Ray dengan cepat mengajak kawannya untuk bersenang-senang, sampai tak ingat waktu.
Jam terus berputar tak terasa sudah menjelang sore hari. Ibu pun sudah menunggu Sarah di depan rumah dengan muka menahan emosi.
"Akhirnya Kau sampai juga dirumah !" Ibu meninggikan suaranya.
"Ada apa Bu ? Tumben Ibu menunggu ku pulang !" Jawab Sarah enteng.
"Kemarikan sisa gajimu semuanya !" Ucap Ibu menahan langkah Sarah
"Apa kurang jelas yang ku katakan tadi siang lewat telepon ? Tanya Sarah
"Ibu gak mau tau, Ibu mintak sisa nya !" Bentak Ibu
Tak mau ambil pusing, Sarah melanjutkan langkah nya menuju kamar tanpa memperdulikan teriakan Ibu yang seperti orang kesetanan.
"Sarah, Ibu masih bicara !" Ibu kembali berteriak
Dan Ibunya mendatangi kamar Sarah lalu mengedor-gedor pintu kamar Sarah.
"Sarah keluar ! Uda berani kamu melawan Ibu ya, siapa yang uda ngajarin kamu seperti ini, ha ?" Teriak Ibu lagi.
Sarah keluar.
"Sebenarnya aku ini anak kandung Ibu atau bukan ? Kenapa Ibu selalu bersikap beda antara aku dan Ray ? Ibu selalu berkata lembut padanya, apa Ibu tau di luar dia itu seperti apa ? Dia jarang masuk sekolah Bu, dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak berguna ! Coba Ibu liat jam berapa ini, apa sudah ada dia di rumah ? Berbeda dengan ku, Ibu selalu menekan ku dengan uang yang aku hasilkan, dengan alasan apa lagi ? Itu sebagai balasan baktimu karena Ibu sudah mengurus mu sejak lahir ! Selalu itu-itu saja yang Ibu katakan, iya kan Bu ? Apa Ibu gak capek ? Bahkan kesehatan Bapak aja Ibu sering abai. Ibu dan Ray selalu bersenang-senang tanpa memikirkan aku dan juga Bapak !" Ucap Sarah yang membungkam mulut Ibunya dan kembali menutup pintu membiarkan Ibunya menjadi patung di depan kamar.
Seketika Ibu tersadar karena mendengar pintu Sarah sudah tertutup rapat. Masih dengan ego yang tak bisa disalahkan, Ibu kembali membuat kekacauan.
"Keluar kamu ! Itu memang sudah seharusnya kamu berbalas budi kepada Ibu apalagi kamu anak pertama, itu hal yang wajar, jangan jadi anak durhaka kamu, Sarah ? Ibu kembali berteriak
Sedangkan didalam kamar, d**a Sarah terasa sesak kenapa dia bisa memiliki Ibu yang sama sekali tidak memiliki kasih sayang kepadanya. Sehingga keluar cairan bening dari pelupuk matanya. Bukannya tak ikhlas, jika uang yang selama ini di pergunakan dengan sangat baik, tentunya Sarah tidak akan keberatan.
"Astaghfirullah, kuat kan aku, aku tak ingin jadi anak durhaka. Tapi tak mungkin aku bisa kuat kalau seperti ini terus. Beri jalan keluar untuk ku Ya Allah, dan berikan kesadaran untuk Ibu." Ucap Sarah dalam doa dan dengan tangisan yang masih deras mengalir.
Tak ada respon dari Sarah, dengan sisa emosi dan rasa kesal yang menguasai diri Yanti, Ibu Sarah pergi meninggalkan kamar sang putri dengan kaki yang di hentak-hentakan.
Tok.. tokk.. terdengar ketukan pintu dari kamar Sarah.
"Sarah, Ini Bapak nak ! Ucap Bapak dari balik pintu.
Dengan cepat Sarah membukakan pintu dan mempersilahkan Bapaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Bapak butuh sesuatu ?" Tanya Sarah ketika keduanya sudah duduk ditepi Ranjang.
"Tidak ada nak, apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Bapak penuh dengan kekhawatiran melihat mata sembab sang putri.
"Aku tidak apa-apa Pak, ini bukan hal pertama bagiku bertengkar dengan Ibu," Lirih Sarah
"Pak, maaf kan Sarah yang belum bisa membahagiakan Ibu dan juga Bapak serta maaf kan Sarah yang sudah tidak sopan terhadap Ibu." Ucapnya terisak di dalam pelukan sang Bapak.
"Kamu sudah jadi anak yang berbakti nak, bukan hanyak anak yang bisa durhaka kepada Ibunya, tapi ada juga Ibu yang durhaka kepada Anaknya karena sudah zolim terhadap anak nya. Atas nama Ibu, Bapak mintak maaf ya Nak." Ucap Bapak yang masih mendekap putrinya dengan isak tangisan.
"Pak, Sarah ada rezeki untuk Bapak berobat tapi Sarah mintak maaf tidak bisa menemani Bapak. Bapak pergi sendiri masih bisa kan ?" Tanya Sarah yang mengurai pelukannya dan mengambil sejumlah uang dalam dompet lalu menyerahkan kepada Bapak.
"Terimakasih Nak, apa kamu sudah menyisihkan untuk keperluan mu ? Tanya Bapak yang menggengam tangan Sarah.
"Sudah Pak, ini memang Sarah sisihkan untuk berobat Bapak. Cepat sembuh Pak biar ada yang nemani Sarah terus, " Ucap Sarah kembali berhambur kepelukan sang Bapak
"Tapi Bapak jangan kasih tau ke Ibu ya !" Ucap nya lagi.
"Iya nak, Bapak tidak akan bilang ke Ibu mu dan terimakasih ini Bapak ambil ya semoga kamu diberi kesabaran yang luas serta rezeki yang luas!" Lirih pak Santo
"Aminnn, terimakasih sudah doain Sarah, semoga Bapak juga sehat selalu ya." Ucap Sarah.
Sarah dan Bapak keluar bersama dari dalam kamar. Sarah menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam dan Bapak menuju kamar untuk menyimpan uang yang diberi Sarah tentunya dengan memastikan sang Istri tidak ada di dalam kamar. Kebetulan sang Istri tidak berada didalam kamar mereka karena Yanti berada di kamar Sang Putra, Ray.
Ibu terus mengumpat Sarah dan merutuki Ray yang tak pulang-pulang.
"Ini anak lagi kemana dia, kok bisa sampai tak ingat pulang, di hubungi juga tak bisa," ucap Ibu semakin kesal
"Punya anak dua kok pada susah diatur begini sih !" Umpatnya lagi.
"Aku akan secepatnya menjodohkan Sarah dengan Putra jeng Ira, supaya kehidupan ku semakin terjamin, sepertinya hari minggu hari yang cocok untuk membuat pertemuan ini" Ucap Ibu dengan penuh percaya diri.
Seketika emosinya hilang dan memikirkan rencana perjodohan nya.
Tanpa membuang waktu, Yanti langsung menghubungi Jeng Ira.
Tak disangka juga ternyata Ira menyambutnya dengan cepat.
"Halo Jeng, maaf mengganggu waktunya, aku mau ngabarin gimana kalau anak-anak kita ajak makan malam hari minggu. Gimana menurut Jeng Ira ?" Tanya Yanti tanpa basa-basi.
"Iya Jeng, aku juga setuju, lebih cepat akan lebih baik biar mereka saling mengenal terlebih dahulu, untuk tempat nya biar aku saja yang urus ya Jeng, gimana ? Tanya Ira
"Boleh Jeng, nanti kabarin aja ya, masih ada beberapa hari lagi, semoga berjalan dengan lancar, ya sudah saya tutup dulu ya Jeng !" Ucap nya.
Telepon sudah tertutup, tentunya dengan hati yang senang, Yanti berharap perjodohan ini sesusai dengan harapannya.
Uda cukup membuat mood nya baik kembali, Yanti sang Ibu pun keluar kamar langsung menuju ke dapur di mana Sarah sedang menghidangkan masakan yang baru selesai dia masak.
"Uda selesai kan ? Ibu langsung makan ya, Ibu sudah lapar !" Ucap Ibu yang langsung mengambil piring tanpa tahu malu.
Tak memperdulikan sikap Sarah, sang Ibu makan begitu lahap.
"Pak, ayo makan dulu biar nanti langsung minum obat terus istirahat." Perintah Sarah
"Iya nak." Ucap Bapak langsung duduk di meja makan.
"Biar Sarah yang ambilkan ya Pak dan ini minum nya." Ucap Sarah lembut
"Makasih ya nak, kamu juga makan lah !" Perintah Bapak
"Iya Pak." Ucap Sarah sekalian mengambil nasi ke piringnya.
"Untuk Ray uda ku simpan di dalam lemari ya Bu." Ucap Sarah tanpa melihat Ibunya
"Ya!" Ketus Ibu