Siska membalikkan tubuhnya. Tidak ada yang harus ia tutupi lagi. Semua telah di lihat langsung oleh suaminya itu. Inikah yang ia inginkan, bukan? Ini adalah waktu yang tepat baginya untuk mengakhiri semua drama ini.
"Lebih baik aku tidak punya malu, dari pada hidup bersamamu terus menerus. Aku seperti burung dalam sangkar. Terikat, terkekang dan terpaksa menjalani ini semua! Aku capek! Capek untuk menjalani rumah tangga ini! Aku tidak menginginkan perjodohan kita. Semua aku lakukan hanya karena orang tuaku yang menginginkan semua ini," cerca Siska, dengan nada penuh emosi. Meluapkan yang tertahan selama ini.
Armand menggeleng samar. Jika di kaitkan perjodohan dulu, Armand juga tidak langsung menerima perjodohan ini. Ia hanya berpikir, cinta itu akan datang seiring waktu dan kebersamaan yang mereka lalui. Armand perlahan-lahan membuka hatinya untuk Siska, segala perhatian tercurahkan oleh Armand untuk Siska. Sebagai seorang suami, ia berusaha membahagiakan perempuan itu.
Armand tidak menyangka, ia terkecoh akan sikap manis Siska padanya. Ternyata, ia menyimpan perasaan pada lelaki lain. Yang tidak lain kekasihnya dulu. Kini sebagai suami Armand telah gagal merangkul istrinya untuk tetap hidup bersamanya. Untuk apa ia mempertahankan Siska, sedangkan perempuan itu telah mencicipi tubuh lelaki lain.
Dengan d**a membusung, amarah yang sesak , Armand berusaha mengendalikan diri. Ia tidak boleh sampai melekatkan tangannya di kulit perempuan itu sedikitpun. Lelaki itu selalu menanamkan, jika dia tidak menginginkan perempuan itu untuk mendampinginya, maka dengan sangat hormat Armand akan mengembalikan perempuan itu pada orang tuanya.
"Aku tidak pernah memaksamu untuk menjadi istriku. Aku sama sepertimu, Siska, awalnya memang terpaksa. Tapi, aku sadar pernikahan bukanlah permainan. Aku mengambil alih tanggung jawab atas dirimu dari ayah mertuaku. Aku berusaha belajar mencintaimu, jika kau keberatan dengan semua ini, ok! Aku tidak akan menahanmu sekalipun. Tapi, bukan berarti aku membiarkanmu pergi begitu saja di rumah ini. Aku akan mengantarkan kamu kembali kerumah orang tuamu," Armand mengambil alih koper Siska, ia melangkah lebar menuruni tangga.
"Kamu tidak perlu mengantarkan aku, Mas Armand! Aku bisa pulang sendiri kerumah orang tua aku!"Siska menarik kopernya lagi, namun tangan kekar Armand tidak membiarkan koper itu berpindah tangan
"Kamu boleh mengusirku dari hotel. Tidak untuk satu ini! Jangankan koper, aku mampu menyeret kamu keluar dari rumah ini," Tegas Armand, menekan ucapannya.
Armand menarik tangan Siska, sedangkan tangan yang satunya menarik koper perempuan itu.
"Lepaskan aku, Mas!" Pinta Siska, tangannya di genggam erat oleh Armand."Sakit!" rengeknya kemudian.
Tak sedikitpun, Armand melepaskan tangan Siska. Ia tetap menggenggam erat tangan perempuan itu. Kini, langkah kaki Siska dan Armand terhenti dekat mobil.
"Masuk!" Armand, menarik Siska masuk ke dalam mobil. Perempuan itu terhenyak di kursi penumpang depan. Armand meletakkan koper di belakang kursi penumpang belakang.
Armand melangkah lebar mengitari mobil. Ia sudah tidak ingin menahan Siska lagi bersamanya. Memulangkan Siska pada orang tuanya, adalah tindakkan yang tepat. Dari pada memaksanya untuk tetap bertahan.
Mobil di kendari Armand dalam kecepatan di atas rata-rata. Sorotan matanya lurus ke depan menajam, tanpa berkedip. Alis mata hitam memperjelas manik mata lelaki itu, bak burung elang memanah lurus.
Siska berpegangan erat pada pegangan yang ada di atas kepalanya."Kalau kamu pengen mati, jangan bawa-bawa aku dong, Mas!"
"Malaikat lebih dulu mencabut nyawamu dari pada aku!"
Siska terperangah, Armand malah membuatnya bergedik ngeri. Menelan ludah bersusah payah, sebab ia tahu, dia yang salah di sini. Ia memilih lelaki lain dari pada suaminya.
Tidak lama kemudian, mobil Armand berhenti tepat di depan rumah Siska. Lelaki itu membuka sabuk pengaman, mengayunkan langkahnya untuk segera mengeluarkan koper milik Siska di kursi penumpang.
Armand tidak membantu Siska keluar dari mobil. Lelaki itu malah melangkah lebih dulu menuju rumah. Siska di dalam mobile mendengus kesal. Lelaki itu tidak membantunya untuk turun dari mobil.
Sebuah ketukan dari luar terdengar oleh pelayan rumah orang tua siska. Pintu terbuka lebar menampakkan sosok pelayan yang menyambul dari balik pintu."Eh, Nona Siska ...."
"Bi, Mama, Papa ada?" tanya Armand langsung.
"Ada, Mari silahkan masuk Aden, Nona," ujar pelayan. Saat Armand dan Sisil masuk, sementara pelayan itu memanggilkan orang tua Siska, yang ada di kamarnya.
"Maaf, Tuan, Nyonya, ada Nona Siska dan suaminya di depan," ucap pelayan, setelah mengetuk pintu dan pintu di bukakan.
"Siska bersama suaminya kemari?" tanya Mama Sulastri."Nanti kami akan menemuinya."
"Baik, Nyonya, saya kebelakang dulu," ucap pelayan tersebut.
Mama Sulastri beralih pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi."Papa, di luar ada Siska dan menantu kita."
"Siska dan Armand? Papa pakai baju sebentar. Lebih baik Mama menemui mereka duluan," perintah Papa Ahsan Mubarak--papanya Siska.
"Baiklah ...." Mama Sulastri keluar dari kamar, ia akan menyambut kedatangan Siska bersama suaminya itu.
Sesampainya di ruang tamu, Mama Sulastri tersenyum mengembang di raut wajah wanita paruh baya itu."Siska, Armand, kenapa tidak menghubungi Mama dulu mau kesini? Kalau tahu mau kemari, Mama akan masakan kalian. Tunggu kedatangan kalian untuk makan malam bersama."
Jika wajah ceria tergambar di wajah Mama Sulastri, tetapi tidak dengan Armand dan Siska terutama Siska. Jari jemari perempuan itu meremas-remas takut. Bukan pada Mamanya, melainkan sang Papa.
Armand berdehem. Ia tidak tega mengatakan hal yang menyakitkan ini. Melihat kesedihan di raut wajah orang tua Siska, sungguh ia tidak bermaksud sedikitpun. Tetapi, ini semua tidak pantas untuk di tutupi lagi oleh Armand. Biarkan orang tua Sisil mengetahui apa yang terjadi di rumah tangganya dan kemauan anaknya seperti apa.
"Tidak apa, Mama. Armand dan Sisil sudah makan tadi," killahnya berbohong.
Tidak lama kemudian, Papa Ahsan datang dengan raut wajah sumringah."Armand, Sisil ...."
Armand mencium tangan mertua yang sebentar lagi, jadi mantan mertuanya."Mari duduklah, Nak."
Saat mereka saling mendarat duduk di sofa, manik mata Mama Sulastri, mendapati koper yang berada di belakang Armand.
"Kalian mau nginap di sini?" tanya Mama Sulatri. Ia tidak akan keberatan jika am anak menantunya itu menginap di rumahmya.
Siska dan Armand saling bersilang pandang. Tatapan memohon Siska terlihat dari iris matanya yang melemas. Perempuan itu tidak mau, sang Papa meradang amarah padanya. Namun, meski begitu hati Armand telah bertekad bulat untuk tetap mengatakan pada orang tua Siska. Ia tidak ingin di salah oleh orang tua Siska suatu saat nanti.
"Nak, ada apa ini?" Firasat buruk Papa Ahsan. Melihat ada gelagat aneh dari pasangan suami istri itu. Tidak biasanya Siska terdiam tertunduk, ia tidak mampu menatap wajah lelaki sebagai cinta pertamanya itu.
Bersambung ...