Asal Usul Xavier

1077 Words
Sean menutup pintu kamarnya, kemudian menghampiri makanan yang diberikan oleh pelayan tadi, melihat makanan tersebut, mengingatkannya kepada Tania, yah ... selama Tania menjadi istrinya, dirinya tak pernah makan dari masakan pelayan, semuanya diurus oleh sang mantan istri. "Sean, aku adalah istrimu, jadi ... kau harus memakan masakan yang kubuat, bukan dari wanita lain, karena memasak adalah kewajibanku, jadi kau pun wajib memakannya, awas kalau tidak, nanti punyamu ikut kumasak, mau?!" "Ah, baiklah sayang, kau terlalu romantis rupanya, tentu aku hanya ingin makanan yang kau masak, bukan dari para pelayan," balas Sean, sembari melihat makanan yang telah disajikan oleh Tania. "Terima kasih, Sean, aku mencintaimu." "Aku mencintaimu juga sayang." Kini, semuanya menjadi kenangan, rasa nafsu untuk makan pun jadi hilang, tetapi apa daya ... perut Sean tak bisa menahan rasa laparnya sekarang. "Tania, aku merindukanmu," ucapnya, sebelum menyantap makanan tersebut, walau enak, tetap terasa hambar jika bukan orang yang dicintai, memasaknya. ♤♡◇♧ Tania masih tertidur, Xavier yang berada di kamar wanita tersebut hanya memandangnya, ia pun segera keluar ketika melihat Tania sedikit bergerak, lantaran ia takut jika wanita rapuh ini terbangun. Ngomong-ngomong, mengenai kejadian Tania yang tertarik secara tiba-tiba tanpa sentuhan seseorang, itu murni dari kekuatan Xavier. Mengapa bisa terjadi? Ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria tersebut, yang di mana, dirinya bukan manusia biasa. Selama ini, pria tersebut berpura-pura menjadi manusia normal, yang tentunya membutuhkan suatu adaptasi agar identitas asli dari Xavier tidak diketahui ataupun ketahuan. Xavier merasa, bahwa menjadi manusia normal tidaklah mudah, dunia makhluk seperti dirinya ini sangat berbeda dengan sekarang. "Xavier, kau merupakan penerus dari pack ini, umurmu sudah 17 tahun, setahun lagi dirimu akan menggantikan ayah." Trenola, adalah adik Xavier yang sekarang memberitahu kakaknya tentang pewaris alpha selanjutnya. Perlu kalian ketahui, alpha adalah raja dari sebuah istana atau sebuah tempat yang dinamakan pack, tentunya seorang alpha dikenal berasal dari bangsa serigala. Embusan napas dari Xavier membuat Trenola sedikit gelisah, ia takut jika kakaknya tidak mau menggantikan posisi ayah, jika hal itu terjadi, maka dirinyalah yang akan berada di posisi itu. "Trenola, kau tahu bukan bahwa aku membenci kandidat itu? Aku menginginkan kebebasan, karena menjadi seorang alpha adalah hal yang merepotkan, diriku pun harus mengurus rakyat yang notabennya aku sendiri tidak becus menjagamu saat peperangan terjadi, yang mengakibatkan, kau terluka akibat penyerangan dari kaum penyihir." "Kenapa kau selalu memikirkan hal itu? Memang kewajibanmulah yang melindungiku, tetapi bukan berarti saat aku terluka, dirimu gagal, itu tidak benar! Karena aku mengerti, waktu itu kau juga fokus bertarung, Xavier." "Tapi kenyataannya apa?" tanya Xavier dengan nada yang terdengar lirih, wajahnya pun menampakkan kemirisan, lalu, ia pun melanjutkan pengucapannya, "kenyataannya ... ayah mengataiku sebagai Kakak yang tidak becus, kau hampir mati waktu itu, Trenola. Dan sekarang, aku selalu menyimpulkan, bahwa status alpha, tidak pantas untukku." "Kak, kau harus tau, kenyataannya aku tidak mati bukan? Jika aku mati, itu sudah ajalku. Mau bagaimanapun, kita harus melihat situasi juga, dan inilah yang membuatku pun harus marah kepada ayah," balas Trenola. Tak sampai di situ, ia pun menyambar kembali, "Kau harus melihat di sisi lain, bahwa ayah tetap memercayakan status alpha kepadamu, jika bukan dirimu, siapa lagi?" "Untuk apa bertanya? Tentu kaulah yang akan mengganti-" "Enak saja, aku tidak mau!" potong Trenola, mengembungkan pipinya karena kesal dengan sang kakak yang mengatakan hal tersebut dengan mudah, di umur yang berbeda jauh dengan Xavier, ia belum siap untuk menjadi seorang pemimpin, bahkan jika ia yang menjabat, maka tak mungkin pack ataupun bangsa lain, tidak meremehkan kekuatan mereka. Sebelum Xavier berucap, pintu kamar mereka terbuka. Seorang wanita yang amat cantik, menghampiri kedua putranya yang tengah berdebat, bola mata yang dibaluti warna ungu lavender, nampak sendu memandang Xavier dan Trenola. "Ibu mendengar semua perkataan kalian, terutama dirimu yang selalu mengeluh tentang ayah," ucap Margaretta. "Ibu, maafkan aku," ucap Xavier pelan, dirinya sangat takut dan hormat kepada Margaretta, bisa dikatakan, hanya dia dan Trenolalah yang menjadi kelemahannya. Dua orang itulah yang sangat ia lindungi sampai titik darah penghabisan. "Sebentar lagi kau akan dewasa, sampai kapan luka itu terus kau pendam, hm? Beritahu ayahmu, dan ungkapkan semua, serta jangan takut, karena aku dan adikmu ada di sampingmu, paham?" "Tetapi, a-" "Yakinlah, kami berdua menguatkanmu, apa pun keputusan yang kau ambil, Ibu tetap mencintaimu," potong Margaretta, kemudian mengusap rambut Xavier dengan lembut. Ucapan Margaretta, mendorong rasa yakin Xavier untuk berbicara dengan sang ayah, di mana keputusannya membuat semua orang terkejut, kecuali Trenola dan ibunya. Kedua orang itu, selalu mendukung Xavier, hanya saja, kesedihan tentu terlihat dari mimik wajah mereka, karena Xavier memutuskan hal yang tidak pernah terduga, yaitu, "Diriku akan keluar dari pack ini, dan berkelana ke tempat mana pun, untuk mencari ketenangan hatiku. Sementara untuk jabatan alpha, aku tidak bisa duduk di singgasana pack." "Pergilah dari pack ini, kuharap dirimu takkan kembali, kau hanya menjadi beban keluarga serta pack kita," balas sang ayah. Xavier pikir cukup sampai di situ, tapi ternyata, masih berlanjut, "Sekarang ini, kau takkan termasuk dalam kata 'kita' dirimu akan dicap sebagai pengkhianat karena tidak mengabdi kepada ayah, yang merupakan alphamu juga. Serta, membuat sang adik hampir meninggal, sudah membuktikan bahwa kau tidak lebih dari serigala liar pembunuh." Mendengar hal itu, Xavier hanya pasrah menerima semuanya. Akan tetapi, tamparan keras dari ibu, benar-benar keras kedengarannya saat mengenai pipi sang ayah. "Mendengar perkataanmu sebelumnya, membuatku sakit hati, kau bukan suamiku yang dulu, kau berubah, entah apa penyebabnya, sehingga putramu sendiri kau benci! Padahal semua orang sudah tahu, situasi saat Xavier bertarung tidak memungkinkan karena dirinya pun terpojok waktu itu. Aku menyesal menjadi pasanganmu, Teodore!" Margaretta kembali ke tempatnya yang berada di samping Xavier dan Trenola, penyihir cantik tersebut pun memeluk anaknya dengan erat sembari mengatakan, "Aku tidak siap jika harus berpisah dengan putraku, maka dari itu, aku akan ikut dengan Xavier bersama Trenola, dan kau sendiri yang akan mengurus pack, Teodore." Teodore pun murka mendengarnya, ia takkan rela jika Margaretta-istri tercinta-pun pergi hanya karena Xavier, sang anak beban-menurut Teodore-maka dari itu, ia memerintah beta dan pasukannya untuk menahan Margaretta, apa pun caranya, sementara Trenola yang menunjukkan perlawanan, Treodore sendiri, turut menghalaunya. "Trenola, jangan lakukan pemberontakan, atau Ayah membuatmu menyesal," ucap Teodore dengan suara alphanya yang begitu menekan putranya sendiri, Trenola tak mampu bergerak, tubuhnya terasa dikunci dan seakan menurut begitu saja, serta rasa takut yang amat besar. "Jangan sentuh Ibuku!" teriak Xavier, menghantam semua pasukan yang berusaha mengambil Margaretta dari pelukannya. Semuanya kacau balau, hingga Xavier memutuskan untuk pergi, dengan syarat, "Jangan pernah membuat Ibu dan Adikku sedih, jika itu terjadi, maka aku akan datang untuk menghancurkan pack ini sendiri, tak terkecuali, ayahku sekalipun!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD