Sahabat baik kekasihnya Zoya itu mulai bercerita tentang seorang gadis yang bernama Pelangi Senja itu. Kisah ini didapatkan oleh Cacing berdasarkan penuturan Mikail yang kerap menceritakan semuanya disaat galau karena raibnya orang yang telah membuatnya benar-benar merasa hidup.
Zoya memperhatikan kata demi kata yang membentuk kalimat dan membuatnya paragraf., dia ingin mengetahui sebatas mana kekasihnya itu mencintai masa lalunya yang bernama Pelangi senja itu.
***
Bel istirahat terdengar meraung tiga kali, siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing beberapa detik kemudian dengan suara yang riuh. Sebagian besar dari mereka langsung berlari ke arah kantin sekolah untuk melepas dahaga dan lapar. Beberapa siswa menunggu teman se-genk-nya di pintu gerbang sekolah untuk mencari makan di luar.
Walaupun ada kantin di dalam lingkungan sekolah, banyak siswa memilih kantin yang berada di lingkungan rumah warga. Walaupun harus ditempuh lebih dulu dengan berjalan kaki beberapa menit. Warung Emak, demikian mereka menyebut kantin itu, alasan utama mengapa di warung itu ramai adalah di sana bebas merokok. Tetapi tidak semua siswa yang nongkrong di sana semuanya merokok ada yang suka berkumpul dengan teman satu genk-nya saja.
Warung Emak tidak hanya dimonopoli oleh siswa laki-laki, ada juga beberapa siswi yang ikut meramaikan untuk ala kadar tertawa dan melakukan sedikit kenakalan.
Terlihat Mikail setengah berlari mengejar dua orang siswi yang asyik bercakap-cakap sambil berjalan menuju gerbang sekolah. Siswa bertopi hitam itu lumayan berkeringat saat berhasil menyusul mereka.
“Hey!” sapa Mikail dari belakang kedua gadis itu. Kedua siswi itu menoleh ke arah sumber suara.
“Halo, Kak.” Mereka berhenti dan membalas menyapa hampir bersamaan.
Kakak kelas dua tingkat di atas mereka itu sibuk menyeka keringat yang menyelusup melalui celah topi bagian dahinya. Wajar saja jika siswa itu mengeluarkan lebih banyak peluh karena memang dia cukup jauh berlari mengejar mereka.
“Kalian mau ke mana?” ujar siswa bernama Mikail itu sambil membenarkan posisi topi warna hitamnya yang sepertinya tadi agak miring.
“Mau fotokopi materi, Kak,” jawab salah seorang dari mereka sambil menunjukan lembar kertas di tangannya.
“Senja, aku mau bicara sebentar, boleh?” kata Mikail sambil menatap wajah siswi berambut sebahu itu. Senja itu menyentuh lengan temannya yang berada di samping kanan dengan siku untuk meminta pendapat.
“Gimana, Din?” kata Senja sambil merapikan rambut sebahunya yang tertiup angin.
Sosok yang berada di samping gadis berambut sebahu itu nampak berpikir sejenak, sebenarnya tidak masalah untuknya jika harus pergi sendiri ke toko fotokopi karena memang letaknya yang tak jauh.
Mikail mencuri pandang, dia terkesima dengan sosok yang ada di hadapannya. Rambut berwarna hitam pekat, kontras sekali dengan kulit putihnya yang bersaing dengan seragam putih miliknya.
“Well, it’s okey buat gue sih. Kalian ngobrol dulu deh. Gue aja yang ke sana,” ujar Dina sambil meraih kertas yang akan difotokopi dari genggaman sahabatnya.
“Thanks ya, Din.” Senja melambaikan tangan ke arah Dina dengan disertai sebuah senyum kecil di wajahnya.
“Okey, Pel,” kata Dina seraya membalas lambaian tangan Senja.
Sahabat Senja yang berambut keriting halus itu meninggalkan mereka yang masih berdiri dekat gerbang. Mikail memandang Senja beberapa saat, terlihat senyum lebarnya beberapa detik kemudian. Gadis berkulit putih di depannya mengerutkan dahinya karena tidak tahu apa yang lucu darinya.
“Pel?” kata Mikail masih dengan senyum lebarnya.
“Maksudnya, Kak?” Senja masih mengerutkan dahinya.
“Tadi Dina memanggil kamu ‘Pel’, itu kayak kependekan dari ‘tompel’ dibandingkan singkatan dari nama kamu ‘Pelangi Senja’.”
“Dina itu enggak pernah memanggil aku Pelangi, Kak. Dia itu memang memanggil aku Tompel, plesetan dari nama asliku.”
“Memangnya kamu mempunyai tompel?” kata Mikail dengan tatapan serius.
“Punya dong, Kak, di ketek 'ni,” kata Senja sambil tertawa kecil. “Kakak mau lihat?”
“Seriusan?” Mikail mengernyitkan dahinya dengan tatapan serius. Dia tidak tahu gadis di depannya ini serius atau bercanda dengan kalimat yang diucapkannya.
“Iya, Kak. Mau lihat? Eh, tapi jangan deh,” kata gadis itu merevisi tawarannya. “Jangan sekarang, bulu keteknya masih panjang karena belum dicukur sejak setahun lalu. Sudah berubah gimbal juga karena memang sudah lama belum dicuci. Tompel aku pasti nanti enggak akan kelihatan eksotis dan menarik.”
“Idih alah, Mbak,” ujar Mikail dengan sebuah tawa di mulutnya.
Akhirnya pemuda itu tahu bahwa kalimat yang diucapkan gadis berambut sebahu di depannya hanya sebuah guyonan semata. Senja mengernyitkan dahinya saat siswa bertopi hitam di depannya menyematkan kata ‘Mbak’ di akhir kalimatnya.
“Mbak? Kakak memanggil aku ‘Mbak’?”
“Jika boleh aku juga ingin menggunakan kata itu, seperti bagaimana keluarga kamu memanggil. Itupun jika diizinkan olehmu, Mbak.”
“Aku sebenarnya enggak keberatan, Kak. Jikapun enggak aku izinkan, Kakak sudah memanggil aku dengan kata itu,” ujar Senja yang disambut sebuah senyum Mikail karena mendengar penjelasannya.
“Orang yang belum kenal kamu pasti jadi ilfil.“ Kalimat siswa bertopi hitam sekarang bukan hanya dilengkapi sebuah senyum tetapi juga sebuah gelengan kecil kepalanya.
“Kok bisa, Kak? Gara-gara kata 'Mbak' itu?” kata Senja sambil mengernyitkan dahinya.
“Bukan kata ‘Mbak’ itu, tadi kamu bilang bulu ketek kamu panjang-panjang belum dicukur selama setahun, sudah berubah gimbal juga karena belum dicuci. Mereka yang enggak kenal kamu pasti jadi ilfil karena kalimat yang kamu ucapkan itu.”
Senja tertawa mendengar penjelasan Mikail. Gadis itu merasa merasa setuju dengan apa yang dikatakan siswa bertopi hitam yang ada di hadapannya itu. Memang bisa saja orang yang tak mengenalnya akan menganggap apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran hakiki.
“Kakak jadi ilfil dong, Kakak 'kan enggak mengenal aku?”
“Aku enggak ilfill karena aku kan mengenal kamu, walaupun memang terbilang masih sedikit yang aku ketahui tentang kamu. Tetapi aku tahu, enggak ada tompel di ketek kamu, apalagi sampai ada bulu ketek yang panjang dan gimbal.”
"Kakak sotoy," ujar Senja sambil tersenyum, tangan kanannya meninju lengan atas Mikail. Siswa bertopi hitam kebetulan sedang melihat kepada sang gadis saat dia mengukir sebuah sebuah lengkungan bibir.
“Masya Allah, Mbak,” kata Mikail sambil melengkapi kali
Senja mengernyitkan dahi, khawatir ada yang salah dengan dirinya, apa mungkin kalimat sotoy itu? Mungkin tidak sopan menurut Kakak kelasnya ini.
“Ada apa, Kak?” ujar Senja dengan disertai nada was-was.
“Senyum kamu manis sekali, Mbak.” Kalimat Mikail itu dilengkapi dengan sebuah senyum kecil dan tatapan takjub dengan pemandangan di depannya.
“Alah, mulai deh Kakak. Masih terlalu pagi untuk gombal, Kak Mikail Bayanaka,” Senja menggelengkan kepalanya lalu melihat jam tangannya. “Ini baru jam sepuluh lewat.”
“Hmm, Memang ada waktunya ya nge-gombal yang disarankan itu?" kalimat Mikail disambut sebuah senyum oleh Senja. "Kakak yakin sekali, alasan kamu diciptakan itu hanya untuk tersenyum saja, untuk mendamaikan hati.”
Sebuah cubitan di pinggang menyusul saat Mikail menyelesaikan kalimatnya, Pemuda bertopi hitam itu meringis sambil mengusap pinggangnya. Walaupun terasa sakit Kakak kelas Senja itu merasa bahagia sekali dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Senja segera menghapus senyum yang melekat di wajahnya, gadis itu tak mau Kakak kelasnya memujinya terus.
“Jangan seperti itu, Kak. Nanti aku jadi lupa diri.”
“Jangan khawatir, jika kamu lupa diri nanti ‘kan bisa duduk, Mbak.”
“Iiih, Kakak,” hampir saja Senja menyarangkan cubitannya lagi. “Ayo katanya Kakak mau ada yang mau diomongin. Nanti keburu bel masuk.”
Mikail menepuk dahinya setelah gadi berambut sebahu di hadapannya itu mengingatkan, pemuda itu lupa dengan misi awal yang dirangkai dalam benaknya karena mulai sibuk menggombal.
“Mau ngobrol di mana, Kak?” kata gadis itu sambil menatap Kakak kelasnya, yang dilihat malah terlihat grogi.
“Di mana enaknya ya, Mbak? Mau di kantin atau Warung Emak?”
“Aku ikut Kakak aja.”
“Di Warung Emak aja ya, di sana banyak space yang enak untuk kita mengobrol. Kantin enggak asyik saat jam istirahat kayak gini, rame banget.”
“Iya di Warung Emak aja,” kata gadis itu setuju dengan apa yang ditawarkan. “Ayo, Kak.”
Mereka mengayunkan langkahnya dan berjalan bersisian menuju Warung Emak yang berjarak sekitar lima menit jalan kaki.
Beberapa siswa menyapa Senja saat berpapasan, gadis berambut sebahu ini memang cukup tenar walaupun termasuk seorang siswi baru. Mulai dari siswa kelas 10 sampai dengan kakak kelas mengenalnya. Hal itu bukan hanya dikarenakan Senja mempunyai paras cantik tetapi lebih disebabkan gadis itu sosok yang easy going, dia bisa menempatkan diri di mana saja.
Mikail juga termasuk siswa yang terkenal sebenarnya di kelas 12 IPS 1, tidak ada guru mata pelajaran yang tidak mengenalnya, pasti mereka punya catatan khusus tentangnya. Pemuda ini juga sering kali dipanggil oleh Wali Kelas dan Guru BK, biasanya karena hobinya yang telat datang yang tak kalah dengan kesenangan bolosnya.
Setelah sampai di Warung Emak, kedua siswa berbeda tingkat kelas ini mencari tempat yang enak untuk mengobrol. Mereka memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang berada di samping warung, sedikit menjauh dari keramaian siswa lain.
“Kamu ingat 'kan ini hari apa, Mbak?” kata Mikail sesaat dia kembali dari mengambil minuman botol untuk mereka berdua.
“Hari Senin Kak, aku ingat dong,” kata Senja sambil membuka tutup botol minumannya.
“Bukan itu maksudnya, sekarang tanggal 1 Oktober.” Siswa bertopi hitam itu memperjelas pertanyaannya.
“Oh iya, berarti hari ini adalah hari Kesaktian Pancasila, Kak.”
“Kamu tau 'kan maksud aku enggak ke arah itu. Seminggu yang lalu kamu minta aku menunggu sampai dengan Senin, tanggal 1 Oktober.”
Senja memandang dengan senyum di sudut bibirnya karena melihat ekspresi bete muka Mikail karena jawabannya.
“Maaf, aku becanda, Kak,” kata Senja dengan sebuah senyum kecil, seolah dia ingin meminta maaf karena guyonnya.
Mikail membuang pandangan, dia menelan ludah untuk sedikit mengikis rasa kecewanya, Senja tersenyum melihat kakak kelasnya ini bete.
“Aku ingat, Kak, hari ini, Senin bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila dan di hari ini pun aku berjanji akan menjawab semua pertanyaan yang Kakak jadikan PR seminggu lalu.”
Senja menyematkan senyumnya lagi setelah menyelesaikan kalimat itu, dia mengulurkan sebuah salak yang diambilnya dari saku, sebuah kernyitan dahi Mikail menyambut buah yang tiba-tiba diberikan kepadanya.
“Tolong kupasin, Kakak 'kan tahu aku enggak bisa ngupas salak.” Lagi sebuah senyum melengkapi kalimat gadis berambut sebahu itu.
Mikail meraih salak di tangan Senja sambil menggelengkan kepala, lalu mengupasnya. Bisa-bisanya dia minta dikupaskan salak dalam keadaan serius seperti ini. Mengapa juga dia bawa salak dari sakunya jika tak bisa mengupasnya sendiri?
“Aku sebenarnya mau membicarakan ini sepulang sekolah aja, sepertinya enggak akan cukup saat jam istirahat, Kak.”
Mikail menatap wajah Senja sesaat, lalu diam menunggu gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Aku sudah enggak sabar mendengar jawaban kamu, sudah seminggu, Mbak.” Akhirnya pemuda itu buka suara karena tak ingin menunggu lagi.
“Aku tahu Kakak sudah menunggu seminggu, apa salahnya menunggu beberapa jam lagi sampai pulang sekolah.”
“Sekarang aja, Mbak, kalau enggak selesai dilanjutkan nanti sepulang sekolah.”
Salak yang sudah telanjang karena tangan Mikail diterima oleh Senja setelah pemuda itu menyodorkannya.
“Baiklah jika enggak bisa ditawar lagi. Tapi sebelum aku menjawab semua pertanyaan Kakak seminggu lalu, aku mau mohon maaf jika apa yang aku katakan ini akan menyakiti perasaan Kakak. Mudah-mudahan tidak ada kalimat yang menyinggung.” Mikail menghela napas sambil menatap Senja dalam-dalam, dia menunggu kalimat selanjutnya dengan penasaran.
“Janji Kakak enggak akan marah? Jika jawaban aku ternyata enggak sesuai dengan apa yang Kakak harapkan?” ujar Senja seraya menatap sosok di depannya dengan dalam, menunggu jawaban dari pertanyaanya. Mikail mengangguk pelan mengiyakan.
“Actually I don’t know where to start, Kak,” kali ini Senja yang menghela napas, “Jujur setelah beberapa bulan kita bersama aku juga merasakan kebersamaan kita meninggalkan sesuatu. Rasa kehilangan, rasa rindu, seperti ada yang hilang, kangen jika sehari saja enggak bertemu. Sumpah demi apapun aku senang sekali saat bersama Kakak, saat dekat dengan Kakak.”
Senja melirik jam tangannya, sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit, tersisa sepuluh menit sebelum bel masuk terdengar.
“Aku akui, sebenarnya aku menganggap Kakak lebih dari teman, aku menganggap Kakak sebagai Kakakku. Seseorang yang selalu berada di sampingku setiap saat. Aku enggak mau kehilangan momen kebersamaan itu.” Mikail memandang Senja dalam yang membuatnya tertunduk dan menghela napas.
“Pertanyaan Kakak kemarin adalah apakah Kakak boleh hadir di hidup aku lebih dari seorang teman? Tentu saja jawabannya adalah boleh, boleh sekali malah. Kakak boleh hadir di hidupku lebih dari teman, karena aku menganggap Kakak adalah sebagai Kakakku.” Senja tersenyum.
“Pertanyaan Kakak selanjutnya yang dijadikan PR adalah apakah aku mempunyai rasa yang Kakak punya? Rasa suka, rasa sayang. Jawabannya adalah tentu saja aku punya rasa itu. Aku takut kehilangan Kakak juga, aku takut nanti Kakak jadian sama Mak Lampir anak kelas XII IPS 2 yang pernah Kakak suka dulu waktu kelas 10, dan tiba-tiba ....”
“Mbak, kalimat kamu yang panjang lebar enggak menjawab PR seminggu kemarin, Kakak sederhanakan saja dengan kalimat sederhana dengan jawaban yes or no,” Mikail memotong kalimat Senja yang belum selesai, “Mbak Pelangi Senja yang terhormat, Putri Bapak Abdul Rahman, sudikah kamu menjadi wajah dari bidadari tanpa sayap yang hadir dalam hidupku? Bukan sebagai adik tetapi sebagai girlfriend, sebagai sosok yang bersemayam dalam hati dan memberikan bahagia. You just need to answer it yes or no.”
“Okey, the answer is ... Kakak mau aku jawabnya yes or no?”
“Haduh, Mbak.” Mikail menggelengkan kepalanya, Senja tertawa lebar melihat muka bete pemuda bertopi hitam itu.
“We don’t have enough time, Kak. Sebentar lagi bel. Boleh aku menjawabnya sepulang sekolah saja? Tapi aku mau Kakak berjanji, apapun jawaban aku, Kakak enggak boleh benci aku, enggak boleh menjauh apalagi meninggalkanku,”
“Okey,” jawab Mikail pendek dan pelan berbarengan dengan raungan bel samar dari sekolah.