Kedatangan tiba-tiba Nyonya Matteo ke hotel utama Matteo Corp membuat ketiga orang dewasa di dalam kebingungan. Kenzo dan Rey yang merasa gugup untuk bertemu dengan Chatty, dan Grace yang merasa kebingungan melihat wajah kedua lelaki di dalam ruangan lelaki itu. Haish, seperti kedua lelaki itu memang ahli dalam membuat kehebohan rupanya.
Rey memandang Grace sejenak, berharap wanita asal Indonesia itu berkenan bekerjasama dengan mereka agar tidak menciptakan kegaduhan di antara Kenzo dengan ibunya, Chatty.
“Dokter Grace jangan katakan apapun pada Nyonya Matteo, cukup ikuti saja perkataanku nanti. Mengerti?” pinta Rey kepada Grace.
Grace manutkan kedua alisnya bingung. Kenapa juga Grace harus mengikuti perkataan Rey sedangkan dirinya saja tidak paham apa yang saat ini tengah mereka mainkan? Grace semakin bingung jika dia terus berada di dekat Kenzo dan antek-anteknya.
“Apa yang sebenarnya kalian-“
Ucapan Grace terhenti, ketika suara pintu terbuka diiringi hentakan heels berpacu dengan lantai yang begitu dingin. Iramanya terasa begitu mencekam bagi Kenzo dan juga Rey. Semua mata kini menoleh ke sumber suara, tidak terkecuali juga Grace. Wanita itu sejak tadi begitu penasaran tentang siapa yang datang ke ruangan Kenzo hingga wajah dua lelaki di dalam ruangan langsung berubah menjadi panik tidak tertahankan.
Grace menautkan kedua alisnya penasaran, dia menatap wanita paruh baya yang berpakaian nyentrik dan begitu fashionable menurut Grace.
“Kenzo!” ucap Chatty memanggil putranya.
Kenzo memejamkan matanya, namun detik selanjutnya lelaki itu menoleh dan tersenyum lembut menatap mommynya. Kenzo bisa menghadapi sang ibu, tetapi Kenzo merasa malu jika dirinya harus mendengar ceramah dari ibunya di depan Grace. Bagaimanapun juga Kenzo harus menjaga citranya di depan Grace demi mempertahankan nilai Kenzo di hadapan Grace.
“Mommy? Ada apa Mommy datang ke sini tiba-tiba?” tanya Kenzo merasa gugup.
Dia tahu benar maksud kedatangan sang ibu ke hotel keluarganya. Tentu saja Chatty sedang bersiap untuk memberikan omelan-omelan khas ibu kepada anaknya yang nakal tidak pernah pulang ke rumah dua hari ini. Padahal Kenzo anak tunggal pasangan Chatty dan Kelvin Matteo. Kalau tidak ada Kenzo di rumah, rasanya rumah begitu sepi, dan senyap. Walaupun Kenzo adalah biang keributan dan suka sekali berbuat kesalahan, nyatanya Kenzo adalah kesayangan bagi Chatty.
Chatty mengedarkan pandangannya, keningnya berkerut melihat sosok wanita cantik dengan wajah asia menjadi sorotan di ruangan putranya. Kedua alis Chatty saling bertautan sempurna. Melihat tatapan penasaran dari Chatty, Rey yang menyadari rasa kepo dalam diri nyonya besarnya langsung seketika itu juga melancarkan aksi mereka.
“Terimakasih, Dokter Grace,” ucap Rey kepada Grace.
Rey sengaja mengeraskan kalimat ketika memanggil Grace dengan kata dokter supaya Chatty mendengarnya, bahwa salah satu lelaki di dalam ruangan itu tengah membutuhkan penanganan tenaga medis. Ini adalah salah satu cara supaya Kenzo bisa terselamatkan dari omelan sang ibu.
“Siapa wanita cantik ini, Ken?” tanya Chatty merasa penasaran.
Raut wajah dan penampilan Grace yang terlihat begitu elegan membuat Chatty tidak mampu menipu bahwa Grace adalah wanita sempurna jika disandingkan dengan putranya. Akan tetapi bayangan itu segera Chatty tepis mengingat Kenzo sebentar lagi akan menikah dengan Shareen, putri salah satu rekan kerja keluarga Matteo.
Grace berdiri, wanita itu membungkuk dan tersenyum menyapa Nyonya Matteo. Grace tidak melupakan sopan santunnya kepada seseorang yang lebih tua dari Grace.
“Saya Grace, Nyonya,” jawab Grace dengan begitu sopan.
Kenzo menganga, tidak menyangka Grace akan memanggil Chatty dengan sebutan ‘Nyonya’.
“Dokter Grace, kamu tidak perlu memanggil mommyku dengan sebutan nyonya. Panggil saja Ibu Mertua,” ucap Kenzo membuat Chatty dan Grace terbelalak.
Benar-benar gila si Kenzo sampai mengatakan hal itu di depan ibunya.
“Memangnya apa hubungan Dokter … Grace dengan Kenzo?” tanya Chatty sambil mengingat nama dokter cantik di depannya.
“Dia pacar Kenzo, Mommy.” “Saya dokter pribadi, Tuan Kenzo, Nyonya,” jawab mereka berdua bersamaan.
Chatty terkekeh, detik selanjutnya wanita itu menepuk pelan lengan Kenzo.
“Kamu ini selalu saja mengakui wanita cantik sebagai pacarmu, Ken,” cibir Chatty kepada Kenzo.
Grace meraih tasnya, wanita itu segera berdiri dari sana.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya. Jangan lupa minum obatnya, Tuan Kenzo,” ucap Grace berpamitan untuk keluar dari sana.
Mata Kenzo terus menatap sosok Grace meskipun wanita itu telah hilang ditelan pintu yang kini kembali tertutup. Chatty hanya diam mengamati bagaimana reaksi Kenzo, cara putranya menatap Grace, tatapan penuh cinta.
“Dua hari ini kamu tidur di mana?” tanya Chatty merasa khawatir dengan putranya.
“Mom, Kenzo sudah besar. Kenzo sedang memperjuangkan sesuatu,” jawab Kenzo menatap mommynya meminta pengertian.
“Tapi tanggal pertunanganmu telah ditentukan, Ken. Mommy tidak mau pertunanganmu dan Shareen sampai berantakan karena kamu tidak bisa diatur,” jelas Chatty merasa frustasi menghadapi kelakuan Kenzo yang memang lebih suka dunia luar dan tidak ingin dikekang.
Kenzo menyentuh pundak mommynya. “Mommy tidak perlu khawatir. Pertunangan Kenzo akan tetap berjalan seperti rencana kalian,” jelas Kenzo meyakinkan mommynya bahwa tidak akan terjadi apapun pada acara pertunangannya yang hanya tinggal beberapa minggu saja.
‘Tapi dengan wanita yang berbeda, Mommy.’ Kenzo membatin.
Kalaupun Kenzo harus bertunangan dan menikah, maka hanya ada satu calon pendamping lelaki itu. Grace, satu nama yang membuat Kenzo jatuh bertekuk lutut di bawah sorot mata menangkan milik wanita itu. Bahkan setiap kali mereka berbicara, rasanya Kenzo ingin hanyut bersama tenangnya sorot mata dari manik mata milik Grace.
Wanita itu telah meluluh lantahkan perasaan Kenzo sampai dirinya tidak memiliki alasan mengapa Kenzo begitu ingin menjadikan Grace sebagai miliknya.
Sedangkan di luar sana, Grace dengan cepat menekan tombol lantai dasar agar dirinya bisa segera kembali ke apartemen dan mengemas semua barang-barangnya sebelum ia pergi meninggalkan Kota Madrid. Kota dengan segala keanehan yang tidak pernah Grace temui sebelumnya. Kota yang menjadi jembatan bertemunya dia dengan lelaki asing namun terus mencoba untuk dekat dengan dirinya.
“Lelaki aneh,” gumam Grace menggelengkan kepalanya.
Kenzo telah memberikan ultimatum kepada Grace, bahwa wanita itu tidak akan pergi tanpa seizinnya. Sudah jelas sekali, Kenzo tidak akan pernah membiarkan Grace meninggalkan Kota Madrid dan pergi meninggalkannya begitu saja setelah perasaan Kenzo menjadi-jadi kepada Grace. Sekuat tenaga, Kenzo akan memperjuangkan Grace apapun yang akan terjadi.
Grace membuka salah satu aplikasi online di ponselnya. Tidak berapa lama mobil yang dia pesan telah menghampiri Grace di depan gerbang utama hotel Matteo. Grace masuk ke dalam mobil, menyebutkan alamat apartemen yang dia tempati selama berada di Kota Madrid.
Sepanjang jalan, Grace begitu menikmati pemandangan kota dengan jalanan yang begitu bersih dan tertata rapi.
“Pak, stop di sini saja,” ucap Grace ketika mobil yang dia tumpangi berhenti di salah satu pusat keramaian di Kota Madrid.
Wanita itu membayar tagihan dengan kartu kredit miliknya. Grace berjalan mengikuti jalanan di depannya. Pemandangan laut lepas, dengan aktivitas-aktivitas masyarakat di sana yang begitu menarik bagi Grace.
Grace mengeluarkan ponselnya, mengabadikan salah satu momentnya di Kota Madrid. Jika seperti ini, mungkin Grace tak akan rela meninggalkan kota yang sangat indah itu.
“Memangnya untuk apa aku terlalu lama di sini?” gumam Grace dengan bahasa ibunya.
Dengan langkah perlahan, Grace menjajakkan kakinya mengikuti rute jalanan. Bangunan-bangun yang terlihat sama, dengan beberapa pedagang makanan di dekat sana semakin membuat Grace antusias.
Matanya tertuju pada toko sepatu kets, membuat Grace teringat akan sosok Freya—adiknya.
Suara bel sepeda membuat langkah kaki Grace terhenti. Matanya terbelalak, namun sebuah tarikan pada tangannya menyingkirkan Grace dari sana. Grace menoleh, ada sorot mata terkejut melihat Kenzo berdiri di sana.
Sejak kapan? Bukankah lelaki itu tadi masih berada di Hotel Matteo bersama sang ibu?
“Kenzo?” Grace tergagap, tidak menyangka Kenzo akan menemukannya di sana.
“Aku sudah bilang padamu, kamu milikku Grace. Kamu tidak memiliki hak untuk membuat tubuhmu lecet atau bahkan terluka.”