Pembicaraan Tak Mengenakkan

1429 Words
Ini hari ke dua bagi Qenna merasa tidak enak badan. Badannya terasa meriang, lidahnya terasa pahit dan kepalanya sangat pusing. Qenna tidak langsung bangkit kali ini. Memejamkan matanya sebentar, menghilangkan pusing yang melanda. Kemudian Qenna mengambil minyak kayu putih yang sempat ia beli kemaren. Namun, tidak sempat untuk di oleskan. Perlahan tutup minyak kayu putih di buka, Qenna mulai mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuhnya. Terutama bagian kepala yang terasa pusing dan perut yang terasa mual. Dia tidak boleh sakit, atau harus libur dari pekerjaan. Ia sudah menerima gaji, jadi tidak boleh mangkir dari pekerjaan hanya karena sakit yang di anggap ringan seperti ini. Meski Hans sudah mengatakan, jika tidak enak badan boleh beristirahat di rumah sementara waktu. Tetapi, Qenna seakan tidak menginginkan kesempatan itu. Baginya, tidur-tiduran di rumah akan semakin membuat tubuhnya sakit-sakitan. Qenna bangkit dari tempat tidur, merasakan sekeliling kamarnya oleng. Kepalanya begitu pusing, dan perut terus bergejolak mual. Qenna memilih untuk kembali berbaring di ranjangnya. Perempuan itu menoleh ke nakas. Di sana terdapat tas jinjing, tangan Qenna mengambil tas jinjing lalu, merogoh tas itu untuk mendapatkan uang koin. Tanpa bantuan siapa pun, kemudian Qenna mulai kerokan sendiri. Tak berselang lama tubuh Qenna mengeluarkan bercak merah bekas kerokan. Berharap setelah ini tubuhnya kembali sehat. Merasa tubuhnya tidak pusing lagi, Qenna mulai bangun dari tidurnya dengan hati-hati dan melangkah ke kamar mandi. Qenna memilih untuk tidak mandi seperti biasanya. Ia rasa tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi kali ini. Qenna memilih untuk mencuci mukanya dan mengelap tubuhnya dengan kain untuk menghilangkan bau keringat di tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, Qenna segera bersiap berangkat kerja. Meski tubuhnya kurang sehat, Qenna tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja. Tidak lupa memakai masker, jika ada penumpang bis memakai parfum, Qenna tidak perlu menutup dengan tangannya. Lebih baik ia menghirup aroma minyak kayuh putih yang telah ia oleskan di bagian masker untuk menetralkan rasa mualnya. Tidak lama kemudian Qenna turun dari bis. Menghela napas dalam-dalam, tidak biasanya ia sampai lesu di dalam bis dan mual-mual. Meski sudah memakai masker, gerakan dari mobil membuat perut Qenna ikut teraduk-aduk. Hari ini Qenna datang tidak secepat biasanya. Waktunya sedikit tersita karena mengerok tubuhnya yang meriang dan kembali berbaring. Biasanya Qenna datang lebih dulu, namun hari ini tidak. Citra telah tiba sebelum Qenna. Rekannya itu telah mengambil alih sebagian pekerjaannya. "Maaf aku terlambat," ujar Qenna, pada Citra yang sedang mengepel lantai. Citra menoleh, berhenti sejenak dari pekerjaannya. Terlihat Qenna memakai switer serta masker."Bagaimana keadaanmu? Apa sudah mendingan?" "Hemm ..." Qenna berdehem."Sudah sedikit membaik." Tidak, keadaan Qenna tidak sepenuhnya seperti yang di ucapkan. Hanya saja, ia tidak ingin di suruh beristirahat di rumah oleh Citra, atau siapapun. Andai dia bilang masih sama dengan kondisinya yang kemaren, pasti tidak ada nasehat selain menyuruhnya pulang dan beristirahat. "Syukurlah kalau gitu. Kalau belum sehat, jangan di paksa kerja. Kesehatanmu lebih penting, ok!" titah Citra, mencoba menghibur Qenna. Qenna mengangguk gugup. Memang benar yang di katakan rekan kerjanya itu. Namun, keras kepala Qenna mengalahkan nasehat Citra. Qenna mengambil alih pekerjaan membersihkan toilet. Ketika menggosok kloset, bau tak sedap mengorek-ngorek hidung Qenna. Mengundang gejolak perut yang kembali terasa di aduk-aduk. Merasa tidak tahan lagi, Qenna memuntahkan isi perutnya. "Hoeekkk ... Hoekkk ..." Perempuan itu tidak dapat menahan lagi dari bau menyengat di hidungnya itu. Beberapa kali Qenna mengeluarkan muntahan itu, akhirnya bisa mengurangi rasa mual. Qenna mengambil minyak kayu putih yang ia kantongi. Mengoleskan lagi pada masker, bahkan sampai ke hidungnya. Qenna tersandar pada dinding toilet. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Ia menghirup dalam-dalam aroma terapi dari minyak kayu putih. Setelah merasa sedikit membaik, Qenna keluar dari toilet. Tidak pernah sebelumnya ia sampai tubuhnya sangat lemas. Ada gemetar yang di rasakan tubuhnya. Hal-hal yang berbaur busuk juga tidak dapat di tahan. Pada hal, Qenna tidak pernah merasakan indra penciumannya itu sensitif separah ini. Dengan sempoyongan Qenna keluar dari toilet. Seraya tangan masih berpegangan di gagang pintu. Dengan sempoyongan Qenna berjalan menuju lift, masih ada dua lantai lagi yang akan ia bersihkan. Sebelum karyawan yang lainnya datang. Sembari menunggu pintu lift terbuka, Qenna menyandarkan tubuhnya di dinding. Ting !! Pintu lift terbuka. Tanpa melihat siapa saja di dalam lift itu, Qenna segera masuk dan memencet tombol lantai yang akan ia tuju. Begitu pintu lift tertutup, Qenna menyandarkan tubuhnya ke belakang. Memejamkan matanya, menyandarkan tubuhnya yang lemah. Tanpa ia sadari seorang pria tengah mengamatinya. Mengamati wajah pucat, memakai masker, serta switer. Melihat ada yang aneh dari berpakaian perempuan itu. Beberapa hari ini memang mereka tidak bertemu. Kesibukannya dengan pekerjaan mengharuskan pria itu terbang keluar negri untuk urusan bisnis. Di antara cleaning servis yang bekerja di kantornya, hanya perempuan di sebelahnya inilah cukup di kenal. Berawal dari mengantar pulang tidak sengaja itu. Meski mereka tidak terlalu dekat, senyum sapa mereka saling tertegun di mata masing-masing. Apa lagi, secangkir kopi yang biasa di buat Qenna di ruangannya, sangat nikmat terasa. Tetapi dia tidak pernah terang-terangan mengatakan bahwa kopi itu sangat nikmat pada si pembuatnya. Perlahan, kelopak mata Qenna terpisah. Penglihatannya sedikit buram, Qenna mengedip-ngedipkan matanya berusaha melihat dengan jelas siapa gerangan pria yang tengah memperhatikan dirinya. Saat dua manik matanya dapat melihat dengan jelas. Deg... Sontak membuat Qenna memperbaiki posisinya. Berusaha berdiri dengan baik, menghalau rasa pusing di kepalanya dan berpura-pura dalam keadaan baik-baik saja. Seorang pria dengan posisi direktur di kantor ini. Bos yang cukup baik pada karyawannya sedang berdiri di hadapannya dan yang membuat Qenna gugup, hanya mereka berdua saja di dalam lift tersebut. Tidak sesuai dengan harapan Qenna, untuk terlihat baik-baik saja di hadapan pria itu. Tiba-tiba tubuh dan lututnya terasa melemah. Serasa tidak bertulang dan tidak mempunyai persendian. Kepalanya berputar dengan sangat hebat. Di detik berikutnya, Qenna merasa pandangannya mulai gelap. Sebelum tubuh Qenna benar-benar ambruk ke lantai, sepasang tangan telah sigap menangkap tubuhnya. "Hei! Kamu gak apa-apa?" Suara itu ... suara itu terakhir kalinya di dengar Qenna. Sebelum kehilangan sepenuhnya kesadarannya. Tubuh Qenna terjatuh dalam pelukan sang direktur yang tidak lain ialah Armand. Armand menatap lekat wajah pucat Qenna dalam pelukannya dengan perasaan khawatir. Setelah melepas masker dari wajah perempuan itu. Armand segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi dokter pribadi sang Papa. "Ada apa, Pak?" "Cepat ke kantorku, sekarang juga!" Pinta Armand, tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Selain tindakan cepat menyuruh dokter pribadi keluarga untuk datang ke kantor. "Siapa yang sakit? Apa penyakit Pak Galih kambuh lagi?" tanya Dokter Bram, yang menangani Papa Galih--dokter pribadi keluarga mereka. "Bukan aku ataupun Papaku! Sudah jangan banyak tanya. Datang ke kantorku sekarang juga, yang berada di jalan pahlawan! Cepat!" Armand menutup sambungan telepon. Pria itu memeluk tubuh perempuan itu kembali, dengan sekali gerakkan Armand membopong tubuh Qenna. Setelah pintu lift terbuka, dengan segera Armand keluar menerobos para karyawan yang ternyata ada beberapa orang yang berdiri di depan lift. Menunggu sedari tadi lift terbuka. Tatapan karyawan penuh kebingungan, melihat atasan mereka sedang membopong tubuh perempuan dengan status cleaning servis di kantor itu. "Eh ... Ada apa itu?" "Iya, ya ... Kenapa mereka bersamaan di dalam." "Perempuan itu kelihatan pingsan." Pembicaraan penuh heran itu terus terucap oleh para karyawan yang di lewati Armand. Terutama karyawati yang menatap dengan penuh heran. Saat pintu lift masih terbuka lebar, mereka pun segera masuk. Membiarkan apa yang mereka lihat, tidak menjadi urusan mereka. Jika mereka ingin tetap bekerja di sini. Segerombolan karyawan itu telah sampai di lantai yang mereka tuju. Sindy yang berada di lantai dasar, mendengar percakapan karyawan yang lewat di sebelahnya. Percakapan mereka menarik perhatian Sindy. Sindy yang penasaran seketika menghentikan mereka."Maaf, ada apa ini? Kenapa kalian menuduh cleaning servis di sini merayu bos kita?" Ternyata, ada pikiran dari para karyawan maupun karyawati di kantor Armand menarik kesimpulan, bahwa perempuan yang dibopong Armand ada hubungan bersama atasan mereka, yang mereka tidak ketahui selama ini. "Itu, salah satu cleaning servis di sini dibopong, Pak Armand. Mereka sama-sama keluar dari dalam lift. Anehnya, ya ... Perempuan itu tidak sadarkan diri. Jangan-jangan mereka ada apa-apa lagi," ujar karyawati berpikiran buruk terhadap Qenna dan Armand. "Huuussss ... jangan asal bicara! Kalau omongan kalian tidak terbukti, itu sama saja kalian menyebarkan fitnah! Kalau sampai Pak Armand tahu, siap-siap saja tamat riwayat kalian!" Pungkas Sindy, mengingatkan orang seperti mereka untuk tidak menarik kesimpulan buruk mengenai atasan di kantor itu. Sindy menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat rekan kerjanya itu pergi dari hadapannya."Heran melihat mereka, senang bangat berpikiran buruk dan di jadikan bahan gosipan. Memang kurang kerjaan bangat jadi orang. Ngomong-ngomong, siapa kira-kira siapa yang mereka maksud bersama Pak Armand. So ... Di sini, kan tidak hanya satu orang cleaning servis." Sindy mengingat-ingat siapa gerangan perempuan itu. Seketika pikiran Sindy mengingat sahabatnya--Qenna, hanya dia yang dari kemaren terlihat pucat."Jangan-jangan Qenna lagi!" terkanya. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD