BERTAMU MENDADAK

952 Words
Sial.. siapa sih lelaki yang bersama Sarah itu, ada hubungan apa mereka sampai sedekat itu." Umpatnya. "Mereka sudah buat malu aku, awas aja kau ya, urusan kita belum selesai." Umpatnya lagi. Terlihat Al mengotak-atik ponselnya dan menyambungkan panggilan telepon. "Cepat kau cari tau lelaki yang bernama Ashraf dan ada hubungan apa dia dengan Sarah." Ucapnya penuh dengan tekanan dan perintah. "Ma gimana, kapan kita datang kerumah Sarah ?" Tanya Al yang melakukan panggilan kepada Mamanya. "Mama sudah atur jadwal, malam minggu kita kesana." Ucap Sang Mama. "Kelamaan itu Ma, apa gak bisa lebih cepat lagi atau besok malam gitu ? Atau kalau bisa juga malam ini!" Rengeknya. "Kau ini kenapa sih, kenapa begitu ngebetnya !" Kesel Mama Ira "Aku gak mau ada yang lebih dulu melamarnya Ma, dia harus jadi milikku." Ucap Al langsung mematikan panggilan teleponnya. "Gak sopan banget, uda mintak tolong dia pulak yang marah, memang anak itu gak ada berubahnya. Apa yang diinginkan harus segera dimiliki." Ujar Ira. Seseorang yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang Ashraf pun mengirim pesan. "Bos.. Ashraf seorang CEO dan Sarah adalah sekretarisnya. Bisa jadi kedekatan mereka karena pekerjaan. Sekarang infonya masih segitu dulu bos." Isi pesannya. "Hanya sekretaris, bisa jadi dekat karena pekerjaan. Tapi, jika ada hubungan lain gimana, kalau hanya sebagai sekretaris gak mungkin perlakuannya seperti memiliki hubungan layaknya pasangan kekasih, membukakan pintu, masak ia bos membukakan pintu ?" Pikirnya dengan alis yang mengkerut. "Gak bisa di biarin, sebelum itu aku harus maju lebih dulu, gak kan ku biarin Sarah menjadi milik lelaki b******k itu." Pikirnya lagi. Kita tinggalkan Al dengan segala macam pikirannya. Kita kembali ke Sarah dan Ashraf. Kembali ke cafe dimana Sarah dan Ashraf sedang makan siang bersama dengan alunan music yang romantis yang syahdu membuat mereka melupakan kejadian barusan. Dengan tenang dan nikmat mereka menghabiskan makanan yang terhidang dengan cerita serta ketawa yang memancarkan kebahagiaan terlihat dari wajah mereka, membuang jauh rasa canggung yang pernah menakuti. "Apa kamu sudah kenyang ?" Tanya Ashraf melirik Sarah. "Sudah cukup Pak, Alhamdulillah sudah kenyang." Ucapnya "Syukurlah, kalau gitu kita kembali ke kantor ya!" Terangnya. Sarah hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan Ashraf pun segera berdiri untuk menuju kasir melakukan transaksi pembayaran. Setelah dirasa selesai mereka pun lanjut menuju ke kantor. Ternyata Al masih disana mengintai mereka dan juga mengikuti mereka tapi sebelum itu hal yang serupa juga dilihatnya dimana Ashraf membukakan pintu untuk Sarah. Tentunya membuat hatinya semakin memanas. Memegang setir pengemudi dengan keras dan rahang yang mengeras juga mata yang membara api cemburu Al mengikuti mereka tepatnya di perusahaan milik Ashraf. Belum sampai disitu, Al dibuat takjub dengan bangunan yang megah dan sangat luas itu. "Gila megah banget, sepertinya dia bukan orang sembarangan. Betul-betul kaya ni anak." Gumamnya yang masih melihat bangunan yang super megah itu. Semua mata tertuju kepada bos dan sekretarisnya. Lagi dan lagi perlakuan manis Ashraf tak luput dari penglihatan para karyawan. Sontak saja membuat mereka bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka sehingga sang bos memperlakukan nya bak layaknya kekasih. Padahal Sarah belum memberi jawaban tapi perlakuan Ashraf sudah membuat jutaan kupu-kupu berterbangan didalam hatinya Sarah. "Gue gak salah lihat tu bos kita membukakan pintu sekretarisnya ?" "Eh iya ya, kok aku juga merasa ada hal yang aneh kali ini, apa mereka ada hubungan ya ?" "Tapi, kalau pun mereka ada hubungan juga gak apa-apa sih, Sarah juga gak jelek-jelek banget. Dia pintar dan juga cantik. Siapa pun yang melihatnya pasti akan tertarik." Ucap teman lelaki sekantor Sarah. "Ah masih cantikan gue lagi." Ucap Sonya yang terlihat iri kepada Sarah. "Gak boleh iri lo, jelas Sarah lebih cantik Good Looking banget!" Tambah kawannya. Dengan perasaan dongkol Sonya memilih pergi meninggalkan beberapa temannya yang masih bergosip. Bisik-bisik para karyawan membuat hot news dikantor itu. Dan desas desus itu pun sampai ke telinga Sarah. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan wajah yang menunduk Sarah langsung menuju ke meja kerjanya. Sebelum masuk ke ruangannya. Suara Ashraf mengehentikan langkah Sarah. Dan Ashraf melangkah mendekati Sarah. "Sarah, saya tunggu jawaban kamu secepatnya. Saya berharap jawabanmu sesuai dengan yang saya harapkan." Bisik Ashraf membuat Sarah terdiam. Sarah cukup menganggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban lalu dengan cepat dia masuk ke ruangannya. Duduk dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. "Ya Allah apa pantas aku bersanding dengannya ?" Tapi aku juga gak mau kalau dijodohin dengan pilihan Ibu." Lirihnya yang masih merasa kecil disukai sama orang yang jelas terhormat dan terpandang. Malam dikota itu menebar kesunyian. Tak terasa malam itu telah tiba. Hari ini dan malam ini juga dengan mendadak Al mendatangi rumah Yanti Ibu Sarah untuk melamar putrinya, Sarah. Dengan rasa terkejut Yanti sang Ibu menyilahkan Ibu dan Anak itu masuk kedalam rumahnya. "Bukannya mau datang malam minggu ya jeng? Saya gak ada persiapan untuk menyambut kalian!" Ucapnya yang merasa tak enak dan rasa yang terkejut juga. "Gak perlu repot-repot jeng, ini memang permintaan anakku. Dia yang sudah gak sabar." Jelas Ira. "Mana putri mu ?" Tanya Ira "Oh iya, sebentar biar saya panggilkan." Ucapnya menuju kamar Sarah. Sebelum itu pintu kamarnya terbuka, keluarlah sang suami dan menanyakan. "Ada tamu ya Bu ?" Tanya Bapak. "Iya, Bapak segera ganti baju yang lebih rapi terus duduk di depan bersama tamu kita." Ucapnya yang berlalu. "Sarah, buka pintunya." Suara Ibunya terdengar. "Ada apa Bu ?" Tanya Sarah. Yanti dengan seenaknya melenggang masuk ke dalam kamar anaknya, dan membuka pintu lemari baju milik Sarah. "Kamu pakai baju ini sekarang, dan dandan yang cantik!" Perintahnya. "Emangnya kita mau pergi kemana Bu, ini sudah malam." Ucap Sarah yang masih bingung. "Kita gak kemana-mana, dirumah lagi kedatangan tamu jadi kamu sebagai tuan rumah juga gak boleh terlihat kucel harus terlihat cantik. Sudah jangan banyak bertanya lagi segera cepat bersiap. Ibu mau buatkan minuman dulu. Ucap Yanti yang berlalu pergi meninggalkan Sarah yang masih mencerna perkataan Ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD