Ruang Mengentaskan Rindu

1776 Words
Mentari terasa menyengat sekali siang ini, sepertinya nanti malam akan turun hujan kembali seperti malam-malam sebelumnya. Semilir angin mengusir sedikit peluh yang sempat menyapa dahi-dahi manusia yamg menyematkan bernaung di bawah pohon rindang. Cahaya masuk ke dalam ruang rawat di mana tergolek sesosok pemuda berbebat perban, sesekali dia meringis merasakan sakit yang menyapa. Sekujur badan Mikail terasa sakit semua, mulai dari kaki, tangan, punggung dan yang paling sakit adalah bagian kepalanya. Pemuda itu meraba  bagian kepalanya perlahan, seperti ada perban melingkar yang membungkus kepalanya. Matanya masih terpejam, enggan rasanya dia membuka indera penglihatannya. “Astaghfirullah, mengapa ini kepala? Mengapa dibungkus kayak begini,” rintihnya pelan sambil menggeserkan badannya. Dia merasakan tubuhnya menempel dengan tempat tidur, entah sudah berapa lama dia berada di atas tempat tidur rumah. “Dengan tubuh yang rasanya hancur ini, mungkinkah ini adalah tempat tidur rumah sakit,” lirih pemuda itu. Dia berusaha membuka matanya untuk memastikan di mana dia berada. “Alhamdulillah, akhirnya Kakak sadar juga.” Terdengar sebuah suara yang sangat dikenal Mikail dari sebelah kanan tempat tidurnya. Pemuda itu menoleh perlahan, ada seorang gadis duduk tepat berada di sampingnya. Dia adalah orang yang selalu berhasil membuat dirinya bahagia. Sebuah senyum menyambut matanya yang berusaha membuka matanya dengan penuh, seperti ada selaksa rasa khawatir yang disembunyikan lewat senyum yang dikembangkan oleh Senja itu. “Hai.” Mikail berusaha menyematkan sebuah senyum di bibirnya ke gadis itu. “Halo, Kak,” kata Senja seraya meraih tangan Mikail perlahan. “Kamu enggak apa-apa 'kan?” ujar pemuda itu sambil menatap gadis berambut panjang itu dengan khawatir. Senja balas menatap Mikail dengan dalam, dia berusaha memahami arti dari pertanyaan itu. “Seharusnya aku yang bertanya, Kak,” kata Senja sambil memainkan telunjuknya di punggung tangan Mikail. Sebuah senyum terlihat masih hadir. “Kakak enggak apa-apa, 'kan?” “Kamu bisa simpulkan sendiri 'kan, Mbak. Aku baik-baik saja 'kan?  Cuma sedikit jadi mumi di kepala,” sebuah senyum kecil mengakhiri kalimat pemuda tersebut, Mikail meraba lagi kepalanya perlahan. “Mengapa aku berada di sini, Mbak? Apa yang sudah terjadi sebenarnya?” Mikail mengerutkan dahinya sambil mengingat apa yang mterjadi dengannya sehingga terkapar di tempat tidur bersprai putih itu. Dia tidak bisa mengingat apa yang telah dialaminya sehingga terbaring dengan tubuh yang rasanya remuk redam.. “Kamu tahu apa yang sudah terjadi, Mbak?” sambung Mikail menunggu jawaban yang tak kunjung tiba dari Senja. “Aku tahu, tapi hanya sedikit saja, Kak. Itupun berdasarkan cerita Kak Cacing, katanya Kakak dikeroyok.” “Dikeroyok? Aku dikeroyok?” Mikail agak terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh gadis di depannya. “Siapa yang mengeroyok aku, Mbak? Kamu tahu?” “Katanya dikeroyok Dicka dan anak buahnya, Kak.” “Dicka? Si b*****h Dicka? Terus gimana?” “Aku cuma tahu itu saja, Kak. Kak Cacing baru cerita segitu aja. Mungkin setelahnya gara-gara itu Kakak terbaring di sini,” jelas Senja walau tak pasti. Pintu ruang rawat terbuka memotong pembicaraan mereka. Terlihat Cacing dan Candies menenteng sebuah plastik putih bening yang menunjukkan isi belanjaannya. Sepasang sejoli itu tersenyum lebar ketika melihat Mikail sudah duduk bersandar di atas tempat tidurnya. “Apa kabar, Men?” kata Cacing sambil melangkah menghampiri sahabat baiknya. “Gue khawatir banget, lo enggak sadar sejak kemarin.” “Enggak sadar dari kemarin?” Mikail mengerutkan dahinya. “Jadi gue baru sadar sejak kemarin, Bro?” “Ya begitulah. Gue sempat khawatir kondisi lo memburuk, Men. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sadar.” Sahabat baik Mikail itu menyematkan sebuah senyum kecil di wajahnya. “Apa sebenarnya yang sudah terjadi dengan gue? Lo bisa ceritain enggak, Bro?” “Memangnya lo enggak ingat kejadiannya, Men?” Kali ini Cacing yang mengerutkan wajhanya. “Enggak, otak gue rasanya sakit jika mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Bisa tolong lo ceritain aja, Bro?” “Okey, gue ceritakan yang gue tahu aja berdasarkan versi gue. Mungkin akan berbeda dengan versi lo nanti, Men,” kata Cacing yang dijawab oleh Mikail dengan sebuah anggukan pelan. Entah apa yang terjadi dengannya sehingga dia sama sekali tidak ingat dengan apa yang sudah terjadi. “Begini, waktu gue balik ke parkiran sepulang nge-latih, Mang Jasa datang dengan terburu-buru menemui gue. Dia bilang lo menyusul Senja yang katanya disekap di pertokoan kosong. Tanpa buang waktu gue langsung meluncur untuk menyusul. Saat gue tiba di sana, lo udah terkapar dan anak buah Si Dicka siap-siap dengan belatinya buat menghabisi nyawa lo. Padahal gue liat lo sudah enggak bergerak sama sekali, Men.”   Cacing menelan ludahnya saat harus mengingat kembali apa yang terjadi dengan sahabatnya ini. Sedetik saja dia telat datang yang terjadi adalah bukan harus menjenguknya ke rumah sakit tepi mengiringi jenazahnya ke pemakaman. “Sempat khawatir sebenarnya gue, takut lo sudah enggak bisa tertolong lagi. Beruntung gue menemukan botol bir kosong di pojok toko. Botol itu gue jadiin senjata buat menolong lo, Men,” kata Cacing bersemangat sekali meneruskan ceritanya. “Gue menghabisi mereka satu persatu, termasuk si Dicka itu. Drah bercucuran dari hidung dan bibirnya pecah mengeluarkan darah. tapi sebelum cabut dia masih sempat mengancam gue, Men.” “Waw, berani sekali itu b*****t mengancam lo? Bilang apa Si Dicka itu, Bro?” “Bilang apa ya? Gue enggak tahu tepatnya dia ngomong apa karena kayaknya dia menggunakan bahasa Inggris, Men.” “Nah, kalau dia ngomong pake bahasa Inggris, lo tau dari mana kalau dia mengancam? Bukannya lo enggak ngerti bahasa Inggris, Bro?” kata Mikail yang disambut Cacing nyengir kuda. Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit untuk Muhammad Husin alias Cacing, walaupun bukan hanya itu saja, ada lagi pelajaran yang lain seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Ekonomi, Pendidikan Agama Islam, Sosiologi, semua pelajaran sebenarnya. Pemuda berbadan kekar itu cuma bisa pelajaran yang melibatkan fisik saja, Pelajaran Pe-Je-O-Ka alias pelajaran Olahraga. “Walau gue enggak ngerti bahasa Inggris, gue tahu dia ngancam. Soalnya dia ngomongnya sambil emosi  dan nunjuk-nunjuk gue, Men.” Mikail mengangguk-angguk pelan, berusaha membayangkan kejadian yang diceritakan sahabatnya yang bermusuhan dengan bahasa Inggris ini. Seorang Nurse cantik berkaki jenjang masuk ke ruangan, beriringan dengan Dokter laki-laki muda. Dokter itu berperawakan tinggi dengan rambut belah tengah, matanya agak sipit. Dia lebih terlihat seperti artis Korea dari pada seorang dokter. Melihat kehadiran mereka, Cacing dan Candies menggeser duduknya ke sisi, memberikan jalan. “Selamat siang, Mas,” kata dokter itu kepada semua orang yang ada di sana. Cacing mengangguk kecil saat mata laki-laki berjas putih itu mampir ke wajahnya. “Saya Dokter Michael, dokter yang menangani Mas Mikail. Bagaimana keadaannya?” “Agak susah menjawabnya, Dok. Gimana ya? Badan masih terasa hancur semua, kepala masih sakit, nyeri di bagian belakang,” Mikail meringis sebentar karena nyeri di kepalanya yang hadir tiba-tiba. “Saya baik-baik saja 'kan, Dok?” “Mas mengalami trauma di bagian belakang kepala, sepertinya terkena benturan yang sangat keras, Mas ingat benturan di kepala disebabkan oleh benda apa?” kata Dokter itu yang dijawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Mikail. “Mas sudah dapat mengenali mereka yang ada di sini?” sambung Dokter Michael. “Kalau mengenal mereka, saya kenal semua, Dok.  Mereka ini adalah orang-orang penting di hidup saya.” Mikail tersenyum sambil memandangi Senja, Cacing dan Cadies satu persatu. “Coba sebutkan namanya siapa aja, Mas,” kata pemuda berjas putih itu. “Oke, Dok. Dimulai dari yang paling cantik ini, namanya adalah Pelangi Senja binti Abdul Rahman, Bidadari Tanpa Sayap yang selalu berhasil menceriakan gulana hati. Di sampingnya itu adalah Muhammad Husin atau biasa dipanggil Cacing, dia punya tato tulang ikan di lengan kanannya. Di sampingnya itu adalah pacarnya Cacing, Candies namanya.” Dokter Michael mengangguk mendengar kalimat yang diucapkan oleh pasiennya, pemuda bermata sipit itu berbicara pelan ke suster di sebelahnya untuk mencatatnya. “Gimana sebenarnya keadaan Kak Mikail, Dok?” kata Senja dengan sebuah tanda tanya yang dilengkapi kekhawatiran. Sepertinya pertanyaan itu juga mewakili apa yang ingin Cacing tanyakan. “Jika melihat hasil scan, saya sempat mendiagnosa Mas Mikail akan terkena Amnesia. Benturan di kepalanya sepertinya keras sekali dan ada bagian yang retak. Tapi syukurlah diagnosa saya meleset, Mas Mikail bisa mengingat nama-nama sahabatnya. Sebuah awal yang bagus,” ada sebuah senyum di wajah dokter berwajah oriental itu. “Apakah ada kesulitan mengingat sesuatu yang terjadi belakangan ini, Mas Mikail?” “Ada, Dok. Saya masih belum bisa mengingat awal mula kejadiannya sehingga badan saya bisa hancur seperti ini.” “Perlahan, Mas. Jangan dipaksakan dulu, dua atau tiga hari mudah-mudahan sudah bisa mengingat normal kembali.” “Lalu kapan boleh pulang, Dok?” tanya Mikail. Dokter berwajah oriental itu tersenyum mendengar apa yang dilontarkan oleh Mikail. “Jika sudah ada kemajuan, Mas boleh pulang. Harapan saya maksimal tiga hari sudah bisa kembali ke rumah. Mari kita berdoa saja  kepada Tuhan supaya memberikan yang terbaik, Mas.” “Kakak di sini saja dulu sampai benar-benar sembuh, Kak.” Kalimat yang diucapkan Senja mengalihkan sesaat mata pemuda berbalut perban itu dari Dokter Michael. “Sembuh saja dulu, Men.” Cacing menimpali kekasih Mikail itu. “Gue enggak mau merepotkan kalian, Guys,” kata Mikail seraya menatap satu persatu orang yang dikenalnya. “Kita lihat tiga hari ke depan ya, Mas. Mudah-mudahan ada perkembangan yang baik, Mas.” Kata dokter itu. “Aamiin,” kata mereka hampir bersamaan. “Baiklah kami pamit dulu, jangan terlalu dipaksa dulu ya ingatannya, Mas Mikail.” “Baik, Dok.” Pemuda berbalut perban itu mengangguk mengerti. Dokter berwajah oriental itu melangkah keluar kamar rawat dengan diikuti perawat berkaki jenjang itu. Candies menyempatkan menutup pintu setelah mereka menjauh. “Lo yang kuat, Men. Harus semangat sembuh,” kata Cacing memberikan motivasi sahabat baiknya itu. “Jangan khawatir, Bro. Gue cukup kuat jika hanya kepala yang terluka walaupun retak, itu tak akan menghilangkan ingatan tentang Senja sang Bidadari Tanpa sayap gue. Selain di benak, gue menyimpan ingatan tentangnya juga di dalam d**a. Selama keduanya masih gue miliki tak akan gue pamit mundur dari dunia ini.” “Mulai bucin deh, padahal baru juga sadar, Kak” ujar Senja sambil mencubit pelan lengan pemuda itu. Wajah gadis itu sedikit merona karena diksi yang terdengar indah di telinga itu. “Ini bukan bucin. Mbak. Ini adalah keromantisan semata untuk menunjukkan bahwa aku bahagia sekali kamu tetap berada di sampingku. Jangan pernah pergi, jangan pernah tinggalkan aku lagi.” “Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka yuk, Kak,” ajak Candies sambil tersenyum ke arah Cacing. “Sepertinya mereka butuh ruang untuk mengentaskan rindu ya?” kata Cacing sambil melihat ke arah kekasihnya itu. “Iya, Kak.” “Ya sudah, kita pamit saja ya, Bro,” kata Cacing kepada sahabat baiknya itu. Sebenarnya Mikail ingin menahan sepasang kekasih itu, tetapi khawatir mereka tidak berkenan. Akhirnya sebuah anggukan diberikan untuk jawaban kalimat pemuda berbadan kekar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD