Kenzo dan Grace berjalan beriringan menuju basement dimana mobil Kenzo Matteo diparkirkan. Lelaki itu tidak henti-hentinya menatap ke arah Grace yang berjalan terlebih dahulu di depannya, tanpa membiarkan Kenzo menyamai langkah wanita itu. Grace meninggalkan Kenzo di belakangnya, wanita asal Indonesia yang sudah membuat pewaris Hotel Mattoe sampai bertekuk lutut kini merasa sungkan untuk sekedar menoleh ke arah Kenzo.
Beberapa kali Grace menggelengkan kepala, mengusir pemikiran liar di dalam otaknya tentang kedekatannya bersama Kenzo Matteo. Grace tidak bisa membiarkan kedekatan di antara dirinya dan Kenzo semakin berlangsung mengingat Kenzo adalah lelaki yang menyandang status sebagai tunangan dari Shareen. Grace sendiri tidak yakin bahwa Kenzo telah mendapatkan izin dari Shareen ketika lelaki itu hendak membantu Grace seperti hari ini.
Langkah kaki Grace semakin cepat, Kenzo di belakangnya hanya mampu menggelengkan kepala pertanda geli melihat reaksi tubuh yang ditunjukkan oleh Grace baru saja.
“Aku menyukaimu,” seru Kenzo kepada Grace.
Seketika itu juga langkah kaki Grace terhenti, bukan karena Kenzo mengutarakannya seraya berteriak. Lelaki itu malah berucap dengan tenang dan datar, namun kalimat yang Kenzo ucapkan adalah Bahasa Indonesia. Grace tentu saja langsung menoleh ke tempat dimana Kenzo berdiri saat ini. Grace tidak menyangka, lelaki asal Madrid tersebut bisa mempelajari bahasa ibu Grace tanpa perlu Grace memintanya.
Apakah Kenzo memang seniat itu untuk meraih kepercayaan Grace hingga Kenzo belajar bahasa Indonesia? Rupanya semua yang Kenzo pelajari, dia dapatkan secara kilat dalam semalam. Kenzo tidak bisa terlelap dengan tenang sebab menunggu panggilan dari Grace yang tiada kunjung datang menghubungi nomor ponselnya.
Kenzo yang merasa gelisah hingga tidak dapat terlelap dengan nyenyak pada akhirnya mulai mencaritahu tentang Indonesia, termasuk bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional kampung halaman dari wanita idaman hati Kenzo tersebut.
“Sejak kapan kamu mempelajari bahasa ibuku?” tanya Grace.
“Sejak aku ingin mengetahui segala tentang dirimu,” jawab Kenzo menghendikkan bahunya acuh.
“Rupanya aku bisa membuat lelaki seperti dirimu merasa penasaran tentang siapa aku,” kata Grace kepada Kenzo.
Lelaki seperti Kenzo, kalimat ambigu dilayangkan oleh Grace sebab wanita itu sudah melihat bagaimana sepak terjang Kenzo Matteo sejak pertama kali mereka berdua berjumpa dalam pesta ulang tahun Shareen. Grace menyayangkan mengapa Kenzo bisa bermesraan dengan wanita lain dalam pesta ulang tahun dari wanita yang menyandang status sebagai tunangan Kenzo tersebut.
Menggelikan jika Grace mengingat kembali apa yang telah dilakukan oleh Kenzo dalam pesta ulang tahun Shareen. Namun Grace juga tidak punya kendali apapun terhadap Kenzo, ataupun memberitahu Shareen tentang perilaku lelaki yang menjadi tunangan Shareen itu. Dan belum lagi, Grace tidak mempunyai keberanian menyampaikan bahwa dirinya dan Kenzo sampai berciuman pada hari ini.
Grace sangat khawatir, dia bisa menjadi masalah bagi hubungan Kenzo dan Shareen.
Brakkkkkkkk! Suara tabrakan yang sangat keras membuat Grace dan Kenzo saling menatap. Grace dan Kenzo langsung menoleh ke sumber suara.
"Sepertinya terjadi kecelakaan di depan," ucap Kenzo.
Grace dan Kenzo berlari menuju tempat kecelakaan, benar sekali terlihat mobil BMW putih menabrak sepeda motor di jalan keluar dari kampus. Darah mengalir dari kepala pengemudi motor. Mereka yang menyaksikan itu langsung mengerubungi korban kecelakaan. Banyaknya orang di sana membuat Grace harus berjalan membelah kerumunan untuk melihat keadaan korban kecelakaan.
Wanita itu menatap pengemudi sepeda motor yang sekarang tergeletak bersimbah darah di atas jalan beraspal. Grace menoleh, matanya seperti memberikan kepercayaan kepada Kenzo.
"Panggil ambulance," ucap Grace kepada Kenzo karena dia tidak tahu prosedur emergency di negara itu.
Kenzo mengangguk, dia segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi ambulance untuk segera datang ke tempat kejadian. Grace langsung berjongkok untuk melihat tanda-tanda vital pada tubuh korban kecelakaan di sana. Wanita itu langsung menahan tangan salah satu mahasiswa ketika mereka berniat melakukan pertolongan pertama, namun tidak sesuai dengan prosedur kedokteran seperti apa yang Grace dalami selayaknya dokter.
Wanita itu menggelengkan kepala, melarang siapapun mendekati korban kecelakaan, atau pertolongan pertama bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cara yang tepat dan benar.
"Jangan di angkat!" ucap Grace ketika pengemudi motor hendak diangkat mahasiswa untuk ke tepi.
Grace mendekat ke arah korban, Grace mengecek kondisi korban. Terdengar kasak-kusuk oleh para mahasiswa fakultas kedokteran di sana. Siapa Grace hingga wanita itu berani bertanggungjawab atas keadaan korban kecelakaan di depan fakultas kedokteran tersebut? Banyak orang bertanya-tanya tentang identitas Grace Jolicia, tetapi wanita itu acuh dan lebih memilih untuk memastikan kondisi vital korban kecelakaan masih dapat dia golongkan sebagai tanda aman.
Terlihat korban kecelakaan pengemudi sepeda motor merintih kesakitan, Grace memandangnya seperti memberikan keyakinan bahwa semua baik-baik saja. Lelaki itu pasti akan selamat, dan dapat kembali pulih setelah mendapatkan pertolongan medis.
"Saya dokter, Anda percaya dengan saya?" tanya Grace kepada korban yang masih memiliki kesadaran penuh.
Korban mengangguk lemah, Grace memanggil Kenzo untuk mendekat ke arahnya. Kenzo menatap Grace dengan penuh tanda tanya, Kenzo jelas tidak seperti Grace yang sudah kebal dan terbiasa akan darah bercucuran, maupun luka pada tubuh manusia mengingat basic Grace adalah seorang dokter. Kenzo memalingkan wajah sebab tidak tega melihat pendarahan hebat yang terjadi pada kepala korban kecelakaan, pengemudi sepeda motor tersebut.
"Lepaskan jasmu," ucap Grace kepada Kenzo.
Kenzo menuruti perintah Grace, dengan perlahan Grace mengangkat kepala lelaki itu, mengikat perlahan kepala lelaki itu dengan jas Kenzo, berharap pendarahan tidak semakin parah. Kenzo yang melihat cara Grace melakukan pertolongan pertama kini merasa darahnya berdesir hebat di dalam tubuhnya. Kenzo melihat sisi angel di dalam diri Grace.
Tiba-tiba, napas korban tersengal-sengal, dan tidak lama kemudian napas korban itu melemah. Untung saja ambulance segera datang dengan dokter gawat darurat ditemani satu perawat.
"Lakukan CPR," perintah dokter gawat darurat itu diangguki perawat laki-laki yang datang bersamanya.
Mereka melakukan CPR bergantian, namun detak jantung korban tidak kunjung kembali normal. Grace menatap reaksi dari korban kecelakaan yang tidak menunjukkan tanda-tanda detak jantungnya dapat kembali normal seperti sedia kala. Grace tidak bisa berdiam diri begitu saja sambari menunggu tim medis melakukan tugasnya sesuai sumpah profesi mereka.
Ingin rasanya Grace melakukan tindakan di sana, tetapi Grace sadar benar keterbatasan izin yang dia miliki di negara orang. Grace tidak bisa m*****i nama dan karirnya dengan cara seperti ini, walaupun tujuan Grace adalah untuk menolong nyawa orang lain.
"Breathing, sekarang!" teriak Grace kepada perawat itu.
Perawat itu mengangguk, dia memberikan napas buatan kepada korban. Di sampingnya, Dokter UGD itu menatap Grace. Menelisik wanita yang terlihat begitu paham tentang dunia medis.
"Upaya tidak berhasil Dokter," kata perawat terlihat kebingungan.
"Ini Tension Pneumothorax," ucap Grace mendiagnosa.
Grace dan Dokter UGD lelaki di sana saling berpikir. Dokter UGD memandang Grace sejenak, terbesit pertanyaan seperti orang-orang di tempat itu yang ingin tahu siapa Grace.
"Anda membawa bolpoin?" tanya Grace membuat dokter itu menyerngit.
Grace mengambil bolpoin dari saku jas dokter itu. Belum sempat tim medis bertanya apa keputusan dari Grace, tetapi wanita itu terlebih dahulu melakukan keputusan di luar perkiraan tim medis yang turut berada di dekat Grace.
"Arkhhh!" pekik korban ketika Grace menancapkan bolpoin itu.
"Apa yang Anda lakukan?" teriak dokter UGD itu ketika Grace menancapkan bolpoin itu ke d**a korban.
Sentakan dari dokter UGD membuat Kenzo mendekat, lelaki itu secara spontan berniat melindungi Grace sebelum wanita yang ingin dia berikan perlindungan menatap Kenzo seperti meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Grace memang tidak mempunyai izin praktek di Madrid, tetapi wanita itu juga seorang dokter yang dapat memprediksi kondisi tubuh pasien, dan memutuskan untuk melakukan pertolongan sebagaimana Grace diajarkan dalam akademisnya dan sumpah profesi sebagaimana seorang dokter bertindak.
Grace tidak peduli apabila setelah ini Grace akan mendapatkan sanksi dari ikatan dokter dunia sekalipun, yang jelas tujuan utama Grace adalah menyelamatkan nyawa seseorang, atau Grace akan menyesal seumur hidupnya.
"Kita harus mengeluarkan udara dari paru-parunya, selebihnya Anda yang menanganinya," ucap Grace menjelaskan penangan utama kepada dokter UGD yang bertugas.
Dokter gawat darurat nampaknya mengerti, dia dibantu Grace dan Kenzo menempatkan korban itu ke ranjang pasien. Semula dokter UGD merasa bahwa Grace hanyalah mahasiswa fakultas kedokteran yang sedang menunjukkan kemampuan akademisnya di depan banyak orang. Rupanya Grace adalah dokter yang sedang menyelesaikan pendidikan spesialisnya di sana.
Akhirnya dokter UGD tersebut bisa bernapas dengan lega setelah melihat tanda vital pasien kembali normal seperti sedia kala.
"Terimakasih, Dokter," ucap dokter UGD itu tersenyum, dari keahlian Grace dan ketangkasannya dia tahu bahwa Grace seorang Dokter yang kompeten.
Grace membungkuk, itu adalah kode etik sebagai dokter untuk menghormati satu rekan seprofesinya. Wanita itu merasa senang sebab kemampuannya bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Grace akan sangat terpukul jika saja pasien yang dia tolong tidak dapat dia selamatkan, apalagi karena keterbatasan wanita itu sebagai manusia pada umumnya.
Kenzo mendekati Grace, melihat Grace menangani pasien membuat Kenzo semakin terpana akan sosok Grace. Betapa mulianya wanita itu, dia cantik, pintar, dan juga sangat cekatan. Kenzo tidak mampu menafsirkan kalimat paling indah apa lagi untuk mengekspresikan perasaannya tentang sosok Dokter Grace Jolicia.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk pasienmu,” kata Kenzo memberikan kalimat penenang kepada Grace.
Wanita itu menoleh ke arah Kenzo. “Terimakasih sudah membantuku dalam tugasku, dan maaf untuk jasmu,” jawab Grace.
"Kita mampir dulu ke butik langganan keluargaku, kamu harus ganti baju," ucap Kenzo menunjuk baju Grace yang terkena lumuran darah.
Mereka langsung menuju mobil dan bergegas pergi meninggalkan basement Fakultas Kedokteran Universitas Complutense Madrid. Kenzo mengajak Grace berhenti sejenak untuk masuk ke dalam boutique langganan keluarganya.
"Mrs. Beti," panggil Kenzo kepada pemilik butik langganannya.
Mrs. Beti menatap baju Grace yang berlumuran bercak darah. Wanita itu menautkan kedua alisnya bingung. Tentu saja kedatangan Kenzo ke sana membuat Mrs. Beti merasa bertanya-tanya, sebab lelaki itu tidak mengkonfirmasi sebelum datang ke butik Mrs. Beti.
"Apa yang terjadi Tuan Muda?" tanya Mrs. Beti khawatir.
"Tidak apa, ini hanya noda darah ketika dia menolong korban kecelakaan. Kamu memiliki pakaian yang pas untuknya?" tanya Kenzo menunjuk Grace.
Mrs. Beti mengangguk. Tubuh Grace sangat indah dan menawan, Mrs. Beti mengupamakan tubuh Grace seperti bentuk tubuh manekin yang biasanya mereka pakai sebagai display sebuah pakaian. Kulit putih bersih Grace menambah nilai plus pada diri Grace Jolicia.
"Tubuh Nona sangat elok, mari saya ajak berkeliling memilih baju yang cocok untuk Anda."
“Sebelumnya, bisakah saya membersihkan diri terlebih dahulu?” tanya Grace meminta izin.
“Tentu saja, mari saya antarkan ke walk in closet,” kata Mrs. Beti mempersilahkan tamu kehormatannya.
Butik itu sangat besar, Mrs. Beti bekerjasama dengan berbagai merk lokal dan luar negeri, termasuk para desainer kondang di berbagai negara. Mrs. Beti memberikan fasilitas berupa kimono tenun untuk sementara waktu digunakan Grace setelah membersihkan dirinya. Wanita itu cukup menikmati sambutan hangat dari Mrs. Beti di butiknya.
Kenzo berjalan bersama Grace dan Mrs. Beti, Kenzo mengamati ke sekelilingnya, pandangan Kenzo jatuh pada dress putih yang terlihat sangat elegan.
"Kamu pakai yang itu saja," ucap Kenzo menunjuk dress itu.
Grace menoleh menatap pilihan Kenzo, rupanya Kenzo mengerti bagaimana selera Grace dalam berpakaian, ataukah karena seringnya Kenzo membelanjakan para wanitanya? Grace hanya menghendikkan bahunya acuh, dia tidak perlu tahu tentang kebiasaan lelaki itu dengan para wanitanya.
Mata Kenzo tidak bisa lepas dari Grace, wanita itu keluar dari ruang ganti dengan anggunnya.
"Boleh minta paperbag untuk baju kotorku?" tanya Grace pada pelayan di sana.
"Sudah buang saja, toh tidak bisa dicuci juga," ucap Kenzo membuat Grace menyebikkan bibirnya.
Memangnya baju itu punya siapa? Kenapa Kenzo yang menentukannya? Grace hanya mendengkus mendengar jawaban dari Kenzo.
Kenzo berjalan ke arah gantungan baju yang terdiri dari berbagai model dan warna.
"Dari ujung sini hingga sana, aku beli semua. Pastikan ukurannya pas untuk wanitaku," kata Kenzo mengintrupsi.
Grace terbelalak, apakah Kenzo seroyal itu terhadap semua wanita? Padahal Grace hanya membutuhkan pakaian ganti saja sebab pakaian Grace sebelumnya telah berlumurah darah. Wanita itu tidak memerlukan banyak pakaian baru dari sana.
"Kamu tidak perlu membelikanku semua baju Ken, lagi pula aku tidak membutuhkannya," jawab Grace merasa keberatan.
"Kamu tinggal di sini sebagai pendatang, jadi kamu butuh banyak baju," jelas Kenzo kepada Grace.
"Aku akan kembali ke negaraku, tidak lebih dari dua minggu lagi," jelas Grace membuat Kenzo menegang.
Grace mendongak menatap mata Kenzo, dia melihat kilatan tidak rela dari sana. Kenzo menggenggam jemari Grace. Lelaki itu tidak mungkin melepaskan Grace begitu saja untuk kembali ke Indonesia.
“Kamu tidak bisa pergi tanpa izinku Grace, kamu terlanjur membuatku terpikat denganmu. Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Kenzo serius.
"Ken-"
Kenzo menggeleng. "Aku pastikan kamu tidak bisa keluar dari negara ini, dua inggu maupun dua tahun lagi tanpa seizinku."
Tubuh Grace merinding mendengar penuturan Kenzo, apakah ini suatu kesalahan bertemu dengan lelaki yang notabennya tunangan teman baiknya?