Mikail merayapi sosok berambut panjang di hadapannya dengan kedua matanya. Ada kegembiraan yang tak terlukiskan, ada kesedihan yang telah menumpuk bertahun dan ingin dihempaskan.
“Tadinya aku berniat untuk memotong rambut saat kamu sudah kembali lagi ke sini, meneruskan cerita kita yang sempat terhenti karena terpisahkan jarak, tapi ....” Sebuah helaan napas panjang melengkapi kalimat yang diucapkan oleh pemuda berambut gondrong itu.
“Tapi mengapa, Kak?” Senja mengernyitkan dahinya karena kalimat tidak tuntas Mikail. Ada sebuah pertanyaan dalam benaknya dan dia berharap jawabannya tidak menyakiti harapan yang dipupuknya.
“Kamu sekarang datang lagi tetapi sepertinya cerita kita enggak pernah bisa berlanjut lagi.”
“Mengapa, Kak? Kok Kakak bisa bicara seperti itu? Aku enggak mengerti maksudnya.”
“It’s because you already found someone else.”
“Someone else? Siapa yang Kakak maksudkan? Stephen?”
“Iya, itu dia orangnya, Mbak. Stephen eight nine ten.”
“Itu seven, Kak, bukan Stephen.” Senja tertawa sehingga matanya menutup.
Mikail menatap gadis itu dalam, tidak bisa diingkari bahwa dia sangat menyukai Senja tertawa. Tapi kali ini bukanlah waktunya untuk mengungkapkan rasa kagumnya kepada gadis itu, hari ini harus diungkapkan semua beban yang dia rasakan bertahun lalu.
“Iya dia, si Stephen eight nine ten itulah orang yang selalu hadir di hidupmu di kala aku enggak ada di sana.”
Senja meraih jus alpukatnya kembali, meneguknya perlahan. Tangannya menyempatkan untuk memotong roti bakar yang sejak datang belum disentuhnya. Gadis itu menatap Mikail sejenak, dia membiarkan saja dulu pemuda itu menumpahkan semua rasa yang sempat dideritanya ketika jarak sangat tak berbelas.
“Kak, Kakak harus tahu satu hal,” kata Senja sambil menatap dalam Mikail. “Yang membawa aku ke sini adalah keinginan untuk meneruskan cerita kita yang pernah ada. Dan tentang Stephen itu Kakak enggak usah risau dengan kehadirannya, dia itu adalah sepupuku.”
“Sepupu?” Mikail mengerutkan dahinya saat mendengar penjelasan Senja tentang sosok yang pernah membakar dadanya dengan api cemburu.
“Iya, Stephen itu kan anaknya Aunty Widya.”
“Aunty Widya? Yang gede itu, Mbak?”
“Iya Kak, Aunty Widya yang adik Mamaku itu. Orang yang selalu Kakak bilang subur makmur, gemah, repeh, rapih. Kakak pernah kenal 'kan sama Stephen, pernah bertemu dulu waktu mengantar aku pulang sehabis ekskul. Waktu itu ada Aunty Widya, aku mengenalkan Kakak dengan Stephen waktu itu.”
“Stephen yang itu? Oh, si Senga[1] itu ya, Mbak?”
“Iya Kak, yang itu. Yang sempat Kakak bilang senga dan banyak laga.”
“Jadi kalian enggak ....”
“Pacaran? Ya enggak lah, Kak. Masa aku pacaran dengan sepupuku, Kak. Kayak enggak ada orang lain saja.” Sebuah tertawa menggenapkan kalimat yang diucapkan gadis itu.
Mikail tertegun diam, betapa selama ini dia sudah menjadi laki-laki bodoh karena sudah cemburu tidak jelas. Mengapa dulu dia tidak menyelidik lebih jauh siapakah Stephen sebenarnya, sebelum dia memutuskan untuk pergi menjauh dari cerita mereka?
“Kak, aku ke sini mau meneruskan cerita yang kemarin tertunda oleh jarak, itu pun juga jika Kakak berkenan.”
“Kamu datang kemari mau meneruskan cerita kita? Cerita yang sudah tertunda selama bertahun-tahun?” Senja mengangguk mengiyakan dengan sebuah senyum di wajahnya. Mikail menggelengkan kepalanya. “Jangan mimpi, Mbak! Jangan pernah bermimpi, Mbak.”
“Apa maksud Kakak?” Senja sepertinya tidak menyangka sekali dengan kalimat yang dilontarkan Mikail, dia menelan ludah. Mengapa dia berharap banyak terhadap orang yang sudah tak pernah berkomunikasi dengannya sekian lama?
“Enggak mungkin, Mbak. Itu adalah suatu hal yang enggak mungkin. Jangan pernah mimpikan itu.”
Mikail mengulang kembali kalimat yang sudah cukup membuat tanda tanya besar di benak Senja. Gadis itu menelan ludah, sepertinya malam ini dia akan meneguk sebuah kekecewaan,
“Enggak mungkin gimana, Kak?” ujar gadis berambut panjang itu dengan suara yang mulai bergetar. “Aku sudah merayu Papa berbulan-bulan, berkali-kali Papa menolak usulku untuk kuliah di sini. Itu aku lakukan supaya aku bisa bertemu Kakak di sini dan bisa meneruskan cerita kita. Setelah aku berhasil merayu Papa, Kakak bilang enggak mungkin kita bisa meneruskan cerita kita.”
“Jangan mimpi, Mbak.”
“Kakak jahat.” Senja diam menunduk, satu dua air mata mulai merayapi pipinya.
Mikail tiba-tiba tertawa terkekeh keras, Senja mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah pemuda berambut gondrong itu. Di matanya ada kemarahan bercampur dengan kesedihan yang disembunyikan dalam d**a.
“Iih, Kakak ngeselin tahu, enggak? Kakak senang sekali melihat aku sedih,” kata gadis berambut tebal itu sambil menggosok air matanya dengan punggung tangan kanan. “Jadi inilah akhir dari cerita kita, Kak. Hilang tanpa pernah ada sekuelnya.”
“Siapa yang bilang seperti itu, Mbak?”
“Kakak yang bilang tadi, jangan mimpi, jangan pernah mimpikan itu.”
“Iya, jangan mimpi untuk meneruskan cerita kita, Mbak. Jangan pernah mimpikan itu.”
“Nah itu kan benar, Kakak yang bilang sendiri, jangan pura-pura amnesia,” ujar Senja sambil tersungut kesal.
“Pahami dulu kalimatnya. Maksudku, jangan pernah mimpi untuk meneruskan cerita kita. Buatlah cerita itu kembali menjadi nyata, menjadi sebuah kenyataan yang membuat kita kembali bahagia.”
“Maksudnya?” Senja mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan oleh Mikail.
“Buatlah cerita itu menjadi nyata, Mbak. Jangan cuma mimpi saja.”
Sebuah senyum terlihat di wajah Mikail setelah menggenapkan kalimatnya. Gadis berambut panjang itu diam, dia mencerna kata yang menjadi kalimat yang sempat membuatnya bingung.
“Aih, Kakak jahat.” Sebuah cubitan mendarat di tangan Mikail, disambut tertawa keras pemuda berambut gondrong itu.
“Maaf ya, Mbak,” kata Mikail disela tertawanya. Sebuah cubitan keras mendarat lagi di lengan pemuda itu. Senja gemas sekali dengan kalimat yang membuat ambigu tadi.
Dering ponsel menghentikan serangan cubitan Senja selanjutnya. Gadis itu meraih benda yang ada di atas meja, setelah mengetahui identitas sang penelepon Senja menunjukan namanya ke Mikail. Pemuda itu mengerutkan dahinya setelah membaca lima huruf yang terpampang di layar ponsel.
“Siapa dia, Mbak?”
“Ini si Dicka, Kak.”
“Iya aku sudah membaca namanya adalah Dicka, tapi siapa dia? d**k-a?” Mikail tergelak setelah mengeja nama tersebut menjadi dua suku kata, dia teringat novel Raditya Dika saat membahas nama yang ada di layar ponsel itu.
“Mengapa, Kak? Kok tertawa? Ada yang lucu ya dari namanya?”
“Namanya jorok, Mbak.” Mikail berusaha menguasai dirinya untuk tidak tertawa lagi.
“Jorok bagaimana, Kak? Aku enggak mengerti,” kata Senja dengan memasang muka polos, dia berusaha mengerti apa yang sedang terjadi.
“Lupakan saja deh, enggak perlu dibahas.”
“Aku jadi penasaran ini, Kak. Memangnya nama Dicka itu jorok ya?” kata Senja masih dengan muka polosnya.
“Sudahlah, Mbak, enggak usah dibahas lagi. Just forget it. Lebih baik kamu ceritakan saja siapa dia. Is he one of your fans?”
Senja tersenyum saat Mikail menyebut Dicka itu adalah salah satu fans-nya, seperti artis saja dia punya penggemar.
“Tapi Dicka ini lebih dari sekadar fans, Kak. He is pshyco,” bisik hati Senja lirih.
“Okey, aku ceritakan siapa dia ini. Tetapi mulai dari mana ya, Kak?” kata Senja lalu terdiam sejenak, indera penglihatannya merayapi wajah sosok di hadapannya.
“Up to you, Aku akan dengarkan dari manapun.”
“Okey, tapi Kakak janji enggak akan marah.”
Mikail terdiam. Dia mulai mencium gelagat yang tidak enak dari kalimat yang diucapkan oleh Senja. Apa maksudnya dengan enggak akan marah?
“Janji, Kak?” Senja mengulang pertanyaannya yang tadi. Mikail masih diam, belum ada kalimat yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban. Senja mencubit lengan pemuda itu pelan.
“Diajak ngomongnya malah cicing bae[2], iih ngeselin,” kata Senja dengan sebuah cemberut di wajahnya. “Kalau Kakak enggak mau janji, aku enggak mau bercerita.”
“Emang harus janji ya, Mbak?” tanya Mikail akhirnya.
“Harus janji, Kak. Aku enggak mau pertemuan yang sudah lama aku rencanakan ini tiba-tiba berantakan gara-gara aku bercerita tentang si Jorok ini, Kak. Janji?” kata Senja sambil mengangkat telunjuknya ke atas di antraa jari lain yang ditekuknya.
Mikail tersenyum mendengar Senja mendengar nama Dicka diganti menjadi si Jorok. Rupanya gadis itu menirukan apa yang diucapkannya tadi walau dia tidak tahu alasannya.
“Oke, baiklah,” ujar pemuda berambut gondrong itu sambil mengangkat jari kelingkingnya. Dia lalu menempelkannya ke kelingking Senja dan membuat sebuah ikatan. Sebuah cara mengikat janji yang selalu mereka lakukan saat bersama dulu.
“Baiklah? Baiklah apa ni, Kak?”
“baiklah aku janji, Mbak.”
“Janji apa coba, Kak?” Sebuah senyum tersemat di wajah Senja saat menerornya dengan pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
“Aku janji enggak akan marah,” kata Mikail “'kan Aku memang enggak pernah marah sama kamu, karena memang aku enggak bisa marah.”
Kalimat yang diucapkan oleh pemuda berambut gondrong itu disambut sebuah senyuman Senja. Seingat ingatan gadis itu memang Mikail tak pernah marah sekalipun kepadanya. Dalam d**a pemuda yang ada di hadapannya selalu dipenuhi dengan cinta dan benaknya terisi kalimat-kalimat puitis yang selalu dirangkai untuknya.
Senja diam sejenak, dia merangkai kata yang akan digunakannya untuk bercerita tentang sosok yang membuat hidupnya tak nyaman itu.
“Kak, sebenarnya aku enggak mau menceritakan hal ini karena aku pikir dia itu seseorang yang aku anggap enggak pernah ada. Tapi, karena akhir-akhir dia seperti menjadi hantu yang selalu membayang-bayangi, mungkin sebaiknya aku ceritakan aja.”
“Hantu? Semacam pocong atau kuntilanak gitu, atau ....”
“Jangan mulai deh, Kak. Aku ceritanya jadi enggak konsen 'ni kalau ditanggapi dengan canda,” kata Senja dengan cemberut di wajahnya.
“Oke lanjutkan, aku serius 'ni sekarang,” ujar Mikail dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a sebagai permintaan maaf.
“Dicka ini adalah Kakak kelas aku waktu sekolah di Balikpapan. Dia suka kepadaku, sering mengajak jalan, sering mengajak keluar untuk makan. Jujur, aku enggak nyaman dengan ajakan dia itu, sering kali aku menolak ajakannya dengan berbagai alasan.” Senja menjeda ceritanya, matanya sekilas menatap pemuda di depannya.
“Akhirnya pada suatu malam, saat aku sedang bete dengan tugas sekolah dan kebetulan memang di rumah pun sedang kosong, aku akhirnya mengiyakan ajakannya untuk pergi ke luar. Tak disangka akhirnya berbuntut panjang, besok malamnya dan malam-malam berikutnya dia memaksa aku menemaninya dengan berbagai alasan dan terpaksa aku menurutinya, Kak.”
Senja merapikan posisi duduknya, tangannya meraih kembali jus alpukat miliknya. Mikail terpancing mengikuti apa yang dilakukan gadis itu.
“Suatu malam dia dengan pede menembak aku, meminta aku untuk menjadi pacarnya. Tentu saja aku menolaknya, aku enggak mau, karena aku masih menjaga Kakak dalam hati, Kak. Ternyata Dicka ini adalah seorang type cowok pejuang, enggak mudah menyerah walaupun aku sudah menolaknya berulang kali. Bukan saja dengan kalimat halus, aku juga sudah menolaknya dengan kalimat yang enggak enak bahkan kasar. Entah bagaimana sekarang dia tahu nomor ponsel aku.” Senja menghela napas dalam, dia merasakan sedikit beban terangkat dari dadanya.
“Eh dia chat ni, Kak,” kata Senja sambil memperlihatkan sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
“I’ll find you soon.”
Begitu isi pesan w******p tersebut. Senja memandang pemuda di depannya dengan perasaan khawatir setelah membaca isi chat yang dikirimkan oleh Dicka tersebut.
“Salah satu alasan aku ke sini adalah untuk menghindari dia, Kak. Sumpah demi apapun, aku enggak nyaman banget dengan dia. Bagaimana nanti jika dia menemukanku di sini, Kak?”
“Kamu tenang saja, Mbak. Selagi ada aku, enggak akan ada seorang pun yang akan berani menyakitimu.”
Gadis berambut panjang itu merayapi wajah Mikail dengan kedua matanya, pandangan mereka tertaut saat pemuda itu juga menatap Senja.
Masih ada rasa tak percaya dalam d**a Mikail sebenarnya tentang apa yang dialaminya malam ini. Kemarin dia masih berusaha mati-matian mengusir setiap keping ingatannya tentang gadis yang kini ada di hadapannya.
Sebelum kedatangan Senja tadi dia sempat ada keinginan menghadirkan seseorang dalam hidupnya walau dengan memaksakan dirinya sekuat tenaga. Hal itu dilakukannya berdasarkan wejangan yang diberikan oleh sahabat baik, ‘hadirkan sosok baru untuk sebuah cerita baru’
Mikail sempat berpikir orang baru yang akan dihadirkan dalam hidupnya adalah Puput. Walaupun dia adalah seorang yang pernah menikah, tetapi dia adalah wanita baik-baik. Dia cukup cantik walau tidak sebanding dengan Senja yang kecantikannya terasa membius benak. Terlebih Puput memiliki anak kecil yang sudah sangat akrab dengan dirinya akan memudahkan jalan yang akan dilaluinya nanti.
Dengan hadirnya kembali Senja dalam hidup Mikail, tentunya menghadirkan sosok baru untuk cerita baru itu sudah tidak diperlukan lagi. Jika sudah ada Bidadari Tanpa Sayap yang menemani dalam kefanaan hidup untuk apa mencari sosok manusia yang belum tentu hadirnya akan mendamaikan hati dan memberikan sebuah bahagia?
_____________
Pojok Bahasa
[1] Senga: Petantang-petenteng, sombong, banyak laga.
[2] Cicing bae (bahas Sunda: Diam saja