Uang tidak pernah ada kata bosan

1550 Words
Sungguh, Sindy tidak tahu harus mengatakan apa pada Rendra? Bagaimana cara menjelaskan pada pria itu. Sedangkan masalah Qenna cukup rumit untuk ia jelaskan. Suami? tidak ada suami yang berada di sampingnya. Bahkan pria itu saja entah tahu atau tidak masalah kehamilan Qenna ini. Sindy semakin gugup, saat Armand terus menatapnya untuk mendapatkan jawaban dari Sindy. Dengan kening berkerut penuh, ia menantikan sahutan itu. "Apa kamu tidak mendengarkan aku, Sindy?" Ulang Armand sekali lagi. "Qenna tidak punya Suami, Pak," jawab Sindy dengan mata terpicing erat. Dan itu, menarik etensi Armand. Pria itu gagal mencerna yang di katakan perempuan itu. Maksud dari ucapan yang terlontarkan itupun, terdengar aneh. Perempuan hamil, tidak ada suami? Banyak hal yang bisa di tarik menjadi jawabannya. Bisa jadi hamil di luar nikah, di lecehkan penjahat, ataupun hal lainnya. Yang pasti ketika mendengar perkataan "tidak punya suami," orang-orang akan menarik kesimpulan buruk. Dan moralnya juga sedang di pertaruhkan di mata masyarakat. "Bisa kamu ulangi lagi, apa yang kamu katakan?" Pinta Armand."Ah, maaf ... aku sedikit rancu mendengarnya." Sindy menggigit bibir bawahnya. Tidak ada yang rancu di sini. Kenyataan ini memang sulit di terima dan aneh di dengar. "Aduhh .. Pak Armand, aku tidak bisa mengatakan ini pada Bapak. Aku sendiri bingung mau menjelaskan dari mana. Terlalu rumit, Pak, untuk di jelaskan wa." Rengek Sindy dalam hati. Wajah Sindy tidak terelakkan dari manik mata Armand. Sorotan dari mata pria itu semakin membuat Sindy gugup."Begini, Pak--" Pembicaraan Sindy terhenti, kala melihat pergerakkan Qenna yang mulai mengerjapkan matanya. Sembari tangan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, Qenna dapat mengenali bahwa di sedang berada di ruangan direktur. Tolehan kepalanya mendapati dua orang tidak jauh darinya. Berdiri, menghadap padanya yang sedang terbaring di atas sofa. Perlahan Qenna menarik tubuh untuk duduk dari tidur."Kenapa aku ada di sini?" "Qen, kamu sudah sadar?"Sindy mendarat duduk di sisi sofa. Memegangi sahabatnya itu. Menjadi alasan Sindy, untuk mengelak dari pertanyaan Armand yang seolah beban terberatnya."Tadi kamu pingsan, Qen." Armand yang mengalihkan wajahnya sesaat kesembarangan arah. Tangannya menelusup di saku celana bahan abu-abu muda itu. Ia harus menarik pertanyaannya dari Sindy. Perempuan itu menggantungkan jawaban, sehingga rasa penasaran pun menyeruak di benak otak Armand. "Pingsan?" ulang Qenna tidak percaya. Sindy mengangguk tegas. Membenarkan pertanyaan itu. "Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang membawaku kemari," tanya Qenna, Sindy hanya melirik Armand dengan perasaan takut. "Ekhem ... Aku yang membahawamu ke ruanganku. Kamu pingsan di dalam lift. Saat itu, aku ada di sana," timpal Armand, mematri wajah pucat Qenna. Lingkaran hitam di sekitar mata, memperlihatkan perempuan itu kekurangan tidur. Matanya cakung, di tambah kondisinya tidak stabil. "Maaf, Pak, saya telah merepotkan Anda," balas Qenna, sungkannya pada lelaki itu. Merasa tidak enak hati pada Armand. Sebab, menjadi beban bagi pria itu. "Tidak masalah. Kalau kamu lagi kurang sehat, kamu boleh beristirahat di rumah sampai kesehatanmu pulih lagi. Aku tidak akan memaksa karyawan untuk berkerja dalam keadaan kesehatan kurang stabil. Karena aku tidak memakai sistem kerja rodi. Jadi, lebih baik kamu menjaga kesehatanmu. Masalah gajimu tidak akan di potong. Uang tidak pernah ada bosannya untuk terus di cari. Tapi kesehatan lebih utama, kamu mengerti?!" titah Armand, lebih baik ia tidak mengatakan yang sebenarnya pada Qenna. Biarkan Sindy--sahabatnya mengatakan hal itu padanya. "Apa yang di ucapkan Pak Armand ada benarnya, Qen. Lebih baik kamu pulang dulu. Beristirahat dirumah sementara waktu. Sampai kesehatanmu pulih lagi," timpal Sindy. Sementara waktu, lebih baik ia tidak mengatakan apapun pada Qenna. Sindy akan mencari waktu yang pas untuk menceritakan perihal ini dengan Qenna. Ia takut, berita kehamilannya nanti malah menambah beban pikirannya. Qenna menimang-nimang sesaat. Sedetik kemudian ia mengangguk, menuruti saran dari Sindy dan atasannya itu."Baiklah ... Pak, saya mohon izin sementara waktu. Saya harap bapak tidak akan memecat saya." Qenna menyerah kali ini. Tubuhnya benar-benar tidak bisa di paksakan untuk tetap bekerja. Ia benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kesehatannya lagi. Bersyukur ia mempunyai atasan yang baik, peduli dengan karyawan-karyawannya, terutama pada dia saat ini. Armand mengangguk pelan."Saya akan pegang omongan saya, saya janji tidak akan memecat kamu." Tidak berapa lama Hans datang dengan segelas teh hangat. Kehadiran Hans menarik tatapan Armand dan Sindy. Cukup lama pria itu keluar. Pada hal hanya sekedar mengambil segelas teh hangat yang di perintahkan Armand padanya. "Kemana saja? Di minta suruh bawa teh hangat lamanya minta ampun!" sembur Armand. Hans cengingiran."Maaf ... ada kendala tadi." Jawabnya sembari memberikan teh itu pada Sindy. Bola matanya mendapati Qenna sudah sadar. Mereka saling melempar pandangan. Namun, dingin tak terbaca. "Terima kasih," timpal Sindy, lalu beralih pada Qenna."Qen, ayo di minum. Sini, aku bantu ...." Sindy membantu Qenna untuk bangkit dari tidurnya dan membantu perempuan itu meneguk sedikit demi sedikit teh hangat buatan Hans. Setelah meneguk perlahan teh hangat itu. Armand memberikan kertas yang baru saja ia robek. Di dalam kertas tersebut tertulis nama obat dan vitamin yang di kirimkan tadi oleh dokter Bram ke ponsel Armand. "Ini obat yang akan kamu tebus," ujar Armand, memberikan daftar obat yang harus di minum oleh Qenna. Qenna mengambilnya."Terima kasih. Maaf sebelumnya, daftar obat ini siapa yang memberikan?" "Tadi kamu di periksa oleh dokter keluarga, Pak Armand. Pak Armand yang meminta dokter itu untuk memperiksa kamu," sela Sindy, saat Armand hendak berucap tadi. Hans melirik Armand. Armand juga membalas tatapan Hans. Sorotan mata Hans sangat bisa di tebak. Pria itu mempertanyakan, tentang diagnosa dokter Bram tadi. Namun, Armand melarangnya untuk tidak mengatakan apapun saat ini. Membiarkan Qenna untuk tidak terkejut dengan kabar ini. "Terima kasih, pak Armand. Saya sudah merepotkan Anda. Sampai harus mendatangkan dokter untuk periksa saya," tutur Qenna, tidak enak hati. Merasa dirinya telah menjadi beban bagi atasannya itu. "Saya akan melakukan hal yang sama pada karyawan yang lainnya. Ini tanggung jawab saya, jika ada karyawan yang bekerja mengalami hal yang sama denganmu," killah Armand, agar tidak terlalu terbaca. Bahwa ada getaran yang berbeda. Ada amarah kecil yang tersulut dari dalam dadanya. Ketika kabar kehamilan Qenna mengudara bebas di telinga Armand. "Bersiaplah saya akan mengantarkan kamu pulang. Saya tunggu di lobi," perintah Armand, ia yang akan mengantarkan Qenna pulang. "Tidak usah, Pak. Saya tidak ingin merepotkan Anda lagi. Saya bisa pulang sendiri. Nanti saya naik taksi saja," Qenna tidak bisa menerima tawaran atasannya itu. Ia takut nanti akan ada kabar miring jika orang lain melihat tindakkan Armand padanya. Qenna tidak ingin membuat Rendra kehilangan reputasinya di kantor dia sendiri. Saat Armand hendak menyanggah, deringan ponselnya menghentikan pembicaraan mereka. Armand merogoh saku jasnya. Mengambil ponsel yang sedang berbunyi itu. Pria itu mengisyaratkan tangannya, untuk pamit sejenak dari hadapan Qenna. Pria itu menghadap kaca lebar di ruangannya sendiri. Yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit di luar sana. Yang sama dengan kantornya, berdiri tegak dengan kokoh. Selesai menerima telpon dari orang yang penting itu, menghalanginya untuk bisa mengantarkan Qenna. Ia tidak bisa meninggalkan pertemuan penting itu. Armand menghampiri Qenna, Sindy dan Hans. Namun, ia terfokus pada Qenna yang terlanjur mengatakan akan mengantarnya pulang."Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarkanmu, ada pertemuan mendadak yang harus aku datangi sekarang juga. Kamu tidak apa-apa, kan pulang naik taksi?" Armand merogoh dompetnya. Mengambil beberapa uang kertas bernilai seratus ribu. Lalu, memberikan pada Qenna."Ambil ini, untuk membayar taksi yang akan mengantarkan kamu nanti." Melihat uang itu terlalu banyak, Qenna tidak bisa menerima pemberian Armand. "Ini terlalu banyak, Pak. Lebih baik Pak Armand simpan saja uangnya. Maaf, saya tidak dapat menerima ini. Untuk ongkos naik taksi, insya allah saya punya." Armand tidak terima penolakan itu. Pria itu tidak punya waktu lagi. Ia harus segera pergi. Pria itu terpaksa menarik tangan Qenna. Meletakkan uang itu di telapak tangannya."Ambil ini. Hati-hati di jalan nanti. Beristirahatlah dengan cukup. Dan jangan lupa beli obat dan harus kau minum." Qenna bergeming, menatap uang kertas merah itu di tangannya. Armand melirik pada Hans."Hans ikut dengan saya. Tolong siapkan berkas-berkas yang di perlukan nanti. Mengenai proyek baru yang akan kita tangani." "Hemmm ..." Hans mengangguk cepat, melangkah keluar mengambil berkas tersebut. Sedangkan Armand mengambil tas jinjingnya di atas meja. Ia menoleh pada Qenna dan Sindy."Sindy, saya minta tolong, tolong kamu bantu Qenna mencarikan taksi untuknya. Pastikan dia menaiki taksi itu, setelah itu kamu boleh kembali ke kantor." "Baik, Pak ...." Jawab Sindy singkat. "Terima kasih banyak, Pak," timpal Qenna. Armand mengangguk kecil. Ia pun meninggalkan Sindy dan Qenna. Keluar dari ruangannya untuk pertemuan bersama Hans di luar kantornya. Setelah kepergian Armand. Suasana hening seketika. Sindy larut dalam pikirannya berkecamuk mengenai keadaan Qenna. Apa yang harus ia katakan pada sahabatnya itu? Sindy sudah meyakini ini akan menjadi beban terberat bagi Qenna. Entah siap atau tidak Qenna menerima kenyataan pahit ini. Ia takut, Qenna tidak akan kuat. "Sin ... Sindy," panggil Qenna, ia melihat sahabatnya itu melamun. Sorotan mata perempuan itu kosong ke satu arah. Wajah Sindy terlihat sendu, kelopak matanya teduh. "Ah .. mmm, apa?" tanya Sindy gelagapan. "Kamu kenapa?" Qenna khawatir dengan Sindy. "Tidak, ada berkas yang belum aku siapkan. Huuummm ... Aku akan mengantarkanmu lebih dulu mencari taksi. Setelah itu, aku akan menyiapkan berkas itu," killah Sindy. "Kalau begitu, kamu siapkan saja berkas itu. Aku bisa kok, sendirian mencari taksi," "Tidak, Qen. Aku akan mengantarkanmu untuk mencari taksi. Sesuai perintah Pak Armand. Jika tidak aku lakukan, nanti yang ada aku di pecat lagi," tolak Sindy."Kamu tenang saja, berkas itu pasti aku selesaikan tepat waktu." "Ya sudah, aku mau. Asalkan tidak mengganggu pekerjaan kamu saja," Qenna menerima tawaran itu. "Tidak akan ...." Sindy mengulas senyum di bibirnya. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD