Aroon memutar bola matanya jengah, Azka menaik turunkan alisnya kearah Aroon, akhirnya Aroon memberikan sepatu Athaya kepada laki-laki yang sudah menengadahkan sebelah tanganya itu.
Lalu Azka memberi kode agar Aroon pergi dari hadapanya.
"Ya tau yang pacaran,"decak Aroon sembari menjauh dari laki-laki itu.
Azka hanya tersenyum tipis mendengarkan hal itu.
Athaya yang tengah berlari lalu berhenti didepan Azka, dengan nafasnya yang sudah memburu.
Azka hanya menatap gadis itu sembari menautkan sebelah alisnya.
"Lo ngeliat ketos b******k itu kagak?"tanya Athaya sembari mengatur nafasnya karena baru saja berlari untuk mengejar aroon.
Azka menghembuskan nafasnya pelan,"Buat apa nyari yang lain kalau ada gue disini?"
"Ihh gue serius! Gara dia gue jalan kayak orang gila gini!"
Azka menahan tawanya, lalu laki-laki itu berjongkok di hadapan Athaya.
Athaya hanya diam penasaran apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu.
Azka tersenyum manis lalu memakaikan sepatu Athaya, Athaya mengerutkan dahinya.
"Lah kok bisa ada di lo?"tanya Athaya bingung, laki-laki itu berdiri kemudian merapikan rambut sebahu Athaya yang sudah berantakan.
"Jangankan sepatu, hati lo aja bisa gue milikin."
"Kebiasaan deh!"decak Athaya sembari melipatkan kedua tanganya didadanya.
Azka mengacak rambut hitamnya itu asal, lalu laki-laki itu langsung menarik tangan Athaya kedalam genggamanya.
Laki-laki itu membawa Athaya menuju kantin.
Athaya memandangi Azka dengan wajah merah padamnya.
"Ihh apaan sih Azka, malu di liatin."
Athaya mendelik kearah Azka yang bahkan tak peduli akan ucapan gadis itu, tatapan semua murid padipura sekarang sudah beralih kepada mereka berdua, Azka tak perduli akan itu, tapi Athaya sangatlah tak ingin menjadi bahan gosipan, apalagi trending topic mengenai tragedi jadianya mereka berdua.
Kini Athaya sudah duduk dikantin, gadis itu memangku wajahnya dengan kedua telapak tanganya sembari memanyunkan bibirnya, bahkan gadis itu sudah disuguhkan oleh dua gelas jus orange dan dua mangkok bakso, tapi hal itu tidak menggiurkan bagi Athaya.
"Makan ta,"ucap Azka lembut sembari menyodorkan semangkok bakso kearah Athaya.
Athaya mengehela nafasnya,"Lo kenapa coba harus muncul, tiba-tiba dikehidupan gue? Asal mengklaim orang gitu aja lagi."
Azka menatap gadis itu dengan senyuman tipisnya, Azka tau pasti Athaya tidak akan siap menerima kenyataan bahwa dia sekarang adalah milik Azka, tapi cuma Athaya yang saat itu Azka inginkan.
"Lo juga kenapa coba? ngebuat keajaiban dihati gue sampai gue bisa jatuh hanya dalam beberapa detik tatapan."
Azka malah melontarkan pertanyaan juga kepada Athaya, gadis itu menyipitkan matanya kearah Azka sembari meletakkan punggung tangan kananya didahi Azka,"Kayaknya lo sakit deh."
Azka terkekeh,"Iya, demam cinta."
"Ihhh alay banget sih,"desis Athaya.
Laki-laki itu hanya terkekeh melihat tingkah Athaya yang menurutnya unyu itu, sedangkan Athaya masih belum menerima kehadiran Azka yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Lo kenapa bisa kenal gitu sama kak Ardhan dan juga Aroon?"tanya Athaya seraya nenyeruput jus orangenya.
Azka menghirup kuah baksonya sejenak, lalu menatap wajah Athaya,"Gue sama Ardhan dan juga Aroon itu dulunya satu smp."
Athaya membulatkan matanya ketika mendengarkan hal itu, bahkan gadis itu sama sekali tidak tau bahkan mereka pernah satu sekolah,"Lo serius?"
Azka mengangguk,"Buat apa gue bohong?"
"Pantesen kak Ardhan enggak over protective gitu ketika gue lagi sama lo, lo temen dia, sama pula sikapnya,"ledek Athaya sehingga Azka menyengir.
"Makan Atha,"suruh Azka ketika gadis itu hanya mengaduk-aduk, baksonya tampa niat.
Athaya mencibir,"Gue enggak selera makan bakso, lo aja asal tarik anak gadis orang."
"Terus lo maunya apa?"tanya Azka kepada gadis itu.
Athaya berpikir sejenak, tampaknya waktu yang pas juga untuk mengetes laki-laki itu pikirnya.
"Ice crem, di toko dekat sekolah kita itu, enggak terlalu jauh kok, lo enggak boleh bawa kendaraan,"pinta Athaya dengan senyum jahilnya.
"Yaelah itu mah gampang."
"Lo juga enggak boleh bolos, atapun lewat belakang sekolah, lo harus ngelewatin depan gerbang,"lanjut Athaya.
Azka berdecak sembari berkeluh kesah,"Udah minta belikan banyak permintaan pula."
Athaya kemudian menyengir menunjukkan sederet gigi putihnya,"Pokoknya harus gitu."
"Jalan kesana lumayan jauh, ada bar lagi, entar gue ditarik cabe."
"Bilang aja lo males."
Athaya hendak beranjak pergi namun Azka langsung menahan kengan gadis itu.
"Enggak males kok, apalagi nolak, lo tunggu aja disini."
Athaya mengacung jempolnya,"15 menit "
"Buset, ini pacar atau komandan polisi sih."
"Cepet."
Azka menghembus napasnya kasar, lalu mulai menjauh,"iyaaa."