Sarah merasa ada yang tidak beres, tapi walaupun begitu dia tetap mengikuti apa kata Ibunya.
Dengan cantiknya Sarah, dandan yang tidak menor sangat alamai terlihat dari wajahnya yang cantik ditambah dengan gaun yang sangat pas ditubuhnya.
Sarah keluar kamar dan berjalan dengan sangat anggun menuju ruang tamu. Alangkah terkejutnya saat ia tau siapa yang datang bertamu membuat langkahnya terhenti.
"Mau apa dia kesini, tau gitu tadi aku intip dulu siapa yang akan datang!" Rutuknya.
"Sarah sini nak." ucap Ibunya Sarah.
Melangkah dengan sangat malas Sarah duduk diantara Bapak dan Ibunya.
Al menatap kagum dengan kecantikan Sarah, sehingga matanya tak bisa berkedip. Begitu juga dengan Ira, Mama Al.
"Pantas aja anakku begitu ngebetnya mintak melamar anak jeng Yanti, ternyata cantiknya memang cantik banget." Ujar Ira dalam hati.
Yanti pun berdehem membuat Ibu dan Anak itu tersadar dari lamunannya.
"Gini Pak dan jeng Yanti, maksud kedatangan saya kesini ingin melamar putri kalian untuk dijadikan istri oleh anak saya, Al." Ucap Ira.
"Yang dikatakan Mama saya itu benar adanya Pak Bu, saya ingin melamar Sarah untuk saya jadikan istri saya." Al membuka suara.
Sarah menatap orang yang berada disitu satu persatu.
"Maaf saya gak bisa terima lamaran ini, karena saya merasa tidak ada kecocokan diantara kami." Ucap Sarah tegas.
"Maka dari itu, mulai sekarang kita bisa mencoba lebih dekat lagi." Ujar Al menatap mata Sarah.
"Kenapa kamu bisa langsung menyimpulkan ketidak cocokan anatara kalian nak ?" Tanya Bapak Sarah.
"Bahkan kalian baru sekali jumpa, masak bisa langsung bilang tidak cocok ?" Tambah Ibu Sarah lagi.
"Intinya aku tidak suka dengan dia Pak, dari sekali jumpa itu aku uda tau gimana perangai dia dan aku tidak mau merugikan diriku sendiri." Jelas Sarah.
"Nak Sarah kalau memang mau dengan putra saya, kamu tidak usah bekerja lagi. Al sudah sangat mapan untuk memenuhi kebutuhanmu nantinya." Tambah Ibu Al.
"Maaf tante, aku tetap tidak mau!"
"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanya Al menatap Sarah dengan intens.
"Buat apa ? Bukannya disini uda jelas!" Jawab Sarah malas.
"Pergilah nak, kalian butuh waktu berdua !" Ucap Ibu Sarah dengan tatapan tajam.
"10 menit!" Jawab Sarah meninggalkan para orangtua dan menuju kehalaman depan rumah.
Al langsung mengikuti langkah Sarah.
Tibalah mereka berdua duduk dihalaman depan rumah. Hening beberapa saat.
"Waktu terus berjalan ! Apa yang ingin kamu bicarakan cepat segera katakan !" Ketus Sarah.
Al menegakkan tubuhnya lalu menatap Sarah. "Apa kamu gak bisa terima lamaranku ? Aku janji akan membahagiakan mu dan soal sikapku beberapa hari yang lalu aku mintak maaf uda membuat kesan yang buruk untukmu," ucap Al dibuat setulus mungkin.
"Apa kurang jelas yang ku sampaikan tadi didalam ? Tanya Sarah.
"Apa karena ada lelaki itu ? Kau langsung menolak lamaran ku ? Apa kau memiliki hubungan spesial dengannya ? Selidik Al.
"Itu bukan urusanmu." Ucapnya dan meninggalkan Al.
Namun langkahnya terhenti, tangannya dipegang kuat oleh Al.
"Lalu kenapa kau menolakku ? Aku tak suka ada yang menolakku. Berarti kan benar kalau kalian ada hubungan ? Ucap Al dengan mata menahan emosi.
"Lepaskan tanganku !" Kata Sarah dengan mata melotot.
"Tak akan kulepaskan sampai kau menerimaku ?" Ucap Al membuat tangan Sarah kesakitan.
"Gila kamu ya, kenapa kamu maksa aku ? Apa gak bisa lagi cari perempuan yang lain selain aku ? Jangan paksa aku dan sampai kapan pun aku tak akan mau !" Ucap Sarah berteriak.
"Pelankan suara mu ? Jangan sampai orang tau !" Bisik Al.
"Biarkan orang pada tau, kalau kau itu kasar. Termasuk orangtua ku biar mereka juga tau !" Ucap Sarah.
Benar saja, sekitar situ ada beberapa orang yang melihatnya. Karena rumah Sarah tepatnya pas dipinggir jalan, jadi banyak orang yang berlalu lalang didepan halaman rumahnya.
"Mas jangan kasar gitu dong sama pacarnya, masak beraninya sama perempuan!" Ucap orang yang lewat.
"Gak usah ikut campur, pergi kau sana!" Usir Al.
"Kok mau sih mbak punya pacar, kasar banget gitu!" Ucap seseorang lagi.
Tak lama keluar orangtua Sarah dan juga Mama Al.
"Ada apa ini Al ?" Tanya Ira, Mama Al.
Seketika Al sedikit panik dan Sarah dengan adanya kesempatan melepaskan tangannya dari genggaman Al dan langsung berlari dan berlindung dibelakang badan Bapaknya.
"Kamu apain anak saya ? Sampai merah begini tangannya!" Bentak Bapak Sarah.
"Saya cuma pegang tangannya aja Pak, mungkin agak kekencengan makanya jadi merah." Ucap Al santai.
"Belum apa-apa aja kamu uda kurang ajar !" Ujar sang Bapak.
"Itu alasanku kenapa aku gak mau terima lamarannya, dia kasar Pak, uda cukup hidupku seperti ini. Cuma Bapak yang bisa merangkul ku dan mendengar keluh kesah ku!" Lirih Sarah yang melirik Ibunya.
"Pulang kau dari rumah saya, saya pun tak akan membiarkan putri saya berumah tangga dengan orang yang salah." Ucap tegas Pak Santo.
"Ayo kita pulang." Mama Al menarik tangan Al dengan kasar.
"Kita belum selesai Ma, aku gak ada apa-apain dia, dia aja yang terlalu berlebihan!" Ucapnya yang tak tau malu.
"Maaf ya jeng, saya pulang dulu!" Ucap Ira
Tanpa memperdulikan ucapan Al, Mamanya tetap menggeretnya masuk ke dalam mobil.
"Kau ini kenapa sih Al, gak bisa lembut sikit sama perempuan. Gimana ada yang mau sama kamu kalau kamu masih bersikap kasar! Kamu menginginkan Sarah tapi kamu gak pandai mengambil hatinya. Mama pun kalau jadi dia pasti Mama juga sama sepertinya gak akan mau nerima cowok seperti mu. Gak usah ikutin Papa mu, kamu tau kan kenapa Mama sama Papa gak bersama, ya itu alasannya Papa mu selalu kasar, selalu mau omongan dia aja yang diikuti, omongan Mama gak pernah bisa didengar. Mama angkat tangan uda beribu kata Mama nasehatin tapi sepertinya gak pernah masuk kedalam kepalamu itu! Kalau kau masih menginginkan Sarah berjuang lah sendiri jangan libatkan Mama lagi. Dan ingat jangan pernah bertindak kasar sama perpemuan!" Ucap Mama kesal.
"Aku gak suka penolakan Ma, apa kurangnya aku coba ? Aku ganteng, aku kaya, aku bisa penuhi semua kemauannya!" Ucap Al masih belum bisa terima kenyataan.
"Apa pun alasan mu, rubah sikapmu jangan pernah lagi berperilaku kasar. Penolakan itu hal yang wajar. Keputusan diambil oleh kedua pihak, gak bisa kita sendiri yang menentukan!" Ucap Mama.
"Oke oke, jadi aku harus apa sekarang Ma?" Tanya Al.
"Kamu pikir aja sendiri, Mama uda malas, Mama angkat tangan. Bukan cuma sekali ini kamu seperti ini." Lirih Mama Ira.
*Kembali kerumah Sarah.
"Uda cukup kau buat Sarah susah Bu, memikirkan keinginan mu bermenantu kaya tapi kau gak liat siapa lelaki itu ?" Bentak Santo.
"Alah Pak, betul yang dikatakan Al dia aja yang terlalu berlebihan!" Ketus Ibu.