Athaya tengah berbaring di UKS sembari memainkan ponselnya, surga dunia rasanya ketika tidur di UKS, ia bisa menikmati wifi gratis, AC dan juga tidak belajar tentunya.
"Athaya!"panggil seseorang gadis dengan suara khas cemprengnya, Alhasil Athaya menekuk wajahnya kesal, karena aktifitasnya terganggu saat ini.
Athaya mendelik keasal suara,"Apa sih Din?"
Andine, Angela dan Anisa langsung mengambil alih untuk duduk disamping gadis itu.
"Lo sakit apaan sih?"
"Lo kok bisa telat gitu? Pasti lo bareng Ardhan kan perginya?"
"Lo enggak papa kan?"
"Eh, tadi ada cogan dikelas kita, anak pindahan ganteng banget! Sumpeh!"
Athaya menghela nafasnya pelan,"Ahh buset dah, itu nanya atau mau ngitrogasi,"yang lainya hanya terkekeh sembari tersenyum.
Angela menyikut lengan Athaya,"tapi serius! Ganteng banget."
"Iya ganteng banget, gue yakin lo kesemsem,"celetuk Anisa.
"Ganteng mana dibandingin sama si ketua osis sok galak itu?"tanya Athaya kepada mereka.
Anisa tersipu malu,"ganteng ketua osis my luv luv lah,"Athaya memutar bola matanya malas, jika ada hal yang bersangkutan dengan Aroon pasti itu akan membuat Anisa bersikap berlebihan.
"Din, tadi lo dapat salam dari Ardhan,"ucap Athaya, Andine hanya diam, gadis itu menunduk sembari tersenyum,"iya-in aja deh."
Athaya tau yang Andine rasakan saat ini, memang Ardhan kembaran paling terngeselin, Athaya mengusap bahu Andine pelan,"mending udahan deh, dari pada tetap bertahan tapi menyakitkan."
Seketika senyum Andine mengembang,"justru itu tantangan buat gue Athaya, mana kali kembaran lo itu bisa berubah dan bisa ngeliat gue secara nyata, bukan cuma bayangan dihidupnya dia, pacaran sama playboy itu menantang, walau terkadang menyakitkan."
Athaya hanya mangut-mangut lalu menaikan kedua bahunya,"serah lo deh, asal lo betah aja, gue yang hanya sebagai kembaran dia aja merasa malu punya abang yang modelnya kek begituan."
"Athaya! Kantin yuk!"teriak Azka yang baru saja masuk ke kedalam UKS, semua sorot mata beralih kearah Azka.
Azka tersenyum kecil, lalu mengacak rambutnya yang panjangnya diatas kerah seragam itu asal,"kantin?"ia menautkan sebelah alisnya, Athaya mendenguskan nafasnya sedangkan yang lainya tak bisa berpaling sedetikpun dari wajah tampan milik Azka.
Azka menyingsingkan lengan seragamnya, dengan beberapa kancing yang sudah terlepas dan juga pinggir bibirnya yang sedikit berdarah.
"Itu cogan yang kita maksud,"bisik Anisa tepat ditelinga Athaya.
Azka berjalan santai mendekat kearah Athaya, Athaya hanya diam ditempatnya, sedangkan yang lainya tiada hentinya menatap gerak-gerik laki-laki itu, Azka mengacak rambutnya asal,"kantin?"ulang Azka sembari mengulurkan tanganya agar Athaya bangun dari peristirahatanya.
Athaya melirik laki-laki itu dengan sudut matanya,"Lo habis make over ya? Idih merah begitu bibir lo,"sindir Athaya, Athaya tau pasti laki-laki itu habis berantem.
"Maklum, tadi tes kenjantanan sama kakak kelas XII,"jawab Azka santai.
Model anak baru apaan yang beginian? Baru saja masuk ke sekolah udah ngebuat masalah, berantem dengan kakak kelas lagi.
"Siapa?"tanya Athaya penasaran.
"Ronda? Rendo? Honda? Ahh sapa sih lupa gue,"jawab Azka sontak semuanya menahan tawa.
Siapasih yang tidak mengenal Rendi? Geng bullying di padipura, setiap ada anak baru pasti di bully terus dipalakkin, hampir setiap murid baru yang masuk ingin keluar lagi dari tu sekolahan, kalau saja tidak ada Ardhan yang membela dan mengajak geng Rendi adu jotos, dan akhirnya geng Rendilah yang kalah.
"Rendi maksud lo?"Azka mengangguk,"iya itu maksud gue, udah ah, kantin kagak? Lo udah janji sama gue."
Andine, Anisa dan Angela menganggukan kepala mereka kearah Athaya, sebagai isyarat agar gadis itu menerima ajakan dari Azka, sedangkan penghuni UKS yang lainnya hanya menatap Athaya dan Azka dengan tatapan iri.
Athaya tampak menimang-nimang sejenak,"yaudah, tapi lo yang traktir kan?"
"Lo mau apa aja entar gue yang traktir, sekalian sama hati gue juga boleh."
Semua yang berada disana menahan teriakan mereka, sedangkan Athaya hanya memutar bola matanya jengah.
Kini Athaya dan Azka tengah berada dikantin, keduanya tengah dihidangkan dengan dua mangkok Bakso dan juga dua gelas jus orange, Athaya memakan baksonya kemudian menatap Azka.
"Lo kok bisa berurusan sama Rendi?"
Pertanyaan yang dilontarkan Athaya membuat Azka tersenyum kecil.
"Ih, tu anak minta di tonjok tadi, masa gue mau ke UKS buat nyamperin lo tiba-tiba dia dengan the geng teletubiesnya itu menghalangi jalan Gue, malakin lagi, dikira gue bokap dia minta-minta uang gitu,"jelas Azka panjang lebar.
Athaya meminum jus orangenya, lalu gadis itu menatap kearah Azka lagi,"terus lo enggak papa?"
Azka kemudian tersenyum jahil sembari mengarahkan telunjuknya kewajah Athaya,"Lo kepo atau khawatir?"
Sejurus kemudian Athaya langsung melototkan matanya kearah Azka,"kagak jadi nanya."
Athaya memakan kembali baksonya dengan malas, laki-laki itu sedari tadi tak henti menatap Athaya dengan senyumannya, sehingga itu membuat Athaya sangat risih, apalagi pada saat makan.
Athaya menghentikan aksi makan baksonya, kemudian berdecak pelan,"Gue enggak suka ditatap kayak begitu."
Azka menyengir,"Entar lo pulang sama siapa?"Athaya mengernyit sejenak, laki-laki yang terlalu boros dengan lampu hijau menurut Athaya,"sama om-om."
Azka membulatkan matanya,"Pacar lo om-om?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah seriusnya.
Athaya menghela nafasnya sejenak,"maksud gue itu sama om-om angkot."
Azka seketika langsung mengulas senyum lebar di bibirnya, peluang untuk Azka bisa dekat dengan Athaya, mana kali ia bisa dekat lebih jauh lagi dengan Athaya, lagian kan malu sama anak sekolahan Azka yang lama kalau tau Azka masih jomblo di sekolah barunya.
"Dari pada lo pulang sama om-om angkot, mending pulang sama om-om cogan,"ajak Azka, Athaya berpikir dahulu, jika ia pulang dengan Azka pastinya ia tidak akan repot-repot membayar ongkos, tapi pasti kalau Abel tau, mamanya yang super duper kepo itu akan mengintrogasi Athaya, ditambah lagi dengan Ardhan yang Overprotectif tapi bukan masalah untuk Athaya, ia jadi bisa menyisipkan uang sakunya untuk membeli Novel kesayanganya yang akan terbit sebentar lagi.
Athaya mengangguk pelan,"Boleh, tapi enggak bayar kan?"
"Bayar kok, enggak pake uang tapi pakai hati."