Dickhead

2171 Words
Tak terasa sudah malam Minggu lagi, seperti yang sudah diinformasikan melalui media sosial milik Cafe Marginalia sebelumnya bahwa malam ini akan ada event yang kerap ditunggu yaitu lomba merayu pasangan. Lomba ini hanya dilangsungkan satu bulan sekali oleh pihak management cafe. Pengunjung cafe mulai berdatangan satu persatu, ada yang menggunakan motor ada juga yang menggunakan roda empat. Rata-rata mereka tiba dengan pasangannya masing-masing, ada juga yang sengaja datang dengan membawa buah cinta mereka. Setiap ada event di cafe sudah bisa dipastikan pengunjung akan lebih ramai dari malam sebelumnya Event ini banyak diminati oleh banyak pasangan, mereka yang masih pacaran ataupun sudah berkeluarga. Jomblower juga kadang ada yang ikut serta, walaupun kadang mereka harus menyewa seseorang yang akan dijadikan sebagai pasangan yang akan dirayu di atas stage. Hadiah yang diberikan oleh pihak management tidak berupa uang, atau piala yang hanya akan menjadi penghias. Pemenang lomba ini diperbolehkan untuk menempel foto mereka beserta pasangan di tembok panjang di sisi Utara cafe. Tembok yang berisi foto banyak pasangan ini kerap menjadi pemandangan unik bagi pengunjung, karena di sana ada cerita yang tak bisa dikisahkan melalui kata atau diksi. Bukan itu saja, hadiah utamanya adalah free candle light dinner selama seminggu penuh dengan pasangannya masing-masing. Di antara lalu lalang pengunjung yang baru datang ke Cafe, terlihat Cacing yang sedang sibuk merapikan motor pengunjung yang kadang sengaja diparkirkan sembarangan. Peluh membasahi pemuda itu yang membuat bagian lengannya terlihat berkilat ditimpa cahaya lampu. Mikail membantu sahabatnya dengan memberikan tiket parkir kepada pengunjung yang baru datang. Tanda parkir itu terdiri dari dua bagian, satu untuk digantungkan di motor dan sebelah lagi diberikan kepada sang empu sebagai bukti tanda parkir. Kedua pemuda itu akhirnya bisa menghela napas lega setelah pengunjung cafe berangsur mengendur kedatangannya setelah acara dimulai. Mereka menyempatkan menyeka dulu peluh yang meliar di wajah masing-masing. “Halo, Kak!” Sebuah suara mengalihkan Mikail dari apa yang dilakukannya. Pemuda berambut gondrong itu menoleh ke arah suara yang mengejutkannya, terlihat sebuah senyuman menyambut mata yang mengikuti badannya berbalik arah. “Senja ...” kata Mikail terjeda, benaknya tak tahu harus mengucapkan kalimat apa lagi untuk melanjutkannya. “Iya, ini aku, Kak. Pelangi Senja binti Abdul Rahman.” “Kamu kapan sampai di sini, Mbak?” Akhirnya Mikail menemukan sebuah pertanyaan yang pantas dilontarkan. “Baru saja tiba, Kak. Kakak sibuk banget sih jadi enggak tahu aku datang,” ujar gadis itu dengan sebuah tawa yang mengiringi kalimat yang diucapkannya. Mikail merayapi wajah gadis yang ada di hadapannya itu dengan kedua matanya, entah mengapa dia selalu menyukai Senja di saat sedang tersenyum dan tertawa seperti sekarang. Gadis itu menatap wajah Mikail yang berubah, rambut gondrongnya sedikit dirapikan walau masih panjang. Jenggotnya yang kemarin dibiarkan panjang meliar sudah dibabat habis sampai kelimis. “Oh, masa sih?” kata Mikail sambil menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tak gatal. Pandangan matanya beralih ke pakaian yang dikenakan sosok di hadapannya. “Lalu mengapa pakaian kamu kayak preman begini?” Mikail menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat pakaian Senja yang sangat tidak biasa dari yang sering dilihatnya. “Kayak preman gimana maksudnya, Kak?” Senja mengerutkan dahinya sambil melihat pakaiannya yang menurutnya tidak seperti yang dikatakan Mikail. “Coba perhatikan lagi pakaian kamu, celana jins sobek-sobek, pakai jaket kulit, topi juga.” “Oh, memang kalau seperti ini pakaian preman ya, Kak?,” sebuah senyum terselip di wajah gadis itu. “Coba lihat Kakak saja pakaiannya kayak gitu.” Senja menunjuk jins Mikail yang jauh lebih hancur dari pakaiannya. Celana itu sobek sampai ke pangkal paha, beruntung saja di bagian dalamnya sudah diberikan bahan tambahan berwarna merah, sehingga auratnya tidak berantakan. Mikail terkekeh setelah menyadari pakaiannya. “Baru sadar aku,” ujar pemuda itu dengan senyum kecil. “Aku meniru cara berpakaian Kakak yang seperti itu.” Senja membela diri. “Kamu itu enggak layak berpakaian seperti itu, Mbak.” “Lho? Mengapa, Kak?” “Kamu itu dari ras bidadari, berpakaianlah selayaknya kaum bidadari.” “Mulai deh bucin-nya.” “Itu bukan bucin, Mbak, tapi sebuah kenyataan yang tak bisa kita pungkiri.” “Oke, besok kalau aku ke sini pakai busana bidadari, Kak,” kata Senja dengan sebuah senyum kecil. Sebenarnya busana bidadari itu seperti apa? “Aku setuju,” kata Mikail dengan menghadiahkan sebuah jempol kepada gadis itu. “By the way, kamu ke sini mau ngapain. Mbak?” “Memang aku enggak boleh ke sini ni, Kak?” “Mmmh, gimana ya, Mbak?” Mikail nampak mencari kata untuk dirangkainya sebagai jawaban. “Enggak boleh walaupun hanya sekadar melepas rindu ni, Kak?” “Boleh, Mbak.” “Oh, boleh. Aku kira enggak boleh,” sebuah tawa kecil melengkapi kalimat gadis itu. “Aku mau bantu jaga parkir juga. Boleh enggak, Kak?” “Jaga parkir? Kamu mau bantu jaga parkir, Mbak? Apa aku enggak salah dengar?” “Enggak, Kakak enggak salah dengar. Aku ingin bantu jaga parkir, boleh enggak 'ni, Kak?” “Boleh saja sih, cuma nanti jadi lucu saja jika ada yang tahu, Dokter Pelangi Senja binti Abdul Rahman merangkap jabatan sebagai Tukang Parkir di Cafe Marginalia.” “Aku 'kan baru kuliah di kedokteran, Kak, belum jadi dokter beneran. Perjalanan masih sangat panjang untuk sampai ke sana. Jadi boleh enggak aku ikut jadi Tukang Parkir 'ni, Kak?”  Mikail diam sejenak, pemuda itu memikirkan apakah dia akan memperbolehkan gadis pujaannnya itu membantu jaga parkir atau tidak. Dia memandang wajah cantik di depannya itu, senyuman itu lagi yang disajikan Senja untuk memanjakan pandangan sang pemuda. “Boleh kan, Kak? Boleh ya?” kata Senja dengan nada dibuat manja. Gadis itu meraih tangan Mikail dan menggenggamnya. Ada rasa bahagia merayapi d**a Mikail, genggaman tangan itu rasanya membawa semua kenangan lalu yang pernah terasa sangat manis. Akhirnya sebuah anggukan menjadi jawaban dari kalimat pertanyaan Senja. Senyum bahagia terlihat di wajah gadis berambut panjang itu, betapa tidak dengan izin itu berarti dia akan bertemu dengan pemuda yang menjadi alasannya kembali ke Bogor. “Wah, ternyata ada Bidadari Tanpa Sayapnya Mikail di sini.” Terdengar sebuah suara memecah suasana syahdu yang diciptakan oleh dua sejoli itu. Mikail dan Senja menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu. Terlihat seorang pemuda berbadan kekar di samping  mereka dengan sebuah senyum. Entah kapan datangnya sahabat baik Mikail itu.  Senja tersenyum sehingga lesung pipinya terlihat, dia menggaris bawahi kalimat yang diucapkan oleh Cacing tadi, ‘Bidadari Tanpa Sayapnya Mikail’. Gadis itu selalu suka dengan istilah yang digunakan itu. “Katanya Senja mau ikut jadi Tukang Parkir di sini, Bro,” ujar Mikail kepada sahabatnya itu. “What! Jadi Tukang Parkir? Janganlah, Men.” “lh, memangnya mengapa, Kak?” Senja agak kaget dengan respons Cacing, itu di luar ekspektasinya. “Itu berbahaya sekali,” jelas Cacing mengemukakan alasanya. “Bahaya? Bahaya mengapa, Kak?” Senja mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat sangat serius. “Bahaya jika kamu jadi Tukang Parkir di sini, nanti yang masih jomblo enggak mau pulang. Bisa-bisa motornya diparkir di sini terus karena ingin dekat denganmu, nanti kita jadi repot.” “Bisa saja, Kak Cacing. Aku kira serius tadi pas dibilang berbahaya,” ujar Senja sambil tersenyum. “Lho, itu juga bahaya. Kalau para jomblo itu akhirnya berhasil mendekati kamu bagaimana dengan nasib Mikail Bayanaka selanjutnya, pasti dia akan  merana kembali mengarungi dunia.” Sebuah tawa melengkapi kalimat Cacing, Mikail menggelengkan kepalanya mendengar guyonan sahabat baiknya itu. “Mereka mungkin bisa mendekati aku, Kak, tapi enggak akan berhasil masuk ke dalam hatiku karena di sana sudah ada yang menempati, Kak Mikail Bayanaka.” “Ciyeee, Mikail ... Ciyeee Senja,” ledek pemuda berbadan kekar itu. Senja tersenyum kecil menanggapi apa yang dilakukan Cacing, Mikail masih memberikan gelengan kepalanya sebagai respons. “Jadi ... bolehkan ya aku menjadi Tukang Parkir di sini?” kata Senja berusaha memusatkan kembali inti percakapan yang sudah menggeser. Mikail melihat ke arah sahabatnya, dia meminta persetujuan dari Cacing melalui tatapan matanya. Pemuda berbadan besar itu mengangguk kecil sebagai persetujuan gadis yang dipuja Mikail bergabung dalam tim jaga parkir. “Kamu pegang tas uang saja dulu ya, Mbak. Nanti aku dan Cacing yang urus keluar masuk motornya. Kamu perhatikan dulu caranya,” kata Mikail. Pemuda berambut gondrong itu melepaskan tas di pinggangnya lalu disodorkan ke Senja. Gadis itu menerimanya dengan sebuah senyuman. “Siap, Laksanakan, Komandan!” kata Senja sambil memberikan hormat seperti tentara. Gadis berkulit putih terang itu merasa gembira sekali karena akhirnya dia bisa menjadi Tukang Parkir di Cafe Marginalia, walau tepatnya baru menjadi Tukang Pegang Tas Parkir. Senja lalu mengikat tas itu di pinggangnya, namun dilepaskannya lagi karena dia merasa tidak nyaman. Gadis itu akhirnya memilih menyelempangkan tas itu dari bahu kanan ke ketiak sebelah kiri. Terlihat sebuah motor Ninja 250 cc berwarna merah cabai masuk ke area parkir dengan santai. Pengendaranya berjaket coklat dan berhelm hitam KYT, badannya terlihat kekar. Dia memarkirkan kendaraan roda duanya itu di dekat pintu masuk area parkir. “Haduh, itu motor segala parkir di situ lagi, bilangin supaya memindahkan motornya ke sini, biar dekat, Bro. Gua khawatir hilang itu motor mahal.” Cacing mengangguk cepat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mikail, dia bersiap menuju ke sana. “Kak Cacing, biar aku saja yang ke sana. Tukang Parkir baru ini sedang semangat kerja,” ujar Senja. Kalimat yang diucapkan oleh gadis itu memotong langkah Cacing untuk mendekati motor Ninja 250 cc itu. Senja memandang Mikail meminta persetujuannya dengan apa yang akan dilakukannya, akhirnya sebuah anggukan kepala diberikan Mikail sebagai tanda mengizinkan. Senja melangkahkan kakinya dengan gembira, dia menghampiri pengendara motor yang sedang melepaskan helmnya. “Bang, motornya dipindahkan ke sana saja, lebih dekat dan lebih aman,” kata gadis itu. Senja tiba-tiba terdiam dan tenggorokannya terasa tercekat saat menyadari siapa pengendara motor yang ada di hadapannya. Pemuda itu melepaskan senyum ke arahnya. “Halo, Putri Pelangi Senja yang cantik. Apa kabar, Sayang?” kata pemuda itu masih dengan senyum yang menempel di wajahnya. “s**t!” Senja mundur dua langkah menjauhi pemuda di hadapannya itu. “Dicka, lo mau ngapain ke sini?” “Aku mau ngapain? Pasti cari kamulah, mana tahanku dengan deraan rindu yang setiap hari kian menghimpit d**a,” kata pemuda itu sambil melangkah mendekati Senja. Gadis itu melangkah mundru menjauhinya. “Dicka, lo tau 'kan  sudah enggak ada apa-apa lagi antara kita. Ngapain lo cari gue?” “Come on, Putri. Kamu tahu aku enggak bisa menerimanya, kamu juga tahu 'kan aku cinta banget sama kamu. I can’t live without you, Honey.” “Bullshit!” kata Senja dengan nada tinggi. Gadis itu terkejut karena saat melangkah mundur tubuhnya terbentur seseorang, Senja menoleh dan bernapas lega saat mengetahui yang ditabraknya adalah Mikail. “Hey, Ada apa?" Mikail yang melihat kejadian itu dari jauh akhirnya datang menghampiri. “This guy annoying me, Kak,” kata Senja seraya menunjuk Dicka yang berhenti mendekat saat ada Mikail di dekatnya. “Siapa dia?”  Mikail memandang curiga kepada pemuda yang berdiri di hadapan mereka. Senja setengah berbisik menyebutkan sebuah nama ke telinga kepada Mikail. “Oh, ini yang namanya Dicka itu,” kata Mikail memandang tajam pemuda bersisiran rapi di hadapannya. “Iya, gue Dicka. Nah lo siapa Tukang Parkir?” ujar Dicka sinis. “Nama gue Mikail, kayaknya lo salah tempat sudah datang ke sini, Dickhead. Lo Mendingan cabut sekarang.” “Nama gue Dicka Mahendra Dinata, bukan Dickhead,” Dicka tersungut mendengar namanya diplesetkan menjadi tidak enak didengar. “Fine, gue cabut dari sini, tapi gue bawa sekalian pacar gue.” Senja mundur bersembunyi di belakang Mikail saat Dicka berusaha menggamit tangannya untuk diajak pergi. “Lo itu orang yang enggak tahu diri banget, d**k. Sudah gue bilang berkali-kali, kita enggak ada hubungan apa-apa, apalagi sebagai pacar. Kejadian beberapa bulan itu itu cuma sebuah accident, sebuah kekhilafan yang gue sesali sampai sekarang karena pernah terjadi. Gue enggak mau memperpanjang lagi cerita itu." “Come on, Honey.” Dicka berusaha meraih tangan Senja kembali, namun gadis itu menjauhkan tangannya dari jangkauan. Sebuah tinju mendarat tepat di hidung Dicka sedetik kemudian, pemuda itu terjajar beberapa langkah ke belakang sambil meraba hidungnya. “s**t! Tukang Parkir sialan!” kata Dicka yang mulai merasakan perih dari hidungnya yang berdarah. Dicka melayangkan sebuah serangan balasan, tapi berhasil dimentahkan oleh Mikail dengan menangkisnya. Sekali lagi tinju kanan Mikail yang mendarat di wajah Dicka, sebuah bonus dari kepalan tinju kiri di perut kian membuatnya terhuyung. “Ada apa, Men?” kata Cacing  yang sudah berdiri di samping Mikail. Pemuda berbadan kekar itu bersiap membantu sahabat baiknya. “Rese 'ni orang, Bro. Dia berani mengganggu Bidadari Tanpa Sayap gue.” “Apa perlu gue habisin saja 'ni orang?” kata Cacing sambil menyiapkan kepalan tangannya. Mikail menahan Cacing yang sudah siap menambahkan bonus saat Dicka sedang kerepotan menahan darah di hidungnya dengan sapu tangan. “Mending lo cabut aja dari sini, Dickhead!” Mikail menghardik sambil menunjuk Dicka. “Okey, gue cabut dari sini, tapi urusan kita belum selesai Tukang Parkir,” kata Dicka sambil menunjuk ke arah Mikail dengan emosi. Dicka membuang sapu tangannya yang sudah penuh darah dan berjalan melangkah ke arah motor besarnya. Pemuda itu membawa kendaraan roda duanya pergi dengan dendam yang mengisi dadanya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD