Dominiq: Takut "Ada cerita apa hari ini?" tanyanya seolah antusias. Gue tarik napas lebih dulu sebelum memulai sesi konseling. Gue tatap lawan bicara—maksud gue, Dokter Vyna—seorang Psikolog perempuan yang menangani gue sejak lima tahun lalu. Kenapa? Kaget, ya? Gue yang kelihatan baik-baik aja meski diterpa banyak masalah, dihujani cacian, hinaan, makian hampir setiap hari lewat komentar di sosial media nyatanya berhasil membuat gue merasa 'sakit' bukan fisik. Tapi jiwa gue. Apa ada yang sadar kalau selama ini gue cuma pura-pura kelihatan baik-baik aja? Setiap hari ketawa, mengeluarkan kata-kata kasar sebagai bentuk rasa kesal atau sedang marah. Namun, nyatanya apa? Cuma di mulut. Sedangkan masih ada banyak sampah yang mengendap di dalam d**a. Cuma gue yang bisa merasakan, orang

