Di belakang Armand, terlihat koper hitam berdiri sendiri di sana. Tampak padat, berisi akan pakaian. Kening Papa Ahsan berkerut. Namun, pikirannya sedang memilah-milah agar pikiran buruk tidak mempengaruhi otaknya.
"Siska, kamu mau nginap di sini? Armand keluar kota lagi?" tanya Papa Ahsan, melirik bergiliran Armand dan Siska. Anak dan menantunya itu sama-sama terdiam. Menarik kesimpulan Siska akan tinggal bersamanya selama menantunya itu berada di luar kota. Sebab, biasanya seperti itu. Siska akan memilih menginap dirumah orang tuanya, kalau ia merasa bosan sendirian di rumah atau akan tetap di rumah menunggu Armand pulang.
Siska meremas-remas jari-jemarinya. Seiring keringat dingin mengambil alih seluruh tubuh. Siska di buat tidak berkutik sedikitpun. Terlebih pria paruh baya, sebagai Papanya itu mengambil alih suara. Pria paruh baya itulah, yang menjodohkan Armand dengannya. Papa Ahsan yang tidak menyukai lelaki pilihan putrinya itu. Sehingga ia mencarikan Armand sebagai menantunya. Dari pengamatan yang terlihat selama ini dari Papa Ahsan pada Armand, Armand sosok lelaki dewasa bertanggung jawab. Sehingga tidak ada keraguan sedikitpun mengenai Armand di hati Papa Ahsan.
Siska menuruti permintaan sang Papa. Jika tidak, Papa Ahsan akan mencoret Siska dari daftar kartu keluarga. Kemungkinan juga, harta orang tuanya tidak ia dapatkan sepersenpun.
Armand melirik ke arah Siska, masih dengan rasa kecewa merajai hatinya. Andaikan dalam perjalanan kerumah orang tua Siska, perempuan itu minta maaf, Armand akan membuka pintu maaf untuk Siska. Memberi kesempatan ke dua bagi sang istri. Namun, tak sepatah katapun ucapan maaf terlontarkan dari mulut Siska.
Benar-benar tidak ada perasaan apapun di manik mata perempuan itu. Keinginan untuk mempertahankan rumah tangga yang tidak ada dalam hati perempuan itu.
"Tidak Papa, Armand tidak ada perjalanan bisnis kemanapun. Maaf sebelumnya, kedatangan Armand kemari ..." Armand menoleh pada Siska sejenak, lalu berkata."Armand tidak bisa mempertahankan rumah tangga Armand bersama Siska lagi, Pa, Mama."
Deg ....
Papa Ahsan dan Mama Nengsih terkejut atas pernyataan Armand. Dahi mereka berkerut penuh kebingungan, tidak ada angin apapun yang berembus. Selama ini Siska dan Armand hidup berumah tangga aman dan damai. Tanpa ada keributan yang di dengar sebelumnya.
Papa Ahsan melirik Siska, lalu menatap menantunya yang sedang melempar tatapan padanya juga."Ada masalah apa ini, Armand? Apa sebaiknya kita bicarakan secara baik-baik dulu. Jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi."
"Iya nak, Armand," sela Mama Nengsih, ia setuju dengan ucapan suaminya."Lebih baik kita bicarakan secara baik-baik, Nak, Armand. Dalam rumah tangga itu pasti ada perselisihan, pertengkaran, itu hal yang wajar."
Kedua dahi orang tua Sisil, memperlihatkan garis-garis halus di sela alis yang bertaut itu. Kabar ini cukup mengejutkan mereka. Pasalnya, anak semata wayang mereka, putri satu-satunya dalam keluarga Mubarak, akan menyandang status janda. Sungguh, status janda, sama sekali tidak pernah di minta dalam doa sebagai orang tua. Setiap hari mereka selalu mendoakan agar rumah tangga sang anak dalam kebahagiaan selalu. Sampai maut memisahkan, mereka tetap bersama. Terlebih pernikahan mereka masih seumur jagung. Tiga tahun pernikahan, masih sangat hangat masalah rumah tangga.
Armand sebenarnya juga tidak menginginkan ini terjadi. Melihat ke dua orang tua Sisil dengan sorotan mata menatap nanar, Armand sungguh tidak tega. Ia tahu, kabar ini akan menyakitkan hati mertuanya itu. Tetapi, Armand lebih tidak bisa menjalani rumah tangga jika hanya dia seorang yang mempertahankan sedang Siska tidak! Akan lebih baik ia memulangkan Siska baik-baik pada orang tuanya.
"Maaf Papa, Mama, dengan berat hati Armand harus menyampaikan hal ini. Mungkin kesalahan kecil yang di buat Siska, Armand masih bisa memaafkan. Tapi, sebagai kepala rumah tangga, harga diri Armand di injak-injak, sebagai istri Siska tidak bisa menjaga kehormatannya, dengan sangat terpaksa, Armand mengembalikan Siska pada Papa dan Mama," tutur Armand berterus terang.
"Maaf Nak, apa yang sebenarnya di lakukan Siska, sehingga memancing amarahmu, nak, Armand?" Papa Ahsan tidak dapat menarik apa yang terjadi. Sehingga memancing amarah sang menantunya itu.
"Armand mengikuti Siska hari ini. Armand sengaja tidak ikut ke kantor. Ada seseorang yang telah melihat Siska jalan bersama pria lain. Mereka akan jalan ketika Armand tidak ada di rumah. Awalnya Armand tidak percaya akan pengaduan orang tersebut. Armand berpikir dia hanya ingin keretakkan dalam rumah tangga Armand. Karena penasaran ... Armand tidak pergi ke kantor. Armand menunggu dari kejauhan untuk melihat sendiri dengan mata telanjang, benar atau tidak perkataan orang itu. Ternyata ...." Armand merasa sesak dalam dadanya. Air matanya hendak luluh di balik kelopak matanya itu. Dengan baik, Armand menahannya. Sebab, menangis di depan mertua ada terbesit rasa malu di hati Armand.
"Benar, Siska menaiki motor seorang pria. Entah itu siapa, Armand tidak tahu. Mengikuti mereka sampai ke hotel. Bukan hanya sekedar di luar saja, Armand masuk dan terus mengikuti Siska bersama pria itu sampai ke kamar 205. Hal yang terduga pun hampir mereka perbuat, tanpa Siska berpikir bahwa dia seorang istri dari pria yang sudah menikahinya," sambung, Armand. Mengatakan secara detail, kejadian yang ia lalui. Berawal dari pembuntutan itu.
Mata Papa Ahsan membelalak penuh, mangalihkan bola matanya pada Siska yang hanya bergeming. Mama Nengsih membekap mulutnya dengan telapak tangan. Matanya juga membola, seiring gelengan samar dari kepalanya.
"Mohon maaf atas segala-galanya, Papa dan Mama, Armand tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Siska. Sekarang Siska, Armand serahkan kembali pada Papa dan Mama." Armand menoleh pada Siska yang hanya tertunduk."Siska, kamu aku talak. Mulai hari ini dan seterusnya aku bukanlah istriku lagi."
Papa Ahsan dan Mama Nengsih, menjadi saksi akan perpisahan sang putri mereka. Di hadapannya langsung Armand menjatuhkan talak. Tentu saja, adanya saksi maka talak sah. Armand dan Sisil bercerai. Mereka bukanlah suami istri lagi.
Mulut Papa dan Mamanya Siska tidak mampu berucap. Kenyataan pahit ini sungguh mengecewakan hati Papa Ahsan dan Mama Nengsih sebagai orang tua. Tidak menyangka, Siska akan menggoreskan arang hitam di dahi Papa dan Mamanya sendiri.
"Papa, Mama, Armand pamit dulu." Ucap Armand, seraya berdiri dari duduknya."Siska, semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Maaf, kalau selama ini aku tidak bisa membahagiakanmu."
"Armand, pulang dulu Papa, Ma," pria itu menciumi punggung tangan mantan mertuanya saat ini. Ia lepas tanggung jawab akan Siska.
Papa Ahsan bagaikan mumi, ia bergerak tapi tak bisa berucap sepatah katapun. Tubuhnya bergetar amarah yang siap di luapkan. Ini tamparan yang sangat kuat sebagai orang tua yang di permalukan oleh putri mereka sendiri. Dengan penuh kasih sayang, membesarkan Siska. Di didik agar tidak melenceng dari agama, perempuan itu malah menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Tunggu Nak Armand!" panggil Papa Ahsan, mengayunkan langkah kakinya sangat lemah mendekati Armand. Kaca matanya yang bertengger, di lepaskan dari hidungnya sesaat. Menyapu cairan bening yang terlanjur menyentuh pipinya. Hatinya terluka oleh anaknya sendiri.
"Iya, Pa ...." Armand membalikkan tubuhnya. Menangkap air wajah Papa Ahsan yang sendu.
Papa Herman menepuk bahu Armand, kemudian mengusap lembut pria yang pernah menjadi suami putrinya itu."Maafkan kesalahan, Siska. Maaf, Sebagai orang tua, Papa gagal mendidik anak Papa sendiri untuk berbakti pada suaminya. Maafkan, Papa, selama jadi istrimu, banyak kesalahan yang di perbuat oleh Siska. Semoga, kamu mendapatkan perempuan yang bisa menjaga martabat kamu sebagai seorang suami. Tapi, nak, sungguh Papa masih berharap kau menjadi suami Siska."
Armand tersenyum lembut pada pria paruh baya yang dulu, Papa mertuanya itu. Papa Ahsan--mertua yang sangat baik bagi Armand. Ia tidak hanya sebatas Papa mertua saja. Melainkan sudah seperti Papa kandungnya sendiri.
"Segala kesalahan Siska telah Armand maafkan, Pa. Papa enggak perlu khawatir, Papa dan Mama Nengsih tetap orang tua Armand. Kalian tidak mempunyai salah apapun pada Armand. Hanya saja ... perjodohan Armand dan Siska tidak panjang. Mungkin hanya sampai di sini jodoh kami. Semoga Siska mendapatkan lelaki yang mencintai dan di cintainya."
Dari kejauhan hati Siska tersentuh oleh ucapan Armand. Terbesit rasa bersalah, secara terang-terangan ia memilih untuk kembali pada mantan kekasihnya itu. Meninggalkan Armand yang telah menikahinya.
Air mata Papa Ahsan menumpuk di kelopak matanya. Ia menarik Armand dalam dekapan hangatnya untuk terakhir kali. Sebelum Armand melangkah keluar dari rumah ini, dengan status barunya--Duda.
"Terima kasih, Nak. Semoga kamu dapat yang lebih baik untuk mendampingimu kelak," Papa Ahsan tidak menegakkan sama sekali kesalahan Siska. Ia tidak membela putrinya itu. Sebab, sebagai seorang suami dari Mama Nengsih, ia akan bersikap sama dengan Armand. Jika istrinya selingkuh darinya.
Armand mengaminkan dalam hati. Ia berharap, kelak akan menemukan istri yang menerima apapun keadaannya.
Setelah berpelukan cukup lama, Armand dan Papa Ahsan melepaskan pelukan itu. Membiarkan Armand melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Pria itu hilang di balik pintu. Sesaat kesunyian melingkupi suasana rumah. Papa Ahsan masih berdiri mematung ke arah pintu. Ada beribu amarah yang siap ia luapkan.
Sedetik kemudian, tubuhnya berbalik. Melayangkan tatapan tajam pada Siska. Manik matanya menyalak penuh amarah. Langkah lebar Papa Ahsan mendekati Siska.
"Plaaakkk !!!"
Sebuah tamparan melayang di pipi Siska. Suara tamparan itu melengking keras memenuhi isi rumah. Mata Mama Nengsih membelalak, ia kembali membekap mulutnya. Seiring cairan bening mengalir di sudut perempuan paruh baya itu.
Bersambung ...