Egois!

1016 Words
Siska memegangi pipi bekas tamparan Papa Ahsan. Memerah, perih sampai sudut bibirnya berdarah. Sungguh, selama dalam pengasuh, di beri kasih sayang, perhatian dan sangat di sayang sebagai anak semata wayang, Siska baru merasakan sakitnya sebuah tamparan. Itu ia dapati sendiri dari sang Papa. Siska menoleh perlahan menatap wajah Papa Ahsan yang tengah di selimuti amarah memuncak."Aku membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, berharap kamu jatuh pada lelaki yang bertanggung jawab atas hidupmu! Sebagai penggantiku kelak, jika aku tidak lagi ada di dunia ini. Tapi, kenapa kamu malah membuat malu, Papa? Kami selingkuh dari suamimu. Parahnya lagi, kamu melakukannya secara berulang-ulang dengan sadar. Kenapa kamu tidak membunuh Papa saja, Siska?! Bunuh saja, Papa!!" Mama Sulastri berdiri dari duduknya. Menghampiri suami yang terpancing emosi. Mama Sulastri tidak ingin hal buruk terjadi pada kesehatan suaminya."Papa tenang dulu. Semuanya tidak akan selesai dengan emosi. Lebih baik kita tanya Siska baik-baik, kenapa dia melakukan ini semua? "Tidak Mama, kamu tidak boleh membela anakmu! Apapun alasannya, tidak ada benarnya selingkuh itu. Bagi perempuan yang sudah bersuamu. Kamu mau anak kita menjerat kita ke neraka? Karena tidak berhasil mendidiknya? Lihat, apa Mama tidak dengar? Siska sampai menyewa hotel bersama lelaki lain. Kalau saja Papa di posisi Armand, Papa juga melakukan hal yang sama," tutur Papa Ahsan, ia kecewa berat atas apa yang di lakukan sang putri. Sampai harus di antar oleh suaminya pulang. Papa Ahsan cukup terkesan oleh tindakan Armand, ia memulangkan Siska secara baik-baik. Meski Siska yang bersalah di sini. Siska berdiri dari sofa. Matanya berkaca-kaca. Dengan hati juga menumpuk amarah yang memuncak."Aku capek, Pa ... Capek dengan peraturan Papa di rumah ini. Aku tidak suka di kekang! Aku sudah mengatakan pada Papa bahwa, aku punya kekasih. Aku ingin dia yang menjadi pendampingku. Bukan, Mas, Armand! Tapi pernahkah Papa mendengar apa yang aku minta?" Siska menggeleng samar."Semua harus menuruti perkataan Papa, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Soal pasangan juga Papa yang ngatur! Aku sudah berusaha menuruti apa keinginan Papa, untuk menikah sama Mas, Armand. Antara aku dan dia tidak memiliki kecocokan. Aku sudah berusaha untuk menerima perjodohan ini, tetap saja aku tidak merasa bahagia atas pernikahanku. Aku hidup bagaikan burung dalam sangkar, Pa!" Air mata Siska mengggenangi Pipinya. Ia harus menuruti ke inginan Papanya terus menerus. Tanpa mendengarkan apa yang di inginkannya. Siska cukup terbuka dengan siapa ia dekat. Setiap menjalin hubungan dengan pria, Papanya terus meminta Siska untuk mengakhiri hubungan mereka. Hal itu di sampaikan langsung oleh Papa Ahsan di depan kekasih Siska sendiri. Bahkan sampai ada yang berani melamar. Namun, tidak ada satupun lelaki pilihannya di terima sang Papa. Pada akhirnya, Papa Ahsan mencarikan jodoh, pria itu Armand. Siska sempat menolak. Pada akhirnya, ia menuruti sang Papa, sebab Siska akan di keluarkan dari kartu keluarga dan tidak di anggap anak lagi. Sebagai anak, Siska masih mau berbakti pada orang tuanya. Namun, tidak semulus yang ia bayangkan. Hatinya terus memberontak dalam menjalani rumah tangga bersama Armand. Bahkan sampai tidak sudi untuk melayani suaminya. Dalam waktu 3 tahun, Armand dengan sabar menahan hasratnya. Ia bahkan mau tidur pisah kamar. Armand yang mengerti mereka menikah bukan tanpa cinta, menganggap Siska belum siap untuk melayani dia sebagai suami. Sampai pada akhirnya, Robi yang masih mencintainya kembali hadir dalam hidup Siska. Lelaki itu juga rapuh semenjak di tinggalkan Siska. Masih memendam perasaan yang sama, mereka diam-diam menjalani hubungan lagi. Tanpa sepengetahuan sang suami. Meski pada akhirnya, semua harus berakhir dengan talak yang di jatuhkan Armand pada Siska di depan orang tuanya. "Papa melakukan ini semua untuk kebaikanmu, Sis--" "Tidak! Papa salah!" bantah Sisil dengan tegas."ini bukan untuk kebaikan Sisil. Melainkan kebaikan Papa sendiri!" Dadaa Siska bergejolak penuh, meluapkan apa yang ia tahan selama ini. Membuka suara yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan. Bagi Siska, Papanya egois dalam mengatur hidup Siska. Sedangkan ia melihat kehidupan teman, ada yang menikah dengan pilihan mereka sendiri. "Sisil, sudah nak!"Mama Sulastri mencoba menengahi."Tidak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya. Pilihan orang tua tidak salah. Kami tidak mungkin memilihkan pendamping untukmu, orang yang tidak akan menyayangi dan bertanggung jawab padamu. Kamu tidak lihat, betapa Armand selama ini sabar menghadapimu? Ada dia mengeluh? Tidak! Ia tetap kepala rumah tangga yang akan menjadi panutanmu." "Mama, Papa, sama saja! Kalian egois! Kalian egois! Aku benci kalian!" maki Siska, ia berlari menaiki tangga. Meninggalkan Mama dan Papanya di bawah. Papa Ahsan memegangi dadanya, ia merasa denyutan lain di jantungnya. Mama Sulastri yang melihat itu, seketika berkata."Papa, kenapa?" tanyanya. Mama Sulasttri cemas akan keadaan sang suami. "Ayo, Papa, duduk dulu di sana. Tenangkan pikiran Papa," titah Mama Nengsih, menuntun Papa Ahsan duduk di sofa. Lelaki itu cukup terperangah atas apa yang di ucapkan Siska. Tidak menyangka anak semata wayangnya itu berani meninggikan suaranya di hadapannya. Hanya seorang pria, pria yang menyesatkan pikirannya. Pria yang sudah membuat Siska berpisah dari suaminya, Siska juga melawan terhadapnya kini. Status baru yang di sandang oleh Siska, tentunya bukan hanya Papa Ahsan saja yang malu. Apa lagi perihal mereka pisah di sebabkan oleh selingkuhnya Siska dari sang suami. Papa Ahsan menarik napas perlahan, lalu membuangnya. Berharap dadanya stabil kembali. Jangan sampai ia di vonis penyakit jantungan. Ada banyak hal yang harus ia selesaikan untuk hidup putrinya itu. Siska menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Mengeluarkan air mata sejadi-jadinya, terisak dalam ringkuhan dalam meratapi hidup yang tidak sesuai dengan apa yang di inginkannya. "Papa tidak pernah sadar. Aku begini juga perbuatan Papa. Kalian itu egois! Benar-benar egois!" *** Jika Siska yang berbuat selingkuh di belakang suami, maka tidak dengan Qenna. Perempuan itu masih meratapi betapa kejamnya pernikahan yang hanya dalam sehari ia jalani. Qenna kehilangan arah, ia belum bisa menerima semua ini dengan lapang d**a. Ada gemuruh di hatinya, bercampur baur kesal, sakit, cinta, terluka, tertahan di hatinya yang hancur lebur. Dengan mata telanjang, Qenna melihat pernikahan yang di sertai senyuman mengembang dari pihak mempelai. Tidak ada tampak wajah bersalah Rafa berdampingan dengan perempuan lain. Sedangkan ia meninggalkan istri sahnya di sebuah hotel, saat bulan madu mereka baru saja di mulai. Apa lagi, kekejaman dari Mamanya Rafa, sungguh sangat tidak terhormat. Dia juga seorang makhluk yang lemah. Seharusnya mengerti sesama perempuan yang di tinggal suaminya menikah tanpa kejelasan apapun. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD