Sarah hanya mengangguk saja.
"Ya sudah kalau gitu, Mama pulang ya nak," Ucapnya kepada Ashraf dan juga Sarah.
"Oh ya, kalau kamu sudah mendapatkan jawaban nya kamu bisa langsung kasih tau Ashraf atau juga ke Mama ya, kamu bisa mintak nomor Mama ke Ashraf." Tambahnya
"Iya Bu." Jawab Sarah
Kini tinggallah berdua Sarah dan Ashraf. Nampak keduanya menjadi canggung.
"Ehm Pak, saya juga permisi masih ada yang harus saya siapkan." Ucapnya menunduk
"Iya, tapi nanti kamu makan siang dengan saya ya?" Jelasnya.
Sarah mengangguk sebagai jawabannya.
Dengan langkah yang sedikit terburu-buru dia langsung menuju ke toilet, masih ada sisa rasa terkejutnya dengan apa yang barusan terjadi.
"Huhh, gimana bisa seorang bos menyukai karyawannya sendiri, aku jawab apa ya Allah. Merasa gak pantas untuk bersanding dengan Pak Ashraf. Dia dari keluarga terhormat, kaya, lah aku dari keluarga sederhana di tambah ketidak cocokan ku terhadap Ibu. Apa gak malu-maluin ya !" Pikirnya
Tentu saja Sarah merasa kecil dan tidak percaya diri. Sarah segera menyelesaikan dengan segala pikirannya di toilet lalu dengan cepat menuju ke meja kerjanya.
"Rah, lo habis ngapain didalam bersama bos besar juga, lo lagi gak buat masalah kan ?" Tanya teman Sarah, Nina.
"Eh buat kaget aja. Lagi bahas kerjaan. Kepo banget sih lo." Ujar Nina
"Ih nyebelin lo, tapi kok lama banget sih, lagi bahas apa emangnya!" Tanya Nina lagi
"Masalah kerjasama aja, gak ada hal lain kok." Jawab Sarah.
"Oh." Nina hanya ber Oh ria.
"Syukurlah dia gak banyak pertanyaan lagi." Batin Sarah
*Kembali ke keluarga jeng Ira
"Ma, ayo kita kerumah tante Yanti ?" Ucap Al
"Mau ngapain kamu kerumah Yanti ? Tanya Mama Ira
"Ayo kita lamar anaknya Ma, dia gak boleh menolakku. Lebih cepat akan lebih baik Ma." Jawab Al
"Apa yang kamu sukai dari wanita itu, kenapa kamu kok kayak yang ngebet banget sih Al, atau kalau kamu mau Mama bisa cari yang lebih dari dia mau ?" Tanya Mama
"Gak Ma, aku maunya dia, dia wanita yang beda dan juga aku gak suka penolakan, itu yang buat aku penasaran!" Ucapnya tegas
"Oke, nanti Mama kabarin jeng Yanti dulu ya !" Ucap Mama
"Aku tunggu kabar secepatnya ya Ma!" Ucapnya
"Iya, kamu ya dari dulu harus segera diturutin kemauannya kalau gak bakalan tantrum deh !" Ucap Mama sambil geleng kepala
Al hanya tersenyum mendengar Mamanya.
Ponsel Yanti berdering menampilkan nama jeng Ira.
Tanpa membuang waktu Yanti langsung menghubungkan panggilan itu.
"Halo jeng Ira!" Sapa Yanti lebih dulu
"Halo jeng, saya mau nanyak kapan kamu dan anakmu ada waktu dirumah ya ?" Tanya Ira
"Selalu ada waktu kalau malam Jeng, ada perlu apa ya ?" Tanya Yanti
"Gini malam minggu saya dan Al mau datang kerumahmu jeng, Al yang ingin datang kerumahmu." Ucap Ira
"Wah boleh jeng, pintu saya selalu terbuka untuk kalian, saya tunggu kedatangannya ya jeng!" Ucap Yanti terdengar riang.
"Oke, kalau gitu saya tutup telpon nya ya jeng, saya mau ngasih kabar itu aja!" Ujarnya.
"Iya jeng." Ucap Yanti langsung menutup panggilan teleponnya.
"Aku gak mau capek dan aku gak mau buat malu, aku harus pesankan makanan yang enak untuk menjamu mereka dan kamu Sarah harus tampil cantik." Ucap Yanti penuh dengan khayalan.
"Tak sabar bakalan jadi besan bersama jeng Ira." Ucapnya lagi.
*Kembali ke kantor
Setelah berkutat dengan banyaknya kerjaan, kini waktunya untuk makan siang. Jam istirahat telah datang para pegawai dan staff berhamburan keluar ada yang memilih ke kantin kantor, ada yang memilih keluar kantor mendatangi cafe terdekat dari kantor dan ada juga yang memilih untuk tetap diruangan memakan bekal yang mereka bawa dari rumah.
Kini Sarah sudah berada dalam satu mobil dengan Ashraf untuk pergi ke suatu Restoran untuk makan siang.
Restoran itu pun juga tak gitu jauh dari kantor namun selama perjalanan terlihat mereka begitu canggung. Dan sampai tak sadar kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Uda sampek aja, gak terasa." Ucap Sarah pelan tapi masih bisa terdengar oleh Ashraf
"Kamu mau yang lebih jauh ?" Ashraf bertanya
"Eh anu gak Pak, disini aja cuman gak terasa tiba-tiba uda sampek." Jawabya gugup.
Ashraf lebih dulu turun dan menuju pintu samping untuk membuka kan pintu Sarah, perlakuan yang manis dan tentunya Sarah terkejut.
Tak jauh dari mereka, tak sengaja siluit matanya menangkap sosok Sarah dan seseorang yang sebelumnya pernah berjumpa. Dia adalah Al.
Dengan mata yang membara penuh emosi dan rasa tidak suka mulai menggerogoti pikirannya.
"Seharusnya aku yang sekarang bersama Sarah, bukan dia!" Ucapnya dengan rahang yang mengeras.
"Tidak bisa di biarin, aku harus cepat lebih maju dari pria b******k itu." Ucapnya lagi.
"Mau apa mereka kemari ? Apa mereka mau makan siang bersama ? Ada ikatan apa antara mereka ?" Dengan tangan yang mengepal menahan emosi Al masih berdiri menatap dua manusia yang berpasangan dengan perasaan penuh tanda tanya dan kebencian.
Penuh percaya diri dan keberanian Al menghampiri keduanya terutama untuk menyapa Sarah.
"Hai Sarah Rania !" Sapanya ramah dan lembut.
Sarah menoleh mendengar namanya disebut. Dengan rasa dongkol Sarah tak merespon pria tengil itu.
"Kenapa harus jumpa dia sih!' gerutunya dalam hati.
"Ada keperluan apa datang kemari ? Mau makan siang ya ?" Tanya Al masih dengan nada di buat selembut mungkin.
"Bukan urusan mu!" Ashraf yang menjawab.
"Gue gak nanyak lo, gue nanyak calon istri gue!" Ucapnya percaya diri.
"Mulai sekarang urusan Sarah juga menjadi urusan Ku. Jadi ada keperluan apa kami kesini yang jelas kami mau makan siang berdua." Ucap Asrhaf menggandeng tangan Sarah dan berlalu meninggalkan cowok tengil itu.
Dan itu terlihat oleh Al membuat Al menjadi panas dingin.
"Lepaskan tangan calon istri gue!" Teriaknya mencari simpati para pengunjung yang datang.
Dan benar saja semua mata tertuju pada Ashraf dan Sarah, membuat Al tersenyum puas.
"Gila ya, uda ada calon masih juga pergi dengan pria lain."
"Berani banget tu cowok gandeng cewek di depan calonnya, ceweknya pun mau-mau aja, murahan banget gak sih."
Bisik-bisik para pengunjung terdengar jelas di telinga ketiganya Sarah, Ashraf dan juga Al yang pastinya senyum kemenangan.
Tapi Ashraf dengan santainya bertanya kepada Sarah.
"Apakah kamu mengenal pria yang mengaku sebagai calon suamimu itu ? Tanya Ashraf pada Sarah dengan ketegasan dan suara yang menantang.
Sarah menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Saya tak kenal dengan pria ini!" Ucapnya dengan teriak agar semua bisa mendengar.
"Apa kau sudah mendengarnya ?" Tanya Ashraf kepada Al.
"Gimana sih mas, gak malu apa ngaku-ngaku sebagai calon suami, situ gak waras ya ?" Salah satu pengungjung mengatainnya.
Al maju beberapa langkah menuju keduanya terutama menunjuk kepada Ashraf.
"Urusan kita belum selesai!" Ucapnya yang beranjak pergi.
"Kau salah lawan, aku tak takut akan selalu berurusan denganmu!" Jawabnya.
Al terus melangkah menjauh tak ia respon ucapan lawannya. Dia melangkah dengan cepat membawa kekesalan yang membara.