Ingatan yang Terjebak di Masa Lalu

2067 Words
Cacing mengakhiri cerita masa lalu sahabat baiknya itu setelah Candies memberitahukan bahwa Mikail menanyakan perihal dirinya. Zoya yang masih penasaran dengan kisah lalu kekasihnya itu meminta kepada pemuda berbadan kekar itu untuk melanjutkannya nanti. Cacing mengangguk setuju dan berjanji akan segera melakukannya setelah bertemu dengan Mikail di ruangan. Zoya mengikuti langkah sahabat baik kekasihnya itu masuk ke dalam ruangan di mana Mikail dirawat. Kepedihan mulai merambatinya perlahan saat kakinya langkah demi langkah kian mendekat, saat berada di depan Mikail dia tidak bisa untuk tidak terluka karena sosok yang dicintainya itu hanya mengenalnya sebagi orang lain. Hanya sebagai juniornya di Pencinta Alam saja bukan orang yang sudah berikat janji dengannya. Mikail tersenyum saat melihat kehadiran sahabat baiknya di ruang rawat, sesaat lengkungan bibirnya sirna berganti dengan seringai kesakitan. Rasa tidak nyaman itu berasal dari akibat benturan di kepala pemuda itu yang sekarang terbebat perban. “How’s life, Men!” kata Cacing menyapa. Wajah pemuda berbadan kekar itu terlihat cemas karena sahabat baiknya terkulai di atas tempat tidur rumah sakit. “Enggak terlalu baik, Bro, Gua jadi mumi di bagian kepala,” kata Mikail sambil berusaha menyematkan sebuah senyum di wajahnya. “Apa yang dirasakan, Bang?” kata Candies yang sejak tadi menemani Mikail namun belum bercakap banyak.  “Badan rasanya sakit semua, Dies,” kata Mikail sambil menggeserkan bantalnya, dia ingin duduk bersandar di tembok. Zoya yang berada di samping pemuda itu membantu. “Thanks, Zoy.” ujar Mikail seraya melihat sekilas perempuan di sampingnya. Zoya mengangguk pelan dengan senyum dipaksakan. Hati gadis bermata biru itu terasa dihujam oleh belati, sudah lama sekali kekasihnya tidak menggunakan namanya saat memanggil. Mikail biasa memanggilnya Ay, kependekan dari Ayang. “Gimana kepala lo, Men?” tanya Cacing dengan wajah cemas, matanya menatap lekat ke kepala berbungkus sahabat baiknya. “Lumayan lah, kadang memang masih suka sakit, Bro. Betewe, gimana kabar Senja? Dia dirawat di rumah sakit ini juga 'kan?” Cacing berpandangan dengan Candies mendengar pertanyaaan Mikail itu, mereka berusaha mengerti arah pembicaraan Mikail. Sepasang sejoli itu memandang Zoya dengan sebuah tanda tanya besar tersemat di wajah mereka masing-masing. “Dia baik-baik saja, 'kan?” Mikail bertanya lagi kepada Cacing dan Candies karena pertanyaannya tidak segera mendapat jawaban. “Dia selamat, Bang. Kak Senja baik-baik saja,” kata Zoya, gadis itu berusaha mengalihkan pandangan mata Mikail dari Cacing yang terlihat bingung karena tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkannya. “Alhamdulillah,” ujar Mikail dengan sebuah senyum bahagia tersemat di wajahnya. “Sekarang dia dirawat di ruang mana, Zoy?” “Hmm, Kak Senja sehat walafiat, Bang. Enggak mengapa-mengapa malah. Tadi dia izin pulang dulu, katanya ada yang mau diurus dulu,” kata Zoya berusaha merangkai cerita sebisanya. Semoga kebohongannya tidak terdeteksi Mikail. “Pulang?” Mikail mengernyitkan dahinya. “Kok dia enggak menemui gue dulu kalau mau, Zoy?” “Tadi Kak Senja sudah ke sini, Bang. Cuma tadi Abang belum sadar.” ujar Zoya masih melanjutkan cerita rekaannya. Mikail terdiam mendengar penjelasan gadis bermata biru di hadapannya, lalu membuang pandangan matanya jauh melewati jendela ruang rawat. Dia menghela napas panjang, ada gurat kecewa tersirat di matanya. Cacing memandang Zoya penuh tanya, apa yang dilakukannya diikuti oleh kekasihnya, Candies. Tatapan keduanya meminta segera penjelasan atas apa yang sedang terjadi, gadis bermata biru itu menjawabnya dengan pandangan juga. Zoya mengatakan lewat matanya bahwa dia sudah mengatakan apa yang harus dijelaskannya. “Gue enggak ingat mengapa tiba-tiba  bisa berada di rumah sakit ini, terakhir yang gue ingat adalah gue habis dikeroyok anak buah si Dicka. Gue berhasil memukul dan menendang mereka satu persatu jatuh ke lantai ruko,” ujar Mikail seraya meraba kepalanya yang mulai terasa sakit lagi. “Kayaknya gue dipukul dari belakang deh.” Cacing baru mengerti kejadian yang diceritakan Mikail, itu sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu, saat dia berusaha menyelamatkan Senja dari Si Dicka. Tapi ini adalah cerita lalu, mengapa justru Mikail mengingat cerita ini lagi? Dia teringat apa yang dikatakan Zoya tadi, ingatan Mikail terjebak di masa lalu. Apakah hal ini yang dimaksudkannya? “Senja baik-baik aja 'kan, Bro?” ujar Mikail sambil mengusap-usap bagian belakang lehernya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Zoya sebenarnya ingin menggantikan tangan Mikail mengusap bagian belakang leher kekasihnya itu, tetapi dalam kondisi hilang dalam ingatannya akan menjadi hal yang tidak menyenangkan. “Senja baik-baik saja. Dia aman, Men. Yang penting lo sembuh aja dulu.” Cacing mulai mengerti situasi sebenarnya, dia mulai berakting seperti Zoya “Gue bisa minta tolong lo ajak dia kesini besok, Bro?” kata Mikail dengan tatapan penuh harap kepada sahabat baiknya itu. “Okey, nanti gue usahakan,” jawab Cacing dengan nada suara mengambang, antara iya dan tidak. Percakapan mereka terhenti saat seorang suster masuk bersama dengan Dokter laki-laki berwajah oriental. “Dok?” sapa Cacing, Dokter itu mengangguk sopan ke arah pemuda berbadan kekar itu. “Sepertinya kita pernah bertemu?” ujar dokter itu. Laki-laki berjas putih itu menatap pemuda di depannya, namun apa yang ada dalam ingatannya masih blur. Tak ada nama yang hadir di benaknya untuk dijadikan petunjuk siapa yang baru saja menyapanya. Cacing mengulurkan tangan untuk menjabat dokter itu. “Iya, kita pernah bertemu , Dok. Anda Dokter Michael, 'kan? Saya Cacing temannya Mikail, jagoan yang sedang terkapar di atas tempat tidur itu,” kata Cacing memperkenalkan dirinya sambil melirik sosok yang sedang bersandar di tembok di atas tempat tidur itu. “Iya, iya, Cacing, saya ingat sekarang. Badan besar kekar tapi nama panggilannya malah sebaliknya,” kata Dokter Michael sambil tersenyum kecil. “Ini Mikail yang dulu pernah dibawa ke sini 'kan, Mas Cacing?” “Iya, Dok,” jawab pemuda berbadan kekar itu pendek. Dokter Michael mengangguk angguk mendengar jawaban Cacing. “Bagaimana Mas, kepalanya masih terasa nyeri?” “Masih, Dok,” jawab Mikail sambil mengusap-usap perban di kepalanya. “Yang sabar ya, Mas. Memang sedikit memerlukan waktu. Perlahan pasti akan hilang nyerinya,” kata Dokter berwajah oriental itu dengan tersenyum ramah.  “By the way, sudah ingat dengan kejadiannya seperti apa, Mas?” “Kejadiannya, Dok? Maksudnya bagaimana awal mula kejadian yang saya alami hingga seperti ini?” tanya Mikail yahg dijawab dengan anggukan kepala Dokter  bermata sipit itu. “Jadi begini, Dok. Awalnya saya ingin membebaskan pacar saya dari penculikan, Senja namanya. Ternyata itu adalah jebakan Betmen-nya si Dicka. Pacar saya enggak ada di sana, malah di sana sudah menunggu puluhan tukang pukul si b*****h itu.” Mikail mulai bercerita, ada sebuah senyum kecil terselip di ujung bibir pemuda itu mengiringi kisahnya. “Mereka berhasil saya jatuhkan satu persatu, hingga akhirnya salah seorang dari mereka bermain curang dengan menebarkan pasir ke mata. Pertahanan saya hilang beberapa detik. Sepertinya ada pukulan di betis kanan dan kiri yang mampir, entahlah di bagian itu agak kurang jelas, Dok. Selanjutnya enggak mengingat apa-apa.” Dokter ber,mata sipit itu mengangguk-angguk pelan mendengar cerita yang dipaparkan oleh Mikail itu. Walaupun itu sebenarnya belum sampai ke inti dari jawaban yang diinginkan olehnya. Cacing menatap Mikail, dia tidak percaya dengan cerita yang dipaparkannya barusan. Pemuda itu mengalihkan matanya ke Candies dan Zoya. Ternyata benar apa yang dibenaknya tadi tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya ini. “Mas Mikail sudah tak sadarkan diri selama tiga hari, jadi kejadiannya tepatnya kapan, Mas?" Dokter itu memberikan pertanyaan lagi, dia ingin memastikan lebih jauh apa yang terjadi dengan pasiennya itu. “Enggak sadarkan diri tiga hari ya, Dok? Lumayan lama,” sebuah senyum menyembul di wajah Mikail. “Jika saya tak sadar selama tiga hari berarti sekarang adalah tanggal 24 April, soalnya saya ingat sekali kejadian itu adalah Hari Kartini, 21 April.” “Hari Kartini ya, Mas? Tahun berapa tepatnya?” “Dua ribu sepuluh 'kan, Dok? Masa dokter enggak tahu tahun berapa?” Mikail tersenyum tipis karena Dokter di depannya menanyakan sebuah hal sederhana yang tidak mungkin sekali dia tidak mengetahuinya. “Baik, kami catat yang Mas ceritakan tadi. Besok ada jadwal scanning MRI ya, Mas.” “Oke, Dok,” kata Mikail dengan dilengkapi kalimatnya dengan acungan jempol. Dokter Michael dan suster berpamitan kepada pemuda yang sedang bersandar ke tembol itu sambil mengusap tengkuknya. Dia menganggukkan kepala mengiyakan. “Saya ingin bicara dengan keluarganya Mas Mikail, siapa di antara kalian yang masih keluarga?” ujar Dokter Michael sebelum beranjak keluar ruangan. “Kami keluarganya Mikail, Dok,” ujar Cacing sambil menoleh ke Zoya yang  mengiyakan dengan anggukan. Cacing sebenarnya tidak tahu siapa keluarga Mikail, sejak dia mengenal sahabatnya itu tidak pernah sekalipun Mikail bercerita perihal keluarganya siapa dan di mana. “Baik, Mas Cacing. Saya akan jelaskan kondisi Mas Mikail sekarang. Seperti yang sudah saya sempat sampaikan ke Mbak Zoya tadi, Mas Mikail kemungkinan terkena Amnesia Retrograde. Percakapan tadi dengannya semakin menguatkan diagnosa saya, kita lihat hasil scanning-nya besok untuk lebih memastikan.” “Amnesia retrograde itu apa, Dok?” ujar Cacing. Walaupun dia sempat mendengar penjelasannya tadi dari kekasihnya, akan lebih meyakinkan sekali jika penjelasannya diucapkan oleh orang yang berkompeten di bidangnya. “Istilah ini memang kurang populer di masyarakat, Mas. Biasanya hanya disebutkan Amnesia saja. Amnesia retrograde merupakan salah satu bentuk amnesia yang penderitanya tidak mampu mentransfer memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang sehingga dia cepat lupa, pada beberapa penderita lupa menu sarapan paginya, lupa tahun berapa saat ini, lupa yang telah dia lakukan kemarin, dan lainnya.” “Penderita hanya mampu mengingat kejadian-kejadian sebelum mengalami hal yang menyebabkan Amnesia retrograde, misalnya kecelakaan. Hal ini dapat dianalogikan sebagai seseorang yang sinyal ponselnya hilang di tengah pembicaraan. Dia hanya akan mengingat pembicaraan sebelum sinyal hilang dan lupa akan hal-hal yang telah akan dibicarakan setelahnya. Dalam kasus Amnesia ini, penderita tetap akan lupa meskipun hal tersebut dilakukan berulang-ulang setelah kecelakaan.” Cacing dan Zoya berusaha memahami apa yang diucapkan dokter di hadapannya. Sungguh sesuatu yang baru untuk mereka apa yang diucapkan oleh Dokter itu. “Amnesia ini dialami seseorang karena terjadi luka akibat benturan keras, salah satunya pada daerah Medial temporal lobe atau Diencephalon. MTL terdiri dari Amygdala dan Hippocampol yang merupakan dua dari keempat daerah penyimpanan pertama memori dalam otak. Inilah yang menyebabkan ketidakmampuan mentransfer memori jangka pendek ke memori jangka panjang,” lanjut Dokter Michael. Cacing memandang Zoya sesaat. Pemuda berbadan kekar itu tidak mengerti istilah-istilah yang disebutkan oleh Dokter tadi, nampaknya Zoya juga sepertinya mengalami hal yang sama. “Jadi apa yang harus kami lakukan untuk mengembalikan ingatan Mikail, Dok?” kata Cacing, dia berusaha move on dengan ketidak mengertiannya. Pemuda itu berusaha mencari solusinya dari soosk berjas putih yang ada di hadapannya. “Penderita memang sangat tergantung pada keluarga atau orang terdekatnya, sejak sadar Mas Mikail sering menyebut nama Pelangi Senja. Sebaiknya orang dengan nama itu segera dibawa untuk menemuinya, karena mungkin saja dia salah satu jembatan atau malah satu-satunya jalan untuk mengembalikan ingatan Mas Mikail,” jelas Dokter Michael. “Apakah mungkin ingatan itu bisa hilang selamanya, Dok?” Zoya bertanya dengan digelayuti rasa khawatir. “Bisa saja hal itu terjadi, Mbak Zoya. Hal itulah yang saya khawatirkan, Mas Mikail terkena Total memory loss, ingatannya hilang untuk selamanya.” “Jadi ingatan Bang Mikail enggak pernah kembali, Dok?” tanya Zoya dengan mengharapkan jawaban yang tidak membuat hatinya berdebar was-was. “Jika terjadi Total memory loss, Mas Mikail akan memulai mengingat lagi hal-hal baru dalam hidupnya, ingatannya yang lama hilang tak berbekas.” Zoya menelan ludah mendengar apa yang diucapkan sosok berjas putih itu. Jika itu terjadi berarti Mikail tidak pernah mengingatnya lagi sebagai orang yang pernah istimewa dalam hidupnya. “Hal apa yang harus kami segerakan, Dok?” kata Cacing dengan dilengkapi nada khawatir. “Segera pertemukan Pelangi Senja ini dengan Mas Mikail sesegera mungkin, Mas Cacing.” “Baik, Dok,” kata pemuda berbadan kekar itu seraya mengangguk lemah. Terlihat ada sorot mata bimbang di mata Cacing dan gadis bermata biru di sampingnya sempat melihatnya. “Kalau begitu saya pamit, Mas Cacing. Ingat besok ada jadwal scan MRI.” “Iya, Dok. Terima kasih atas bantuannya.” Dokter bermata sipit itu mengangguk lalu beranjak meninggalkan mereka setelah menyempatkan menepuk bahu pemuda berbadan kekar itu. “Bagaimana ini, Kak? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Zoya setelah tidak terlihat lagi punggung dokter itu dari matanya. “Seperti kata Dokter Michael tadi, temukan segera Pelangi Senja.” “Kakak kenal dia?” tanya Zoya sambil merambati wajah sahabat kekasihnya itu dengan matanya. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Cacing, dia mengayunkan langkahnya menuju ruang rawat Mikail. Zoya mengikuti langkahnya sambil menebak-nebak mengapa sahabat baik kekasihnya itu tidak menjawab? Sebenarnya dia kenal atau tidak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD