Alana sedari tadi sibuk menyiapkan alat-alat yang akan dibawanya untuk bertempur besok pagi. Perasannya campur aduk mengingat besok adalah hari terpenting selama 3 tahun dia bersekolah. Ditambah 3 hari berikutnya yang sama pentingnya. 4 hari yang akan menentukan masa depannya.
Setelah semua peralatannya masuk ke dalam tasnya, Alana mulai mengeluarkan buku-buku pegangan khusus tentang UN. Membukanya dan mengulang kembali soal-soal yang ada dibuku tersebut. Sekalian melatih otaknya agar besok dia bisa mengerjakan semua soal yang diberikan dengan mudah tanpa hambatan.
Seminggu ini dikerjakannya untuk belajar dan menenangkan diri karena pihak sekolah memberikan waktu seminggu untuk siswanya belajar sekaligus menenangkan diri sebelum menghadapi ujian nasional. Dan Alana tak akan menyia-nyiakan waktu seminggu itu untuk berleha-leha. Alana bahkan membatasi dirinya dari aktivitas luar dan dunia maya.
Alana tak ingin merusak segala mimpi indahnya mengenai masa depannya. Maka dari itu, Alana terus-terusan belajar agar dia bisa segera menggapai cita-citanya itu. Memanfaatkan waktu yang ada untuk melatih otak dan mentalnya.
Seminggu ini juga dia tak pernah lagi melihat dan menemui Abi. Alana menyingkirkan Abi dari pikirannya sejenak walau rasanya susah. Apalagi mengingat hari terakhir dia berjumpa dengan Abi dan melakukan hal romantis dipinggir pantai.
Alana tersenyum lebar membayangkan keromantisan yang diberikan Abi kepadanya saat itu. Seminggu ini Alana merasa dirinya sangat merindukan Abi. Entah perasaan apa ini. Apakah ini cinta? Alana langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali fokus pada buku-bukunya. Belum saatnya dia memikirkan hal-hal seperti itu. Persetan dengan janji bodohnya itu.
Alana mengernyit heran saat terdengar suara ketukan pintu dikamarnya. Pasalnya tak ada siapa-siapa dirumahnya. Tak mungkin juga Papanya yang mengetuk pintu kamarnya. Untuk apa? Toh selama seminggu ini dia tak pernah memikirkan Alana barang sekalipun. Sangat tak mungkin jika Ando yang mengetuk pintu kamarnya. Seminggu ini Ando dikurung dikamar oleh Mamanya. Ck! Itu akibat kenakalan yang dilakukan Ando beberapa hari yang lalu yang membuat Mamanya murka.
Alana beranjak dari meja belajarnya. Melangkah mendekati pintu kamarnya. Seketika dia menghentikan langkahnya. Alana takut jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Mamanya. Apalagi sekarang sedang tidak ada Papanya yang selalu membelanya.
Tetapi ketakutannya hilang saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Alana langsung membuka pintu kamarnya tak sabar.
"Kakak!" pekik Alana girang sambil memeluk wanita yang berdiri dihadapannya.
Wanita itu terkekeh pelan dan membalas pelukan Alana. Mengelus rambut Alana dengan lembut. "Kakak kangen sama kamu."
"Lana juga, Kak. Kangen banget."
Wanita itu melepas pelukan Alana dan menatap adiknya dengan senyuman manis yang bertengger dibibir merahnya. "Kamu besok UN kan?"
Alana mengangguk semangat sambil memamerkan senyumnya. "Iya, Kak. By the way, Kak Elena makin cantik aja." goda Alana sambil mengerling genit.
Wanita yang bernama Elena itu terkekeh geli dan mencubit kedua pipi Alana gemas . "Kamu masih aja genit."
Alana menyengir lebar dan mengajak Elena masuk ke dalam kamarnya. Mereka duduk dipinggir ranjang.
Alana sangat senang saat mengetahui Kakaknya mendatanginya setelah 3 bulan mereka tak bertemu. Semua pertemuan mereka memang selalu dibatasi oleh kedua orangtua mereka. Elena yang memang tinggal bersama Ibunya membuatnya harus bekerja ekstra dan mengikuti pekerjaan Ibunya sebagai p*****r.
Elena dan Alana berada didua situasi yang sangat berbeda. Elena hidup dengan Ibunya dan selalu mendapat kasih sayang dan perlakuan baik dari Ibunya, tetapi Ibunya mengharuskan dia menggeluti pekerjaan haram seperti Ibunya. Sedangkan Alana, dia hidup dengan Ayahnya yang selalu membentak bahkan memukulnya, tetapi dia masih diberi kebebasan untuk memilih segala hal yang diinginkannya demi menggapai cita-citanya.
"Oh iya, Kakak punya hadiah buat kamu."
"Hadiah? Ulang tahun Alana udah lewat loh, Kak."
"Kakak tau, Lana. Ini hadiah untuk kamu menjelang UN. Biar kamu lebih semangat." ucap Elena sambil mengeluarkan kotak beludru merah hati yang berbentuk persegi panjang dari tasnya.
Elena menyerahkan kotak tersebut kepada Alana. Alana langsung membukanya dan menggumamkan kata wow sambil memandang barang tersebut dengan binar bahagia. Elena memberikan sebuah liontin dengan mainan hati yang terukir indah sehingga membuatnya jauh lebih indah saat dilihat.
"Itu buat kamu. Kamu tenang aja, Kakak belinya gak pake uang hasil melacur kok."
Alana langsung menoleh ke arah Elena dan menatapnya tak suka. Alana tak suka jika Kakaknya mengingatkan kepadanya bahwa Kakaknya adalah seorang p*****r. Yang dia tahu, Kakaknya tetaplah Kakak yang selama ini sangat dicintainya.
"Iya iya, maaf." kekeh Elena saat mengetahui perubahan ekspresi Alana.
"Pake dong." suruh Elena. Alana mengangguk dan memakai liontin tersebut dilehernya.
"Wow, bagus banget." puji Elena. Liontin yang diberikannya kepada Alana sangat pas dilehernya. Kecantikan Alana semakin terpancar jelas saat liontin tersebut menggantung pas dileher jenjangnya.
Alana melangkahkan kakinya ke cermin yang ada dikamarnya. Alana memandang kagum liontin yang diberikan Kakaknya. Liontin tersebut sangat pas dilehernya. Alana memegang mainan liontin tersebut sambil terus memandangnya lewat cermin besarnya. Sementara Elena terkekeh geli melihat tingkah Alana.
Setelah puas memandang dirinya yang semakin cantik dengan liontin pemberian Kakaknya, Alana langsung berjalan mendekati Kakaknya dan langsung memeluknya erat. "Terimakasih banyak, Kak. Lana sayang banget sama Kakak."
Elena tersenyum lebar sambil mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kakak juga sayang banget sama kamu, Lana."
Elena melepaskan pelukan mereka. "Kakak pulang sekarang ya. Masih banyak pekerjaan yang harus Kakak selesaikan."
"Kakak nggak nginep disini?"
"Enggak. Kalo pun Kakak nginep disini, Papa pasti nggak bakal ngizinin."
"Biar Lana yang bilang ke Papa."
Elena memegang pundak Alana. "Enggak, Lana."
"Lana pengen kita kayak dulu lagi." ucap Alana sedih.
"Kita udah nggak bisa kayak dulu lagi, Lana. Semuanya udah berubah. Kamu sama Kakak udah punya kehidupan masing-masing,"
"Yaudah, Kakak pulang dulu ya." Elena menjauhkan tangannya dari pundak Alana dan mengelus lembut rambut Alana.
"Hati-hati, Kak."
"Iya, Lana. Kamu belajar yang bener. Semangat buat besok." Elena mengepalkan kedua tangannya ke atas. Memberikan semangat untuk adiknya yang membuat Alana terkekeh pelan. Barulah Elena melangkah meninggalkan kamar Alana.
Alana kembali memegang mainan liontin tersebut dengan senyuman yang mengembang lebar dibibirnya. Walaupun orangtuanya jarang memberikannya kasih sayang, tetapi dia masih mempunyai Kakak yang sangat menyayanginya sampai detik ini. Kakaknya lah yang membuat Alana bertahan sampai saat ini
.
****
Seminggu ini Abi disibukkan dengan beberapa hal penting mengenai perusahaannya. Kemarin sempat terjadi penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu karyawannya. Ungtungnya papanya cepat ikut andil dalam kasus tersebut, sehingga mereka bisa dengan cepat menemukan pelakunya.
Seminggu ini Abi juga tak bertemu dengan Alana. Awalnya Abi merasa senang karena gadis itu tak lagi datang hanya untuk merecokinya. Tetapi lama kelamaan terbesit rasa rindu untuk gadis bar-bar tersebut.
Abi merindukan gadis yang terkadang membuatnya jengkel dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. Entah kemana gadis itu sekarang. Beberapa hari ini, pikiran Abi terus saja melayang membayangkan Alana yang sedang melakukan aksi anehnya. Hanya dengan memikirkan Alana saja mampu membuatnya tersenyum seperti orang gila.
"Gue tau kasusnya udah beres, Bi. Tapi nggak usah senyum-senyum gitu juga kali. Entar elo dikira gila."
Lamunan Abi tentang Alana buyar begitu saja akibat interupsi kurang ajar yang dilontarkan Galih. Abi melotot tajam ke arah Galih yang tengah melangkah mendekatinya. Galih mengedikkan bahunya seolah mengatakan bahwa dia tak takut dengan pelototan Abi. Galih mengambil duduk dihadapan Abi.
"Mau apa lo kesini? Pergi aja sana kalo mau ngerecoki gue."
"Suudzon aja lo sama calon suami adik lo. Kena azab entar lo."
"Langsung aja deh, Lih. Banyak omong juga gak bagus."
"Sensi banget. Gue kesini mau minta bantuan elo."
"Bantuan apa? Gue bukan polisi yang siap melayani elo."
"Satu bulan lagi gue nikah sama Adel. Tolong cariin gedung sama catering ya. Anggap aja itu sebagai kado lo untuk pernikahan gue sama Adel."
Abi melotot kaget. "Satu bulan lagi kalian nikah? Gila! Mana sempet b**o!"
Galih memutar bola matanya jengah. "Makanya gue minta bantuan elo bego."
Abi menghela napas panjang. Mengacak rambutnya asal. Pasangan Galih dan Adel memang benar-benar gila. Baru beberapa hari yang lalu Galih melamar Adel. Sekarang mereka sudah mau menikah saja. Dan pernikahan mereka membuat orang lain kerepotan.
"Kenapa nggak pacaran dulu sih? Ngebet banget pengen nikah. Heran gue."
"Kita pacarannya setelah nikah. Lagian kita udah saling mencintai sejak kecil." ucap Galih sambil tersenyum dan menerawang setiap kejadian indah yang dilaluinya bersama Adel.
Abi menatap Galih jijik. Apa semua orang yang sedang jatuh cinta akan berbuat hal semenjijikkan itu? Abi berharap semoga dia tak seperti itu ketika sedang jatuh cinta.
"Lo mau bantuin kita kan, Bi?" tanya Galih.
"Iya iya gue bantuin. Udah sana pulang lo." usir Abi.
Galih tersenyum lebar. Bangkit dari duduknya dan mendekati Abi. Memeluknya erat. "Makasih ya. Kalo bisa secepatnya." bisik Galih ditelinga Abi.
Abi mendorong tubuh Galih agar pelukannya terlepas. Abi merinding mengingat bisikan Galih ditelinganya. Sementata Galih tertawa kencang.
Galih berniat untuk mengerjai Abi. Kakak Adel yang satu ini terkadang memang perlu diberi pelajaran mengingat sifatnya yang sangat menyebalkan. Galih mendekatkan tubuhnya ke Abi. Mencium sekilas pipinya yang membuat Abi melotot horor ke arahnya.
"HOMO SIALAN! KELUAR LO!" teriak Abi sambil melemparkan kertas yang ada dimejanya. Lagi-lagi Galih tertawa kencang dan segera keluar dari ruangan Abi untuk menghindari amukannya.
Abi berjalan ke kamar mandi yang ada diruangannya sambil terus mengumpat Galih yang sangat menyebalkan dan menggelikan. Abi membersihkan bekas ciuman Galih yang ada dipipinya. Menggosoknya dengan sabun agar bekas ciuman Galih hilang sepenuhnya.
Abi sedikit membasahi rambutnya sambil mematut dirinya didepan cermin besar yang memang disediakan dikamar mandinya. Abi menghentikan gerakannya karena melihat pantulan diri Alana dicermin. Abi mengerjapkan matanya berkali-kali, tetapi bayangan Alana tak hilang-hilang. Abi membasuh wajahnya dan saat dia kembali melihat ke cermin, bayangan Alana sudah hilang.
Abi mengacak rambutnya frustasi. Lagi-lagi gadis bar-bar itu mengusik pikirannya. Entah kenapa, semenjak Abi tak bertemu dengan Alana, dia selalu bertemu dengan bayangan Alana.
"Kayaknya gue udah mulai gila." gumam Abi sambil kembali ke meja kerjanya.
Abi kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tetapi dia tak bisa fokus. Sedari tadi, Alana lah yang terus menguasai pikirannya. Abi benar-benar frustasi. Nggak aslinya, nggak bayangannya, selalu aja mengganggu.
Abi kembali mengingat kejadian seminggu yang lalu. Saat dia mengajak Alana ke pantai. Apa dia marah ya sama gue karena kelakuan gue minggu lalu. Ah bocah bar-bar pengganggu! Abi kembali mengacak rambutnya.
Abi bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya. Abi berinisiatif untuk mendatangi rumah Alana. Untungnya Abi pernah mengantar Alana sampai rumahnya, sehingga Abi tak perlu mempermalukan dirinya dengan bertanya kepada orang lain dimana rumah Alana.