ATHAYA 5

825 Words
Kalau baper itu bersayap, maka patah hati itu adalah pelepahnya -Athaya azkiandra. Athaya mempercepat langkahnya berjalan di koridor menuju kelas, gadis itu sangat kesal, ia ingin meminta penjelasan dari Azka yang tiba-tiba mengklaimnya begitu saja selepas mengantarkan Athaya sepulang sekolah. "Azka!" Kini semua menatap kearah Athaya, begitu juga dengan komplotan Azka dan Ardhan yang langsung menengok kearah Athaya. Athaya berkacak pinggang di depan kelas, gadis itu langsung menghampiri Azka. "Apa maksud lo kemarin sih?"tanya Athaya to the point tanpa basa-basi. Azka menaikkan sebelah alisnya,"yang mana?" Athaya berdecak pelan, mana mungkin Azka lupa akan hal tersebut, baru kemarin sore Azka mengklaim Athaya begitu saja untuk menjadi pacarnya. "Ya lo tiba-tiba-." "Nembak lo?"sambung Azka santai, kini semua pasang mata kaget terpacu kearah mereka berdua, begitu juga dengan Ardhan. Ardhan berdesis kecil,"lo nembak adek gue?"kini Ardhan sudah berdiri ditengah-tengah mereka. Ardhan langsung menepuk pundak Azka pelan,"lanjutin, gue setuju kalau calon adek ipar gue lo,"Ardhan lalu berlari keluar kelas sembari menyeret Andine untuk pergi keluar kelas. Sedangkan Athaya membulatkan matanya atas apa yang diucapkan Ardhan tadi, biasanya Ardhan akan menolak jika Athaya berpacaran dengan sembarang murid padipura. "Apa yang mau dijelasin Athaya? Semuanya udah jelaskan?" "Apanya yang jelas?" Azka berpikir sejenak,"Apa jangan-jangan lo maunya gue nembak lo di depan semua orang ya?"Alhasil Athaya langsung melototkan matanya tajam,"ih kagak!" Azka langsung melompat keatas meja, sedangkan Athaya berusaha untuk menghentikan aksi Azka itu, yang telah mengalihkan perhatian semua murid padipura yang berada dikelas. "Perhatian semuanya,"semuanya menengok kearah Azka penasaran, menunggu apa yang akan disampaikan oleh Azka. "Mulai sekarang, Athaya adalah pacar gue, barang siapa yang berani gangguin dia, berarti dia harus rela bonyok,"Azka kemudian turun dari atas meja, semua murid mulai berbisik dan bergosip, Athaya langsung menatap laki-laki itu geram. "Gue enggak mau! Gue juga enggak kenal lo, lo cuma anak baru disini, jadi tolong jangan ngebuat lelucon garing kayak gini." Azka mendenguskan napasnya kasar, lalu laki-laki itu memegang kedua pundak Athaya, kemudian menatap kearah gadis itu serius. "Pj oikk, jadian pj kagak." "Moga cepet putus ya." "Yaelah kagak jadi gue ngegebet doi." "Stok cogan makin menipis bray." "Athaya dengerin gue ya, siapapun lo buat gue, mau seberapa lama kita kenalan atau enggak, tapi kalau hati gue merasanya lo tulang rusuk gue, lo bisa apa?" "Emang ada tulang rusuk yang mau jadi bagian di hidup lo?" "Lah? Lo itu apa?" Athaya menggeretak giginya geram,"Gue kagak mau!" Azka tersenyum kecil,"Terserah sih, yang pastinya mau atau enggaknya lo tetap pacar gue,"lalu Azka melenggang pergi keluar kelas dengan pakaian urak-uraknya itu. Athaya langsung membantingkan tasnya diatas meja keras, ia sangat kesal akan kelakuan Azka, sangat menyebalkan bagi Athaya, Athaya benci dengan tukang paksa itu, mana cara nembak Azka asal jadi aja, kayak ngasih komando gitu, bukanya swett atau apa gitu, ngasih mawar kek. "Lo beneran jadian Tha sama Azka?"Angela kini sudah duduk disebelah Athaya. Athaya sangat malas menjawab pertanyaan itu, karena dirinya saja sedang bingung. "Ihh lo beruntung banget tau enggak, ahhhh Azka itu ganteng banget, tipe-tipe gue, tapi malah lo embat luan, tapi kagak papa deh, gue ikhlas, gue kan ada Aroon,"sambung Anisa sembari memegang dadanya dengan kedua tanganya. Athaya menggeleng kepalanya pusing"Ihhhh semuanya tu nyebelin!" Gadis itu berlalu untuk meninggalkan kelas. Kini, Athaya tengah pergi ke perpustakaan, tempat dimana Athaya sempatkan mengisi waktu luangnya, hanya untuk membaca novel atau membaca buku sejarah, gadis itu tengah memilih-milih buku di rak perpustakaan yang sudah tertata rapi. Rak novel terdapat di rak paling ujung dan bagian atas, sehingga sedikit sulit untuk Athaya menjangkaunya ditambah lagi postur tubuh Athaya tidak terlalu tinggi dalam kalangan cewek. Athaya berjinjit sedikit untuk menggapai beberapa novel tersebut, namun tangan seseorang langsung meraih Novel yang ingin Athaya raih. Gadis itu berdecak kesal, kemudian menghadap kearah seseorang yang mengambil novelnya itu. "Jadi orang jangan kayak liliput makanya,"suara dingin menusuk itu membuat Athaya langsung mengenalinya. "Ihh itu novel yang gue mau,"ujar Athaya yang berusaha untuk merebutnya dari tangan Aroon, tapi Arron malah menahanya dengan raut wajah datarnya. Aroon langsung meletakkan buku tetsebut dibalik punggungnya, lalu laki-laki itu menetap kearah Athaya tajam,"Siapa yang dapat dia yang duluan." "Ihhh lo itu cowok, seharusnya ngalah dong sama cewek!"Athaya menggerutu kesal sembari menghentakkan kedua kakinya. Bukanya mendengarkan gerutuan Athaya, Aroon malah membalikan badanya untuk menjauh dari gadis itu, hal itu membuat Athaya benar-benar kesal sekaligus merasa tak dihargai. Dilepasnya sepatu pantofel miliknya sebelah, lalu dilemparnya kearah laki-laki itu, sehingga mengenai punggung milik Aroon. Laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam kearah Athaya. "Kenapa? Lo mau main-main sama gue sih,"ledek Athaya sembari menjulurkan lidahnya. Aroon menggeleng pelan,"Dasar bocah tengil,"dumel Aroon pelan, lalu laki-laki itu mengambil sepatu Athaya yang gadis itu lempar tadi kemudian membawanya pergi. Athaya melototkan matanya tajam, kalau sepatunya hilang sebelah sangat tidak lucu kalau gadis itu harus berjalan dengan sebelah sepatu. "Ihhh Arooon! Kembaliin sepatuu guee!!!"teriak Athaya dan membuat semua yang berada di perpustakaan meniup telunjuknya yang mengisyaratkan untuk gadis itu diam. Dengan setengah berlari gadis itu langsung mengejar Aroon, untuk mengambil sepatunya, sedangkan Aroon tak peduli dengan gadis yang sedari tadi meneriaki namanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD