ATHAYA 4

899 Words
Tuhan, nyiptain hati salah satu fungsinya adalah untuk sabar, yaitu sabar dalam mencintai sebelah pihak -Azka Athafarizqi. Athaya tengah melangkahkan kakinya berjalan disepanjang koridor, diliriknya arjoji dipergelangan tanganya, lalu gadis itu mendenguskan nafasnya kesal. Hari sudah benar-benar tampak sore, ia jadi takut kalau harus naik angkutan umum, karena hari sudah ingin memasuki maghrib. Gadis itu sangat kesal, kenapa harus ada rapat ekstrakulikuler musik dadakan, sampai sore lagi, lagian juga rapat ekstra dominan ke main-main daripada seriusan, paling cuma butuh beberapa menit buat rapat, sedangan berjam-jam buat ngobrol ataupun bergosip. Athaya akhirnya mengeluarkan ponsel dari disakunya lalu langsung menelpon Ardhan. 'Kenapa ta?' 'Jemput gue! Sekaraaang!!' 'Aduh, si cogan Ardhan kagak bisa, lagi jalan sama gebetan baru.' Athaya menghela napasnya kasar, sakit rasanya ketika tau Ardhan lebih mementingkan gebetan dari pada adik sendiri. 'Ohh jadi abang lebih mentingin gebetan dari pada keselamatan Atha?' Terdengar hembusan kasar dari seberang telepon. 'Bukan gitu, penting lo lah dek,tapi saat ini kayaknya gebetan deh.' Athaya akhirnya memutuskan teleponya sebelah pihak, menyebalkan sekali rasanya ketika punya abang kayak Ardhan, kembar lagi. Athaya bergegas menuju depan gerbang, gadis itu menggenggam pinggiran roknya, sembari menggigit bibir bawahnya, cuma ada satpam yang sedang berdiri didepan gerbang, menemani Athaya untuk menunggu angkutan umum, hari sudah mulai tampak gelap namun belum ada juga angkutan yg lewat, sekalinya lewat penuh. Akhirnya Athaya memilih untuk menelepon Abel ataupun Aldi, tapi malah tidak diangkat. "Belum juga dijemput ya neng?"tanya Imam satpam sekolah. Athaya tersenyum paksa sembari mengangguk kecil,"hehe iya pak." Padahal rasanya Athaya malas sekali menjawab pertanyaan satpam itu, karena hanya membuat Athaya bertambah kesal. "Bapak masuk kedalam dulu ya neng,"ucap Imam dan Athaya hanya merespon dengan menganggukan kepalanya. Athaya melirik kearah warung tongkrongan depan sekolahnya, dilihatnya ada beberapa siswa yang tengah menatapnya dari bawah sampai atas, seketika Athaya langsung merinding, ia sangat tidak menyukai laki-laki yang memberi tatapan itu kepadanya. Warung depan sekolah Athaya emang biasanya selalu menjadi tempat tongkrongan murid nakal, dari berbagai sekolahan pasti berkumpul disana termasuk padipura, semacam pembentukan komunitas. Dilihatnya ada beberapa siswa yang ingin menyembrang dengan maksud menghampiri Athaya, sontak Athaya langsung membaca dzikir dalam hatinya. "Mau kemana neng?"tanya salah satu di antata mereka dengan seragam sekolah yang urak-urakan, bau rokok dan juga alkohol. "Kok diem aja?"tanya yang satunya lagi, karena Athaya hanya diam dan telah mencoba untuk mundur beberapa langkah kebelakang, namun ada tembok yang menghalangi langkah gadis itu untuk menjauh. "Jawab dong neng cantik,"sahut satunya lagi, dengan kepala botaknya itu. Athaya hanya mengatup bibirnya, berharap Ardhan akan datang dan menghabisi mereka semua didepan Athaya. "Jangan malu-malu gitu neng,"salah satu diantara mereka tadi ingin memegang wajah Athaya, namun tangan seseorang dengan cepat langsung menepisnya. Laki-laki itu langsung menjatuhkan putung rokoknya kedalam selokan. "Lo sentuh lagi dia? Lo bisa kayak teman lo yang kemarin-marin, mau?"ancam Azka sembari menautkan sebelah alisnya. Alhasil semua laki-laki tadi, menjauh dan berlari terpontang- panting, kini Azka telah berdiri dihadapan Athaya. Azka tersenyum kearah gadis itu lalu mengacak rambut Athaya lembut. "Gue nungguin lo dari tadi, lo dari mana sih? Lama banget rapatnya,"Azka berujar sehingga Athaya mengerutkan dahinya,"lo nungguin gue?" Azka kemudian berdecak pelan,"Yaiyalah, Lama banget gue nungguin lo didepan pintu ruang musik, mana enggak boleh masuk, akhirnya gue kelaperan, dan milih buat nyari makan, eh teryata gue kelamaan karena ketiduran di cafe,"jelas laki-laki itu sehingga Athaya hanya mangut-mangut. Azka langsung menarik Athaya untuk mendekati motor ninja merahnya, lalu memasangkan helm di kepala Atha, sedangkan gadis itu hanya diam. "Naik Atha,"perintah Azka yang sudah naik keatas motornya sedangkan Athaya masih berdiri dalam diamnya. Athaya akhirnya naik keatas motor Azka, namun gadis itu tergelincir untung saja Athaya tidak jatuh, Azka berdesis,"Buat apa tuhan nyiptain pundak?" Athaya hanya melongos, Athaya akhirnya naik keatas motor Azka yang tinggi itu sembari memegang pundak Azka, dan laki-laki itu hanya menyembunyikan senyum yang sudah mengembang dibibirnya. Azka melajukan motornya santai, melewati jalan-jalanan kota jakarta yang terlihat ramai, ditambah lagi suasana sudah memasuki waktu malam, sehingga lampu jalanan sudah dinyalakan. "Ihh baju lo bau rokok gue enggak suka,"komentar Athaya sedangkan Azka hanya terkekeh. "Tapi orangnya lo suka kan?" Spontan Athaya langsung memukul pelan pundak Azka,"Sumpah ya, lo itu anak baru, ternyebelin, terpede dan terbiang masalah yang pernah gue temui sebelum-belumnya." "Dan juga tersayang kan?"lanjut Azka dengan pedenya. Athaya berdecak kesal,"Serah lo, btw lo kok mau nungguin gue lama gitu, gue kira lo bakal pulang karena kelamaan nunggu." Azka menatap wajah Athaya sekilas melalui spion motornya, lalu laki-laki itu mengulas senyum kecil dibibirnya,"jangankan buat nungguin lo berjam-jam, bertahun aja gue siap." ❤❤❤ "Thanks ya,"ucap Athaya ketika gadis itu sudah turun dari motor Azka tepat halaman rumahnya. Azka langsung melepaskan helm Athaya lalu mengangguk,"Enggak usah bilang makasih, ini kan bakal jadi rutinitas gue nanti." Athaya mengernyit bingung,"maksud lo?" Azka akhirnya tertawa kecil,lalu laki-laki itu memandang wajah Athaya serius. "Lo harus jadi pacar gue,"kalimat menyatakan cinta yang lebih terlihat seperti penindasan itu terlontar begitu saja dari mulut Azka. Hal itu membuat Athaya melototkan matanya, kemudian gadis itu langsung menggeleng cepat,"Apaan sih, gue enggak mau." "Gue enggak minta persetujuan ataupun jawaban dari lo,"desis Azka. "Tapi gue enggak mau!"bantah Athaya yang mencoba untuk menolak secara terang-terang. Azka memiringkan sudut bibirnya,"Terserah, itu urusan lo yang penting sekarang lo adalah pacar gue." Azka langsung menghidupkan motornya lalu meninggalkan pekarang rumah Athaya. Sedangkan Athaya masih terbengong-bengong akan kata-kata yang baru saja ia dengarkan tadi, apa maksud murid baru tersebut? Kenapa Azka tiba-tiba mengklaim Athaya begitu saja sebagai pacarnya, tanpa minta persetujuan ataupun jawaban dari gadis itu sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD