Pagi ini Mimi bangun agak kesiangan, karena semalaman ia membalas chat dari Vanilla. Ingat Vanilla kan? Ituloh orang yang ngechat Mimi tiba-tiba dan mengaku bahwa ia adalah sahabat lama Mimi.
Sekarang Mimi tengah dihukum dilapang oleh Reno. Hukumanya gak terlalu berat kok, cuma disuruh ngumpulin daun-daun yang berserakan.
"Aduhh, capek nih pak. Boleh ya saya masuk."
"Gak! Selesaikan itu dulu!" Kata Reno sambil menunjuk kearah dedaunan yang berjatuhan.
"Ah, bapak mah gak asik. Saya kan kesini niatnya mau belajar bukan untuk mengumpulkan dedaunan." Kata Mimi sambil memayunkan bibirnya.
"Kamu tau kesini mau belajar, kenapa datangnya kesiangan? Orang belajar tepat waktu! Kalo sekarang cocok nya untuk tukang kebun!"
"Astagafirullah pak saya di bilang tukang kebun, yaudah deh pak saya ngalah." Kata Mimi, dan melanjutkan hukumanya.
"lo masih sama kayak dulu ternyata." Kata Reno. Mimi yang mendengarkan guru olahraganya berbicara, pun bingung ia berbicara pada siapa.
"Ih, saya tidak menyangka bahwa bapak adalah indihome," kata Mimi sambil menutup mulut nya dengan dramatis.
"Apasih?!"
"Itu bukti nya, tadi bapak ngomong sendiri."
"Ada-ada aja kamu, sana masuk ke dalam kelas!" Kata Reno sambil menunjuk kelas nya Mimi.
"Beneran nih pak?" Tanya Mimi memastikan, dan hanya dibalas anggukan oleh Reno.
"YES!"
Mimi berlari kearah kelasnya, dan mendapati Rendi yang sedang menjelaskan rumus matematika dipapan. Tanpa fikir panjang Mimi masuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum,"
"WA'ALAIKUMSALAM!" Jawab yang lain nya. Rendi pun melihat kearah pintu kelas dan nampaklah Mimi dengan sedikit keringat di dahinya.
"Kenapa kamu baru masuk sekarang? Terlambat?"
"Tadi pak Reno hukum saya pak jadi agak lama," jawab Mimi
"Nah kan betul kamu terlambat," kata Rendi sambil menunjuk Mimi dengan penggaris papan.
"Karena kamu terlmbat masuk kelas saya dan terlambat datang kesekolah, saya hukum kamu mengerjakan soal-soal matematika. Dilaksanakan saat waktu istirahat."
"Yahh pak yang lain kek, kenapa gak ngerjain Soal-soal untuk mengisi hati bapak," kata Mimi
"Terserah, intinya pada saat istirahat kamu tidak boleh keluar kelas." Setelah mengatakan itu Rendi kembali menjelaskan Rumus matematika.
"Ck! Dasar guru galak!" Gumam Mimi
Mimi pun duduk di bangku nya dan tetap menyumpah serapahkan Rendi yang menjelaskan rumus dipapan.
Kring kring
Kring kring
Bel istirahat berbunyi semua murid keluar kelas, Mimi berjalan mengendap-endap mengikuti teman-teman kelas nya agar tidak diketahui oleh Rendi, tetapi Rendi malah mengetahui rencana Mimi. Dan berakhirlah tugasnya ditambah.
"Kerjakan soal itu sampai nomor 60!"
"Iya pak," Untuk kali ini Mimi mengalah, lagi pula dia tidak terlalu pintar dan bodoh dipelajaran matematika.
Waktu masih berjalan, menit demi menit berlalu. Rendi yang merasa bosan pergi keluar mencari angin. Lalu beberapa menit berikutnya, seseorang datang dan mencari Rendi.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, lho Dimas?! ngapain kesini? Setiap orang yang kesini harus ngasih roti bakar. Lho!"
"Hmm... pak Rendi ada?"
"Tadi ada, tapi sekarang gak tau tuh kemana," Jawab Mimi.
"Yaudah gue duluan ya kak," kata Dimas
"JANGAN LUPA ROTI BAKARNYA!" Teriak Mimi.
Mimi pun kembali mengerjakan soal yang diberikan oleh Rendi. Tiba-tiba Dimas datang kembali, sambil membawa roti bakar ditangannya.
"Nih,"
"Apa ini?"
"Roti bakar."
"Iya gue juga tau itu roti bakar, tapi niat gue tadi cuma bercanda tau gak sih,"
"Hmmm,"
Dimas pun keluar dari kelas Mimi, setelah memberikan nya roti bakar. Mimi yang melihat Dimas hanya tersenyum simpul dan kembali mengerjakan soal nya.
Bel masuk berbunyi dan kini pelajaran berganti.
"Huft~ akhirnya bel masuk," ujar Mimi sambil merentangkan tanganya.
Semua teman-teman kelas Mimi masuk. Dan dari kerumunan teman-teman terdapat, dua orang gadis yang tengah berbicara sambil berjalan.
"Mi, kok lo gak kekantin? Gue sama Celin nunggu lo dari tadi tapi gak datang-datang."
"Ya maaf, ini kan karena pak Renjun." Kata Mimi. Zaufa dan Celin hanya berdehem dan duduk dibangku nya. Jadi Celin sama Mimi itu duduk berdua, sedangkan Zaufa duduk dibelakang mereka. Zaufa duduk sendiri karena jumlah murid di kelas Mimi ganjil.
Tiba-tiba Rendi datang bersama dua laki-laki.
"Assalamu'alaikum, semua ini ada kakak-kakak dari universitas Gajah Mada."
Salah satu kakak-kakak disana mulai membuka pembicaraan.
"Kya! Mi, kak Chan Mi, kak Chan," kata Celin ke Mimi. Mimi baru menyadari bahwa kakak yang sedang menjelaskan didepan adalah pacar Celin.
Kak Chandra menjelaskan tentang kampusnya itu, saat menjelaskan ia menghadap kearah Celin lalu mengedipkan satu matanya kearah Celin. Celin yang diberi wink langsung menutupi wajah nya yang merah dengan buku.
"Ciee, yang dikasih kedipan mata sama kak pacar," Goda Mimi.
"Apaan sih Mi!" Celin kembali menutupi wajahnya, sedangkan Mimi hanya tersenyum mengejek kearah Celin. Zaufa yang melihat kedua sahabat nya itu bingung dan menanyakan ada apa dengan Celin.
"Pstt, Mi, Mimi. Itu Celin kenapa?" Tanya Zaufa
"bayi yang baru lahir, masih hangat-hangat nya." Balas Mimi. Zaufa yang emang tidak mengerti apa yang dikatakan hanya menganggukan kepala.
Bel istirahat kembali berbunyi, semua teman-teman Mimi keluar untuk istirahat. Sekolah Mimi itu dua kali istirahat.
Reno datang kekelas Mimi dan ikut ngombrol bareng Rendi, Chandra dan satu teman nya Chandra, namanya Riyan. Mimi, Celin dan Zaufa yang memang belum keluar istirahat, berniat mau kearah mereka.
Celin karena ingin menyapa pacarnya.
Mimi karena ingin mengumpulkan hukumanya.
Zaufa? Gaids itu hanya menemani kedua sahabatnya.
"Permisi pak,"
Rendi yang yang sedang tertawa, tiba-tiba menoleh kearah Mimi.
"Iya ada apa?" Tanya Rendi
"Ini loh pak, soal hukumanya. Udah ya pak jangan kasih saya hukuman lagi, pusing tau gak pak mikirin rumus. Saya mah lebih baik mikirin bapak dari pada rumus." Kata Mimi. Memang Mimi the real, wahh gak tau itu urat nadi malu nya udah putus atau apa.
"Ck! Kamu kapan sih berhenti ngejar saya, saya itu udah punya tunangan." Kata Rendi. Sedangkan orang-orang yang ada disana hanya menyaksikan guru dan murid ini berdebat. Ya sesekali Chandra dan Celin berbincang-bincang.
"Aih, kan bapak bilang kalo tunangan bapak udah gak ingat bapak lagi mending sama saya,"
"Terserah apa kata kamu!"
"Ck! Bapak marah-marah terus. Nanti tunangannya nya kabur loh. Nah kalo kabur saya siap kok buat bapak." Kata Mimi sambil tersenyum. Rendi yang mendengar hanya merotasikan matanya, sedangkan yang lain hanya terkekeh melihat mereka.
"Kalo bicara sama kamu emang bikin saya darah tinggi terus,"
"Itu bukan karena saya, itu karena bapak kebanyakan daging."
Rendi yang sudah tidak mau berdebat meninggalkan mereka.
"Oh iya kenapa kamu terlambat datang kesekolah?" Tanya Reno.
"Oh semalaman saya balas chat dari orang yang ngaku-ngaku sahabat saya, pak." Kata Mimi. Nampak teelihat Reno, Chandra dan Riyan terlihat kaget.
"Emang namanya siapa?" Tanya Reno
###
Instagram : @im_yourput