"Kamarku juga kamarmu, kita sekamar di sini," ucap Xavier, mengambil koper Tania, kemudian meletakkannya di samping lemari.
Tania tak habis pikir, apa-apaan ini? Selama hidup, baru sekarang ia sekamar dengan pria yang bukan siapa-siapanya, bahkan ... sewaktu berpacaran bersama Sean saja, dirinya tidak pernah tidur bersama pria itu.
"Xavier, tidak ada yang seperti ini dalam hidupku, selama 28 tahun aku berdiri di bumi, diriku tidak pernah sekamar dengan pria yang bukan siapa-siapaku, termasuk denganmu, jangankan dirimu, sewaktu aku berpacaran saja, kami tidak pernah sekamar atau berbaring bersama," ungkap Tania, membuat Xavier terkejut, bukankah orang-orang menganggap hal itu sangat biasa?
"Ayolah, jangan berpikiran kuno, Tania, hal yang kita lakukan sekarang ini, bukanlah hal yang tabu, dan orang-orang akan menganggapmu aneh serta bertanya, masih ada wanita yang menjunjung tinggi akan tidur bersama setelah menikah? Kau hidup di zaman mana, hm?"
"Maaf Xavier, tapi itulah prinsipku, aku tidak bisa sekamar denganmu, dan aku akan mencari kamar yang lain, jika tidak ada kamar untuk diriku, aku siap tidur bersama salah satu asisten rumah tangga," putus Tania, kemudian mengambil kopernya. Akan tetapi, Xavier tetap keras kepala agar Tania tetap di sisinya.
"Jangan menolakku, Tania. Jangan lupakan karena suamimu, aku harus berpisah dengan Valerie, maka dari itu ... kaulah sebagai penebus kesalahan dari Sean, paham?"
"Kenapa kau jahat sekali? Bukan aku yang bersalah, tetapi mantan kekasihmu itu! Bahkan aku pun yang tersakiti, karena Valerie, aku berpisah dengan Sean, camkan itu Tuan Xavier!" balas Tania menggebu-gebu, ia sangat emosi saat ini, membuktikan bahwa masih ada rasa sakit yang terpendam dalam diri wanita ini. Xavier pun merasakan sakit tersebut, juga melihat kesedihan yang amat mendalam melalui siratan matanya.
"Aku sangat membenci Valerie, juga Sean, mereka berdua memang satu karena memiliki sifat yang sama, yaitu sebagai pengkhianat, aku pun mengerti atas perasaanmu, karena posisi kita juga persis pula," lanjut Tania, merendahkan nada bicaranya, karena ia sudah lelah atas emosi yang mengacaukan pikiran janda ini.
"Yah ... posisi kita sama, bagaimana jika kita menyatu dan membuang perasaan tersebut dengan membangun rumah tangga yang baru? Aku dan kau, bisa menyatu, tinggal kita yang menjalaninya saja," ujar Xavier, memberikan pilihan kepada Tania. Tania sendiri merasa konyol, mereka baru bertemu sehari dan akan memulai hubungan yang serius? Tidak, Tania belum mengenal siapa Xavier sebenarnya, bisa saja pria ini berbohong dan memanfaatkan situasi agar dapat memuluskan niat yang terselubung.
"Tak ada niat terselubung secuil pun, ketika aku mengatakan sesuatu, maka aku selalu serius. Sebenarnya, seminggu lagi aku akan menikah dengan Valerie. Namun, kejadian menyakitkan tadi membubarkan semuanya, akan tetapi ... diriku bersyukur telah mengetahui kebusukan hati Valerie. Dengan adanya dirimu dan Sean, itu membongkar semuanya," ucap Xavier, meraih pinggang Tania kemudian mendekapnya lalu menatap mata wanita itu dengan serius, lalu melanjutkan ujarannya, "percayalah, aku berterima kasih kepadamu, jika dirimu tak bertemu dengan Valerie, kesetiaannya sudah pasti tidak akan teruji oleh adanya Sean."
"Xa-Xavier, apa yang kau katakan?" Seolah tidak percaya, Tania ingin mendengar ulang pernyataan pria di hadapannya ini.
"Tak ada pengulangan, Tania. Semua yang kuucapkan adalah refleks dan tak ada kebohongan sama sekali, karena diriku sangat membenci yang namanya dusta, paham? Dan sekarang, jangan ragu untuk tidur bersamaku malam i-"
"Tidak, Xavier! Tolong hargai prinsipku, semuanya masih baru dan aku tidak mudah percaya dengan orang asing, kumohon ... jika perkataanmu benar-benar serius, buktikan secara perlahan, karena aku telah trauma akan masa lalu, ucapan bisa dimaniskan. Namun perlakuan takkan bohong, karena aku bisa melihat, seberapa lama dirimu akan bertahan atau menunjukkan suatu sifat yang tidak akan kau sadari, terima kasih," potong Tania dengan ucapan panjang lebarnya, kemudian terlepas dari rengkuhan Xavier lalu mengambil kopernya.
"Oh iya, ada kamar yang lain?"
Xavier menghela napas berat, dirinya harus mengalah kali ini.
"Tentu, rumahku memang tak sebesar milik Sean, tetapi ruangannya tentu lumayan banyak."
♤♡◇♧
Sean pulang pada pagi hari di jam satu, bisa dikatakan sudah sangat larut, untunglah ada kunci yang ia pegang, selama di bar, dirinya terus berbicara bersama Bernard, pria itu agak menjengkelkan karena menasehatinya secara berangsur-angsur.
Sean pun tidak mabuk, ia memikirkan keselamatan, tidak mungkin ia harus kecelakaan karena hal tersebut akan menunda tujuannya dalam merebut hati Tania kembali, serta ... dirinya tidak ingin kehilangan nyawa, sebelum membuat Valerie menderita hingga di ubun-ubun wanita tersebut.
Berbicara mengenai Valerie, walaupun mengantuk, Sean tetap mengingatnya, apakah wanita itu telah makan atau belum. Jangan salah paham, perhatian ini hanyalah bentuk agar Valerie bertahan hidup untuk ia siksa nantinya, bukan berarti memerhatikan si murahan itu, dirinya dicap menyukai Valerie, sangat tidak tepat dan menjijikkan pula walau ia telah menyicipi tubuh wanita itu.
Dan yah, Sean akan mengakui jika dirinya telah munafik.
"Sepertinya dia telah makan, karena sebelum ke tempat Bernard, diriku telah menyuruh pelayan untuk memberikan makanan ke wanita itu. Sial, aku mengantuk sekali," gumam Sean, kemudian terbaring begitu saja di sofa, tanpa melepas sepatunya.
Esok hari, Sean dibangungkan oleh salah satu pelayannya, pria itu mengerang kemudian terbangun dengan pelan.
"Terima kasih, pakaiannya sudah siap?"
"Sudah, Tuan," jawab sang pelayan.
"Baiklah, aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu, untuk sarapan, letakkan di meja kamarku saja nanti, dan kamarku pun tidak terkunci," balas Sean dan si pelayan mengangguk patuh.
Sean pun berada di kamar, melepas seluruh pakaiannya lalu melemparnya ke atas ranjang begitu saja sebelum masuk ke kamar mandi.
Sekitar sepuluh menit, Sean pun keluar dari kamar mandi, memerlihatkan kekokohan tubuhnya di hadapan pelayan, yang kebetulan baru masuk ke kamar untuk membawa makanan ke ruangannya.
Astaga, untung ada handuk, jika tidak ... pingsanlah aku. [Batin si pelayan]
Pelayan Sean dengan cepat menyadarkan diri, ia pun meletakkan makanan tersebut kemudian permisi dalam keadaan canggung.
"Silakan keluar."
"Baik, Tuan."
Pelayan tersebut mengusap dadanya sembari mengembuskan napas berulangkali untuk mengontrol dirinya, bahkan detak jantungnya malah semakin berdebar.
"Kenapa Tuan Sean semakin tampan? Astaga, aku harus sadar diri!" Pelayan tersebut kemudian terpekik dan menggelengkan kepala atas harapannya untuk mendapatkan Sean atau bersanding dengan pria tersebut.
Bahkan, detak jantungnya pun semakin berdebar padahal sang pelayan sudah semaksimal mungkin menenangkan dirinya.
"Kenapa perasaan ini ingin sekali melihat pria itu untuk makan?" gumamnya dan rasa penasaran dalam dirinya pun semakin menggerogoti hingga ia kembali dengan langkah pelan dan berpura-pura untuk mengambil air minum.
"Maafkan saya Tuan, saya ingin mengambil air minum," ucapnya ketika sudah berada di samping Sean.
Sean mengangguk kemudian memersilakan pelayan tersebut.
"Kau tidak perlu meminta permisi dariku, karena air adalah sebuah kebutuhan, aku tidak akan sejahat itu untuk melarangmu."
"Ba-baik, Tuan. Kalau begitu saya undur diri, terima kasih."
"Hm."