam tugasnya hari ini, agar Grace tak perlu merasakan kegelisahan seperti sekarang.
Merasa Grace diam begitu saja tanpa menjawab permintaan maaf dari Kenzo, lelaki itu menggenggam pergelangan tangan Grace.
“Haruskah aku berlutut di depanmu? Membuat semua orang di sekitar kita semakin menjadikan kita pusat perhatian?” ucap Kenzo malah melemparkan ancaman kepada Grace.
Mendengar penuturan Kenzo, sontak saja Grace mendengkus di tempatnya. Bukan mengakui kesalahan dan sadar atas kesalahannya, lelaki itu justru memberikan Grace ancaman yang menurut Grace sendiri sangat memalukan. Belum selesai rasa malu akibat kelakuan Kenzo mencium Grace secara tiba-tiba, lelaki itu malah hendak meminta maaf kepada Grace dengan berlutut di depan wanita asal Indonesia tersebut.
Sudah kehilangan rasa malunya, juga tidak punya kewarasan, sepertinya itulah Kenzo Matteo yang tengah disetir oleh kegilaannya pada seorang wanita.
“Berhenti bersikap kekanakan! Kamu ini, aish menyebalkan sekali!” ujar Grace menghentakkan kakinya.
Grace sungguh kesal, namun Grace juga tidak tahu harus melakukan apa lagi atas perbuatan Kenzo barusan. Lebih baik Grace segera berpisah diri dari Kenzo dan melupakan semua kegilaan lelaki itu secepatnya. Tidak baik terlalu lama bersama lelaki asing yang baru dia temui beberapa kali, sekaligus juga lelaki itu menjalin hubungan dengan teman baik Grace sendiri.
"Aish sudahlah, bukankah kamu harus kerja?" tanya Grace saat Kenzo terlihat bersantai ria di hari kerja seperti ini.
Seharusnya Kenzo bekerja, melakukan tanggungjawabnya secara penuh.
Mata Kenzo menyipit. "Kamu lupa aku bosnya?" tanya Kenzo tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang mampu membuat lawan jenisnya terpesona.
“Aku harap hotelmu tidak bangkrut karena memiliki pimpinan seperti dirimu!” ucap Grace menyindir sikap kekanakan Kenzo Matteo.
“Hei, kekayaan Hotel Matteo bisa menghidupi dirimu dan anak-anak kita hingga sepuluh turunan, Sayang,” kata Kenzo penuh percaya diri.
Grace menoleh ke arah Kenzo, pandangan matanya seperti sedang menertawakan Kenzo.
“Dalam mimpimu saja!” cetus Grace meninggalkan Kenzo Matteo begitu saja.
Bukannya merasa tersinggung atas ucapan Grace, Kenzo malah terkekeh seraya melangkahkan kaki menyusul Grace di depannya. Asalkan Grace bahagia, maka Kenzo siap menerima semua ucapan ketus dari wanita idaman hatinya.