Raib Ditelan Bumi

1246 Words
Suara adzan terdengar mengalun dari pengeras suara rumah sakit yang dipasang di setiap lantai, panggilan sholat itu membangunkan jasad-jasad yang meninggal sementara. Aktifitas di rumah sakit itu belum terlalu ramai, hanya sesekali terlihat keluarga pasien yang berjalan di selasar. Mikail membuka kedua matanya perlahan saat telinganya menangkap alunan suara panggilan sholat itu. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan jam 04.30 pagi, tetapi mengapa rasanya masih tengah malam saja karena relatif sepi. Pemuda itu melirik ke arah kanan di mana dia biasanya melihat Senja, tetapi kali ini tidak ada siapapun di sana, Pemuda itu bangun dari tempat tidurnya dengan hati-hati karena khawatir jarum infusnya menggeser. Ke mana Senja? Mengapa dia eenggak ada di ruangan ini? Apakah mungkin dia sholat Subuh di masjid bawah? Biasanya dia selalu berada di sampingnya, lirihnya pemuda itu dalam hati. Mikail  menurunkan kakinya dari tempat tidur dengan perlahan, terasa dingin sekali saat kedua kakinya menyentuh lantai keramik berwarna putih. Beruntung ada sepasang sandal jepit di bawah tempat tidurnya, entah milik siapa ada di sana? Mungkin milik Senja atau kedua sahabatnya yang membelikannya semalam. Pemuda berambut gondrong itu menggunakan sandal jepit putih bertali warna biru untuk ke kamar mandi sambil memegang tiang infusnya menggunakan tangan kanan. "Andaikan saja bisa lepas dari infus ini, pasti enak banget," gumamnya dalam hati. Pemuda itu ingat apa yang dikatakan dokter kemarin, kemungkinan hari ini dia boleh pulang dari rumah sakit dan bisa berobat jalan saja.  Bete rasanya berlama-lama di rumah sakit, cuma rebahan dan rebahan saja yang dilakukannya.  Selesai sholat subuh dan melanjutkan tilawahnya, Mikail duduk-duduk di sisi tempat tidur, sambil menikmati kopi hitam panas yang diseduhnya sendiri. Beruntung termos yang ada di meja masih berisi air panas yang cukup untuk secangkir kopi. Matanya melihat ponsel dengan casing berwarna biru  tergeletak di sisi tempat tidur, tepat di samping bantal putih. Mikail meraih ponsel yang tidak jauh darinya. “Ini 'kan ponsel Senja. Tumben banget enggak dibawa,” kata Mikail berbisik dalam hati, seraya menimang telepon genggamnya. Mata pemuda itu menangkap ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang disimpan di bawah ponsel itu. Dia mengenal sekali tulisan tangan tersebut, khas milik Senja. Ada apa ya? Tumben banget makhluk sosialita seperti dia menulis surat. Mikail mulai membaca surat itu perlahan dengan hati bertanya-tanya.   Untuk orang yang selalu di hatiku, Kak Mikail Kak, sengaja surat ini aku tulis supaya aku bisa jelaskan dengan detail apa yang sebenarnya telah dan akan terjadi. Aku enggak bisa bicara langsung dengan Kakak, karena aku tahu aku enggak akan sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun untuk membahas ini. Akupun berurai air mata saat menuliskan ini, sungguh aku tak sanggup, tapi aku harus melakukannya supaya orang yang selalu ada di hatiku tetap lestari. Dengan berat hati aku harus pergi Kak, Enggak Kak,bukan sama sekali karena aku enggak sayang, enggak cinta atau benci dengan Kakak, Kakak tahu itu enggak benar. Tolong jangan pernah terlintas kata-kata itu di benak Kakak sedikit pun. Aku bahagia dekat Kakak, sangat bahagia malah. Aku senang aku merasa hidupku sarat makna. Hidup aku penuh warna dengan tertawa kita. Aku pun ingin tetap bisa mewarnai hidup ini dengan warna kita. Aku ingin tinggal lebih lama dan lebih lama lagi. Dan lebih lama lagi dengan Kakak. Aku sayang, cinta Kakak dalam setiap relung hatiku. Aku sedih saat melihat Kakak terkulai di tempat tidur rumah sakit dan itu karena aku. Karena namaku telah digunakan untuk mengelabui Kakak. Aku enggak mau hal ini terulang kembali. Aku enggak mau Kakak seperti itu lagi. Aku enggak mau namaku digunakan lagi yang akhirnya membuat Kakak terluka disakiti atau hilang. Ponsel aku sengaja aku tinggal, supaya Kakak bisa mengerti lebih jauh apa yang terjadi sebenarnya, ada chat yang menjadi alasan aku untuk pergi. Sengaja juga aku tinggal supaya Kakak tidak perlu mencari aku lagi. Tidak perlu susah payah menelpon aku, ataupun chat aku. Satu hal yang harus Kakak tahu. Aku akan selalu menjaga Kakak dalam hati ini dalam keabadian.   I love you   Senja Bidadari tanpa sayapmu yang tak pernah bisa mengepak   Mikail menghela napas panjang setelah selesai membaca surat itu, hatinya terasa tersayat pedih karena tak menyangka sekali hal ini akan terjadi di saat dia sangat membutuhkan kekasihnya. Pemuda itu meraih ponsel Senja, lalu dibukanya pesan w******p. Ada sebuah chat dari pengirim tanpa nama. Dia membukanya dengan penasaran. Mungkin inilah yang menjadi alasan Senja pergi meninggalkannya.   PUTRI PELANGI SENJA, JIKA KAMU TETAP BERADA DI SAMPING b******n ITU, KAMU AKAN LIHAT DIA TERSIKSA, BUKAN HANYA TERLUKA TAPI AKAN MENJADI MAYAT. CAMKAN ITU! INI BUKAN SEBUAH ANCAMAN TAPI AKU AKAN MELAKUKANNYA. SEGERA, JIKA AKU MASIH MELIHAT KAMU DI KAMAR RUMAH SAKIT ITU SAMPAI BESOK PAGI.   Mikail terhenyak membacanya, itu adalah sebuah ancaman yang serius sekali. Dia lalu scroll isi pesan itu ke atas untuk mengetahui siapa pengirimnya, ada chat di mana si pengirim pesan menyebutkan siapa dirinya saat ditanyakan siapa namanya oleh Senja. “Dickhead b*****h! Rupanya lo penyebab semua ini, you gonna pay for this,” serunya dengan tangan terkepal.  Emosinya tiba-tiba memuncak, di benaknya langsung terbayang wajah Dicka yang sedang tertawa terkekeh saat  mengeroyoknya di ruko kosong itu, dia juga mengingat samar wajah anak buah si b*****h itu. Sedetik berikutnya sebuah panggilan masuk ke ponsel Senja yang sedang ada di genggamannya. Cacing rupanya yang video call. “Hallo, Men. Tumben banget lo udah bangun. Gue kira masih terkapar di tempat tidur, makanya gue sengaja telepon ke ponselnya Senja, " Cacing tersenyum di ujung sana. "Mengapa muka lo tuh, Men? Suram banget begitu, gue rasa lo kangen balik ke rumah ya.” “Enggak bukan itu, Bro. Mending lo ke sini deh cepat. Ada hal yang sangat penting,” kata Mikail dengan wajah serius. “Kalau hal pentingnya itu tentang kapan bisa pulang dari rumah sakit, mending gue ke situnya siang ya, Men,” ujar pemuda berbadan kekar itu dari ujung sana, terlihat sebuah senyum kecil melengkapi kalimat Cacing. “Bukan, Bro, bukan tentang itu. Ini ada surat yang ditulis Senja buat gue,” jelas Mikail. “Tumben banget, enggak biasanya dia nulis surat. Ngajak nikah ya dia, Men?” “Becanda aja lo, Bro. Ini adalah masalah serius, cepetan ke sini! Senja sudah pergi makanya dia menulis surat.” “Senja pergi? Seriusan? Pergi ke mana dia?” kata Cacing dengan terlihat mengernyitkan dahi di ujung sana. “Come on, Bro. Lo ke sini aja, cepat ya, bantu urus administrasi rumah sakit. Gue enggak bisa pergi ke mana-mana kalau infus masih menempel gini.” Mikail meninggikan suaranya. “Oke tunggu, Bro. Gue siap-siap dulu.” Mikail mematikan panggilan itu sedetik kemudian. Pikirannya kacau tidak tahu apa yang harus dilakukan pertama kali, kepergian Senja yang tiba-tiba telah membuat otaknya kalut. Pemuda itu duduk di kursi yang ada di dekat jendela ruang rawat itu, matanya nanar melihat ke luar. Dia berharap bisa menemukan Senja saat melihat ke bawah dari lantai atas itu, namun malam yang masih gelap sama sekali tak bersahabat karena jubah hitamnya yang masih mendekap erat. “Kamu pergi ke mana sih, Sayang?” kata pemuda itu sambil mendengkus. “Mengapa enggak kamu ceritakan hal ini kepadaku? Aku yakin kita akan bisa menghadapinya bersama.” Pemuda berbalut perban di kepalanya itu merasakan kepalanya sakit tiba-tiba, awalnya tidak terlalu sakit namun beberapa detik kemudian dia tak lagi bisa mengendalikan nyeri itu. Saking sakit yang dirasakannya, pemuda itu menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak. Sakit yang dirasakannya kian menjadi ketika bayangan Senja datang bertandang tanpa diundang,  gadis itu tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan kepada Mikail. ‘Kamu ke mana sih, Sayang? Mengapa kamu raib seperti ditelan bumi?”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD