Saat masuk kedalam rumah Ashraf, Sarah tentunya terpanah dengan isi perabotan rumah itu, terlihat jelas barang-barang mahal.
"Gila sih ini, mewah banget, barang nya juga uda pasti mahal-mahal." Ucap Sarah dalam hati penuh kekaguman.
Lagi-lagi Sarah merasa kecil dan merasa gak pantas berada dikeluarga ini.
"Sarah!" Ucap Bu Lala, Mama Ashraf.
"Eh ii-iya Bu." Ucap Sarah terbata.
"Kamu mikirin apa sayang ?" Tanya Mama Ashraf.
Sarah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum.
"Rumahnya cantik dan nyaman!" Ucap Sarah malu.
"Oh, kirain kamu lagi mikirin apa. Nanti kamu juga disiapin rumah sama anak Mama." Ucapnya penuh tulus.
Sarah merasa dihargai, merasa disayangi. Ibu kandung yang melahirkannya belum tentu berkata lembut padanya. Setiap hari yang ia dengar hanya repetan. Tapi disini, dia dijadikan anak.
Sarah menitikan air mata dan itu tak luput dari penglihatan Ashraf dan Mamanya.
"Kamu kenapa sedih ?" Tanya Ashraf.
"Disini saya merasa disayangi seperti anak, sangat berbeda kalau dirumah, saya seperti musuh dan sangat dibenci hanya Bapak yang buat saya masih bertahan dirumah itu." Lirih Sarah.
Bu Lala langsung bangkit mendekat kesamping Sarah lalu memeluknya penuh kasih dan sayang.
"Jangan bersedih, kita doain aja semoga Ibu kamu dibukakan pintu hatinya dan diberikan hidayah. Mama kan juga Mama kamu, kasih sayang Mama akan sama untuk kamu ataupun Ashraf, tidak ada bedanya. Kalian dua-dua anak Mama." Ucap Mama tulus sambil memeluk Sarah yang masih terisak.
"Makasih banyak Bu mau menerima saya dengan tulus!" Ucap Sarah.
"Kok masih panggil Ibu sih !" Protes Mama dengan mulut mengerucut.
"Tuh kan Mama ngambek, hayo !" Ashraf meledek Sarah.
"I-iya Mm-mama!" Ucap Sarah masih gugup.
"Nah gitu kan enak Mama dengarnya." Ucap Mama tersenyum dan menggenggam tangan Sarah.
"Bilang pada Bapakmu hari sabtu Mama dan Ashraf akan datang ya sayang!" Ucap Mama.
"Dan kau tak perlu repot-repot untuk menyiapkan sesuatu, nanti orang suruhan Mama akan menyiapkannya." Ucapnya lagi.
"Tapii Ma.." ucap Sarah terhenti.
"Sssttttt kau gak perlu capek-capek nak." Kata Lala, Mama Ashraf.
"Denger aja deh apa kata Mama, ntar ngambek lagi tuh!" Ucap Ashraf tanpa melihat lawan bicaranya karena lagi asik dengan benda pintarnya.
Mama mengambil bantal sofa lalu melemparnya kearah Ashraf.
Bruukkk..
"Aduh Ma apa-apain sih main lempar aja!" Kesalnya.
"Kamu tuh kebiasaan, kalau lagi bicara liat lawan bicaranya jangan asik dengan Hp-mu !" Mama juga kesal.
Ashraf hanya bisa nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang putih dan rapih.
Sarah terheran-heran melihat tingkah bos dan juga Mamanya. Kalau dikantor dia terlihat tegas dan dingin, tapi ketika dirumah dia masih terlihat seperti anak kecil.
"Beginilah kami nak kalau dirumah Ashraf itu masih seperti anak kecil dan masih suka manja juga, apalagi kalau makan kadang masih suka minta disuapin. Maklum lah dia anak Mama satu-satunya." Jelas Mama.
"Iya Ma, meski pun masih manja tapi masih terarah dan gak salah jalan. Gak seperti adik Sarah terlalu dimanja terakhir gak ngerti apa-apa." Ucap Sarah menunduk.
Mama dan Ashraf saling pandang, mereka gak mau liat Sarah sedih lagi.
"Ehmm Sarah, kamu makan malam dirumah sini ya, gak usah pulang dulu disini aja nanti sampai malam kita makan malam bersama, tadi Mama uda nyuruh Mbok untuk masak banyak." Kata Mama dan mengalihkan kesedihan Sarah.
"Kalian gak balik ke kantor lagi kan ?" Tanya Mama.
"Gak kok Ma." Ashraf yang menjawab.
"Tapi Ma, saya gak bawak baju ganti." Ucapnya.
"Gak usah dipikirin, bentar lagi orang dari Mama akan antar kesini bajumu." Ujar Mama.
Dan benar saja tak berapa lama seorang asisten Bu Lala datang membawakan beberapa paperbag yang berisi baju-baju untuk Sarah.
"Bu, ini pesanan baju yang Ibu minta!" Ucap seorang asistennya.
"Iya, kamu letak aja dimeja, makasih banyak ya!" Ucap Bu Lala.
"Sama-sama Bu, kalau gitu saya permisi dulu." Ucapnya pamit.
"Iya silahkan." Ujarnya.
"Nah itu baju kamu nak, kamu istirahat aja dulu di kamar tamu." Kata Mama.
"Iya ma, makasih banyak ya Ma." Ucapnya penuh haru.
"Kemana ini anak kok belum pulang uda jam segini!" Ucap Ibu.
"Ibu itu kenapa sih, bisa diam gak, duduk gitu!" Kesel Ray melihat Ibunya jalan kesana-kemari.
"Mbak mu belum pulang uda jam segini, apa dia lembur ya." Pikir Ibu.
"Ya bisa jadi gitu Bu, uda lah nanti kan dia pulang sendiri Bu. Lagian tumben Ibu nyarikin Mbak Sarah, biasanya cuek aja." Tanya Ray.
Ibu mendengus. "Ada sesuatu yang harus Ibu bicarakan!" Ucap Ibu.
"Tentang jodoh yg Ibu pilihkan?" Tebak Ray.
"Iya, Mbak mu harus mau nikah dengan Al, biar uang kita terus mengalir, kalau mengharapkan dari gajinya pasti nanti kita dikasih separoh lagi." Pikir Ibu licik.
"Biar kamu tau ya, si Al uda bilang ke Ibu kalau dia jadi menikah dengan Sarah kita akan dikasih uang 1 milyar. Jadi ini kesempatan buat kita dan uang akan terus mengalir untuk kita, kan lumayan." Ucap Ibu lagi.
"Apa Ibu gak keterlaluan seperti itu ?" Tanya sang putra kesayangan, Ray.
"Tidak lah, Ibu kan menikahi putri Ibu jadi ya seharusnya dikasih mahar yang besar." Ucap Ibu percaya diri.
"Kenapa Ibu benci kali liat Mbak Sarah ? Dia kan selalu baik pada Ibu dan berbakti." Tanya Ray penasaran.
Ibu memilih duduk dan berbicara pada anak kesayangannya.
"Kau tau sebenarnya Sarah bukan anak kandung dari Bapak mu ini, dia anak dari pacar Ibu. Saat Ibu ketahuan hamil ternyata pacar Ibu lari dari tanggung jawab dan Ibu terus kepikiran gimana caranya agar orang tidak tau dan ternyata saat pacar Ibu melarikan diri Ibu mendapat kabar tidak mengenakkan. Dan juga memang sudah naas nya atau juga bisa dibilang karma untuknya, dia kecelakaan lalu meninggal ditempat. Disitu Ibu makin kepikiran dan Ibu benci pada anak ini karena dia hadir dia buat susah aja pada akhirnya Ibu jumpa dengan Bapakmu, dia hidup sebatang kara karena sudah tak memiliki orangtua. Saat itu Bapakmu memang tidak tau kalau Ibu sudah hamil." Cerita Ibu.
Ternyata cerita Ibu tak sengaja didengar oleh Bapak.
"Jadi selama ini kau sudah berbohong Bu ? Betul-betul kejam kau jadi manusia." Ucap Bapak tiba-tiba nongol depan pintu.
"Sejak kapan Bapak disitu ?" Tanya Ibu panik.
Ray juga terlihat panik tapi dia memilih pergi meninggalkan orangtuanya itu.
"Bukan urusanmu!" Bentak Bapak.
"Apasih lebay kali." Ucap Ibu mencoba santai.
"Bertahun-tahun kau bohong, dan kau juga jahat pada anakmu sendiri! Dimana hatimu Bu, uangnya kau mau tapi kau tak tulus jadi seorang Ibu." Ucap Bapak marah, pergi meninggalkan kamar dalam keadaan kecewa dan sudah merasa ditipui.
"Kau anak yang baik Sarah, kau anak manis dan sangat pintar, kau selalu berbakti pada Ibu dan Bapak terutama Bapak yang jelas bukan Bapak kandungmu tapi kau selalu memikirkan kesehatan Bapak, maafkan Bapak yang bodoh ini dan selalu menyusahkanmu!" Ucap Bapak terisak dengan derasnya air mata.
Menerima kenyataan pahit yang sudah puluhan tahun ditipui oleh istri sendiri.