"Baiklah, aku tidak perlu berlama-lama di sini aku harus membereskan barang-barangku." "Ya, silakan." Aku mengarahkan tanganku ke pintu dan membiarkan dia pergi. Melihatku yang mengusirnya dengan senyum dan santai, sekali lagi wanita itu hanya menggelengkan kepala dengan tatapan mata penuh kebencian dan dendam. "Bu,kenapa ibu tidak menahannya, dia masih ada dua proyek yang dia pegang. Bapak pasti marah." "Aku yakin dia hanya cari perhatian, tidak mudah untuk wanita itu begitu saja dan meninggalkan karirnya, apalagi dia begitu berambisi memiliki perusahaan ini dan memiliki suamiku. Apa kau pikir dia serius melepaskannya begitu saja?" "Sebenarnya apa yang Ibu pikirkan?" Fika masih tak habis pikir. "Mari kita berpikir seperti logika dirinya. Setelah begitu panjang perjuangan dan pengo

