"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alikumsalam!"
"Kak Mimi!" Seru Woni sambil berlari kearah Mimi.
"Woni! Udah lama banget mbak enggak pernah ketemu kamu," Mimi pun berhambur kedalam dekapan sang adik.
"Woni juga udah enggak pernah ketemu mbak."
"Haru mana?" Tanya Mimi
"Itu lagi main game." Tunjuk Woni kearah seorang laki-laki yang sedang bermain handpone.
Mimi pun menghampiri kedua orang tuanya dan kedua orang tua si kembar.
"Assalamu'alaikum, Aunty, Uncle," Sapa Mimi sambil mencium tangan mereka.
"Wa'alaikumsalam, ini Mimi kan? Ya ampun kamu sekarang udah besar ya ternyata." Kata Aunty Mila.
"Eh, iya dong Aunty. Masa mau kecil terus. Ini Haru kan?"
"Iya, Ru." Aunty Mila menepuk paha Haru. Haru yang paha nya ditepuk mentap sang bunda dengan pandangan bertanya.
"Ada apa bun?" Tanya Haru
"Itu," jawab Aunty Mila sambil menunjuk kearah Mimi yang sedang melambaikan tanganya. Haru melihat kearah jari telunjuk sang bunda, setelah itu ia langsung melepaskan handpone nya dan menyapa balik Mimi.
"Hai Haru!"
"Eh, Hai juga mbak." Kata Haru sambil menggaruk tengkuk nya tidak gatal.
"Mimi! Ajak Si kembar dikamar kamu aja!" Kata Bunda Laras.
"Siap! Yuk!"
Mimi mengajak kedua sepupunya itu kedalam kamarnya. Siapa yang tidak menolak kekamar Mimi, kamar Mimi bagaikan rumah idaman, kalo kata Woni.
Gimana enggk idaman, kamar Mimi itu bersih, wanggi, rapi, ada banyak camilan, dan yang paling penting ada Play Station. Haru yang sangat menyukai Permainan itu langsung menyerbu Play Station. Sedangkan Woni menyerbu camilan milik Mimi. Mimi? Gadis itu tengah mengerjakan tugas dari Pak Felix.
Bukan nya fokus pada tugas. Mimi malah fokus handpone nya yang terdapat pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Zaufafafauy : Sumpah baper banget gue
Celilin : Nyesel gk, pulng duluan?
+62 873 **** **** : Kabar lo gimna?
Wowonicuu : kapan balik?
+62 873 **** ****
Block | Save
Haii!
Kabar lo gimna?
15.31
Maaf siapa ya?
Gue? Lo lupa sama gue?
Masa lupa sih! Gue Vanilla, sahabat lo
Sahabat? Kita emang pernah kenal?
Kayak nya lo salah nomor deh.
Gk gue gak salah,
Lo Mimi Kholifah kan.
Anak bunda Laras dan Ayah Haris
Lo hacker ya?!
Ck! Jahat banget sih lo sama gue,
Masa sama sahabat sendiri lupa sih!
Maaf, maaf banget gue enggak inget apa-apa
Maaf ya
Iya enggak papa kok.
Oh iya! Jangan lupa save nmr gue.
Oke.
(Read)
Mimi mematikan paket datanya dan melanjutkan tugasnya. Woni yang bosan melihat kakak perempuan nya dan kembaran nya tengah sibuk dengan urusan masing-masing, melangkahkan kaki nya ke bawah.
Ditangga, Woni tidak sengaja mendengar percakapan antara Orang tua nya dan orang tua Mimi.
"Gimana? Dia masih sabar ya sama Mimi?"
"Iya, emang gak salah milih calon mantu,"
"Enak banget. Terus mbak, saya dengar dia kerja di SMA Nusa Bangsa Betul? "
"Iya, dia yang jaga Mimi di sekolah dan selalu lapor kalo ada apa-apa."
Woni mulai melangkahkan kaki nya menuruni anak buah tangga tapi, langkah kaki nya harus terhenti saat mendengar satu kalimat.
"Kapan Mimi kembali mengingat tunangan nya?"
###
"Dah, mbak, lain kali Woni sama Haru main-main kesini lagi." Woni memeluk tubuh Mimi. Haru? Laki-laki itu hanya menatap wajah Mimi dan kembali kedalam mobilnya. Woni dan Haru bersama orang tua nya datang karena mau perpisahan, mereka akan tinggal di Amerika untuk sementara.
"Dadah Mimi, Aunty, Uncle sama si kembar pergi dulu ya. Dadah,"
"Iya Aunty, hati-hati ya." Kata Mimi
"Iya. mbak, Mila pergi dulu ya,"
"Iya hati-hati disana ya La."
"Siap mbak!"
Mobil Aunty Mila sudah pergi dari perkarangan rumah Mimi. Baru saja Mimi senang dengan kedatangan Si Kembar, eh tau-tau nya mereka mau pergi ke Amerika.
Mimi dan kedua orang tua nya masuk kedalam rumah.
"Yah," panggil Mimi ke Ayah nya yang tengah membaca koran.
"Ayah kenal Pak Rendi?" Pertanyaan tadi sukses membuat Ayah Mimi tersedak kopi.
"Kenal, guru kamu kan." Kata Ayah
"Bukan, kayak, arghh- " Mimi mengacak-ngacak rambutnya, bingung bagaimana cara menjelaskan nya. Sedangkan Ayah nya hanya terkekeh melihat Mimi yang terlihat seperti orang frustasi.
"Emang kayak gimana?"
"Tau dah, Mimi ngambek." Mimi beranjak dari sopa dan meninggalkan Ayah nya yang sedang tertawa, melihat Mimi. Sedangkan Bunda nya yang baru datang dari dapur hanya menatap Mimi dan Ayah bergantian dengan bingung.
Dikamar, Mimi hanya memainkan Handpone nya dan membalas pesan-pesan dari sahabat nya.
Karena bosan, Mimi pergi kerumah Faiq.
"Assalamu'alaikum, Faiq!"
"Rumah ini tidak ada orang!" Balas seseorang dari dalam rumah Faiq.
"Terus itu yang ngomong itu siapa?"
"Manusia!"
"Lah! Emang manusia sama orang beda?"
"Udah deh lo jangan mikir,"
Ckelek
Pintu itu dibuka oleh Faiq.
"Mau ngapain?" Tanya Faiq dingin kearah Mimi.
"Enggak ada mau main-main aja,"
"Oh, yaudah sini masuk!" Ajak Faiq. Baru Mimi melangkah kan kaki nya kedalam rumah Faiq, sudah terdengar suara ribut dari arah ruang tamu.
"Semua nya ini Mimi, teman gue sama tentangga depan." Kata Faiq ke teman-teman nya.
"Halo semuanya!"
"Weh cantik! Jomblo gak? Sini sama akang aja! Akang juga jomblo nih," kata salah satu teman Faiq yang terlihat menggunakan tindik.
"Dih! Sok cakep banget sih lo!"
"Kenalin neng, akang Namanya. Eric. Asli anak L.A," Kata laki-laki yang tadi menggoda Mimi.
"Dih! Gue Rifal,"
"Gue Mimi!"
"Mi, lo duduk aja dulu disopa." Kata Faiq
Mimi duduk di sopa dan mulai memainkan handpine nya. Merasa bosan Mimi mengganggu Faiq.
"Faaiqq, Faiq! Uyy." Ganggu Mimi sambil menarik-narik rambut Faiq dan memukul-mukul lengan Faiq.
"Apasih?!"
"Bosan, temenin kek. Main itu terus," kata Mimi sambil memajukan sedikit bibirnya.
"OMG! LO IMUT BANGET SIH. UMUR BERAPA?!" Teriak Eric tiba-tiba, tentu saja Mimi dan Faiq kaget. Bahkan Rifal sampai terjungkal kebelakang.
"Gue? Gue umur berapa ya? Faiq gue umur berapa?" Tanya Mimi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya mana gue tau, kan itu umur lo."
"Yaudah, inti nya gue kelas 12." Kata Mimi
"Yahh, kakak kelas." Jawab Eric cemberut.
"Udah elah, nanti dia punya laki, lo yang dislepet." kata Rifal ke Eric.
"Neng, akang mau berhenti ngejar deh." kata Eric
Mimi hanya terkekeh melihat teman-teman Faiq yang lucu bagi Mimi.
Sudah hampir sore, Mimi pulang kerumahnya. Di rumah iya lupa menanyakan ada hubungan apa Faiq dengan Rendi. Jujur Mimj masih penasaran mengapa tetangga nya itu mengenal Guru kesayangan nya.
Mimi bersiap-siap untuk sholat. Setelah Sholat Mimi bersiap-siap tidur, gadis itu tidak sabar untuk masuk sekolah dan bertemu guru tersayangnya. Tidakkah itu terlalu berlebihan? Tidak untuk orang yang bucin seperti Mimi.
###
Mas Guru ganti nama nih wkwk Jadi Sweet Teacher...
Gimana menurut kalian?