Bab 7

1442 Words
Beberapa kali Abi mengetuk pintu rumah Alana. Tetapi tak ada sautan dari dalam rumah ini sedikitpun. Kakinya sudah siap melangkah pergi. Bukan melangkah pergi dari rumah Alana, melainkan melangkah pergi menuju jendela yang tak jauh dari pintu utama rumah minimalis tersebut. Dilihatnya ke dalam rumah tersebut dari luar jendela. Keadaannya begitu sepi seperti tak ada seorangpun yang menghuninya. Tetapi, Abi merasa bahwa Alana sedang berada dirumah. Abi kembali ke depan pintu utama. Entah keberanian darimana, dia membuka pintu tersebut. Suara pintu terbuka membuatnya heran. Pasalnya keadaan rumah tersebut begitu sepi. Tapi pintu malah tak dikunci sama sekali. Dari situlah Abi yakin bahwa Alana memang berada dirumah. Tanpa ragu, Abi membuka lebar pintu tersebut. Kakinya mulai melangkah masuk. Celingak celinguk bak seorang maling profesional. Entah kemana sikap sopan yang selama ini dipegangnya. Kakinya membawanya menaiki tangga pendek yang terhubung dengan beberapa kamar yang letaknya bersebelahan. Senyumnya merekah lebar saat dilihatnya papan coklat muda berbentuk persegi panjang yang tergantung didepan pintu ber-cat coklat tua yang bertuliskan 'Alana Geraldine'. Diketuknya pintu tersebut. Masih belum ada jawaban dari pemilik kamar. Abi mencobanya lagi dan suara pintu terbuka membuatnya menghentikan ketukan dipintu tersebut. Senyumnya kembali merekah lebar dibibirnya. Tangannya melambai ke arah Alana. "Hai." sapanya riang. Sementara mulut Alana sudah terbuka lebar sejak melihat Abi yang berdiri dengan tegapnya didepan kamarnya. Dia tak menyangka Abi datang ke rumahnya. Dia mengira yang mengetuk pintu kamarnya adalah kakaknya. Abi mengernyit heran saat melihat Alana yang sejak tadi diam. Dijentikkannya jarinya didepan wajah Alana. "Heh! Kok bengong? Gue tau lo itu kangen sama gue. Tapi gak usah terlalu berlebihan." Alana semakin mematung ditempat. Perkataan Abi membuatnya yakin bahwa pria yang berada didepannya ini hanyalah halusinasinya. Sejak kapan Abi berubah centil dan kepedean seperti ini? Ini justru bukan dia. Alana mengerjapkan matanya berulang kali. Tetapi bayangan Abi tak mau hilang dari penglihatannya. Bahkan bayangan tersebut tampak nyata dan terlihat sangat tampan. Abi menarik hidung Alana yang menimbulkan suara ringisan dari mulut Alana. Tarikan dihidungnya membuat Alana sadar bahwa Abi memanglah nyata. "Yaampun, jadi ini Om Abi beneran?" pertanyaan bodohpun keluar dari mulutnya. "Bukan. Gue maling." jawab Abi sambil memutar kedua bola matanya malas. "Maling? Mau maling hati gue ya, Om? Gue rela kok. Ambil aja." ucap Alana sambil membusungkan dadanya ke arah Abi dengan senyuman genitnya. Abi mendecak sebal. Tangannya memegang kedua bahu Alana dan mendorongnya agar menjauh darinya. "Gue kira lo udah tobat. Ternyata makin menjadi." "Gue bakalan tobat kalo Om nikah sama gue." balas Alana dengan cengiran lebarnya. Abi hanya membalas kegenitan Alana dengan mencibirnya. "Oh iya, Om ngapain kesini?" tanya Alana. "Gue mau minta pertanggungjawaban elo." jawab Abi sambil menunjuk Alana tepat dihidungnya. Alana menaikkan satu alisnya. Menyingkirkan jari Abi yang mengenai hidungnya. "Om hamil?" Abi mendengus lelah. "Iya." jawabnya asal dan penuh penekanan. Alana membelalak tak percaya. "Serius? Kyaaa! selamat ya, Om. Tenang aja. Gue bakal tanggung jawab kok." Alana memeluk Abi sambil melompat-lompat girang. Membuat badan Abi ikut terguncang. Kepala Abi mulai terasa pusing saat Alana tak berhenti meloncat-loncat dalam pelukannya. Tanpa pikir panjang, Abi langsung mendekap Alana dengan erat. Membuat Alana tak bisa bergerak. Sudut bibir Abi tertarik ke atas. Senyuman bahagia tercetak dibibirnya. Dia memang benar-benar merindukan gadis aneh ini. Kegelisahan dan keresahan yang seminggu ini dirasakannya, sekarang hilang entah kemana saat dia memeluk tubuh Alana. Benar-benar obat perindu yang sangat mujarab. Abi terus memeluk Alana dengan erat. Seakan-akan Alana bisa hilang jika dia melepaskan pelukannya barang sedetikpun. Hidungnya mengendus-endus aroma rambut Alana. Entah kenapa tubuhnya terasa begitu rileks. "Om?" panggil Alana. Dia kesusahan untuk bernapas. Bukan karena Abi yang memeluknya begitu erat. Tetapi karena ada perasaan aneh dalam dirinya yang membuatnya susah untuk bernapas. Apalagi detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. Membuat keringat dingin bercucuran didahinya. Abi tak memedulikan panggilan Alana. Dia hanya ingin terus mendekap Alana dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Alana benar-benar tak tahan. Rasanya tubuhnya sudah ingin meledak karena Abi yang tak kunjung melepas pelukannya. Bukannya dia tak suka, pelukan Abi terasa sangat nyaman, hanya saja dia tak ingin Abi mendengar jantungnya yang berdetak begitu kencang seperti genderang mau perang. Alana ingin mengakhiri pelukannya dengan Abi. Sepintas ide gila muncul dalam otaknya. Mungkin setelah ini Abi akan mengomelinya. Tetapi Alana harus melakukan hal itu. Alana sudah bersiap untuk menginjak kaki Abi. Baru saja dia berniat untuk mengangkat kakinya, Abi sudah berbicara terlebih dahulu. Membuat Alana mematung dalam pelukan Abi. "Jangan berani-beraninya menginjak kakiku, sayang." Alana benar-benar mati kutu. Dan sialnya lagi, detak jantungnya semakin menjadi-jadi saat Abi memanggilnya dengan sebutan sayang. Alana mulai berpikir bahwa Abi masih saudaraan dengan dukun. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Tentu saja aku tau kalau gadis nakal sepertimu merencanakan hal buruk terhadapku. Kau menggerakkan kakimu terlalu kuat." bisik Abi tepat ditelinga Alana. Bisikan Abi membuat Alana merinding tak karuan. Hembusan napas Abi ditelinganya membuatnya semakin gugup. Efeknya begitu luar biasa bagi tubuh Alana. Bahkan Abi kembali memakai kata aku-kamu lagi. "Nikmati pelukan ini, sayang. Aku tau kamu merindukanku." Alana menghela napas berat. Dia masih bingung dengan sikap Abi yang begitu lembut dan penyayang. Setan apa yang sedang merasuki Abi kali ini. Pertemuan terakhir mereka, Abi juga memeluknya dengan erat. Dan sekarang, bahkan mulut manisnya itu dengan enteng memanggil Alana dengan sebutan sayang. Benar-benar aneh. Alana mencoba untuk merilekskan badannya. Menuruti perkataan Abi untuk menikmati pelukan mereka. Tangannya yang sejak tadi diam, kini mulai merambat menuju punggung Abi. Mencoba untuk membalas pelukannya. Tetapi sayang, belum juga dia membalas pelukan Abi, Abi sudah terlebih dahulu mendorongnya sehingga membuat pelukan mereka terlepas. "Eh... anggap aja yang tadi meluk elo itu bukan gue." ujar Abi sambil menggaruk tengkuknya. Kelakuan Abi sekarang, persis seperti seorang remaja yang baru saja tertangkap sedang mengintip gadis perawan yang sedang mandi. Alana menatap Abi dengan sebal. Kalau dia tak menganggap orang yang baru saja memeluknya itu Abi, lalu siapa? Malaikat pencabut nyawa? Benar-benar menyebalkan. "Oh iya, seminggu ini lo kemana?" tanya Abi yang berusaha untuk mengalihkan perhatian Alana dari kejadian memalukan barusan. Abi benar-benar kelepasan. Semuanya terjadi begitu saja. "Gue mau nenangin diri. Besok gue UN." jawab Alana ketus. Dia masih kesal dengan perlakuan Abi. Abi menghela napas lega. Itu artinya Alana tak pergi untuk menjauhinya.   ****   "Bosen." ucap Abi sambil menguap lebar. "Sama. Acara tv-nya nggak ada yang seru." balas Alana. Sudah 1 jam lebih mereka duduk didepan televisi. Menonton acara tv yang hanya itu-itu saja. Membuat keduanya merasa bosan. Tadinya Alana mengajak Abi untuk duduk dikamarnya saja, karena Alana masih ingin membaca buku pelajarannya. Tetapi Abi menolaknya dengan cepat. Abi hanya tak ingin Alana yang sifatnya begitu agresif, berbuat yang tidak-tidak terhadapnya. Sebut saja Abi tak ingin keperjakaannya direnggut Alana. "Main ular tangga aja yuk, Om?" usul Alana. "Permainan lama. Gak keren." jawab Abi. "Kita buat jadi keren." ucap Alana yang begitu semangat. Abi menolehkan pandangannya ke arah Alana yang kini menatapnya dengan senyuman lebarnya. "Gimana caranya?" tanya Abi. "Siapa yang menang, dia boleh kasih satu permintaan untuk yang kalah. Dan yang kalah wajib nuruti kemauan yang menang. Oke nggak tuh?" Abi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Boleh juga." "Kalo gitu tunggu bentar ya, Om. Gue ambil dulu ular tangganya." ucap Alana sambil berlari menuju kamarnya. Sekembalinya Alana dari kamarnya, mereka berdua langsung duduk berhadap-hadapan diatas karpet. Memulai permainan ular tangga tersebut dengan serius. Waktu terus bergulir. Mereka sudah hampir menyelesaikan permainan tersebut. Sampai pada akhirnya, terdengar suara riang yang berasal dari mulut Abi. Sementara Alana mendesah kecewa. "Hahaha... I'm the winner." ucap Abi begitu semangat. Alana mendengus kesal. "Buruan. Apa permintaan elo, Om? Inget ya, jangan minta yang aneh-aneh. Kayak misalnya gue harus pergi dari hidup lo. Karena itu nggak mungkin. Calon istri mana yang mau pergi ninggalin calon suaminya." ucapnya yang membuat Abi menghentikan tawanya dan mencibir Alana. Abi berpikir sejenak. Mencari suatu hal yang nantinya akan dilakukan oleh Alana. Senyuman miring terpatri dibibirnya. Ya, dia sudah mendapatkan apa yang harus dilakukan Alana. Hal itu juga nantinya akan menguji seberapa besar keberanain Alana. "Gue mau lo cium bibir gue." ucap Abi sambil menunjuk bibirnya. Alana membelalak kaget. Mulutnya menganga lebar. Abi memang benar-benar gila. Bagaimana mungkin dia berani melakukan hal seintim itu. "Lo yakin, Om?" "Yap. Buruan cium gue atau gue bakalan nyuruh lo untuk pergi dari hidup gue." Alana menelan ludahnya susah payah. Dia memang tak ingin Abi menyuruhnya untuk pergi dari hidupnya. Tetapi dia juga tak ingin mencium bibir Abi. Yang benar saja. "Buruan, Lana. Gue hitung sampe 3 nih." ucap Abi tak sabar. Abi tertawa dalam hati. Dia tahu jika Alana tak mungkin berani melakukan hal tersebut. "Satu... dua.... ti.." ucapan Abi terhenti saat bibirnya terasa lembab. Dia melirik ke arah bibirnya dan ternyata Alana sedang menciumnya. "APA YANG KALIAN LAKUKAN!" suara teriakan yang menggema kuat dirumah Alana, membuat mereka berdua terlonjak kaget dan segera menarik bibir mereka untuk menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD