"Pak?" Panggil Sarah.
"Hmm ya?" Jawab Ashraf yang tak melihat kearah Sarah dan malah lebih fokus ke ponsel yang ia pegang.
"Anu.. saya uda memantapkan hati untuk menerima lamaran Bapak." Ucap Sarah tertunduk sambil memilin ujung bajunya.
Seketika Ashraf berhenti memainkan ponselnya dan mencerna kata-kata yang barusan keluar dari mulut sekretarisnya itu.
"Bukankah kamu tadi bilang..." Ucap Ashraf terhenti.
"Saya belum ada bilang kalau saya menolak, tapi Bapak langsung memotong omongan saya. Jadi, saya pun ingin mengerjain Bapak, maafkan saya Pak sudah lancang dan tidak sopan!" Lirihnya dengan kepala tertunduk.
"Jadi kamu menerima saya?" Tanya Ashraf sekali lagi.
Sarah pun memberanikan diri, menegakkan kepalanya dan menatap pria dihadapannya dan berkata "Iya saya menerima lamaran Bapak." Ucap Sarah tersipu malu.
"Saya tidak salah dengarkan ?" Tanyanya.
"Apa kamu ada niat mengerjain saya lagi?" Tanyanya dengan kepastian.
"Kok sepertinya aku yang dikerjain balik ya ? Ngeselin banget sih!" Gerutunya dalam hati.
"Eng..enggak Pak, Bapak gak salah dengar." Ucapnya menunduk.
Senyum terukir dari bibir Ashraf, menambah pesona ketampanannya.
"Hari ini kita gak usah balek ke kantor, habis dari sini kita kerumah Mama ya!" Ucapnya yang terus mengembangkan senyuman.
"Tapi Pak mau ngapain ya ?" Tanyanya heran.
"Kabar ini harus segera sampai kepada Mama, karena Mama juga selalu menunggu jawaban kamu yang terus dinantinya." Jelas Ashraf.
Sarah hanya mengangguk sebagai bentuk jawabannya.
Makan pun telah selesai, saat mereka keluar dari restoran itu lagi dan lagi mereka jumpa dengan cowok sok keren siapa lagi kalau bukan Al.
"Hai sayang, kita selalu berjumpa dimana pun itu tandanya kita berjodoh dan kau tidak bisa hindari itu lagi. Kita sudah ditakdirkan." Ucapnya dengan santai.
Ashraf dan Sarah terus berjalan, mereka menganggap manusia itu tidak ada dan hanya sebagai angin.
"Apa kau tak mendengarkan ku ?" Tanya Al sambil memegang tangan Sarah.
Dengan cepat Sarah menapisnya.
"Jangan sentuh aku!" Suara Sarah penuh emosi.
Membuat Ashraf terkejut karena baru kali ini melihat Sarah dengan sorot mata yang penuh amarah serta kebencian. Begitu juga dengan Al. Yang ia tau Sarah sesosok wanita yang lembut tak disangka ternyata wanita itu ada sisi menakutkannya.
Dan dengan cepat juga Al menguasai diri dari rasa keterkejutannya melihat Sarah.
"Aku menyentuhmu karena kau adalah calon istriku sayang, wajarkan ?" Tanyanya dengan nada dibuat lembut.
Ashraf memberanikan diri memegang tangan Sarah.
"Ayo sayang, gak usah dengarkan omongan manusia tak tau malu ini, Mama sudah menunggu kita dirumah!" Ucap Ashraf dengan tenang.
"Kau sebut dia sayang ? Dan kau berani pegang tangannya ? Kau hanya sebagai bosnya jangan berani kau menyentuhnya ?" Ucap Al dengan lantang.
"Kau gak usah pura-pura bodoh, orang yang bisa menyebut sayang dan berani memegang tangannya, kau pasti tau ada hubungan apa kami. Jadi kau tak bisa lagi mengganggu calonku!" Ashraf dan Sarah segera beranjak pergi.
Dan lagi Al masih syok mendengar kabar buruk itu.
"Dasar pria gilak !" Umpat Sarah.
Sarah menyadari bahwa tangan mereka masih berpegangan.
"Eh ehmm ma..maaf Rah !" Ucap Ashraf lirih melihat tatapan dari Sarah lalu melepaskannya.
Sarah hanya tersenyum merasa lucu melihat mukak bosnya yang biasanya dingin dan penuh ketegasan tapi kali ini terlihat seperti orang bodoh.
"Kenapa kamu tersenyum ?" Ucapnya jengkel.
"Terlihat lucu!" Kata Sarah santai.
Ashraf cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Ternyata kamu seasyik ini ya!" Ujarnya dalam hati.
Kini mereka berada didalam mobil dan dalam perjalanan menuju rumah Mama Ashraf.
"Nanti tolong singgahkan ke toko kue sebentar ya Pak." Ucap Sarah.
"Iya." Jawab Ashraf.
Tak berapa lama mereka pun tiba di toko kue. Sarah membeli beberapa kue untuk dibawakan kerumah Mama nya Ashraf.
"Uda selesai? Sini biar saya yang bayar!" Tanya Ashraf.
"Gak usah Pak, biar saya aja kan saya yang mau belikkan, kalau Bapak yang bayar bukan saya dong yang bawakkan oleh-oleh ini." Tolak Sarah.
"Saya tak suka penolakan!" Ucap Ashraf
"Saya juga kali ini tak setuju dengan Bapak, saya dibawa kerumah Bapak terus yang bawak oleh-oleh ini yang bayar dari Bapak. Gimana sih." Gerutunya.
"Saya gak akan bilang sama Mama kalau ini dari saya!" Ujarnya
"Ya gak bisa gitu dong uda jelas Bapak yang bayar." Ucapnya kesal.
"Maaf ya Mbak, bayar nya pakai kartu saya ini aja ya Mbak!" Ucap Sarah lagi.
Kasir toko kue itu tersenyum. "Gak apa-apa Mbak kalian terlihat cocok dan serasi semoga berjodoh ya Mas, Mbak!" Ucap doa tulus dari sang kasir.
"Aminnn makasih banyak untuk doanya ya Mbak." Suara Ashraf terdengar lebih semangat dan tak lupa juga menyelipkan sedikit uang tip untuk Mbak kasirnya.
"Duh Pak makasih banyak tapi ini terlalu banyak untuk saya." Ucap sungkan Mbak kasir.
"Itu rezeki Mbak, terima aja semoga berkah untuk Mbak dan keluarga ya!" Ujar Sarah.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Mbak dan Masnya."
"Sama-sama." Ucap Sarah dan Ashraf barengan.
Setelah belanja beberapa kue untuk dijadikan buah tangan Sarah kini mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Ashraf.
Dan tak lama juga mereka telah sampai di halaman luas dan megah. Dan ini juga pertama kalinya Sarah datang kerumah bosnya tentu dengan status yang berbeda. Bukan sebagai karyawan tapi sebagai calon menantu dirumah itu.
Sarah tertegun sesaat melihat betapa megahnya bangunan yang ia lihat dengan matanya sendiri. Tentu membuat Sarah merasa kecil.
"Apa aku pantas bersanding dengannya!" Ucap Sarah lirih.
Ashraf melirik ke arah Sarah yang masih diam mematung dan memberanikan diri menggenggam tangan Sarah untuk menghilangkan rasa keraguan yang ada pada dirinya.
"Gak usah berpikir yang aneh-aneh, Mama dan keluarga besar dari Mama dan Papa tak pernah memandang apapun, gak usah merasa kecil, aku tau kamu pasti berpikir seperti itu kan ? Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya, nanti kamu juga akan rasakan gimana baiknya mereka." Ucap Ashraf seolah-olah tau apa yang ada dalam pikiran Sarah.
"Ayo kita masuk, Mama pasti uda nungguin kamu. Dan untuk hari ini yang ada cuma Mama dan kita, tidak ada keluarga besar." Ucap Ashraf lagi dan sedikit membuat Sarah tenang.
Sarah pun mengangguk, mencoba menenangkan hati yang masih gelisah.
Ternyata sang Mama sudah menunggu didepan pintu. Sambutan yang hangat membuat Sarah merasa disayangi.
"Kenapa lama sekali sampainya? Mama sudah nungguin dari tadi loh." Ucap Lala, Mama Ashraf.
"Tadi saya singgah sebentar ke toko kue. Ini untuk Ibu semoga Ibu suka!" Ucap Sarah sopan.
"Gak perlu repot-repot nak, Mama juga sudah masak banyak. Tapi ini tetap Mama terima ya, terimakasih banyak!" Ucapnya sambil menggandeng tangan Sarah untuk masuk kedalam rumah.