Bab 4

1098 Words
"PAK RENJUN!" Semua orang yang ada dilapangan itu melihat kearah Mimi yang tiba-tiba teriak. "Ehehe..maaf lanjut aja," kata Mimi. Cengengesan enggak jelas. Semua yang ada dilapangan kembali melanjutkan aktivitas nya dan tidak memperdulikan Mimi. Sedangkan Mimi menghampiri Rendi yang sedang duduk dibawah pohon cemara. Gini-gini sekolah Mimi ada tanaman nya. "Pak, yuhuu, pak, pak Renjun." Mimi menggangu Rendi yang kebetulan sedang mendengar kan music. Rendi yang merasa terganggu pun menoleh kearah kiri dan nampaklah Mimi dengan wajah polosnya. Rendi yang melihat Mimi, langsung pergi dari sana. Mimi mengejar Rendi. Rendi yang merasa diikuti pun langsung menghadap belakang. "Mau kamu apasih?!" "Mau saya, bapak." Jawab Mimi dengan entengnya. "Kamu gila apa? Ck!" "Santuy pak, kalem, jangan marah-marah nanti ganteng nya hilang." Kata Mimi sambil mengbentuk tangan nya berbentuk 'V'. Rendi tak memperdulikan Mimi dan lanjut berjalan. Mimi pun menyerah dan pergi kekelas nya dengan wajah cemberut. Kedua teman nya tidak menanyakan alasan mengapa Mimi seperti itu, karena mereka berdua tau, pasti karena Rendi. Bukan rahasia umum lagi jika Mimi menyukai guru nya sendiri. Toh, Rendi masih muda. Saat Mimi ingin mengejar Rendi, ia malah terhalang oleh dua orang sedang bermain bola. "Ish! Tuhkan Pak Renjun udah jauh!" Mimi pun melihat kearah dua orang yang sedang bermain bola tersebut. "Lho Dimas?!" Orang yang merasa nama nya dipanggil langsung melihat kearah Mimi. "Eh, Mimi, ada apa Mi?" Mimi pun menggelengkan kepalanya, ia pun menunjuk kearah kelasnya. Dimas hanya menganggukakan kepala saja.  Setelah itu Mimi meninggalkan Dimas, menuju kelas. Dikelas, seperti biasa Mimi akan duduk dan bergosip bersama kedua sahabatnya. Sambil menunggu bel masuk tentunya. "Guys, nanti pulang sekolah kerumah gua ya," kata Celin "Ngapain?" "Enggak ada sih, gabut aja. Lagian dirumah sepi, ortu lagi dinas." "Ada makanan gak?" Tanya Zaufa. "Lo makanan mulu," Setelah mengatakan itu Celin menyentil dahi Zaufa. Kring kring Kring kring "Ish! Gue tuh gak bisa hidup tanpa ada makanan." Kata Zaufa "Kita juga sama kok." Jawab Mimi. "Iyalah!" "Ekhm.." Tiba-tiba terdengar suara berat yang membuat Mimi dan kedua sahabatnya menghentikan pertengkaran mereka. Mereka bertiga melihat keseseorang yang berada di depan nya. "Sedang apa kalian? Sepertinya serius?" "Eh, pak Felix." "Apa?" Tanya Felix. Bukanya dijawab, Mimi dan kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala. "Enggak pak... hehehe," "Sudah, anak-anak ayo lanjutkan pelajaran!" Mimi dan kedua sahabatnya pun bernafas lega. Mereka pun melanjutkan pelajaran. ### Bel pulang berbunyi. 'The Girls' bersiap-siap untuk pergi kerumah Celin. Yang memilki ide untuk menamai grup mereka adalah Zaufa, dan nama ini yang buat Mimi. Emang enggak ada kerjaan mereka. Mereka bertiga, pergi kesana naik mobil Celin. Gini-gini Celin bisa naik mobil. Dimobil, Zaufa kerjaan nya ngoceh aja. Inilah, itulah. Hingga sampailah mereka di rumah Celin. "Assalamu'alaikum, Bundaa!" -Zaufa "Orang tua gue lagi dinas." "lah iya baru ingat. Hehehe," Kata Zaufa sambil cengengesan enggak jelas. "Ayo kita kekamar gue!" Ajak Celin. Setelah mengatakan itu Mimi dan Zaufa berbalapan naik keatas. Mimi dan Zaufa sudah sampai diatas, tetapi mereka bingung dimana kamar Celin. Akhirnya mereka berdua duduk dilantai sambil menunggu Celin datang. Lumayan lama mereka berdua menunggu Celin, tetapi Celin tidak datang-datang. Posisi Mimi bahkan tiduran dipaha Zaufa yang sedang bermain handpone. "Astagafirullah, kalian ngapain dilantai?" Tiba-tiba saja Celin datang dengan tangan yang penuh dengan camilan dan minuman. Rupanya tadi Celin pergi kemarket untuk membeli camilan dan minuman. Zaufa dan Mimi yang melihat Celin datang dengan tangan penuh, pun langsung membantu Celin membawa Celin berjalan paling depan dan menuntun Mimi dan Zaufa kekamar. Dikamar Celin. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Hingga Zaufa mengeluarkan sebuah Album dari tasnya. "Apaan tuh?" Tanya Celin penasaran. Mimi langsung memfokuskan pandangan nya kearah Zaufa. "Album, sekolah ini dari anggkatan 35-37." Jawab Zaufa "Ambil darimana?" Tanya Mimi "Perpustakaan sekolah," kata Zaufa Mimi kini mulai membuka lembar demi lembar. Album itu. "Anggkatan 35, Mipa Unggulan." Kata Mimi sambil menunjuk kearah Album tersebut. "Tunggu!" Perintah Celin, baru saja Mimi ingin menggeser lembaran Album itu. "Ada apa?" Tanya Mimi "Itu bukan nya pak Reno?" Tanya Celin. Mimi dan Zaufa langsung melihat kearah jari telunjuk Celin. "Lah iya! Wow.. jadi selama ini pak Reno alumni SMA kita." Kata Mimi antusias sambil memukul tanganya. "Ngerasa aneh enggak sih?" Celutuk Zaufa tiba-tiba "Aneh gimana?" Tanya Celin "Pak Reno anggkatan 35. Sedangkan kita anggkatan 38, kenapa bisa pak Reno mengajar? Seharusnya dia sekarang jadi Mahasiswa dong." Kata Zaufa Mimi bingung, apa yang dikatakan oleh Zaufa ada benarnya. "Pak Reno sama Pak Rendi, lompat kelas Fa." Jawab Celin. Mimi dan Zaufa menatap Celin tak percaya. "Darimana lo tau?" Tanya Mimi "Dari pak Reno nya sendiri." Kata Celin sambil memakan camilanya. "Ohh," "KAK CHANDRA!" Teriak Celin tiba-tiba. Mimi dan Zaufa yang mendengar Celin teriak tiba-tiba pun terperanjak kaget. "Apasih! Biasa aja kali!" Protes Zaufa ke Celin. Celin yang dimarahi oleh Zaufa pun hanya cengengesan tidak jelas sambil memperlihatkan jari berbentuk 'V' "Ngomomg-ngomong, Kak Chandra itu siapa?" Tanya Mimi "...." Mimi yang tidak mendapatkan jawaban dari Celin, langsung menggoda nya. "Pacar ya," goda Mimi sambil menurun naikka alisnya. "Enggak!" "Iya," "Enggak!" "Iya," "Enggak!" "Iya," "Enggak!" "Enggak," "Iya! Eh- " Mimi yang mendengar pun terenyum puas, jarang-jarang ia menggoda Celin, karena Celin yang tidak memiliki bahan ejekan. "Ck! Iya dia pacar gue kenapa?! Marah?!" "SERIUS?!" "Iya," "Wah, anak Kuliahan dong," "Mantap!" Celin dan Zaufa kembali melihat foto Pacaranya Celin. Sedangkan, Mimi melihat-lihat kembali Album itu. Lalu, Mimi melihat laki-laki difoto itu yang ia rasa dia kenal. Pas mengetahui siapa dia, Mimi langsung tepuk tangan. Zaufa dan Celin yang sedang memperhatikan foto pacarnya Chandra, langsung melihat kearah Mimi. "Ada apa Mi?" "Ini Pak Renjun!" Kata Mimi bersemangat. "Kenapa sih, kalo liat pak Rendi Mimi jadi semangat?" Tanya Celin "Nama nya orang bucin ya gitu. Lo kan enggak pernah ngerasain rasanya orang bucin." Kata Zaufa. "Heh! Gue pernah ya," kata Celin "Ya deh yang udah pacaran mah beda." Celin pun tak memperdulikan perkataan Zaufa dan melanjutkan melihat Album. "Guys! Udah adzan Ashar nih, sholat yuk!" Ajak Mimi "Lo aja sana, gue sama Celin lagi datang bulan." Kata Zaufa "Yaudah, mana Mukena nya?" Tanya Mimi "Itu dilemari." Jawab Celin Mimi pun meninggalkan Zaufa dan Celin disana. "Wih, ini anak Ips Unggulan." Kata Zaufa "Lah iya, coba liat." "Vanilla Cake. Cantik banget ceweknya, tapi kayak pernah denger." Kata Celin "Dimana?" Tanya Zaufa "Enggak tau," "Lah!" "Ini mirip kayak Mimi ya," kata Celin "Itu emang Mimi, liat nama nya deh. Tuh Mimi Kholifah." Kata Zaufa. Zaufa pun tersadar dengan apa yang di ucapkan, ia dan Celin langsung saling tatapan. "KOK BISA!" Kata mereka berdua. Setelah lama berfikir cukup keras, Mimi datang. "Mi- " "Guys gue pulang duluan, sepupu datang kerumah." Perkataaan Zaufa terpotong oleh Mimi. "Yaudah deh, terus lo pulang nya gimana?" Tanya Celin "Itu mang grab nya udah datang, duluan ya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam," "Kok bisa?" Batin Zaufa dan Celin. ### Follow i********: : @im_yourput  Yang mau tau infonya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD