Setelah memastikan Grace Jolicia sudah mengenakan pakaian ganti, Kenzo Matteo langsung mengajak Grace segera pergi dari butik langganan keluarga Matteo. Kenzo tidak ingin Mrs. Beti menyebarkan berita yang tidak benar kepada keluarga Kenzo hingga berujung rentetan pertanyaan dari keluarga lelaki itu. Biarlah Kenzo mengatur sendiri strategi perangnya untuk mendapatkan izin serta restu dari keluarga besarnya meminang wanita asal Indonesia.
Posisi dan status Kenzo Matteo saat itu tidak bisa dianggap sebagai waktu yang tepat untuk meminta restu kepada keluarga besarnya untuk memperjuangkan ketertarikan yang lelaki itu rasakan terhadap Grace Jolicia Sean Kusuma. Kenzo sadar benar bahwa keluarga besarnya sudah menaruh harapan bahwa Kenzo dan Shareen bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Kenzo meminta kepada Mrs. Beti agar mengirimkan tagihan pada dirinya untuk melakukan pembayaran. Lelaki itu bergegas membawa Grace keluar dari butik langganan keluarga Kenzo Matteo demi melindungi perasaan banyak orang di dalamnya. Walaupun Kenzo memang tidak menaruh perasaan apapun kepada Shareen, tetapi Kenzo sangat menghargai kedua belah pihak keluarga.
“Maaf, aku harus mengangkat telepon dari adikku,” kata Grace meminta izin.
Bagaimanapun Grace mempunyai etika dalam menumpang kendaraan orang lain. Wanita asal Indonesia itu tidak dapat bersikap seenaknya sendiri hingga melupakan sopan santunnya di depan Kenzo. Wanita itu tetap meminta izin terlebih dahulu dari Kenzo sebelum Grace menjawab panggilan telepon dari adiknya di Indonesia.
“Kamu bisa menjawab teleponnya,” sahut Kenzo menganggukkan kepala.
Grace hanya tersenyum simpul, dia lantas mengusap layar ponsel miliknya hingga menunjukkan durasi telepon di sana.
"Selamat Kakak!" pekik Freya di dalam sambungan teleponnya dengan sang kakak.
Remaja yang kini duduk di bangku kelas dua SMA itu terpekik bahagia mendengar sang kakak telah lulus ujian dan mendapatkan tanda tangan persetujuan kelulusan dari sang dosen penguji. Tidak sia-sia kakaknya terbang jauh dari Indonesia ke Madrid untuk menemui dosennya.
Freya sudah merindukan keberadaan kakak satu-satunya itu kembali ke Indonesia setelah kakak beradik itu dipisahkan oleh jarak membentang.
"Freya, suaramu membuat telinga Kakak sampai berdengung," keluh Grace menjauhkan ponselnya dari telinga wanita itu.
Grace menoleh, menatap lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki yang duduk di samping Grace menatap lurus jalanan tanpa peduli dengan kehebohan yang terjadi di dalam mobil lelaki itu karena panggilan dari Freya. Gadis remaja itu memang sangat bertolak belakang sekali dengan sang kakak, Grace lebih lemah lembut sedangkan Freya sangat grusa-grusu dan tidak bisa bersikap feminin sama sekali. Keluarga besar mereka saja sampai bingung dengan kelakuan bocah itu.
Perbedaan antara dua kakak beradik tersebut memang terlihat nyata.
"Aku tidak sabar menunggu Kakak pulang," ucap Freya dengan nada berbinar bahagia.
"Belajarlah yang baik, dan sering pulang ke rumah Mama. Jangan terus-terusan menginap di rumah Grandma Olivia," ucap Grace menasehati adiknya itu.
Meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi mereka tetap memiliki darah yang sama yang mengalir di dalam tubuh mereka. Freya dan Grace saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Mereka dibesarkan dan diasuh dengan cara serupa meski karakter keduanya sangat bertolak belakang.
"Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh sepatu kets yang sudah aku kirimkan ke w******p Kakak," lanjutnya mengingatkan sang kakak atas pesanannya.
"Iya iya Kakak tidak lupa, aku akan membelikanmu sepuluh pasang high heels jika kamu terus saja mengingatkanku!" ancam Grace membuat Freya tertawa di ujung sana.
"Baiklah aku tutup dulu teleponnya, aku mau main basket, bye Kak," pamit Freya sebelum mengakhiri panggilannya.
Beda waktu Madrid-Indonesia adalah enam jam. Jika di Madrid sekarang pukul sebelas waktu setempat, mungkin di Indonesia sekarang pukul lima sore.
"Aishh dasar gadis tomboy!" Grace malah tersenyum simpul.
Kenzo menoleh ke arah Grace, "Dia adikmu?" yanya Kenzo penasaran.
"Iya dia adikku," jawab Grace tersenyum, menunjukkan gambar wallpaper ponselnya yang kini terlihat fotonya bersama Freya.
"Dia lebih cantik darimu, sayang sekali dia masih kecil," kekeh Kenzo membuat Grace ikut tertawa bersamanya.
Banyak orang yang berkata demikian, Freya mewarisi gen sang papa. Berbeda dengan Grace yang dominan menuruni keluarga sang mama.
"Aku dengar pertunangan kalian sebentar lagi," ucap Grace membuat Kenzo menoleh ke arahnya.
Wanita itu menatap Kenzo, menunggu jawaban dari Kenzo. Grace memang mendengar sedikit banyak tentang rencana pertunangan lelaki itu dengan Shareen.
"Hmm," jawab Kenzo yang hanya diangguki oleh Grace.
"Kamu bisa menurunkanku di halte depan sana, aku akan kembali ke hotel sendiri. Kamu kembalilah bekerja," suruh Grace menunjuk halte di depan sana.
Bukannya menghentikan mobilnya, Kenzo masih terus melajukan mobilnya membelah jalanan Kota Madrid tanpa peduli dengan Grace yang kini terbelalak menatapnya.
"Aku ingin kamu menemaniku bekerja hari ini," ucap Kenzo membuat Grace mengerutkan keningnya.
Apa-apaan lelaki itu? Kenapa Grace harus menemaninya bekerja? Bagaimana jika Shareen melihat mereka bersama? Mungkin Shareen akan menganggap Grace telah menggoda calon tunangannya.
"Tapi Ken, aku harus menyelesaikan pekerjaanku," ucap Grace mencari-cari alasan untuknya bisa melepaskan dirinya dari Kenzo.
"Di kantorku ada banyak laptop menganggur Grace, kamu bisa memakainya. Aku yakin kamu selalu membawa flashdiskmu kan?" tanya Kenzo kepada Grace.
Percuma, sekalipun Grace menolak atau membuka paksa pintu mobil Kenzo lelaki itu mungkin tidak akan melepaskannya. Kenzo masih tetap mempertahankan keinginannya membawa serta Grace ke Hotel Matteo.
"Rey, siapkan ruanganku dan satu laptop tambahan lagi. Aku membawa tamu spesialku ke hotel," ucap Kenzo menyambungkan panggilannya dengan Rey, tangan kanan sekaligus sekretaris pribadinya yang bisa melakukan apa saja untuk Kenzo.
Grace mendesah pasrah, wanita itu juga tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerima ajakan lelaki di sampingnya kini.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran hotel paling besar di Kota Madrid. Seorang security langsung berlari untuk membukakan pintu Kenzo seperti sudah menjadi kebiasaan bagi mereka semua jika pimpinan mereka datang.
Satu lagi security membukakan pintu untuk Grace, tapi Kenzo lebih dulu menghentikannya.
"Tunggu, biarkan aku saja," ucap Kenzo berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Grace.
"Kamu tidak perlu seperti ini, semua mata menatapku," ucap Grace menatap semua orang yang ada di sana. Kedatangan Grace bersama Kenzo tentu saja menarik perhatian semua tamu dan juga para pegawai hotel lelaki itu.
Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Grace, membuat wanita itu menegang di tempatnya. Sialan sekali Kenzo, lelaki itu nampaknya begitu ahli dalam hal membuat keributan secara halus. Mungkin sebentar lagi wajah Grace akan terpampang di berbagai media yang menyorot kedekatan mereka.
'Tolong, pintu Doraemon bawa aku kembali ke kamar hotelku segera!' teriak Grace membatin.
Rey yang baru saja keluar dari lift menghampiri mereka. Rey membungkuk hormat kepada Kenzo dan juga Grace yang kini berada di samping bos besarnya.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Kenzo kepada Rey.
Lewat tatapan mata Kenzo, lelaki itu memberikan sinyal kepada Rey untuk mengatakan bahwa dirinya tidak ada jadwal yang penting hari ini.
"Tidak ada Tuan Kenzo, Anda hanya perlu menandatangani beberapa berkas," jawab Rey membuat Kenzo tersenyum puas.
'Aku berhutang kepadamu,' batin Kenzo membuat Rey menatap Kenzo mengejek ketika menangkap arti tatapan mata sahabatnya.
Lihat saja, mungkin Rey akan meminta imbalan yang besar untuk jasanya kali ini.
Rey menekan tombol open di lift eksekutif hotel mereka. Lift yang hanya boleh digunakan oleh para jajaran dewan direksi dan tamu penting lainnya.
"Silahkan masuk Tuan Muda dan Dokter Grace," ucap Rey mempersilahkan Kenzo dan Grace di sana.
Mereka bertiga berada di dalam lift untuk mengantarkan mereka ke lantai tiga puluh di mana kantor mereka berada. Pintu lift terbuka, Grace sangat takjub dengan tata ruangan yang dipakai di sana. Entahlah, di mata Grace tatanannya sangat rapi dan juga sangat pas menurutnya.
Rey membuka pintu ruangan Kenzo, mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
"Bawakan minuman untuk tamu spesialku Rey," ucap Kenzo diangguki Rey.
Kenzo meminta Grace untuk duduk di sofa tamu yang tersedia di ruangannya. Beberapa menit kemudian Rey membuka pintu ruangan Kenzo dengan kasar, membuat Kenzo dan Grace menoleh menatap Rey dengan bingung.
"Nyonya Besar datang berkunjung, Tuan Muda!"
"Apa? Mommy?" pekik Kenzo menatap Rey dan Grace bergantian.
Grace mengerti situasi yang kali ini dia hadapi. Rey duduk di samping Grace,
"Maaf Dokter Grace kali ini kita harus berekting sejenak," ucap Rey membuat Grace menatapnya bingung.
Ekting apa yang akan mereka lakukan bersama Grace? Dia tidak mempunyai keahlian di dalam dunia ekting sebab selama ini Grace hanya tekun pada bidang kedokteran sesuai akademisnya semata.