Hamil?!

1509 Words
Mata Sindy membeliak penuh. Raut wajah cemas terpancar seketika. Mulutnya menerka nama sang sahabat. Di sertai rasa gemuruh di dalam dadanya. Sebab, dari kemaren Qenna memang tidak terlihat baik-baik saja. Dan statusnya di kantor ini juga sebagai seorang cleaning servis. "Qenna," ucapnya pelan. Sindy mendekati lift, menekan tombol ke lantai di mana ruangan direktur. Begitu pintu lift terbuka, Sindy masuk. Menekan tombol lift kembali. Sembari menuju lantai yang dituju, Sindy tidak henti-hentinya memikirkan sahabatnya itu. "Semoga bukan kamu, Qenna," gumamnya. Jari jemarinya bertaut, iris matanya mengamati panah merah yang ada di atas pintu lift. Lift bergerak dengan satu persatu lantai. Hingga dentingan lift menandakan pintu terbuka, tepat di lantai yang dituju Sindy. Langkah perempuan itu terburu-buru menuju ruangan direktur. Hans juga tergesa-gesa menuju ruangan Armand. Ketika mendapatkan telpon dari sahabat sekaligus atasannya. Armand tidak mengatakan apapun pada Hans, dia hanya bilang bahwa ada kabar darurat. Hans yang baru saja sampai, langsung menuju lift. Pintu terbuka, Hans melihat Armand tengah berdiri mengamati perempuan yang tidak sadarkan diri di atas sofa. Armand menoleh pada Hans, seiring langkah kaki Hans mendekati Armand."Ada apa ini? Kenapa dia?" Mengalihkan pandangannya dari Armand pada perempuan di atas sofa itu."Aku tidak tahu. Tiba-tiba dia pingsan saat berada di lift." Bukan hanya kedatangan Hans saja yang di tunggu-tunggu Armand, kedatangan dokter Bram juga. Namun, sosok dokter Bram belum juga tampak di matanya. Hans mengerutkan dahinya. Saat wajah tak asing itu teringat olehnya."Dia kan, yang kemaren aku bawa, kan teh hangat buatnya." "Maksudmu? Apa yang terjadi padanya kemaren?" tanya Armand tidak mengerti. Sebab, posisinya tidak ada di kantor dan berada di luar negri. "Kemaren itu dia sudah terlihat kurang enak badan. Aku menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Agar tidak memaksakan diri untuk masuk kerja. Kemaren wajahnya sudah pucat," ujar Hans, ia sendiri yang menyuruh Qenna untuk tidak masuk selama perempuan itu kesehatannya tidak membaik. "Jadi, dari kemaren dia sudah begini?" tanya Armand. "Hmmm ... Iya," jawab Hans singkat, membenarkan pertanyaan Armand. Perhatian Armand dan Hans tersita, saat terdengar ketukan pintu yang di lakukan Sindy. "Permisi, Pak," ucap Sindy."Boleh saya masuk?" Armand mengangguk pelan, begitu pula dengan Hans. Melihat anggukan dari Armand, Sindy melangkah masuk. Ia langsung mengarahkan manik matanya pada perempuan yang terbaring di sofa. "Qenna!" seru Sindy, raut wajah terperangah kaget. Ia langsung mendarat duduk di pinggiran sofa sambil memegangi tangan Qenna."Qen, kamu kenapa? Qenna, bangun!" "Maaf, kamu kenal Qenna?" tanya Armand. Meski ia kenal dengan perempuan itu, Armand tidak cukup mengenalnya lebih jauh. Sindy mengangguk tegas. Air wajahnya di penuhi rasa khawatir pada sahabatnya itu."Aku sahabatnya." "Pak, tolong hubungi dokter. Saya mohon, pak!" pinta Sindy dengan sangat. "Kamu jangan khawatir saya sudah menghubungi dokter. Sebentar lagi beliau datang," tutur Armand. Sindy terus mengusap tangan Qenna, berharap dokter datang segera. Tidak lama kemudian, yang di harapkan Sindy pun terpenuhi. Tok ... Tok ... "Maaf, Pak, saya terlambat," ujar Dokter Bram. Memasuki ruangan Armand. "Tidak apa-apa ... Masuklah!" sahut Armand, mempersilahkan dokter Bram masuk. "Siapa yang sakit, Pak?" "Kamu tidak lihat?" Sembur Armand, ia menoleh pada Qenna."Cepat periksa dia. Dia pingsan dalam lift tadi." Dokter Bram ikut mengalihkan tatapannya ke arah perempuan yang tidak sadarkan diri di atas sofa. Dokter Bram kebingungan saat melihat Qenna terbaring. Selama ini dia tidak pernah memeriksa orang lain, selain keluarga Pak Galih. Setiap ada panggilan dari keluarga lelaki paruh baya itu. Dokter Bram juga tahu, bahwa Armand telah memiliki istri, tetapi wajah istri Armand bukanlah perempuan yang terbaring di sofa itu. Kabar tentang perceraian tentang Armand juga berhembus di telinga Dokter Bram. Saat kesehatan Papa Galih memburuk, dan ia datang memperiksa kesehatan pria paruh baya itu. Namun, ia tidak berani bertanya lagi lebih lanjut pada Armand. Kini direktur muda ini menghubunginya hanya untuk memperiksa orang lain di luar keluarganya. Bila di perhatikan, perempuan tidak sadarkan diri ini memang imut dan cantik. Kulitnya putih, tubuh tinggi semampai. Jika di bandingkan kecantikannya dengan istri Armand yang dokter Bram ketahui, perempuan ini tidak kalah cantiknya dengan mantan istri Armand. Di lihat dari pakaiannya, perempuan itu hanya karyawan yang jauh tidak seimbang derajatnya, berada di hirarki paling rendah di perusahaan itu. "Kenapa bengong? Cepat periksa dia!" "Eh, ya, Maaf pak ... baik, Pak, saya akan periksanya," ucap dokter Bram, gelagapan. Dengan gugup dokter Bram mengeluarkan beberapa peralatan dari dalam tas medisnya. Mengeluarkan alat stateskop, untuk memperiksa detak jantung perempuan itu. Kemudian dokter Bram mengeluarkan alat pendeteksi tensi darah di gital dan memeriksa tekanan darahnya. Terakhir dia meletakkan empat jari tangannya di urat nadi Qenna, berusaha mendengar detak jantungnya secara seksama. Hampir sepuluh menit melakukan hal itu, untuk pemeriksaan awal itu dengan tenang. Dia benar-benar berkonsentrasi, gerakkan dokter Bram juga di amati oleh Armand, Hans dan Sindy. Mereka juga ingin mendengar kabar mengenai Qenna. Akhirnya setelah merasa yakin, dokter Bram berdiri menghadap Armand, Hans dan Sindy. Bersiap-siap mengatakan diagnosa dari pengamatannya sedari tadi. Dia tidak tahu sepenuhnya mengenai kehidupan perempuan di atas sofa ini. "Bagaimana keadaannya?" tanya Armand serius. Di sertai suara sedikit khawatir. "Begini, Pak Armand, setelah saya melakukan pemeriksaan, tekanan darah pasien rendah 100/80 , detak jantungnya juga 90 bpm, lebih cepat dari manusia normal. Dan denyut nadinya juga lebih cepat dari biasanya ...." "Maaf, bisa di perjelas dengan bahasa yang bisa saya mengerti? Bahasa medis kamu, terlalu rumit untuk saya mengerti," sindiran halus dari Armand, ia tidak mengerti apa maksud dari bahasa medis yang di katakan oleh dokter Bram. Dokter Bram melirik Qenna sesaat.lalu ia bersuara," diagnosa awal saya, perempuan ini sedang hamil muda dan dalam keadaan tubuh yang sangat lemah. Agar lebih akurat, bisa di bawa pengecekan ke dokter obygin, untuk lakukan pemeriksaan lebih detail, pak." Jeeedaaarr.... "Hamil?" tanya Armand, terperangah. Dokter Bram mengangguk. Hans juga bergumam hal yang sama. Tidak percaya dengan apa yang di dengar. Bagi Armand dan Hans mungkin terkejut mendengar berita ini. Sebab, mereka sama-sama berpikir bahwa perempuan di hadapannya itu tadinya adalah perempuan single, dan belum menikah. Sebab, di kartu tanda pengenal Qenna pun masih tertulis status belum menikah. Ya ... Benar! Qenna belum sempat mengubah kartu tanda pengenalnya dengan status sudah menikah. Itu rencana akan ia ganti setelah menikah. Berencana ia dan Rafa akan mendatangi kantor catatan sipil untuk pembuatan kartu keluarga dan merubah kartu tanda pengenalnya. Namun, sebelum semua itu terwujud, semua harus kandas dalam hitungan jam. Dan pergantian hari saja. Jadi, Qenna tidak perlu repot-repot mengalihkan status di kartu tanda pengenalnya itu. Pada akhirnya, ia dan Rafa tidak untuk di takdirkan untuk selamanya. Sindy ikut terpaku. Tidak seperti Armand dan Hans, perempuan itu tahu seluk beluk kehidupan Qenna yang menyedihkan itu. Bagaimana hidup pelit yang ia lalui, dan berakhir pada pernikahan yang sangat singkat sekali. Tetapi ... haruskah Qenna sampai hamil? Ini akan menjadi beban baru baginya. Masalah baru di hidupnya. Sebab, janin yang baru saja tumbuh di rahim Qenna itu, akan hadir tanpa kasih sayang sang ayah. Berkemungkinan besar, Qenna akan menjadi orang tua tunggal. Orang tua tunggal? Rasanya Sindy tidak mampu membayangkan, betapa sulitnya menjadi orang tua tunggal. Menghidupi anak seorang diri, apa lagi jika sampai tidak di akui oleh ayah kandungnya. Bagaimana perasaan sang anak, tanpa kasih sayang ayahnya. Qenna juga di besarkan di panti asuhan. Sindy menatap lekat wajah Qenna. Perasaan iba terus mengalir di hati Sindy. Ikut simpati atas takdir yang di terima Qenna."Qen, kamu hamil. Ada janin di rahimmu, Qen. Bagaiman kamu menghadapi ini semua? Qen, kenapa kamu harus menerima ini? Membesarkan anak seorang diri." Batin Sindy. "Baik, terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang," ujar Armand, pada dokter Bram. Meski ia sedikit kebingungan, penjelasan dokter Bram mengenai perempuan itu, ia rasa cukup. Untuk lebih lanjut, biar itu menjadi urusan dari perempuan itu sendiri. Tidak bisa di pungkiri, Armand ada rasa tidak terima atas kenyataan ini. Mendengar perempuan di atas sofa, tidak sadarkan diri, ternyata sedang hamil muda. Pada hal status yang ia ketahui mengenai perempuan itu, belum menikah. Kepala Armand di penuhi tanda tanya. Ia sungguh di buat penasaran dengan kehidupan Qenna. Jika tadinya Armand tidak begitu ingin mengetahui, dan berpikir bahwa Qenna perempuan single, lain halnya kali ini. Pikirannya tersulut untuk mengetahui lebih tentang Qenna. "Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi," dokter Bram pun keluar dari ruangan Armand. Armand mencari minyak kayu putih di laci meja kerjanya. Ia pun mendekati Hans," tolong pesankan teh hangat untuk Qenna. " Hans mengangguk. Menerima perintah dari Armand. Ia pun meninggalkan ruangan itu. Sindy yang semula duduk di sebelah Qenna, ia berdiri dari sana. Saat Armand, mengintruksikan Sindy untuk beranjak dari sisi Qenna. Armand mengoleskan minyak kayu putih di kaki Qenna. Kaki perempuan itu terasa dingin, tangan lalu di hidung perempuan itu."Qenna, Qen, bangun!" "Sindy, kamu sahabatnya bukan?" tanya Armand melirik Sindy sekilas. "I-ya, Pak," jawab Sindy gugup, sembari meremas-remas tangannya. "Kamu pasti tahu mengenai kehidupan Qenna. Maaf, aku tidak bermaksud mengusik kehidupan dia," ralat Armand."Hanya saja, sejauh yang aku ketahui, dia belum menikah. Itu aku lihat dari kartu tanda pengenalnya." "Atau semua itu tidak benar? Kalau dia mempunyai suami, cepat kamu hubungi suaminya. Untuk datang kemari," sambung Armand. Ia berdiri dari sofa. Menyadari ada perasan emosi yang tak beralasan di dalam dadanya. Armand memberikan minyak kayu putih itu pada Sindy. "Kamu dengar apa yang aku katakan, Sindy?" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD