Long Distance Relationship

2210 Words
Siswa berhamburan keluar kelas hampir bersamaan, setelah hampir semenit lalu bel bersuara lantang memberikan kabar gembira bagi siswa-siswi yang sudah jemu di kelas. Sebelumnya mereka menyempatkan diri untuk mencium tangan guru saat baru keluar kelas, sebuah karakter yang ditanamkan di sekolah untuk senantiasa menghormati gurunya. Beberapa dari mereka langsung menuju ke parkiran motor untuk segera pulang atau nongkrong di luar, tetapi ada juga yang bergerombol di sekitar kelas menunggu temannya yang lain. Mikail duduk di tangga masjid yang posisinya lebih tinggi dari pada bangunan sekolah, matanya sibuk membaca kata per kata di buku ‘dosa penulis pemula’ di genggamannya. Buku itu adalah karya Mas Isa Alamsyah, suaminya Mbak Asma Nadia penulis favoritnya. Sesekali matanya beralih ke siswi yang melintas tak jauh darinya. Beberapa kali siswa bertopi hitam itu mendengkus kecewa karena yang ditunggunya tak kunjung tiba. “Kak.” Terdengar suara familiar yang ditunggunya sejak tadi, Mikail mengangkat kepalanya. Dia mengalihkan matanya yang menempel di buku. “Hai, finally.” “So Sorry. Lama ya nunggunya, Kak? Tadi aku bertemu dengan Bu Dewi dulu di kantor.” “Ada apa? Kamu terlibat masalah? Tawuran? Bolos?” “Apa’an sih, Kak? Telat saja aku enggak pernah apalagi bolos, apalagi tawuran. Aku membawakan tugas teman-teman ke meja Bu Dewi, niat mau langsung pergi diajak ngobrol dulu. Jadi agak lamaa deh.” “Oh, begitu,” kata Mikail dengan senyum kecilnya. “Betewe, kamu sudah sholat?” “Sudah dong, Kak. Tadi pas banget sehabis adzan aku izin keluar kelas untuk sholat.” “Diberi izin enggak? Bukannya itu tanggung banget keluar jam pelajaran ya?” “Tadinya sih enggak diberi izin, Kak, Biasa deh, debat kecil dulu sama Bu Dewi. Masa orang mau ibadah dihalang-halangi,” terlihat ada sebuah senyum kecil di wajah gadis berambut sebahu itu. “Kakak sudah sholat?” “Kakak sedang enggak sholat,” jawab Mikail santai sambil membuka lembaran buku selanjutnya. “Aih, Kakak lagi PMS, ya? Cowok kok sedang enggak sholat? Ada-ada saja Kakak ini.” “Iya, memang salah kalau aku sedang enggak sholat?” Mikail menatap wajah siswi yang duduk di sampingnya dengan wajah serius. “Salah banget dong, Kak. Memangnya Kakak sedang ada udzur? Kakak sedang haid?” “Enggak dong. Masa cowok haid? Aneh kamu ni.” Sebuah senyum terlihat di wajah pemuda itu. “Nah, alasan apa yang membuat Kakak sedang enggak sholat? Sholat itu wajib, Kak. dikerjakan mendapat pahala ditinggalkan dapat dosa.” “Yeah, I know that. Tapi aku memang sedang enggak sholat ini, aku sedang duduk membaca buku sambil menunggu kamu keluar dari kelas. Ini namanya sedang enggak sholat 'kan? Masa sedang sholat membaca buku, ajaran sesat siapa itu?” “Ya, Allah.” Gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan. Senja mengangguk-angguk setelah menyadari dirinya terkena prank, Kakak kelasnya ini memang sedang tidak sholat, sebab yang dilakukannya sekarang adalah duduk membaca buku, bukan sholat. “Mengerti kan maksudku?” tanya Mikail yang dijawab sebuah helaan napas gadis berambut sebahu di sampingnya.  “okey, I got it, maksudnya Kakak sedang enggak sholat, sedang duduk di sini sambil membaca novel.” Mikail tersenyum melihat Senja menggeleng-gelengkan kepalanya, baru menyadari arti dari kalimatnya tersebut. “Menyebalkan sekali,” kata Senja tersungut. “Maaf, becanda saja. Jangan dianggap serius.” “Becanda Kakak menyebalkan.” “Iya, Maaf ya Pelangi Senja binti Abdul Rahman,” kata Mikail sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas membentuk huruf ‘v’. “Kalau boleh aku ingin mendengar lanjutan kalimat kamu yang tadi. Sudah enggak sabar rasanya.” “Okey, boleh. Mau dilanjutkan di mana, Kak?” “Bagaimana jika di sini aja?” kata Mikail yang dijawab dengan anggukan setuju gadis itu. Senja menggeserkan duduknya sedikit mendekat ke Mikail, jarak mereka terpisahkan oleh buku yang tadi di baca oleh pemuda itu dan diletakkan di lantai tangga masjid. “Tapi Kakak harus menepati janji yang tadi aku bilang di warung Emak.” “Okey, aku janji.” Senja menatap sosok di sampingnya lalu terdiam beberapa saat. Gadis itu sepertinya merangkai kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Mikail seminggu lalu, melanjutkan cerita yang sempat terpotong tadi saat istirahat. “Sampai mana tadi, Kak?” kata Senja sambil menggaruk-garuk pelipisnya dengan telunjuk. Mikail menghela napas dalam. “Seriously, I’m forget, Kak. Pertanyaan Kakak apa tadi?” “Sudikah kamu menjadi wajah dari bidadari tanpa sayap aku? Tadi sampai di sana, Mbak?” “Oh iya, aku ingat. Sudikah aku menjadi wajah dari bidadari tanpa sayap Kakak? Jawabannya adalah yes, aku mau menjadi bidadari tanpa sayap itu?” Senja menyematkan senyum setelah menggenapkan kalimat yang disambut dengan senyum lebar Mikail. “Tapi Kakak jangan senang dulu. Aku mau ada di dekat Kakak, apalagi menjadi sebagai yang Kakak istilahkan tadi. Bidadari Tanpa Sayap, indah sekali diksi itu. Actually, aku mau jadi apapun selama bisa ada di dekat Kakak terus, apapun, Kak.” “Apapun?” “Iya, apapun, Kak.” “Bagaimana jika menjadi kutil atau bulu ketek aku?” Sebuah senyum terlihat di wajah Mikail setelah mengucapkannya. “Apapun, Kak. Termasuk menjadi itu,” ujar gadis itu dengan ikut tersenyum. “Jujur aku merasakan apa yang Kakak rasakan juga, bahkan sejak berbulan-bulan lalu sejak pertama kali kita dekat dan akrab, Kakak telah membuat aku jatuh hati.” “Wow, Jatuh hati? Are you serious?” Mikail menatap wajah Senja. Benarkah apa yang baru saja sampai ke telinganya? Senja telah jatuh hati? “Justru hal ini adalah yang aku takutkan, Kak,” Senja menghela napas dalam. “Aku enggak bisa mengendalikan apa yang ada dalam d**a, tadinya aku  pikir aku enggak perlu mengatakan apa yang aku rasakan. Jika Kakak enggak menanyakan hal ini, aku pikir cukup dengan apa yang kita rasakan masing-masing aja.” “Thanks, ya.” “Enggak, Kak. Justru dengan mengatakan ini aku ingin meminta maaf. Karena akhirnya kalimat ini lah yang akan menyakiti hati kita berdua. Percakapan ini lah yang akan mengoyak persahabatan kita yang selama ini aman, tentram, damai dan bahagia sejak beberapa bulan lalu.” “Aku enggak mengerti maksud kalimat kamu, Mbak.” Mikail mengernyitkan dahi, dia merasa bingung dengan kalimat Senja. “Mengapa dia jatuh hati tapi meminta maaf? Aku senang kamu jatuh hati,” gumam Mikail dalam hatinya. “Jujur, seminggu lalu aku bahagia sekali saat Kakak menyatakan perasaan Kakak kepadaku. Hampir saja aku loncat-loncatan gembira karena akhirnya aku tak perlu lagi bertanya lagi arti kedekatan kita. Aku enggak perlu khawatir Kakak tiba-tiba dekat dengan Mak Lampir itu lagi, lalu meninggalkan aku sendiri,” Senja menghentikan kalimatnya, sebuah senyum kecil terselip di bibirnya, matanya melanglang buana jauh melewati gerbang sekolah yang hanya menyisakan Bang Mintra, sang Security Sekolah. “Sebenarnya aku enggak perlu waktu seminggu untuk menjawab pertanyaan Kakak, hari itu aku bisa langsung menjawabnya.” “Tapi mengapa kamu enggak jawab hari itu juga, Mbak? Akan lebih menyenangkan untukku jika mendengar jawaban itu.” “Aku enggak bisa menjawabnya saat itu karena ada sebuah hal yang menahanku mengatakannya,” ujar Senja sambil mendengkuskan napas. “Malam sebelumnya Papa bercerita, kita semua akan pindah ke Balikpapan karena Papa di mutasi ke sana. Kak Dimas dan aku tadinya enggak setuju, tapi Papa memaksa untuk pindah ke sana sekeluarga.” Senja menunduk saat Siswa Bertopi Hitam itu memandangnya dengan perasaan yang mulai tak menentu “Hal inilah yang menahanku seminggu lalu untuk tak segera menjawab ‘iya’, Kak. Di hari bahagia Kakak ini, aku enggak ingin menorehkan luka karena aku juga tak ingin terluka.” “Jadi kamu akan pindah sekolah?” kata Mikail seraya mengendalikan perasaannya yang kian tak menentu. “I have to, Kak.” Mikail memandang wajah Senja dalam, lamat-lamat terbayang dalam benaknya orang yang ada di hadapannya sebentar lagi akan menghilang. Senja menundukan wajahnya saat mata mereka tak sengaja beradu. “Lalu apakah Kakak menarik semua apa yang telah Kakak ucapkan seminggu lalu dan membatalkannya?” Senja merambati wajah pemuda di sampingnya dengan kedua matanya. Mikail menggelengkan kepalanya. “Pelangi Senja binti Abdul Rohman, aku senang sekali dengan jawaban kamu yang menerima hadirku lebih dari seorang teman dan Kakak. Kamu benar-benar telah membuatku jatuh hati. Kamu sudah merampas hatiku, bahkan sejak pertama kali bertemu saat rapat OSIS itu.” “Hey, jangan gunakan kata jatuh hati. Itu istilah milikku, Kak. Gunakan yang lain, jatuh cinta misalnya,” kata Senja sambil tertawa. Apa yang dilakukan gadis itu sejenak menjeda susana syahdu di antara mereka. “Aku pinjam, boleh ya sebentar saja. Aku suka istilah kamu itu.” “Okey, bolehlah. Tapi bagaimana setelah mengenalku dekat, Kak?” “Setelah dekat, aku baru tahu kamu ternyata ahnyalah seorang penipu.” “What?” Mikail terkekeh melihat Senja membelalakkan matanya. Mungkin apa yang diucapkannya tidak diduga sama sekali oleh gadis itu. “Maksudnya kamu telah menipu mataku. Awalnya kamu itu terlihat sebagai gadis anggun, tapi sekarang kamu berubah menjadi cewek aneh yang enggak bisa ngupas salak dan takut sama ondel-ondel,” kata Mikail yang disambut dengan tertawa lepas gadis di sampingnya. “Hari ini aku bahagia sekali, apa yang ada dalam benak akhirnya menjadi nyata dan akhirnya Bidadari Tanpa Sayap itu sudah memiliki wajah, wajah Pelangi Senja binti Abdul Rahman.” “Kakak yakin akan tetap meneruskan cerita ini walau aku pindah sekolah ke Balikpapan?” “Iya dong, masa mau di-cancel. 'Kan baru mulai, Mbak.” “Tapi kita akan susah bertemu nantinya, Kak. Malah mungkin akan lebih buruk lagi, Bogor dengan Balikpapan itu jauh sekali, Kak.” “That’s not problem at all. 'Kan ada telepon. Enggak akan repot hanya untuk melepas rindu. I can call you. Kita bisa long distance relationship.” “Okey, LDR ya, Kak. That’s sound hard for me. Jika saja aku bisa memilih untuk tetap tinggal di sini. Meneruskan sekolah sampai selesai dan tetap bersama Kakak. Meneruskan cerita yang baru saja dimulai dan harus diaborsi saat baru menjadi benih.” “Bahasa kamu berat, Mbak. Terlalu banyak baca novel sastra kayaknya.” Senja tersenyum tapi saat itu juga matanya berair. Mikail meraih sapu tangan dari saku celananya dan menyeka air mata yang mulai satu dua mulai berjatuhan merambati pipi. “Aku enggak mau jauh dari Kakak.” “Apalagi aku, Mbak. Entah bagaimana aku sepeninggal kamu nanti, tanpa kelakuan aneh kamu, tanpa senyum kamu.” “Kakak tuh yang aneh,” kata Senja sambil mencubit pinggang Mikail karena menyebutnya dengan istilah itu. Pemuda itu meringis, namun dia tidak keberatan. Hal ini pasti akan dirindukannya nanti saat mereka terpisahkan jarak. “Anggap saja ini adalah ujian dari perjalanan kita yang baru dimulai, aku akan tetap menjaga kamu di sini dan di sini,” ujar Mikail sambil meletakkan tangan di atas dadanya dan meletakkan jari ke pelipisnya. “Aku tetap akan menjaga kamu di hati dan pikiran.” “Aku juga akan menjaga Kakak di sini dan di sini.” Senja mengikuti gerakan tangan Mikail. “Aku akan tetap akan menjaga Kakak di hati dan pikiran aku.” “Semoga cerita kita ini akan tetap berlanjut, tidak akan terputus oleh jarak dua ribu kilometer yang egois, Mbak,” ucap Mikail lirih namun bisa didengar oleh gadis di sampingnya. Sebuah kata pendek meng-amin-kan apa yang diucapkan Siswa Bertopi Hitam itu. “Aku rasanya ingin menangis, Kak. Aku ingin sekali tetap bersekolah di sini, menghabiskan waktu kita bersama,” kata gadis berambut sebahu itu dengan suara bergetar. Mikail melihat wajah Senja, sebuah senyum menyembul di bibirnya. “Itu namanya bukan ingin menangis tapi sudah menangis,” kata Mikail seraya membersihkan kembali air mata Senja. “Sudah, kita sama-sama menguatkan diri. Aku yakin kita bisa kuat.” Mikail memegang pipi orang yang telah membuatnya jatuh hati itu, Senja pun melakukan yang sama. Sebentar lagi mereka akan tersiksa kerinduan yang tak akan hilang hanya dengan saling menelepon. “Ehm!” Terdengar sebuah suara deheman keras, kedua manusia itu menoleh dan saling melepaskan tangan masing-masing dari wajah orang yang dicintainya. “Bu Dewi,” kata mereka hampir bersamaan. Mikail bangkit dari duduknya lalu diikuti oleh Senja, mereka menghampiri guru yang sedang berdiri tiga meter di depan mereka lalu mencium tangannya. “Kalau pacaran jangan di tangga masjid dong, Mikail, Jingga.” “Maaf, Bu. Sebenarnya itu bukan pacaran, Bu. Hanya terlihat seperti itu saja.” “Apa yang bukan pacaran? Saling pegang wajah sambil tatap-tatapan itu namanya bukan pacaran?” “Bukan, Bu. Kebetulan kami bukan pacaran tapi kekasih yang saling mencintai. Apa yang kami lakukan barusan adalah ungkapan sayang kekasih bukan pacar,” kata Mikail berdalih. “Ribet ngomong sama kamu, Mik. Sudah pulang sana, sudah sore. Nanti orang tua kalian khawatir.” “Siap,” kata Siswa Bertopi Hitam itu sambil membuat posisi menghormat ala militer. “Ingat, Pelangi Senja ini siswi baik-baik jangan sampai kamu rusak dia.” “Siap, Guruku Tercinta. Hal itu tidak akan terjadi. Saya adalah orang yang mencintainya dengan segenap jiwa. Tak ada alasan secuil pun untuk merusaknya. Saya akan menjaganya dengan baik.” “Bahasa kamu tuh. Mik. Sudah antar kekasihmu pulang.” “Siap!” “Siap-siap mulu. Sudah sana.” “Siap!” Mikail mengulurkan tangannya untuk menggamit tangan sang guru, dia mencium punggung tangan perempuan setengah baya itu. Senja melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Siswa Bertopi Hitam itu, sebuah ucapan salam terdengar sebagai tanda pamit dan saling mendoakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD